Menjadi Pribadi yang Total
Setiap orang berharap untuk menjadi orang yang lebih baik kedepannya. Belajar dari masa lalu dan kemudian berdamai dengannya. Untuk menjadi pribadi yang tidak kembali mengulangi kesalahan yang sama, pribadi yang senantiasa belajar sehingga bisa menjadi pribadi yang lebih bijak dalam menghadapi asam-garam kehidupan.
Bagiku, kehidupan adalah perjalanan panjang tentang sebuah proses pembelajaran yang membentang antara langit dan bumi sejauh tubuh masih diberikan kesempatan untuk bernafas. Gurunya bisa siapapun. Materinya juga bisa apapun.
Kali ini, aku ingin sekali mendalami salah satu ilmu kehidupan, yaitu menjadi pribadi yang total.
Menjadi pribadi yang total, entah apapun peran yang dilakoni itu benar-benar sulit. Dimana peran yang aku lakoni tak hanya satu, yaitu sebagai hamba, yang kemudian juga berperan sebagai anak, sebagai pegawai, sebagai teman, dan juga sebagai calon istri dan ibu.
Sebagai hamba, dengan menjadi hamba yang totalitas, maka semua yang aku lakukan di dunia ini tujuan dan niatnya harus dikembalikan lagi, yaitu hanya kepadaNya. Sesuai dengan alasan kenapa aku terlahir di dunia ini, yaitu hanya untuk beribadah kepadaNya.
Belum lagi peranku sebagai anak, anak shalihah, anak yang menjadi kebanggaan orang tua, anak yang bisa membantu meringankan hisab kedua orang tua, anak yang mampu membantu meringankan beban hidup mereka, serta anak yang bisa terus menerus menorehkan senyuman di wajah renta mereka.
Ya, apapun perannya. Aku rasa aku harus totalitas dalam memainkannya. Menjadi pribadi yang total tentu bukan suatu hal yang mudah tetapi bukan sesuatu hal yang juga tidak mungkin untuk dipelajari.
Soft skill ini butuh komitmen. Sebuah perjanjian kuat dengan diri sendiri.
Soft skill ini butuh niat. Meluruskan niat, bahwa semua ini sebagai jalan untuk semakin dekat denganNya.
Soft skill ini butuh ilmu. Ingin menjadi hamba yang total maka perlu banyak belajar ilmu agama. Ingin menjadi anak yang total maka perlu banyak berbakti kepada orang tua. Ingin menjadi istri dan ibu yang total maka perlu banyak membaca ilmu pernikahan dan juga ilmu parenting. Semuanya perlu di pelajari karena semua ada ilmunya. Belajar dengan sebenar-benarnya belajar. Tidak setengah-setengah sehingga hasilnya pun tidak akan setengah-setengah. Sudah seyogyanya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Soft skill ini butuh keyakinan. Bahwa diri ini mampu. Bahwa diri ini memang mampu. Dan bahwa diri ini memang benar-benar mampu. Mampu menjadi pribadi yang total.
Soft skill ini butuh kesabaran. Berubah itu tidak semudah membalikan telapak tangan ataupun semudah menghapus tulisan di layar dengan menekan tombol delete. Semua butuh proses. Proses butuh waktu. Dan waktu butuh kesabaran. Karena perjalanan ini perjalanan panjang, maka sepanjang itu pula kesabaran itu diperlukan.
Soft skill ini butuh action. Jangan hanya jadi wacana. Rencana tanpa aksi. Rencana itu perlu untuk direalisasikan agar tidak hanya sekedar menjadi wacana.
Diri ini masih harus banyak bebenah. Termasuk membenahi setiap niat atas apa-apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan.
Salemba,
27 Januari 2017
@azaleaputri












