Beda itu indah. Asal jangan ada dusta diantara kita 😁 #kucinglovers #jujurituhebat #bedaituindah https://www.instagram.com/p/BwncZS1Fa1a/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=3o4vpnc4tjsg
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Russia
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from China

seen from Malaysia

seen from Japan
seen from Germany

seen from Argentina
seen from Mexico
seen from United States

seen from United States
seen from Australia
seen from Singapore

seen from Sweden
seen from Sweden
Beda itu indah. Asal jangan ada dusta diantara kita 😁 #kucinglovers #jujurituhebat #bedaituindah https://www.instagram.com/p/BwncZS1Fa1a/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=3o4vpnc4tjsg
Bohong
Katanya, orang yang gampang banget nge-gap-in orang lagi bohong itu, biasanya yang paling jago bohong. Biasanya.
Mungkin gue gitu. Mungkin juga enggak.
Namun yang dapat dipastikan adalah…. Saya benci membohongi ataupun dibohongi sama orang.
Kenapa? Karena gue tau celahnya orang itu buat ngebohong itu di mana! Sebagai orang bodoh, gue bisa baca! I can see through them!
Silakan. Bilang gue sotoy. Bilang gue suges. Bilang.
Tapi kenyataannya demikian. Gue, bisa liat.
Alasan lain yang membuat gue ga suka bohong adalah karma atau bahasa orang jawa itu “Kualat”. Iya, gue kualatan anaknya. Bohong dikit, kualat. Bohong dikit, kena karma. Instan prosesnya.
Silakan. Bilang gue sotoy. Bilang gue suges. Bilang.
Dulu, pas masih sekolah, gue suka ngeboongin orangtua demi kesenangan gue. Demi bisa main sampe malem, gue bohong. Demi bisa nginep tempat temen, gue bohong. Demi bisa dapet uang jajan lebih, gue juga bohong.
Muka polos kayak Chibi Maruko Chan. Tapi suka bohongin orangtua.
Faktor selain “kesenangan pribadi” yang membuat gue bohong adalah, gue dulu jadi sandsack. Dari kecil gue selalu diajarin untuk memberi lebih kepada orang lain. Entah itu uang, makanan, bantuan, tenaga, bahkan kasih sayang….. Harus dilebihkan. Agar semua bahagia dan itu gue jadikan tabungan karma baik buat gue. Gue diajarkan untuk selalu percaya bahwa segala tindakan baik, akan berbuah baik. Tapi saat itu gue masih kecil. Masih bodoh dan perhitungan. Hal baik yang gue lakukan, harus segera ada balasannya, walaupun gue tidak menuntut secara terang2an ke orang lain ya.
Saat itu, apapun yang gue lakukan ga dihargai sama orang. Usaha gue, kerja keras gue, ga ada sama sekali yang mengapresiasi. Semua berbalas bully. Bukan berbalas budi. Entah itu di sekolah, atau di keluarga gue sendiri. Dimaki. Dipukul. Kena fitnah. Macem-macem deh.
Walaupun saat terberat itu gue tetep punya sahabat-sahabat gue, tapi kebiasaan gue ga pernah curhat. Semua berusaha diselesaikan sendiri, semua disimpan sendiri.
Sampai akhirnya gue belajar bagaimana poker face. Belajar ikut nangis meraung-raung sama orang lain, padahal gue biasa aja, ga sedih. Belajar ketawa terbahak-bahak, senyum selebar-lebarnya padahal lagi hancur.
Puncak “belajar bohong” itu gue pelajari saat gue kerja sama orang di Kementrian Pekerjaan Umum, di Bina Marga, Jakarta Selatan sepanjang tahun 2014 sampai pertengahan 2015. Sebentar, tapi ilmu bohongnya banyak.
Dari bos gue, gue diajarin cara membaca orang. Istilahnya mana kumpulan kerbau, mana kumpulan kambing, dsb. Kerbau akan berkongsi dengan sesama kerbau. Kambing akan berkongsi dengan sesama kambing, dan akan saling membodohi satu sama lain.
Gue belajar pattern kebiasaan orang per orang. Gue juga belajar memancing kebohongan orang. Maksudnya mancing buat ngecek apakah orang ini bohong atau nggak. Gue pun diajarin cara menghadapi kebohongan orang-orang itu satu persatu. Belajar cara bikin skak mat orang yang lagi bohong, sampai orangnya nyerah lalu terpaksa jujur. Kerjaan gue di sana emang bukan itu. Tapi dapet ilmunya dari orang yang tepat.
Selain kepercayaan gue akan karma dan mulai pinter ngebaca orang, gue makin nggak mau bohong. Even a white lie. Gue ga mau.
Berdasarkan pengalaman, kayaknya gue lebih pilih dimaki2, dipukulin karena gue jujur, daripada ditraktir karena gue bohong. Karena ketika gue bohong & mereka tau kebenarannya, mereka kecewa sama gue. Atau menyesali kenapa gue ga jujur di awal. Atau, jika ada kebohongan yg dilakukan orang lain dengan melibatkan orang lain, gue lebih pilih diam, pura-pura ga tau orang lain aja yang ngebongkar, jangan gue. Gue mau aman.
Contoh, gue tau gue melakukan kesalahan ke nyokap gue, misalnya. Kalo gue bilang, gue kena maki. Kalo ga bilang, gue kena amuk dan bonus2 lainnya.
Bohong kecil atau bohong besar, dosanya sama. Maka gue akan bilang sejujurnya. Biarin deh dimaki. Yang penting ga kena bonus2 ga enak lainnya.
Semakin gue bertambah usia pun, gue semakin menghargai kejujuran orang.
Semakin mengerti juga kenapa mergokin orang bohong itu bikin kepercayaan luluh lantak.
Semakin mengerti kenapa gue kalo pergi malem atau pulang telat itu harus bilang.
Semakin mengerti kenapa kok harus rajin ngabarin orang rumah (atau pacar, kalo lo punya pacar).
Mereka bukan semata-mata melarang. Mereka bukan semata-mata tidak suka.
Tapi kita ga pernah tau kapan karma buruk yg pernah kita lakukan, akan terbalaskan pada kita.
Kita ga pernah tau kapan kita kena sial. Bisa ketika malam itu kita asik main sama teman-teman, kita kena celaka, atau orang rumah ada yg celaka tapi karena kita ga biasa kasih kabar, ga biasa bilang, atau justru bohong sekalian, kita malah melewatkan momen karena kita cuek.
Bisa lagi asik ketawa, kena bacok orang lewat.
Gue yakin banget orang yang hobi ngamuk atau marah kalo ga dikabarin atau dibohongin, itu punya rasa sayang yang cukup besar buat kita. Punya rasa takut kepercayaannya hilang. Dia sedang menjaga hatinya dan dirimu.
Bukan soal khawatir berlebihan. No. Tapi soal percaya akan adanya energi kekuasaan terbesar di alam semesta ini.
Karena ketika orang-orang yang kamu cintai kehilangan kepercayaannya padamu, hidupmu susah.
Kamu melukai kepercayaan ibumu, hidupmu susah.
Kamu melukai kepercayaan sahabat2mu, ga ada lagi tempat buatmu berkeluh kesah dan bersenang2 lagi. Hidupmu susah.
Ini bukan soal mindset atau doa baik/buruk. Ini soal keimanan dan keamananmu.
Kalau mau hidupmu tenang, jauh dari kesepian, jangan bohong.
Yuk, dipupuk lagi kebiasaan jujur. Karena penyesalan, tidak pernah datang di awal. Jakarta, 3 Juli 2017 Dhiaz Danastri.
Kejujuran bukan cuma menyelamatkan kerugian negara aja kayak kata KPK, tapi juga menyelamatkan kebahagiaan dalam berhubungan. Kiw*
you know, kejujuran dalam suatu hubungan itu penting. penting di atas segala-galanya yang menurut saya sebelumnya gak begitu penting. bukan maslah bohong engganya yah, tapi masalah dimana kita bisa mengekspresikan dengan bebas apa yang kita rasain tanpa harus khawatir sama respon si dia kaya apa.
agaknya itu adalah hal yang paling utama yang saya pelajari dari hubungan yang saya jalani saat ini.
istilah ‘korban perasaan’ muncul akibat saya tidak jujur, akibat saya berusaha menutup-nutupi apa yang saya rasakan. menjaga agar si dia tidak sakit hati. menjaga supaya dia tidak pergi. dulu, sebelum dengan yang sekarang, tiap kali marahan, saya selalu waswas dengan bilang ‘kita gak papa kan? kamu masih mau sama aku kan?’ jangan salah, aku capek karena tiap marahan aku selalu ngecek seperti itu. tapi tetep aja aku tanyain, gara-gara takut dianya pergi. itu, motivasinya cuma satu, takut dia pergi. akhirnya aku pun selalu berusaha hati-hati kalau mau ngomong atau mau ngapa-ngapain takut dianya marah terus dia pergi. yang ujung-ujungnya justru gara-gara aku berlaku sok hati-hati gitu, gara-gara berlaku sok jaga perasaannya dia itu, dia pergi. aku nangis. tapi kemudian aku lega. karena pada akhirnya aku tahu, dia gak bagus-bagus amat buat aku jagain sampai nanti.
terus kalau sama yang sekarang, kalau seandainya dia orangnya gak sembrono kaya gitu bisa jadi aku juga masih sama kaya yang dulu. tapi, alhamdulillahnya engga. karena aku bisa mengikuti ritme kesembronoannya yang ternyata membangunkan kesembronoan yang juga aku sudah punya. misalnya seperti ini, dulu pas awal-awal deket, belum apa-apa dia bilang, ‘
coba kamu cari yang lain ya, aku gak mau kamu plilh aku karena kamu ga ada pilihan’
what the? maksud dia apaan? aku maunya sama dia kok disuruh nyari yang lain. aku juga ngecek ya, curhat ke temen-temen ku yang lain, takutnya aku salah ngerti dengan apa yang dia katakan. tapi ternyata semua orang yang ku ceritakan juga responnya sama kaya gitu what the? dia serius sama kamu apa engga sih? maksudnya main-main kali, dia ngetes kamu kali.. dan semua pernyataan yang senada dengan itu. sampai akhirnya aku coba lakukan permintaan dia, bertemu dengan orang baru karena dia ngajak ketemuan, atau bertemu dengan mantan lama karena dia sedang bosen dengan pacar barunya.
dan.. akhirnya I get what he meant. semakin aku ketemu orang banyak, justru semakin menguatkan pilihanku sama dia. artinya, aku milih dia dengan sadar. bukan karena aku desperate gak ada yang lain gara-gara habis dipatahin hatinya oleh dua orang dalam waktu yang hampir bersamaan. tapi karena gak ada orang yang kaya dia. dia dengan aku ngobrol biasa aja gitu, tanpa embel-embel jalan-jalan, atau embel-embel makan bareng, atau embel-embel nonton yuk aku udah seneng. aku udah nyaman. dan kenyamanan dan kesenangan yang aku senangi itu tidak aku temukan dibanyak orang yang aku temuin dalam rangka nurut sama dia untuk nyari orang lain. keren banget kan dia? sapardi banget lah, aku mencintaimu dengan sederhana. wkwkk
well, tapi bukan itu intinya yang pengen aku ceritain. persoalan yang betul-betul membuatku mendapatkan pelajaran itu adalah ketika beberapa hari yang lalu juga termasuk hari ini terjadi.
beberapa hari yang lalu, saya sedang kesel, kekesalan saya juga tidak mampu saya tahan yang akhirnya saya ekspresikan ketika ngobrol sama dia:
ah apaan sih kamu, ya udah kalau kaya gitu mah gausah telponan deh. aku juga karena lagi kesel, dan yang namanya lagi kesel pasti sebodo amat, akhirnya ku bilang, yaudah tutup aja sana.
bukannya ditutup, yang terjadi kemudian adalah, suaranya melembut, meskipun terdengar tetep agak kesel, tapi dia sambil pelan-pelan bilang, kamu kenapa sih, ada apa..
hehe, sederhana, tapi aku sendeng banget ditanya gitu.
terus, pas tadi, aku baru dapet pengumuman yang membuatku merasakan kesedihan. aku cerita, bukannya menghibur dia malah nyalahin. dia telpon, terus ku tutup karena lagi di jalan. niatnya gak akan ku telpon balik gara-gara responnya gitu. tapi pada akhirnya ku telpon, dengan ku buka:
kamu jangan nyalahin aku kayak gitu atuh. aku teh lagi sedih. aku udah nyari beasiswa, tapi aku gak nemu. bukannya kau gak nyari.
terus dia jawab,
hehe, iya bu, maap. iya tadi aku nyalahin, tapi kan sekarang udah engga. hehe
terus telpon pun berjalan lagi, kekesalan ku pun hilang, termasuk ternyata kesedihanku juga. pas ditanya bang malik tadi; gimana kim kuliah? dengan enteng, yang asal kamu tau aku sebelumnya sedihnya luar bisa sampe gak mau ketemu orang karena takutnya malah jadi marah-marah, aku bilang, hehe engga bang. tanpa perasaan sedih sama sekali.
terima kasih ya Pak, terima kasih banyak. kamu sesuatu. mmmuaach*
Aku lebih menyukai jujur meskipun itu menyakitkan, daripada bohong yang berlandas untuk kebaikan.
Akan lebih menyakitkan
Yang ngaku sayang sama Indonesia dan untuk mencegah regenerasi para koruptor #KuyJujurUN untuk Indonesia bebas korupsi ✊✊✊ #AngkatanPerubahan #SayaPelajarAntiKorupsi #JujurItuHebat #JujurBarengan
Jangan pernah meremehkan orang lain. Kita tidak tahu orang lain itu lebih baik dari kita. Seperti sebuah ayunan dari tali dan kayu ini. Terlihat ringkih dari jauh, tapi ternyata masih mampu mengangkat beban berat. 😂😂😂 Happy Monday everyone. Yang UN, jangan menganggap diri kalian tak mampu ya. Ada Allah yang membantu. Gak usah mengandalkan manusia. #ayunan #swing #pantai #lemah #kuat #beban #percayadiri #UN2017bersih #UNjujur #jujurituhebat #beranijujur
What a honest country!! Last year, about IDR 435 billion cash was found in public area around Tokyo. The founder then gave it to police, to wait for the owner claim it. Benar-benar negara yang jujur. Uang sebesar Rp. 435 milyar yang ditemukan diberbagai tempat, dan diserahkan ke kantor polisi. Bersama-sama barang temuan lain, seperti kunci dan kaca mata, uang itu ditampung menunggu pemiliknya datang mengklaim. #jujurituhebat #honest #japan #japantimes #instagrahman