Umat Islam dan Wacana Poros Kemaritiman Dunia
Nenek Moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak, tiada takut
Menempuh badai, sudah biasa
(Lagu Anak Nasional, Nenek Moyangku Orang Pelaut)
Pemerintahan Presiden Joko Widodo sudah mencapai tiga tahun jabatannya. Sekilas dilihat dan diseksamai, pernak-pernik pemerintah kita sekarang diisi dengan agenda pembangunan infrastruktur yang sangat masif; jembatan-jembatan dibangun, jalan tol diperbaiki kualitasnya, transportasi diperbaharui, dan banyak lagi. Namun, satu hal diantara janji dan komitmen Bapak Jokowi dan Jusuf Kalla selama kampanye mereka dalam Pilpres 2014, adalah menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Nah, itu dia satu gagasan yang bagi saya fantastis, pertama karena judulnya keren, kedua karena program ini punya historical value yang tinggi.
Kemudian akhirnya muncul pertanyaan; apa pentingnya menjadi poros kemaritiman? Toh telah ada daratan dan udara yang memungkinkan perpindahan logistik bisa lebih cepat, iya kan?
Tidak, tidak semudah itu ‘menghakimi’ kemaritiman dan segala yang ada di dalamnya. Perbincangan kita dalam tulisan itu bukan menjangkau detail ilmu Geografi dan Kelautan yang jelas tidak ada dalam Muqarrar Universitas Al Azhar. Namun lebih dari itu, perlulah terbit di cakrawala idea kita pada sebuah tinjauan historis dan proyeksi masa depan dari sebuah peradaban besar, yakni sebagai bangsa Indonesia dan sebagai Umat Islam. Sebab, selain mesti memiliki spesifikasi terhadap satu disiplin ilmu, perlulah kita menjadi personal dengan generalisasi wawasan.
“Jika kita ingin menjadi bangsa pemenang, bangsa yang disegani, bangsa yang dihormati di kawasan ini dan dunia, kita harus memiliki kekuatan maritim yang kuat”, tutur Rizal Ramli yang pernah menjadi Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya, “termasuk kapal-kapal dagangnya, kapal-kapal perikanannya. Siapa yang menguasai laut, akan menguasai dunia.”
Senada dengan itu, baik Presiden Jokowi dan para Ilmuwan seperti Dr Hilmar Farid mengangguk setuju dengan koneksi amat kuat antara proyek besar poros kemaritiman dengan romantisme sejarah Indonesia yang identik dengan nuansa kelautan.
“Kita belajar tentang Majapahit”, tutur Dr Hilmar, “tapi bukan tentang kejayaannya di masa lalu, melainkan mengenai pergulatan kekuatan yang memungkinkannya muncul sebagai kerajaan besar”, yakni dalam dunia kemaritiman, seperti dilansir situs maritim.go.id.
Pun ketika masa sekolah dasar, kita diajari guru kita untuk mengamini sebuah gelar yang disematkan untuk kerajaan Sriwijaya, yakni “Kerajaan Maritim”, yang kelak sekarang dibawa menjadi gelar baru Indonesia kita, “Negara Maritim”, tentu bukan tanpa sebab.
Mengapa Kelautan Menjadi Sangat Penting?
Banyak sekali faktor yang membuat kelautan menjadi satu proyek besar untuk dibangun di atasnya menara-menara gagasan dan ide. Namun izinkan kami melirik proyek besar ini dari sudut pandang sederhana, sebagai mahasiswa penuntut ilmu agama di Negeri Mesir, diiringi wawasan kilas sejarah dan peradaban Islam yang juga pernah menjadikan Mesir sebagai poros kemaritiman dunia.
Salah satu sejarawan yang menggaungkan perlunya anak-anak muda Muslim untuk mempelajari kemaritiman adalah DR Ahmad Mansur Suryanegara, Dosen Sejarah Universitas Indonesia. Lewat karya ‘Api Sejarah’ serta ‘Al-Quran dan Kelautan; Sejarah Maritim yang Terupakan’, beliau mencoba menyusun kembali puzzle sejarah dan menjelaskan pada kita betapa pentingnya menjadi poros maritim; sebab ada korelasi antara puncak kejayaan ‘Golden Ages’ Umat Islam dengan hegemoni kemaritiman negeri-negeri muslimin di waktu yang sama, mulai dari Asad bin Al Furat sang ulama penakluk Sicilia, kemegahan Aljazair sebagai pelabuhan masyhur internasional, sampai Admiral Piri Reis yang menemukan Amerika untuk kali pertama.
Pun sama dengan N.A Baloch, sejarawan Pakistan yang menggemakan Maritim Theory. Beliau dengan lugas menyebutkan, bahwa di masa kejayaannya, Umat Islam memiliki banyak navigator/mualim dan wirausahawan muslim yang dinamis dalam penguasaan maritim dan pasar. Korelasinya sangat lugas antara penguasaan Kaum Muslimin atas 2/3 samudera dunia dengan sampainya risalah agama Islam ke seluruh penjuru bumi, khususnya belahan bumi di Asia Timur dan Tenggara yang diislamkan lewat medium perdagangan di wilayah maritim.
Simpulan paling sederhananya; penguasaan dan dominasi atas wilayah maritim berdampak pada grafik naik dalam siklus peradaban Umat Islam, bahkan peradaban secara umum.
Umat Islam dan Legenda Kelautan yang Menyejarah
“Sesungguhnya Futuhat Islamiyah di masa kekhalifahan Abu Bakr As Shiddiq dan Umar ibn Al Khattab menjadi titik tolak terbitnya kekuatan maritim Islam dan kekuasaannya atas Laut Mediterania”, tulis sejarawan muslim yang mengambil spesifikasi dalam pengembangan atlas sejarah, DR Syauqi Abu Khalil dalam bukunya Fath Ash Shaqliyah bi Qiyadati Asad bin Furat, “khususnya hegemoni Umat Islam atas pantai-pantai Syam dan Mesir, yang juga menandakan berakhirnya dominasi kekuatan maritim Romawi Timur atas Laut Mediterania.”
“Adalah Khalifah ketiga Umat Islam, Utsman ibn Affan, yang pertamakali mengizinkan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk bertempur dengan Romawi Timur lewat medan maritim”, tulis DR Syauqi. Ekspedisi kelautan pertama adalah pembebasan Cyprus dari tangan Romawi Timur, yang diperkirakan oleh para sejarawan, saat itu Umat Islam telah memiliki 1900 kapal perang yang kokoh dan efisien.
Adapun momentum paling menyejarah pengubah peta kekuatan maritim internasional kala itu, adalah pertempuran Dzat Ash Shawary pada tahun 32 H/656 M, yang dalam literatur Eropa bertajub Battle of Phoenix, ketika 200 kapal Umat Islam yang bertolak dari Alexandria, dipimpin oleh seorang sahabat bernama Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh, melawan 1000 kapal perang Romawi Timur di wilayah laut bernama Lycia dekat Turki sekarang ini. Kaum Muslimin secara telak memenangkan pertepuran laut pertama ini, dan “akhirnya dunia mengetahui ada sebuah kekuatan besar nan baru, yang berhasil memukul mundur armada maritim terkuat di dunia saat itu”, rekam DR Syauqi Abu Khalil.
Fenomena ‘Arsenal’ dan ‘Admiral’
Semenjak kekuatan maritim Umat Islam menguasai Laut Mediterania, mereka menjadi penggagas ide dan peradaban baru yang menginspirasi dunia. Melalui kekuatan maritim, kaum Muslimin menyiarkan pemikiran, barang dagangan hingga bahasa ke seluruh pelosok Eropa. Sebagaimana ditulis oleh Ahmad Adil Kamal dalam Athlas Al Futuhat Al Islamiyah, begitupula dalam buku Tarikh Ghazawat Al ‘Arab karya Syakib Arselan, Umat Islam secara perlahan namun pasti menguasai pos-pos Laut Mediterania seperti Cyprus (635 M), Rhodes (672 M), Crete (825 M), Sicilia (827 M), Malta (869 M), Palermo (902 M) dan Sardinia (1015 M).
Bahkan sebuah memorial sejarah terpahat megah dalam buku ‘Allah’s Sonne über dem Abendland’ (Mentari Allah bersinar atas Barat; Keutaamaan Arab atas Eropa) karya Sigrid Hunke seorang orientalis Jerman, bahwa banyak sekali kosakata kemaritiman dalam bahasa Inggris yang diserap dari istilah-istilah kelautan Umat Islam. Misalnya ‘cable’ diserap dari kata ‘habl’, kata ‘arsenal’ yang bermakna “gudang senjata” diserap dari kata ‘daar ash shina’ah’ yang bermakna hampir sama, sedang ‘admiral’ yang bermakna “laksamana” diserap dari kata ‘amir al bahr’ yang bermakna “pemimpin laut.” Marvelous, isn’t it?
“Apakah Mungkin Melukis Ulang Sejarah Kemaritiman?”
Ada banyak sekali fenomena yang membuat kita bergeleng kepala; tentang umat Islam umumnya dan bangsa Indonesia khususnya, yang memiliki bilik-bilik sejarah megah, namun belum sepenuhnya diolah menjadi pemantik untuk memproyeksi tangga kejayaan di masa depan. Masih banyak legenda kemaritiman Umat Islam -baik abad pertengahan maupun kontemporer- yang menyuguhkan preseden (hal yang telah terjadi lebih dahulu dan dapat dipakai sebagai acuan) bahwa kita punya peluang menjadi maritim power di zaman baru.
Hiruk pikuk dunia tidak lagi sebatas bipolar; antara Eropa-Islam, Komunis-Kapitalis, Amerika Serikat-Rusia. Semua itu telah samar-samar lalu runtuh. Hari ini telah timbul sebuah realitas bahwa semua kekuatan dunia memiliki peluang untuk menjadi yang terbaik diantara yang lain, dalam artian blok-blok Internasional telah berubah menjadi multipolar. Berangkat dari realitas itu, kesadaran putra bangsa Indonesia terhadap ‘bakat maritim’ negerinya harus dinarasikan dengan masif. Apalagi kita, penuntut ilmu di luar negeri, mau tidak mau, selain harus mendalami spesifikasi yang kita geluti, kita punya tugas tambahan untuk menyeksamai perubahan dunia; kemudian memetakan langkah agar bisa dengan tepat mengisi kekosongan narasi untuk Indonesia.
(ditulis tahun 2016 untuk Majalah PPMI Mesir)