#23 — Sinyal Langit, Menguat!
Tragedi demi tragedi layaknya peristiwa yang terulang. Apakah kita betul-betul mulai tersadar atau barangkali sudah terbiasa?
Selalu percaya, tidak ada yang kebetulan di seluruh semesta ini.
Sesuai firmanNya, "sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran" [al-Qamar: 49]
Memberi sinyal kuat bahwa segalanya yang terjadi telah ditakdirkan olehNya. Tanpa terkecuali, termasuk kedua tragedi yang baru-baru ini kita dengar (seperti) berulang yang menewaskan hingga ratusan nyawa.
Belum usai ingatan kita dan turut berduka di awal bulan, di bulan yang sama, layaknya awal dan akhir, terjadi di akhir bulan. Tidak ada yang kebetulan!
Semakin kesini, makin kesana. Menuju akhir dengan rahasiaNya.
Terlalu banyak kehancuran yang kita dengar, saksikan bahkan rasakan.
Jelas, pertanyaan besar yang pantas ditujukan terlebih dahulu ke masing-masing diri kita. Perihal keserakahan, ketidakpedulian, keegoisan, kearoganan, serta deretan sikap dan sifat kerdil lainnya.
Keserakahan. Kini, bumi yang makin tua renta digunduli, dilubangi, dibakar, dikeruk segala isinya hingga bencana alam terjadi dengan miskin tanda, perubahan iklim makin nyaris tidak terdeteksi, penyakit makin datang tiba-tiba, dan segala sebab-akibat yang makin tanpa perkiraan.
Keegoisan. Kini, bukan rahasia umum, saat yang kaya makin jaya lalu yang miskin makin melarat. Ada yang lebih parah dari maju dengan menyikut pesaingnya, yaitu saat diri tidak peduli dengan sekitarnya, ya, lebih memilih fokus pada hidupnya. Tok. Tanpa perlu berbagi, tak harus tau kondisi lingkungannya, berhubungan baik jika ada untungnya saja, sangat dan sangat kerdil.
Kearoganan. Kini, atas dasar harta, tahta dan ruang beriak (media sosial). Semua orang berhak menginjak-injak harga diri sesamanya. Membunuh, menyiksa, melecehkan, bahkan membully. Tanpa harus sadar akan sisi kemanusiaan terhadap sesama manusia yang berakal sehat dan berhati nurani.
Seluruhnya, bagian dari tamparan keras untuk kita semua.
Apa yang perlu dimerdekakan?
Fokus menjadi diri yang sadar diri, sadar posisi dan sadar peran.
Tidak mungkin, semua sendi problematika hanya diselesaikan oleh beberapa orang saja, suatu golongan, suatu negara atau kita sebagai bagian kecilnya.
Apatis atau netral. Bukanlah sikap yang berkesadaran. Hidupkan partisipasi terkecil sebagai diri. Ya, sadar politik, misalnya.
Banyak peran yang bisa kita ambil, namun tak semua dari kita rela, bersedia dan berani untuk ikut ambil bagiannya. Ada yang puas pada zona nyamannya hingga tidak lagi merasa perlu peduli pada apa-apa yang perlu dibenahi diluar dirinya.
Layaknya, rela mati akan nuraninya sebagai manusia asal aman sentosa. Tanpa nambah drama, tanpa perlu habiskan energi (lagi).
Padahal hidup soal menata sebuah tanggungjawab sosial yang kemudian olehNya diterjemahkan jadi keberkahan. Ya, soal kebermanfaatan apa yang bisa kita lakukan. Semampunya dan setulus-tulusnya, tak lebih.
Selamat bertumbuh bersama semesta!
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin