Teruntuk seseorang yang sedang ku kecewakan dan selalu ku kecewakan sampai detik ini. #1
Mata nya kini, selalu membayang-bayang diriku bahwa ada setitik kekecewaan yang berada dalam dirinya , bahkan hatinya (?)
Yaa.. Bahkan bukan setitik lagi, bisa jadi setebal buku merah yang ada di pojok ruang kamar yg sulit ku khatamkan hingga detik ini .
Bukan hanya itu aja, tapi yang paling membekas dalam diri ini saat menatap matanya, kekecewaan itu ditunjukkan pada diriku yang dulu menjadi harapan baginya, harapan untuk menjadi "profesi" yang diharapkannya, menjadi kebanggaannya, TAPI harapan itu sudah sirna dengan waktu 3 setengah tahun yang sudah aku jalani saat ini
Aku sadar, aku bahkan.. sedih, bahkan enggan, merasa kecewa pada diri sendiri hingga merasa tidak pantas untuk menatap matanya (lagi)
Bukan seperti ini harusnya aku bersikap. Bukankah harus kau syukuri apa yang masih bisa kau lihat? Apa yang masih bisa kau rasakàn kasih sayangnya, apa yang masih bisa kau lihat senyumannya, apa yang masih bisa kau perjuangkan untuk orang tersayang tersebut?
Aku sadar, bahwa BERSYUKUR adalah jalan dan langkah terbaik saat peristiwa ini terulang dan terulang (lagi). Menjadi "tamparan" lagi dan lagi agar aku harus lebih berjuang, harus lebih berkorban, DAN harus lebih BERSABAR sampai waktu kekecewaan itu akan hilang di matanya, terbayarkan dengan sesuatu yang bisa ku ganti kan untuknya yang lebih dan lebih baik lagi insyaAllah, SEMOGA, BIIDZNILLAH, aamiin aamiin.
yang AKU PERCAYA bahwa Allah SWT sudah mengatur "lalu lintas" kehidupan ini dengan sedemikian indah dan rapi nya.
Lantas mengapa masih ada kekecewaan pada diri?
Astaghfirullahal 'aadziim aku .
Senja Soerabadja, 9 oktober 2020