"Kang mas, saya mau bercerita lagi tentang apa yang saya temui sepanjang pengembaraan saya di Nusa-Antara." "Wah, apa itu nduk ayu? Kok rasa-rasanya kamu sedih dalam kesumringahan?" "Iya mas, aku ini resah dalam kerisihan. Duh, Nusa-Antara yang katanya dulu digdaya, kaya raya, makmur-sentausa, andhap ashor wah pokoknya mas beraneka ragam kebudayaan." "Lah terus, kenapa nok ayu ko mlonga-mlongo?" "Gini mas, saya merasa ada yang hilang diantara pergaulan generasi muda Nusa-Antara. Nilai luhur ada tapi tidak pada tempatnya." "Hah? Maksudmu apa toh nduk?" "Iya mas, ewuh-pakewuh a.k.a pekewuh disalah artikan. Mereka memakai itu tidak pada tempatnya. Mereka sering menggunakamnya ketika melihat pelanggaran norma." "Iya terus, gimana maksudnya itu nduk ayu? Coba jelaskan." "Bahasa kerennya kontrol sosial teman sebaya terhadap perilaku menyimpang dari norma Agama, Sosial, Kesusilaan, dan Hukum itu sudah tidak ada! Sebagian mereka tak melakukan kontrol sosial ketika mereka melihat teman sebayanya melanggar norma dengan alasan utama tidak enak, takut menyinggung, lebih baik mengalah dan win-lose solution yang mereka pakai." "Terus apa lagi nduk ayu? Kok bisa ngono?" "Gini mas, guyub rukun dan aman damai lebih mereka utamakan dari pada harus melakukan kontrol sosial pada temannya yang melakukan perilaku menyimpang. Selain itu perubahan yang lain adalah ketika temannya menegur, teman yang ditegur itu malah tidak suka. Aku bingung kang mas." "Wah berarti nilai kehidupan di Nusa-Anrara mulai pudar. Mereka sudah terjangkit kebebasan yang kebablasan. Hidup terlalu individualis, rasa ke-aku-annya tinggi. Bahaya itu, benar-benar sudah bergeser norma yang ada." "Nah itu dia kang mas, aku kudu piye?" *Catatan Pribadi*