Tempat Baru, Jiwa Baru
Beberapa hari menjelang pindah ke kosan baru, aku menganalogikan posisiku dengan Jongwoo dari webtoon thriller Strangers from Hell, yang stress karena tinggal di kosan yang sempit, kotor, dan berisi orang-orang psikopat pemakan daging manusia.
“Tidak ada orang normal yang mau tinggal di tempat seperti ini.”
Baik, penghuni kosan lamaku memang bukan psikopat kanibal. Tapi aku adalah orang normal. Kalau tidak terpaksa, aku tidak akan mau tinggal disana. Dan kebetulan, memang hubunganku dengan mereka tidak bisa dikatakan baik (tapi bukan berarti buruk juga). Aku hanya tidak menyukai karakter mereka yang suka menyindir entah siapa, yang ketika akan kusenyumi membuang muka, ketika bersitatap dan kusenyumi malah tak membalas. Memang terkesan pamrih. Tapi siapa yang suka diperlakukan seperti itu? Belum lagi kebiasaan mereka yang suka meninggalkan sampah-sampahnya di dekat tempat mencuci dan di sudut kamar mandi. Bahkan juga pernah ada kulit dan biji rambutan, yang sampai-sampai sudah berkecambah di sudut kamar mandi itu. Aku sangat tidak mengerti jalan pikiran mereka. Aku memang bukan orang yang sangat bersih dan rapi juga, tapi rasanya tidak membuang sampah di tempat-tempat yang digunakan bersama lalu membiarkannya selama berbulan-bulan adalah hal yang sudah sewajarnya dilakukan setiap orang. Apa aku berlebihan?
***
Kamarku dulu sangat sempit. Di salah satu sisi dindingnya ada bercak besar yang kemungkinan disebabkan jamur yang membuatku bergidik sehingga aku tidak mau meletakkan tempat tidur di sisi itu. Lampunya sangat redup, jadi aku membeli lampu belajar untuk membaca di malam hari. Kamar mandinya, aku tak mau mendeskripsikannya. Yang jelas, pertama kali melihat aku berpikir ‘ini benar-benar ada yang memakai?. Airnya berbau dan berwarna. Tidak cocok dengan kriteria air bersih yang seharusnya tidak berasa, berbau, dan berwarna. Pernah air galonku habis, jadi aku menggunakan air di keran luar untuk menanak nasi. Nasiku menguning seperti sudah berhari-hari disimpan di dalam magic jar. Airnya juga sepertinya mengandung basa yang agak tinggi (ini agak sok tahu sih), karena lebih lama membersihkan sabun.
Kalau aku membuka keran dengan kucuran terbesar, nanti akan keluar jentik-jentik nyamuk dari sana. Jadi percuma walaupun baknya sering dikuras, sampai kapan pun airnya tak akan pernah menjadi bersih. Bak yang dalamnya kurang dari satu meter itu pun jarang terlihat dasarnya. Setidaknya, tidak ada keluhan gatal-gatal atau sakit kulit karena air itu.
***
Aku suka hari-hari penghujan. Tidak banyak orang-orang berlalu lalang. Aku pun lebih aman pulang karena tidak akan dikejar anjing di depan kosan ketika pulang malam, hal yang kujadikan alasan untuk pindah (anjing kan tidak suka air), karena dikejar anjing bukan hal sepele untukku. Saat melewati rumah yang ada anjing di depan kosan, aku selalu melihat-lihat dengan teliti dulu sambil berjalan cepat dengan jantung berdebar.
Adakalanya aku melewati jalan lain yang lebih gelap untuk menghindari anjing. Kontan saja, sebagai perempuan yang berjalan sendiri di malam hari, aku mendapat catcalling dari pemuda-pemuda nongkrong (assalamualaikum~, sombong~) atau tukang-tukang Jawa (mbak e~). Jangan ditanya rasanya. Kesal sampai rasanya ingin melabrak, tapi juga risih. Lupakan saja estetika atau bahkan kebersihan kosan itu. Aku tidak bisa merasa aman (sesuai dengan tingkatan kebutuhan menurut Maslow; setelah kebutuhan fisiologis manusia butuh akan rasa aman). Setiap malam dikejar dua ekor anjing gigih atau mendapat catcalling, menurunkan rasa amanku hingga titik yang sangat rendah.
Akan tetapi, sayangnya kalau hujannya terlalu deras, bagian depan pagar kosan itu justru akan tergenang air. Aku benci ini. Sepatu atau sendalku (yang jumlahnya tidak banyak) bisa rusak kalau terus-terusan tergenang air seperti itu. Dan sepertinya tidak ada inisiatif dari pemilik kosan untuk memperbaikinya. Well, kalau melihat kondisi kos secara umum memang tidak aneh sih.
Belum lagi aroma tidak sedap disana. Tahu bau pelimbahan/ got yang besar? Kira-kira seperti itulah aroma yang sesekali tercium ketika aku membuka pintu kamar. Menurutku, ada dua macam aroma pembuangan. Aroma dari pelimbahan/ got adalah tipe pertama yang terbentuk karena akumulasi selama berminggu-minggu hingga bulanan. Sedangkan yang satunya lagi adalah aroma yang lebih ‘segar’ dalam artian baru. Ya, yang baru dibuang.
Hanya dua hal yang kusukai dari kosan itu. Ketika membuka pintu kamar, aku langsung dihadapkan pada suasana luar, dan tempat jemuran yang terbuka dan dekat dari kamar. Itu saja.
Lalu, kenapa aku bertahan? Kalau diingat, ternyata aku sudah bertahan selama setahun disana. Ya cuma karena terpaksa. Tidak ada tempat lebih baik yang murah. Jadi ketika ada tawaran untuk tinggal sekamar dengan seorang teman di kosan baru ini, tanpa pikir panjang langsung kuiyakan.
Dulu sering aku melewati jalan di kosan baru ini, sambil membayangkan nyamannya. Melewatinya saja sudah menyenangkan, apalagi kalau bisa tinggal disini. Tapi aku cepat-cepat menepis kemungkinan itu. Melihat rumah-rumah dengan pagar-pagar tinggi, rasanya tidak mungkin disewakan untuk kos. Begitupun ketika aku melihat langsung kosan baru ini, dengan segala kenyamanan yang ‘aku banget’, akupun tidak mau berharap terlalu tinggi. Nanti ketika aku tidak jadi pindah, sementara aku terlanjur berandai-andai, akan tidak nyaman jadinya. Dan aku pun takut berekspektasi terlalu tinggi, takut bertolak belakang dengan kenyataan.
Pertama kali aku mendatangi kosan baru ini, aku melihat ibu kos dengan cucunya. Duh, aku tak suka ini. Aku tak suka anak-anak. Aku tak pernah bisa berbaur dengan mereka, kecuali mereka nyaman duluan denganku. Anak-anak itu sulit. Dan lebih sulit lagi, aku untuk memulai interaksi dengan mereka. Aku sering lihat orang-orang yang sangat luwes bercengkrama dengan anak-anak. Aku menilai mereka sangat menyukai anak-anak (ah, siapa yang tak suka anak-anak? Oh, ada. Itu aku), atau punya keponakan di rumah. Tapi bagaimanapun aku mencoba, aku tak pernah bisa. Seolah mereka bisa membedakan orang yang luwes secara alami dengan orang yang memaksakan diri kakunya seperti aku.
Tapi, mungkin itu saja yang kurang kusukai. Selebihnya: aku suka sekali. Suasana asrinya, terasnya yang bisa untuk ngobrol dengan tamu, ruang depan yang ada meja dan kursi untuk menonton tv (bisa kupakai untuk belajar), lantai keramiknya yang menimbulkan kesan menempel saat diinjak (berarti sering disapu dan pernah dipel), wastafel tempat mencuci piring, kamar mandi yang manusiawi (ada showernya pula), lingkungan sekitar yang tenang. Aku pun langsung jatuh hati. Belum lagi bapak dan ibu kos yang lumayan baik serta kedua anaknya yang sopan walaupun jauh lebih tua dariku. Aku betaaah disini. Aku pindah ke tempat yang jauh lebih baik, istilahnya: berhijrah (secara harfiah bisa kan, dikatakan begitu). Seperti terlahir kembali, aku memiliki semangat baru (untuk membaca, belajar, mencuci) dan memperbaiki kebiasaan menjadi lebih baik (tidur sebelum jam 11 malam, bangun subuh). Secara kebetulan, ajaibnya dari hari pertama aku di kosan baru ini aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa terbangun tengah malam untuk ke kamar mandi, tidak guling kiri guling kanan saat tidur, dan tidak sulit untuk bangun pagi. Sederhana, tapi inilah yang setahun belakangan susah payah kuperjuangkan. Tekanan pekerjaan dan jam pulang malam membuatku yang normalnya adalah morning bird menjadi night owl, kebiasaan yang tidak bagus dari segi apapun.
Kenapa baru sekarang aku bisa tinggal di tempat seperti ini?
Nah, kalau ditelaah, mungkin kuncinya adalah menerima. Bisa jadi dalam pencarian kita akan menemukan berbagai tempat yang kita sukai tapi kita tidak mampu tinggal disana, atau justru kita terpaksa tinggal di tempat yang tidak kita sukai hingga lama-lama menjadi terbiasa, menerima. Aku jadi ingat kosan di masa kuliah dulu, betapa tidak nyamannya ketika makanan-makanan di kamar dan baju-baju favoritku hilang secara misterius, hingga tetangga-tetangga yang meludah dekat jendela kamarku atau ketika aku lewat. Terima saja. Tapi alhamdulillah sekarang inilah gantinya. Tempat baru yang melahirkan jiwa baru.














