Apa itu Laparoskopi? Ini Penjelasannya
Sebuah prosedur bedah minimal invasif dengan cara membuat sayatan kecil di area dinding perut menggunakan bantuan alat yang berbentuk tipis, alat ini dinamakan laparoskop. Prosedur tersebut dinamakan dengan laparoskopi, dalam kata lain prosedur bedah ini menggunakan kamera dan cahaya yang terletak di ujung kamera tersebut.
Prosedur ini dilakukan guna keperluan diagnosis atau juga pengobatan dan merupakan sebuah metode yang digunakan para dokter untuk mengetahui sejumlah kelainan. Seperti misalnya, infeksi, kista, fibroid dan perlengketan yang terjadi di dalam organ perut dan di area panggul. Tujuan dilakukannya prosedur ini adalah untuk pengambilan sampel jaringan pemeriksaan biopi.
Prosedur ini hanya dilakukan oleh dokter ahli bedah dan juga para dokter spesialis anestesi, dalam waktu satu jam sebelum pembedahan nantinya pasien akan diminta untuk pipis atau buang air kecil guna mengosongkan kandung kemih. Pasien juga akan diberikan cairan dan obat penenang melalui infus yang disuntikkan ke pembuluh darah di lengan.
Setelah itu dokter akan mengambil darah sebagai sampel yang diikuti beberapa pemeriksaan lain seperti elektrokardiogram, foto Rontgen, pemeriksaan fungsi paru-paru dan lain sebagainya. Beberapa pemeriksaan lain ini terlebih dahulu akan disesuaikan dengan usia dan kondisi kesehatan para pasien ketika akan menjalani operasi.
Sayatan kecil akan dilakukan untuk memulai bedah ini di area dinding perut dengan lebar lima sampai sepuluh milimeter, sayatan ini digunakan sebagai jalan masuk laparoskop. Tidak hanya satu, dokter bisa membuat sayatan ini lebih dari satu dengan tujuan yang sama yakni memasukkan laparoskop ke area perut lain.
Prosedur pembedahan ini pada umumnya berlangsung selama 30 hingga 90 menit, kondisi pasien juga memiliki menjadi faktor berapa lama proses ini akan dilakukan. Dengan adanya beberapa alat itu, dokter dengan mudah melihat kondisi isi perut dengan sangat jelas, jika sudah nantinya dokter akan mengeluarkan alat lain.
Kemudian memperbaiki kerusakan yang timbul, mengambil sampel dari jaringan hingga mengangkat tumor dan kista. Tak jarang, laser dipasangkan ke laparoskopi guna mendukung pembedahan dilakukan dengan lancar dan memudahkan berjalannya operasi. Setelah pembedahan selesai dilakukan, alat yang digunakan akan ditarik beserta gas yang digunakan untuk memompa perut.
Dokter akan membuat jahitan guna menutup kembali sayatan yang sebelumnya telah dibuat tadi, bekas jahitan kemudian akan diperban. Perlu diketahui bahwa pembedahan ini meninggalkan bekas jahitan yang sangat kecil, sehingga oleh para dokter yang menangani pasien dianjurkan untuk menghindari aktivitas berat selama satu minggu setelah operasi.
Pembedahan dengan metode terbilang relatif aman, namun demikian juga tetap memiliki efek samping. Sebanyak satu hingga dua persen pasien yang melakukan operasi ini bahkan mengalami komplikasi ringan, bisa seperti mual, infeksi, muntah hingga memar. Berikut ini beberapa efek samping yang dapat timbul karena proses laparoskopi.
- Mengalami reaksi alergi dalam skala serius yang diakibatkan obat bius.
- Mengalami penggumpalan yang terjadi di dalam pembuluh darah.
- Mengalami kerusakan organ dalam, seperti bisa terjadi pada usus dan kandung kemih.
- Mengalami kondisi di mana karbon dioksida masuk ke dalam pembuluh darah, ini merupakan efek samping dalam pemakaian gas.
Pasca menjalani operasi, pasien selanjutnya akan memasuki masa pemulihan dalam waktu yang singkat di ruang perawatan selama kurang lebih dua sampai empat jam. Dokter akan melakukan pemeriksaan meliputi tekanan darah, suhu tubuh, kadar oksigen dan irama jantung.