** Permission to post it was granted by the artist Do not repost/edit the art without permission Please, support the artist on their pages too **
Artist : こーさん (pixiv / twitter)
Source

#dc#dc comics#batman#dick grayson#bruce wayne#tim drake#batfamily#batfam#dc fanart

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Yemen
seen from Yemen
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Germany

seen from Canada
seen from United States
seen from Saudi Arabia

seen from Georgia

seen from Norway

seen from United States
seen from China
seen from Georgia
seen from Algeria
** Permission to post it was granted by the artist Do not repost/edit the art without permission Please, support the artist on their pages too **
Artist : こーさん (pixiv / twitter)
Source
@inwestwood asked: 13 [ m/m ] ( for nathair / diaz or kosan / maxani ! )
MEME: 𝙽𝚂𝙵𝚆 𝙶𝙸𝙵 𝙿𝚁𝙾𝙼𝙿𝚃𝚂 STATUS: accepting
discovering what humans considered to be raunchy on earth was quite entertaining. kosan already invited some of his intergalactic friends over for a party, but he didn't realize that not everyone knew that was just code for a reason to sleep around with all of them. "you always seem to understand me the most." the saturn alien let out a small groan as he pushed his hips forward, sliding deeper into maxani. "i'm so glad you came, so let me help you get off." they were holding the other's legs up with their hands and saw how the water rippled around them the more that they moved. kosan moved his right hand down, traveling up maxani's torso. "are you sensitive here?" while asking the question, he tugged on their nipple softly.
Tempat Baru, Jiwa Baru
Beberapa hari menjelang pindah ke kosan baru, aku menganalogikan posisiku dengan Jongwoo dari webtoon thriller Strangers from Hell, yang stress karena tinggal di kosan yang sempit, kotor, dan berisi orang-orang psikopat pemakan daging manusia.
“Tidak ada orang normal yang mau tinggal di tempat seperti ini.”
Baik, penghuni kosan lamaku memang bukan psikopat kanibal. Tapi aku adalah orang normal. Kalau tidak terpaksa, aku tidak akan mau tinggal disana. Dan kebetulan, memang hubunganku dengan mereka tidak bisa dikatakan baik (tapi bukan berarti buruk juga). Aku hanya tidak menyukai karakter mereka yang suka menyindir entah siapa, yang ketika akan kusenyumi membuang muka, ketika bersitatap dan kusenyumi malah tak membalas. Memang terkesan pamrih. Tapi siapa yang suka diperlakukan seperti itu? Belum lagi kebiasaan mereka yang suka meninggalkan sampah-sampahnya di dekat tempat mencuci dan di sudut kamar mandi. Bahkan juga pernah ada kulit dan biji rambutan, yang sampai-sampai sudah berkecambah di sudut kamar mandi itu. Aku sangat tidak mengerti jalan pikiran mereka. Aku memang bukan orang yang sangat bersih dan rapi juga, tapi rasanya tidak membuang sampah di tempat-tempat yang digunakan bersama lalu membiarkannya selama berbulan-bulan adalah hal yang sudah sewajarnya dilakukan setiap orang. Apa aku berlebihan?
***
Kamarku dulu sangat sempit. Di salah satu sisi dindingnya ada bercak besar yang kemungkinan disebabkan jamur yang membuatku bergidik sehingga aku tidak mau meletakkan tempat tidur di sisi itu. Lampunya sangat redup, jadi aku membeli lampu belajar untuk membaca di malam hari. Kamar mandinya, aku tak mau mendeskripsikannya. Yang jelas, pertama kali melihat aku berpikir ‘ini benar-benar ada yang memakai?. Airnya berbau dan berwarna. Tidak cocok dengan kriteria air bersih yang seharusnya tidak berasa, berbau, dan berwarna. Pernah air galonku habis, jadi aku menggunakan air di keran luar untuk menanak nasi. Nasiku menguning seperti sudah berhari-hari disimpan di dalam magic jar. Airnya juga sepertinya mengandung basa yang agak tinggi (ini agak sok tahu sih), karena lebih lama membersihkan sabun.
Kalau aku membuka keran dengan kucuran terbesar, nanti akan keluar jentik-jentik nyamuk dari sana. Jadi percuma walaupun baknya sering dikuras, sampai kapan pun airnya tak akan pernah menjadi bersih. Bak yang dalamnya kurang dari satu meter itu pun jarang terlihat dasarnya. Setidaknya, tidak ada keluhan gatal-gatal atau sakit kulit karena air itu.
***
Aku suka hari-hari penghujan. Tidak banyak orang-orang berlalu lalang. Aku pun lebih aman pulang karena tidak akan dikejar anjing di depan kosan ketika pulang malam, hal yang kujadikan alasan untuk pindah (anjing kan tidak suka air), karena dikejar anjing bukan hal sepele untukku. Saat melewati rumah yang ada anjing di depan kosan, aku selalu melihat-lihat dengan teliti dulu sambil berjalan cepat dengan jantung berdebar.
Adakalanya aku melewati jalan lain yang lebih gelap untuk menghindari anjing. Kontan saja, sebagai perempuan yang berjalan sendiri di malam hari, aku mendapat catcalling dari pemuda-pemuda nongkrong (assalamualaikum~, sombong~) atau tukang-tukang Jawa (mbak e~). Jangan ditanya rasanya. Kesal sampai rasanya ingin melabrak, tapi juga risih. Lupakan saja estetika atau bahkan kebersihan kosan itu. Aku tidak bisa merasa aman (sesuai dengan tingkatan kebutuhan menurut Maslow; setelah kebutuhan fisiologis manusia butuh akan rasa aman). Setiap malam dikejar dua ekor anjing gigih atau mendapat catcalling, menurunkan rasa amanku hingga titik yang sangat rendah.
Akan tetapi, sayangnya kalau hujannya terlalu deras, bagian depan pagar kosan itu justru akan tergenang air. Aku benci ini. Sepatu atau sendalku (yang jumlahnya tidak banyak) bisa rusak kalau terus-terusan tergenang air seperti itu. Dan sepertinya tidak ada inisiatif dari pemilik kosan untuk memperbaikinya. Well, kalau melihat kondisi kos secara umum memang tidak aneh sih.
Belum lagi aroma tidak sedap disana. Tahu bau pelimbahan/ got yang besar? Kira-kira seperti itulah aroma yang sesekali tercium ketika aku membuka pintu kamar. Menurutku, ada dua macam aroma pembuangan. Aroma dari pelimbahan/ got adalah tipe pertama yang terbentuk karena akumulasi selama berminggu-minggu hingga bulanan. Sedangkan yang satunya lagi adalah aroma yang lebih ‘segar’ dalam artian baru. Ya, yang baru dibuang.
Hanya dua hal yang kusukai dari kosan itu. Ketika membuka pintu kamar, aku langsung dihadapkan pada suasana luar, dan tempat jemuran yang terbuka dan dekat dari kamar. Itu saja.
Lalu, kenapa aku bertahan? Kalau diingat, ternyata aku sudah bertahan selama setahun disana. Ya cuma karena terpaksa. Tidak ada tempat lebih baik yang murah. Jadi ketika ada tawaran untuk tinggal sekamar dengan seorang teman di kosan baru ini, tanpa pikir panjang langsung kuiyakan.
Dulu sering aku melewati jalan di kosan baru ini, sambil membayangkan nyamannya. Melewatinya saja sudah menyenangkan, apalagi kalau bisa tinggal disini. Tapi aku cepat-cepat menepis kemungkinan itu. Melihat rumah-rumah dengan pagar-pagar tinggi, rasanya tidak mungkin disewakan untuk kos. Begitupun ketika aku melihat langsung kosan baru ini, dengan segala kenyamanan yang ‘aku banget’, akupun tidak mau berharap terlalu tinggi. Nanti ketika aku tidak jadi pindah, sementara aku terlanjur berandai-andai, akan tidak nyaman jadinya. Dan aku pun takut berekspektasi terlalu tinggi, takut bertolak belakang dengan kenyataan.
Pertama kali aku mendatangi kosan baru ini, aku melihat ibu kos dengan cucunya. Duh, aku tak suka ini. Aku tak suka anak-anak. Aku tak pernah bisa berbaur dengan mereka, kecuali mereka nyaman duluan denganku. Anak-anak itu sulit. Dan lebih sulit lagi, aku untuk memulai interaksi dengan mereka. Aku sering lihat orang-orang yang sangat luwes bercengkrama dengan anak-anak. Aku menilai mereka sangat menyukai anak-anak (ah, siapa yang tak suka anak-anak? Oh, ada. Itu aku), atau punya keponakan di rumah. Tapi bagaimanapun aku mencoba, aku tak pernah bisa. Seolah mereka bisa membedakan orang yang luwes secara alami dengan orang yang memaksakan diri kakunya seperti aku.
Tapi, mungkin itu saja yang kurang kusukai. Selebihnya: aku suka sekali. Suasana asrinya, terasnya yang bisa untuk ngobrol dengan tamu, ruang depan yang ada meja dan kursi untuk menonton tv (bisa kupakai untuk belajar), lantai keramiknya yang menimbulkan kesan menempel saat diinjak (berarti sering disapu dan pernah dipel), wastafel tempat mencuci piring, kamar mandi yang manusiawi (ada showernya pula), lingkungan sekitar yang tenang. Aku pun langsung jatuh hati. Belum lagi bapak dan ibu kos yang lumayan baik serta kedua anaknya yang sopan walaupun jauh lebih tua dariku. Aku betaaah disini. Aku pindah ke tempat yang jauh lebih baik, istilahnya: berhijrah (secara harfiah bisa kan, dikatakan begitu). Seperti terlahir kembali, aku memiliki semangat baru (untuk membaca, belajar, mencuci) dan memperbaiki kebiasaan menjadi lebih baik (tidur sebelum jam 11 malam, bangun subuh). Secara kebetulan, ajaibnya dari hari pertama aku di kosan baru ini aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa terbangun tengah malam untuk ke kamar mandi, tidak guling kiri guling kanan saat tidur, dan tidak sulit untuk bangun pagi. Sederhana, tapi inilah yang setahun belakangan susah payah kuperjuangkan. Tekanan pekerjaan dan jam pulang malam membuatku yang normalnya adalah morning bird menjadi night owl, kebiasaan yang tidak bagus dari segi apapun.
Kenapa baru sekarang aku bisa tinggal di tempat seperti ini?
Nah, kalau ditelaah, mungkin kuncinya adalah menerima. Bisa jadi dalam pencarian kita akan menemukan berbagai tempat yang kita sukai tapi kita tidak mampu tinggal disana, atau justru kita terpaksa tinggal di tempat yang tidak kita sukai hingga lama-lama menjadi terbiasa, menerima. Aku jadi ingat kosan di masa kuliah dulu, betapa tidak nyamannya ketika makanan-makanan di kamar dan baju-baju favoritku hilang secara misterius, hingga tetangga-tetangga yang meludah dekat jendela kamarku atau ketika aku lewat. Terima saja. Tapi alhamdulillah sekarang inilah gantinya. Tempat baru yang melahirkan jiwa baru.
Akhir bulan, stok makanan udah menipis, duit jajanpun tipis banget, pokonya sebra serbilah derita anak kost ketika diakhir bulan. Pas mo masak mie gas abis, mo beli gas aja mikir keras lantaran kagak gableg lagi duit. Kalo dibeliin gas w gabisa jajan, tapi butuh gas buat rebus indomie dan sebagainya. Kepaksa deh beberapa hari kedepan masak indomie sama bikin sayur sopnya di ricecooker. Ada yang pernah ngalamin hal yang serupa ga sih ? 😂
Tips dan Trik untuk Para Calon Kosan-erz
Hai hai kembali lagi setelah vakum cerita dari Jogja neh. Mana suaranyaaa? Mana yang rajin baca yooo? (kaya ada aja zzz). Berhubung har ini tanggal seventeen bulan juli yang mana anak-anak sekolahan (baca TeKa sampai eSeMa) udah pada mulai sekolah kan? Cie cie udah pada naik kelas ciee, berhasil melewati hujan, abu, meteor rintangan terus naik kelas. Cie ciee udah gabisa lenyeh-lenyeh manja unch dikasur lagi~~
Berhubung gue ternyata sudah mulai menua dengan kondisi bukan anak TeKa lagi(kalo ini jelas nggak banget sih, muka tidak mendukung), dan gue meskipun suka disangka cowo ganteng style anak eSeMa gitu kan tapi gue gamau public lier walaupun kalian semua memaksa gue maaf kita gabisa bersama, kamu terlalu baik buat aku, gue harus jujur gue mulai memasuki masa akhir dalam tahap persilatan dunia pertogaan :")
Jadi sekarang gue mau berbagi tips en trik untuk adik-adik mahasiswa baru yang mau ngekos neeh. Gimana lolos SBMTPN kaga? Ato kamu milih swasta? Ato masih galau?Yang masih galau coba baca refleksi gue di Part VI ke Jogja deh, siapa tau membantu~ membantu kamu move on gabisa sih. Susah. Bngsd. HEHE APASIH KONSEN WOI! Barang-barang yang harus selalu ada demi menunjang hidup kalian di tanah rantau. Yuk simak dibawah karena yang diatas adalah langit kamar kosan!!!
1. STOK MAKANAN YANG BANYAK, CIKI, DAN SEGALA CEMILAN MICIN
KAMU MAU JADI ANAK KOSAN KANN? GAMAU KELAPERAN KAN? KAMU KUDU RAMPOK ISI DAPUR RUMAH MAMAH KAMU DAN CARI MAKANAN DEMI MENUNJANG HIDUPMU SEBULAN! (ceritanya kepslock jebol karena makanan itu hal dasar hidup manusia jadi gue taro poin pertama). Kamu kudu bawa cemilan sebanyak mungkin untuk nyetok. Oiya bawa wadahnya juga, soalnya kalo nanti temen-temen kamu mampir, kamu bisa menyembunyikan stok tersebut~
contoh cemilan micin
2. Obat-Obatan lyke Diapet, Entrostop
Penyakit anak kosan adalah DIARE! Karen untuk bertahan hidup, semua hal akan kamu makan, jadi peluang kamu kena diare alias mencret cukup tinggi. jadi jangan lupa selalu sedia yes walau yang selalu ada kadang dianggep bukan siapa-siapa~
bukan endorse yak!!
3. Parfum + Rexona + Sabun
Kamu anak kuliahan kan? Udah ngga jaman dekil-dekilan bau ketek!! Haram hukumnya. Sedikitlah berubah dan coba tebar pesona, caranya? cukup wangi aja! Kamu beli parfum seliter, terus pake mandi deh. Setelah itu kamu akan dianggap kurang kerjaan. Sabun juga penting untuk melakukan kenikmatan duniawi tiada tara~ apaan tuh? YAK BETUL, collllllllllllllllll (gausah ngeres) coba tebak apa HEHE colek cuci tangan keles~
contoh mencuci tangan yang baik
4. Pulsa-Kuota-Batere-PowerBank
Kamu punya pacar kan pas SMA? Cie cie!! Cie jadinya LDR gegara beda kota ciee, buat yang beda rumah ibadah, elus lah dada masing-masing~ Buat yang punya pacar, terus LDR, hal ini penting banget kann? Buat telponan tiap malem cuma nanyain “qMuH h4r! !n! 33k uD4h cH3Bh0k b3Yum cHuYunK?” Hati-hati LDR (Longdistancerelationshit) menjadi LDR (lama-lama direbut orang) jika kamu ga menyiapkan poin ke 4 secara baik!
pulsa token tersedia di indomaret
5. Tissue
NAH INI BAGIAN TERPENTING! apa gunanya? Untuk mengelap sesuatu~ Pasti pada nethink nih, pret. Tissue untuk ngelap air mata kamu karna kamu tau pacarmu ternyata sudah memilih yang disana untuk berbahagia. Jadi tisue itu cukup berguna sih.
cara mengambil tisue yang baik dan benar
Sekian 5 barang terpenting untuk anak kosan. Terms and Condition is available yes! segala bentuk resiko seperti dicoret ato di TipX dari kartu keluarga adalah tanggung jawab pembaca. Sekian!
si tokek mati
Jadi ketika gw masuk kosan dulu, ada seekor tokek yang setia menemani. Tiap malem dia bersuara, emang pada awalnya agak mengganggu, namun makin kesini udah berasa beteman aja sama toke. Kayak ada yang nemenin gitu kalo gw lagi maen game pake iem yang full kedap suara juga tetep suka kedengeran. Jarang banget gw liat dia langsung, karena jarang banget keluarnya juga. Mungkin keluar buat buang tai doang lalu masuk lagi, dan gw yang bersihin kotorannya itu. Dan barusan gw dapet kabar dia udah gaada, udah mati.
Well, sedih gw seriusan. Sampe merah dah ini mata, kenapa ya? Karena dia itu udah kayak bagian dari kosan itu aja dah. Udah nemenin gw dari awal masuk SMA, karena gw pindah ke kamar itu waktu naik ke SMA. Udah kayak nemenin aja gitu tiap malem dia suka bunyi. Emang waktu akhir-akhir SMA tepatnya pas ujian-ujian gitu dia udah jarang banget bunyi, sampe sempet gw gadenger banget toke bunyi. Gw kira pindah ato apa, tapi ternyata pas bangun pagi itu, dia tiba-tiba lagi tiduran diluar lemari. Ke ekspos kan tuh, sempet kaget juga gw gegara ukurannya. Dan mungkin itu salam perpisahan lu ya ke?
Tepat ketika gw udah mau pisah dari kosan itu dan gw lagi di Yogyakarta, lu pergi ya ke? Ke alam yang gw gatau apaan dah kalo hewan. Sangking kangennya sama gw ya ke? Gapapalah, entar berarti penghuni kamar itu selanjutnya gausah bersihin kotoran lu lagi ke. Tapi gw yakin kayaknya bakalan agak kesepian penghuni selanjutnya karena gaada lu ke.
Makasih udah nemenin 3 taun ini ke, meski gw gatau umur lu sebenernya berapa. Tapi makasih banget, udah nemenin gw selama itu. Meski gw juga jarang ketemuan sama lu langsung gitu. Kayaknya penghuni selanjutnya kalo lagi telfonan gabakalan lu ganggu lagi ya ke? Oiya, sori juga sempet kepikiran buat jual elu. Soalnya harga lu mahal-mahal sih.
See You! RIP Tokek Kosan [ xxxx - 2017 ]
** Permission to post it was granted by the artist Do not repost/edit the art without permission Please, support the artist on their pages too **
Artist : こーさん (pixiv / twitter)
Source