Setelah sekian lama tak pernah mendengar kabar ataupun secara sengaja mencari namamu dalam jelajah dunia maya, tiba-tiba rindu menyerang begitu hebat dalam satu minggu berkala.
Setelah kamu berlalu, aku pikir bahwa hidupku akan kembali ke sedia kala sebelum kamu tiba. Bekerja, berlari, pergi ke luar kota atau sekedar berdiam diri saja seperti dulu.
Tapi tadi malam banyak sekali rindu mampir dan kembali terputar rintik-rintik suka tentang bahagia di masa lampau bahwa ternyata saat kamu melangkah menjauh, aku kehilangan separuh.
Aku akhirnya sadar saat aku melanjutkan hidup seperti yang sudah kusebut diatas, kemana pun, dimana pun, kapan pun, semuanya membawaku titik kembali; ke kamu. Rasanya ingin sekali egois meminta kembali, merebut dari laki-laki yang sekarang menjadi alasanmu tersenyum setiap pagi.
Tapi aku tau sebagaimana luka yang pernah aku beri, aku pantas untuk kamu maki. Aku sadar untuk tidak layak disuguhi maaf, tak pantas untuk duduk di sebelahmu lagi walau sebetulnya aku ingin sekali.
A, kamu itu seperti lautan di dunia ini, kamu terlalu sulit aku benami. Seperti cakrawala di atas horizon semesta, kamu terlalu jauh untuk aku gapai. Seperti banyaknya teori metafisika, isi kepalamu terlalu susah diuntuk dipecah.
Kamu tetap menjadi misteri terbesar di dalam perjalanan 30 tahun hidup dimana aku si penakut dan terlalu banyak pertimbangan ini, beberapa tahun lalu berani melangkah jauh untuk memilih hidup berdua. Memilih kamu untuk berhenti menjadi labuhan terakhir sampai nanti dipisahkan oleh batas ambang kehidupan.
Tapi karena kegegabahanku sendiri, kamu akhirnya pergi. Dan sudah 1,5 tahun kamu menutup pintu. Memendam semua amarah, dendam, benci atau apapun itu yang pantas kamu sematkan. Aku tau aku sangat pantas.
Tapi mungkin kamu juga nggak sadar, aku selalu berdiri di depan pintu itu. Nggak kemana-mana, menunggu untuk dibukakan walau tak pernah ada lagi kesempatan.
A, rasanya baru seperti kemarin di kepalaku terbesit tentang bagaimana bahagia sesederhana membuka tirai jendela saat pagi tiba dan cahayanya memaksa masuk untuk melihat rupamu saat dalam masih di dalam batas sadar mimpi dan realita.
Atau sekedar memastikan helm yang melindungi kepalamu itu sudah terkunci aman sesaat sebelum kita membunuh jalanan Jakarta.
Atau mungkin sekedar menghabiskan siang dengan menontonmu memainkan tuts-tuts piano di rumah kita nanti sambil mengelus kucing-kucing nakal di taman rumah?
Semua itu terjadi ternyata, tapi bukan denganku disebelahnya.
Aku terlambat ya? Terlalu lambat untuk kapasitas inci memori kepalaku kalau ternyata aku mau menghabiskan sisa usia cuma denganmu saja. Melihatmu tertawa, menyaksikan banyak suka-duka berdua, menggenggam jemari menjagamu dalam dekap ketika sedang berlibur di Eropa. Atau mungkin sekecil membantumu menghapus rias wajah setelah menghadiri pesta teman kecil kita?
Yang pasti sih semuanya ada tapi dalam angan saja. Berhenti dalam batas harap, tak pernah terserap menjadi nyata.
Aku sedih sedikit sih. Tapi aku pun juga bahagia karena kamu akhirnya mempunyai dia yang selalu ada.
Maaf ya A. Aku menulis ini karena memang tak ada medium lagi yang menghubungkan kita kembali.
Aku hanya ingin minta maaf dan mengucap selamat.
Semoga rencanamu di tahun selanjutnya menemukan muara.
Aku turut berbahagia. Benar, tak ada dengki, iri ataupun niat untuk mencuri.
Entah sampai kapan kamu membatasi, tapi yang perlu kamu ketahui, puisi dan doa akan selalu tertulis disini (walau aku tau kamu tak akan sudi untuk mampir).
Jakarta, 4 November 2024.