Bohong
Katanya, orang yang gampang banget nge-gap-in orang lagi bohong itu, biasanya yang paling jago bohong. Biasanya.
Mungkin gue gitu. Mungkin juga enggak.
Namun yang dapat dipastikan adalah…. Saya benci membohongi ataupun dibohongi sama orang.
Kenapa? Karena gue tau celahnya orang itu buat ngebohong itu di mana! Sebagai orang bodoh, gue bisa baca! I can see through them!
Silakan. Bilang gue sotoy. Bilang gue suges. Bilang.
Tapi kenyataannya demikian. Gue, bisa liat.
Alasan lain yang membuat gue ga suka bohong adalah karma atau bahasa orang jawa itu “Kualat”. Iya, gue kualatan anaknya. Bohong dikit, kualat. Bohong dikit, kena karma. Instan prosesnya.
Silakan. Bilang gue sotoy. Bilang gue suges. Bilang.
Dulu, pas masih sekolah, gue suka ngeboongin orangtua demi kesenangan gue. Demi bisa main sampe malem, gue bohong. Demi bisa nginep tempat temen, gue bohong. Demi bisa dapet uang jajan lebih, gue juga bohong.
Muka polos kayak Chibi Maruko Chan. Tapi suka bohongin orangtua.
Faktor selain “kesenangan pribadi” yang membuat gue bohong adalah, gue dulu jadi sandsack. Dari kecil gue selalu diajarin untuk memberi lebih kepada orang lain. Entah itu uang, makanan, bantuan, tenaga, bahkan kasih sayang….. Harus dilebihkan. Agar semua bahagia dan itu gue jadikan tabungan karma baik buat gue. Gue diajarkan untuk selalu percaya bahwa segala tindakan baik, akan berbuah baik. Tapi saat itu gue masih kecil. Masih bodoh dan perhitungan. Hal baik yang gue lakukan, harus segera ada balasannya, walaupun gue tidak menuntut secara terang2an ke orang lain ya.
Saat itu, apapun yang gue lakukan ga dihargai sama orang. Usaha gue, kerja keras gue, ga ada sama sekali yang mengapresiasi. Semua berbalas bully. Bukan berbalas budi. Entah itu di sekolah, atau di keluarga gue sendiri. Dimaki. Dipukul. Kena fitnah. Macem-macem deh.
Walaupun saat terberat itu gue tetep punya sahabat-sahabat gue, tapi kebiasaan gue ga pernah curhat. Semua berusaha diselesaikan sendiri, semua disimpan sendiri.
Sampai akhirnya gue belajar bagaimana poker face. Belajar ikut nangis meraung-raung sama orang lain, padahal gue biasa aja, ga sedih. Belajar ketawa terbahak-bahak, senyum selebar-lebarnya padahal lagi hancur.
Puncak “belajar bohong” itu gue pelajari saat gue kerja sama orang di Kementrian Pekerjaan Umum, di Bina Marga, Jakarta Selatan sepanjang tahun 2014 sampai pertengahan 2015. Sebentar, tapi ilmu bohongnya banyak.
Dari bos gue, gue diajarin cara membaca orang. Istilahnya mana kumpulan kerbau, mana kumpulan kambing, dsb. Kerbau akan berkongsi dengan sesama kerbau. Kambing akan berkongsi dengan sesama kambing, dan akan saling membodohi satu sama lain.
Gue belajar pattern kebiasaan orang per orang. Gue juga belajar memancing kebohongan orang. Maksudnya mancing buat ngecek apakah orang ini bohong atau nggak. Gue pun diajarin cara menghadapi kebohongan orang-orang itu satu persatu. Belajar cara bikin skak mat orang yang lagi bohong, sampai orangnya nyerah lalu terpaksa jujur. Kerjaan gue di sana emang bukan itu. Tapi dapet ilmunya dari orang yang tepat.
Selain kepercayaan gue akan karma dan mulai pinter ngebaca orang, gue makin nggak mau bohong. Even a white lie. Gue ga mau.
Berdasarkan pengalaman, kayaknya gue lebih pilih dimaki2, dipukulin karena gue jujur, daripada ditraktir karena gue bohong. Karena ketika gue bohong & mereka tau kebenarannya, mereka kecewa sama gue. Atau menyesali kenapa gue ga jujur di awal. Atau, jika ada kebohongan yg dilakukan orang lain dengan melibatkan orang lain, gue lebih pilih diam, pura-pura ga tau orang lain aja yang ngebongkar, jangan gue. Gue mau aman.
Contoh, gue tau gue melakukan kesalahan ke nyokap gue, misalnya. Kalo gue bilang, gue kena maki. Kalo ga bilang, gue kena amuk dan bonus2 lainnya.
Bohong kecil atau bohong besar, dosanya sama. Maka gue akan bilang sejujurnya. Biarin deh dimaki. Yang penting ga kena bonus2 ga enak lainnya.
Semakin gue bertambah usia pun, gue semakin menghargai kejujuran orang.
Semakin mengerti juga kenapa mergokin orang bohong itu bikin kepercayaan luluh lantak.
Semakin mengerti kenapa gue kalo pergi malem atau pulang telat itu harus bilang.
Semakin mengerti kenapa kok harus rajin ngabarin orang rumah (atau pacar, kalo lo punya pacar).
Mereka bukan semata-mata melarang. Mereka bukan semata-mata tidak suka.
Tapi kita ga pernah tau kapan karma buruk yg pernah kita lakukan, akan terbalaskan pada kita.
Kita ga pernah tau kapan kita kena sial. Bisa ketika malam itu kita asik main sama teman-teman, kita kena celaka, atau orang rumah ada yg celaka tapi karena kita ga biasa kasih kabar, ga biasa bilang, atau justru bohong sekalian, kita malah melewatkan momen karena kita cuek.
Bisa lagi asik ketawa, kena bacok orang lewat.
Gue yakin banget orang yang hobi ngamuk atau marah kalo ga dikabarin atau dibohongin, itu punya rasa sayang yang cukup besar buat kita. Punya rasa takut kepercayaannya hilang. Dia sedang menjaga hatinya dan dirimu.
Bukan soal khawatir berlebihan. No. Tapi soal percaya akan adanya energi kekuasaan terbesar di alam semesta ini.
Karena ketika orang-orang yang kamu cintai kehilangan kepercayaannya padamu, hidupmu susah.
Kamu melukai kepercayaan ibumu, hidupmu susah.
Kamu melukai kepercayaan sahabat2mu, ga ada lagi tempat buatmu berkeluh kesah dan bersenang2 lagi. Hidupmu susah.
Ini bukan soal mindset atau doa baik/buruk. Ini soal keimanan dan keamananmu.
Kalau mau hidupmu tenang, jauh dari kesepian, jangan bohong.
Yuk, dipupuk lagi kebiasaan jujur. Karena penyesalan, tidak pernah datang di awal. Jakarta, 3 Juli 2017 Dhiaz Danastri.








