Sami'na wa ato'na
Saya termasuk orang yg kurang suka dengan pengaitan ajaran islam dengan logika atau analogi-analogi ringan seperti “pake jilbab deh, kamu lebih cantik pake jilbab.” Atau,“jangan pacaran, kalo pacaran tuh ntar nilai kamu jelek, karena km kebanyakan pacaran terus.” Karena kenyataannya saya juga punya teman yg jujur saja lebih cantik ketika dia tidak berjilbab, dan saya juga punya teman yang sudah pacaran lama tapi nilainya bagus-bagus saja bahkan dibandingkan dengan mereka yang single. Menganalogikan hal-hal semacam itu menurut saya hanya membuat mereka percaya tanpa ada dasar, sehingga nantinya ketika mereka mendapatkan penilaian “kamu aneh ih pake jilbab.” maka mereka tidak punya pembelaan terhadap perkataan semacam itu karena mereka tidak punya dasar dan hanya memiliki subjektivitas landasan diawal. Sami'na wa ato'na, saya mendengarkan dan saya melaksanakan, itulah yang benar. Karena larangan dan himbauan datangnya dari Allah, tidak perlu dipertanyakan mengapa karena Ilmu Allah itu Maha Tinggi, cukup laksanakan ketika kita mendengarkan. Kenapa bertanya lagi? Mau melanggar ketika alasan larangan/himbauannya tidak masuk akal secara logika manusia? Karena Agama Islam ini berdiri diatas Tauhid, ke-Esaan terhadap Allah, bukan terhadap logika kita yang kadang tertatih bahkan untuk berfikir matematika










