Çuman ini yg sempet di video , selalu pengen ketawa liat ekspresi muka @nadyatunaseha93 @martianavita . . . #dufan #holidays #kora2 #latepost (at Dunia Fantasi (DUFAN) - Taman Impian Jaya Ancol)
seen from Malaysia
seen from Yemen
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Canada
seen from United States

seen from United States

seen from France
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Canada

seen from Malaysia
seen from Singapore

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States
Çuman ini yg sempet di video , selalu pengen ketawa liat ekspresi muka @nadyatunaseha93 @martianavita . . . #dufan #holidays #kora2 #latepost (at Dunia Fantasi (DUFAN) - Taman Impian Jaya Ancol)
Armando, al fin, la nueva compañera... Eres tan linda #Kora2! #camp #carpa #doite #tent #camplife #buenamañanq
Kisah Pemuda-Pemudi Tangguh dan Wahana Kora-kora
Jadi ceritanya jumat malam lalu nyobain wahana kora-kora di pasar malem sekaten. Masih ingat, di waktu ku masih kecil dulu wahana ini belum eksis. Di sini ada beberapa wahana kora-kora, klo ga salah 3 or 4. Akhirnya, 3 pemuda dan 1 pemudi (immahhhhhh) dari 7 pemuda/i harapan kongregasi ini memutuskan untuk membeli tiket wahana kora-kora seharga @8 RIBU rupiah di salah satu loket operator kora2 yang sepertinya sanggup mengayunkan kapal nya lebih tinggi daripada operator yg lain. Ini hasil observasinya si Risandra Riswan alias sapi alias apiiiiihh yg kurang kerjaan. Kalo gak salah operator nya berkah ria atau altar ria,cmiiw. Kalo aku, yohan buntalan sih mending observasi yg bening2 lah. Mungkin karena apiihh mau ndaftar seminari, doi jadi ga seneng observasi yg bening2 ini.:p
Entah kenapa, kora2 yang kami pilih ini sepi, sepertinya cuma kami berempat yang hendak menumpang,dan berlayar menuju tanjung harapan. 5 menit berlalu, kami sudah sempat berpoto-poto riang santai gembira dan selfie loh, tapi penumpang yang lain juga tak kunjung datang. Kami seperti rombongan VVIP yang sudah disediakan 1 kora-kora khusus tanpa adanya penumpang lain, padahal kami juga tidak mem-booking wahana ini khusus untuk kami berempat. Bebas, bisa selonjoran,gegoleran, klekaran, salto, jungkir balik, dan pindah tempat suka2.
Sebelum kora2 ini diayun-ayun kan, sempet bertanya dalam hati: ini kora-kora nya lebih aman kalo penumpang nya sedikit atau banyak yah? Kalo penumpangnya dikit, kora-koranya kan bisa berayun lbh tinggi/jauh donk dari biasanya kalau pas lg full penumpang?? Apparently i need prof yohanes surya to answer this question.--"
Pertanyaan lainnya: ini sambungan las nya kuat gak ya??baut, sekrup nya di cek rutin apa gak? lebih ke pertanyaan seputar safety lah. Kekhawatiran ini berubah menjadi kepasrahan total setelah mengingat kembali kalau ternyata harga tiket nya cuma 8 RIBU, bukan 80 ribu rupiah.
Kora-kora mulai berayun..serrrrr...serrrr....serrr...di ayunan tahap awal yg notabene msh warming up ini, perut/ulu hati/jantung/adrenalin sudah mulai bereaksi merespon ayunan-tanjakan- turunan yang cukup jarang saya alami ini. Padahal, kalo pas naek sepeda/motor melewati turunan curam "serrrrr serrrrr" nya ya biasa saja.
Selanjutnya???? Sepertinya perlu di-skip, isinya cuma jeritan-teriakan karena rasa takut, atau pereda/penghilang rasa takut..jeritan yang jauh lebih ekstrim saat kamu: liat kecoak; dikejar-kejar setan; kesurupan; ketemu artis idolamu. pokoke sesi iki ra kalap blas. Gak penumpang cowok, gak cewek podo wae, tidak ada diskriminasi gender disini kecuali para pekerja operator kora2 yang hobi bergelantungan atau berdiri sambil joget disko di ujung haluan kora2 yang sedang berayun-ayun santai ataupun saat mencapai full speed. Kebetulan, saat itu tidak ada pekerja2 gila di kora2 yang kami tumpangi.
aaaaaaaaaaa...aaaaaaaaakkk...waaaaaaaaa...uwisssss...uwissss....sudahhhhh..sudahhhhh...sudaaaaahhhh... inilah sedikit dari banyak jeritan-teriakan semalam saat kora2 berayun ke kiri-kanan dengan kecepatan penuh.kami jg gak ngitung berapa lama kami berada di tempat pencobaan ini.
Sebenarnya bagian ini yang paling penting, paragraf sebelum ini sebenarnya cuma prolog. Jika belum terlanjur membaca dari awal, langsung saja mulai dari sini karena apalah arti aksi tanpa refleksi..:p
* sebelum mencoba sendiri, naik kora2 itu perkara sepele. Tinggal beli tiket, lalu duduk manis dan jerit-jerit teriak doank sampe selesai. kenyataanya?? sepele nya tidak seperti yang dibayangkan. perspektif antara penonton dan pemain/pelaku itu bagaikan sepasang kekasih yang tiap hari selalu kelahi,ga pernah nyambung. seperti penonton sepakbola saat nyinyirin para pemain di lapangan yang bikin kesalahan. kalo kemarin, saya sudah jadi penonton dan sesudah nya menjadi pelaku, bahkan bisa dikatakan korban sih tepatnya.--" jadi bisa mendalami peran sebagai penonton/komentator dan korban pelaku. dua perspektif nya jadi bisa bersatu hidup berdampingan rukun damai sentosa dan saling mengisi satu sama lain. ga cuma bisa bilang seharusnya itu begini, seharusnya itu begitu, seharusnya kamu harus begini begitu dan lain-lain.
*khawatir, nanti kalau terjadi ini itu gimana??? Menjadi rasional adalah sebuah kewajaran, apalagi kalo melihat sendiri konstruksi wahana kora2 kelas ekonomi ini. Wah... jadi mikir yang enggak-enggak. Langsung terbayang adegan film final destination yang pas tragedi roller coaster. Agak absurd memang kalo mengharapkan garansi safety dari operator kora2 kelas pasar malam ini. Cuma berharap saja lah kalo para pekerja operator nya selalu memeriksa konstruksi kora-kora nya supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Lebih absurd lagi itu kalau sudah tau ini meragukan, tapi tetep masih nekat jalan terus melawan segala kekhawatiran dan ketakutan yang dibayangkan. *namanya juga manusia* Singkatnya gini, membayangkan rasanya bakal kejedot tembok dengan merasakan sendiri rasanya kejedot tembok itu bedanya tipis loh..:D Ternyata, dominasi kekhawatiran dan ketakutan tentang apa yang akan terjadi nanti telah mengaburkan rasionalitas dan menyebabkan kebimbangan akut yang membuat saya enggan melangkah karena sudah terlanjur berkesimpulan yang tidak2. Padahal realita yg akan terjadi belum tentu seburuk yang dibayangkan sebelumnya.
Contoh nyatanya ya di wahana kora2 ini. Setelah selesai menikmati wahana kincir angin (sejak kecil saya nyebutnya dermolen), saya lihat apiiihh, yohan buntalan, dan immahhh (masih ragu doi ini cewek apa cowok) yang berjalan menuju loket kora2. Tidak tahu kenapa, saya malah berjalan menghampiri mereka dan basa-basi tanya apa betul mau naik.Ternyata do ra cangkeman, dan akhirnya saya pun ikut menjerumuskan diri sendiri untuk bergabung dan berkoalisi dengan pemuda/i somplak harapan gereja ini. Dari awal saya memang gak tertarik naik wahana kampret ini setelah melihat ekspresi histeris para penumpang sebelum rombongan kami yang jejeritan teriak2 gak jelas di TKP. Kesan yang muncul serba tidak enak dan buruk. Ternyata, realita saat diombang-ambingkan badai kora-kora tidak seburuk yang dibayangkan, meski realitanya memang buruk sih. Tapi setelah badai berlalu, kami segera tersenyum haha hihi sambil minta foto kawan-kawan lain yang gak ikut naik kora-kora, meski dengan ekspresi agak pucat dan masih shock setelah berjuang melewati badai. Seneng, kami masih bisa (terpaksa) survive dari pencobaan ini, lebih tepatnya mencobai diri sendiri. Yang pasti, saya akan sangat menyesal jika kemarin tidak menindak lanjuti ketakutan dan kekhawatiran berlebihan sebelum menaiki kora-kora dengan memberanikan diri dan memaksakan langkah kaki menuju loketan wahana uji hati ini. Kok bisa menyesal? karena percuma, dan buang2 waktu, energi, dan pikiran jika sudah terlanjur mikir, menganalisa, mengingat, menimbang tapi akhirnya tidak memutuskan untuk naik.
*Ketika sudah duduk cakep di deretan tempat duduk kora-kora dan mulai berlayar menyambut badai, jangan berharap untuk kembali turun karena disini tidak ada tombol pause nya seperti main game. Merengek sambil teriak2 minta berhenti juga percuma, jeritan serta teriakan juga kalah keras sama suara klakson truck yang dipasang di sambungan besi bagian atas kora-kora dan sengaja dibunyikan terus menerus untuk mendramatisir situasi. Melambai-lambaikan tangan kaya peserta uji nyali yang menyerah juga gak bikin mas-mas operator segera menjemput dan mengeluarkan kami dari kursi panas sebelum kora-kora nya berhenti sesuai durasi yang ditentukan. Pengennya sih di tiap tempat duduk kora-kora nya ada kursi luncur darurat disertai tombol eject yang bisa dipencet ketika sudah gak tahan/kuat dengan cobaan. Iya, itu kalau kemarin bisa turun pas dahsyatnya gelombang badai pasti bakalan turun kok. Dan sebagai pria saya tidak merasa gagal karena faktanya saat itu aku pancen lagi ra bakoh. *ndepis ning pojokan* Saya jadi teringat dengan salah satu plakat yang ada di area pendidikan calon tentara di depo/dodiklatpur yang bertuliskan: RAGU-RAGU SILAHKAN KEMBALI !! Mungkin di depan loket kora2 perlu dikasih peringatan ini supaya tidak ada penumpang yang mengundurkan diri saat kora2 sedang diombang-ambingkan oleh sebuah ban bekas yang menempel di mesin diesel yang berfungsi sebagai penggerak utamanya. karena turun/loncat dari kora2 sebelum waktunya berarti sama saja dengan mengundurkan diri dari kehidupan.
*setelah merasakan pengalaman syahdunya naik kora-kora, saya dan kawan2 lain menyatakan kapok, dan memutuskan untuk tidak naik wahana ini lagi di masa mendatang. jangan 100% percaya statement ini. Sangat mungkin saat ini kami sedang berada dalam situasi kapok lombok, karena bagi pecandu pedasnya lombok pasti sering banget mengalami ini. Atau ingatlah janji seorang pemabuk yang berikrar, bersumpah untuk tidak mabok-mabokan lagi saat K.O dan klenger karena kepala pening, perut mual-mual dan akhirnya jackpot akibat terlalu banyak menenggak miras. Banyak variable2 yang bisa merubah keputusan untuk tidak naik kora2 lagi di masa mendatang, kurang lebih sama persis lah seperti ketika kamu sudah memutuskan gak mau lagi balikan sama mantan karena bakal mengalami masalah yang itu-itu lagi, tapi ujung2 nya tetep balikan untuk mengalami masalah yang itu-itu lagi juga. :p
-Semoga ada amin-
01/12/14
before: berpose sebelum mencobai diri sendiri. (credit to apiihhh)
after: Kami rapopo, kami tangguh kok. Yang paling kanan ampe ngglendotin tiang, yang lain senyumnya kecut pasi. (credit to tri m/heldr/ajeng?)