He said, nothing can stop us :)
KIROKAZE
Lint Roller? I Barely Know Her

if i look back, i am lost
ojovivo
AnasAbdin

Andulka

tannertan36
No title available
One Nice Bug Per Day
I'd rather be in outer space 🛸
art blog(derogatory)

Janaina Medeiros
Sweet Seals For You, Always
trying on a metaphor

shark vs the universe
No title available

祝日 / Permanent Vacation
todays bird
almost home
occasionally subtle
seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from Chile

seen from Uganda
seen from United States

seen from Vietnam

seen from Chile
seen from Singapore

seen from China

seen from Canada

seen from Russia
seen from Norway

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from Bolivia

seen from Brazil
@anabilayusaf
He said, nothing can stop us :)
Kunci dari kedewasaan adalah bersabar
Beda Jalan
Ada yang menikah di usia 20an, alhamdulillah. Energi masih banyak. Idealisme masih membara. Perjuangan membangun keluarga insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang menikah di usia 30an, 40an, atau lebih, alhamdulillah. Secara finansial sudah lebih mapan. Lebih matang juga dari berbagai segi. Kesabaran menjaga dan menyiapkan diri insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang bekerja sesuai impian dan passion, alhamdulillah. Kerja jadi ngga kerasa kerja. Dedikasi insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang bekerja di luar passion, alhamdulillah. Ada manfaat untuk sesama yang kadang lebih utama daripada impian pribadi. Kelapangan hati insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang memulai bisnis dan berhasil di usia 25, alhamdulillah. Masa mudanya produktif dan bermanfaat. Kerja keras insyaallah menjadi amal salehnya.
Ada yang mencoba berbisnis berkali-kali dan baru berhasil di usia 40, alhamdulillah. Pengalaman gagal bisa jadi jalan buat rezeki tak ternilai bernama kebijaksanaan. Ketekunan insyaallah menjadi amal salehnya.
Hidup tidak selalu berjalan sama untuk semua orang. Ada banyak hal yang terjadi di luar kendali kita. Tetapi, itu ngga perlu jadi masalah. Kita hanya berbeda dalam memilih jalan amal saleh. Tujuan kita tetap sama, kan?
Kita mungkin bertolak dari titik yang berbeda. Rute perjalanan kita barangkali ngga sama. Waktu keberangkatan dan kedatangan kita pun mungkin beda. Tetapi, jika kita mengarah ke tujuan yang sama, perbedaan itu tidak menjadi masalah.
Rute mana pun yang tengah kita jalani, duluankah atau belakangan kita memulai, cepat maupun lambat kita berjalan, selalu ada kesempatan untuk menghimpun amal saleh.
Toh, yang ‘menang’ bukan yang paling duluan sampai. Tapi yang paling banyak bawa muatan amal saleh selama perjalanannya. Biasanya kalau pengen dapet muatan banyak, perjalanannya pun bakal lebih berat. Semoga kita kuat.
BOSAN
A : gimana ya kalau dalam pernikahan nanti, salah satu diantara kt merasakan bosan?
S : Menurutku wajar (bukan berarti wajar itu benar) kl orang berubah seiring waktu. Because when people get used to things, they appreciate it less. Ya itu kembali lgi gimana sifat orgnya masing. Like i said, pernikahan itu kyk kmu milih makanan favoritmu, tpi tiap hari kmu makan itu trus. Pasti akan ada saatnya bosen. Gimana supaya gak bosen? Ya ditambah/diganti "bumbu2nya". Dan itu butuh effort 2 orang, bukan cuma satu. Yg terpenting adalah selalu memuji dan show affection and admiration terhadap pasangan. Tunjukin rasa sayang, puji pasangan dpn orang lain. Ketika seseoranh merasa dihargai dan disayang mereka akan give back dgn cara yg gk kita sangka-sangka. Ya kamu bersedia gak kerjasam gitu sama aku? :)
A : ...:)
A husband, to his wife
Basa Basi yang Basi
Ada beberapa keanehan yang muncul, sejak saya menyandang status sebagai seorang istri 8 bulan belakangan ini. Beberapa hal yang sering kali saya pertanyakan didalam hati,”Apakah memang seperti ini cara berbasa-basi orang-orang terhadap perempuan muda yang (baru saja) menikah?” Yap! betul! Bertanya seputar momongan.
Saya bukan hendak menyalahkan, karena toh tulisan ini pun pasti sudah salah dan ada yg nyinyirin duluan karena dianggap “serius amat,buk sampe dibikinin tulisan.” Saya juga bukan hendak pengumuman kalau saya sensitif terhadap pertanyaan tersebut, karena nyatanya saya masih bahagia-bahagia saja menjawab beberapa pertanyaan seputar keadaan perut saya pasca menikah. Beberapa? Yap, cuma beberapa hehe. Berarti ada beberapa lainnya yang tidak saya jawab dengan perasaan bahagia.
“Memangnya yang bagaimana nab yang tidak patut diutarakan.”
Maka saya akan dengan tegas menjawab,”Yang beradab, yang bertata krama dan sembunyi-sembunyi dalam bertanya.”
“Rempong amat nab, serius amat sih kamu.”
Hahaha udah biasa dicap orang serius, gapapa lah alhamdulillah. Makannya yang ngajak saya pacaran juga orang yang serius, maunya ngajak nikah dulu, eeaa
Back to the topic…
Jadi apa aja sih yang pernah dirasakan nabila sejak menikah, apa saja hal yang menurut saya tidak patut diutarakan, terutama untuk kalian yang mungkin dalam waktu dekat akan bertemu dengan kawan lama yang baru saja mejalin hubungan pernikahan. Sebenarnya saya lebih menitikberatkan masalah kata dan cara penyampaian, karena sekali lagi, saya sendiri tidak sensitif ditanya seputar kehidupan pasca menikah, seputar kehamilan, selama pertanyaannya tidak nyeleneh dan ngaco, karena banyak juga teman-teman yang bertanya serius mengenai pernikahan, persiapan sebelumnya dan kehidupan setelahnya.
Mungkin ini yang dirasakan sama pasangan-pasangan baru (kurang lebih usia 1 tahun pernikahan) menikah, ditanyai hal-hal ngaco yang kadang saya dan suami sendiri speechless mau jawab seperti apa. Ini saya yang serius amat sampe gak bisa nanggapin candaan mereka, apa mereka yang…..(isi sendiri deh). coba ya apa saja… mari saya list :
1. “Gimana malam p******nya, enak?”
2. Tadi malem ngapain? (pasca paginya akad dan resepsi, tapi ini mending masih bisa jawab tidur atau nguras bak mandi)
dan lain-lainnya…(ada yang lebih vulgar, tapi bahkan mau cantumin disini aja gak tega ngetiknya. kok yang nanya bisa tega ya)
Trus sabar dulu, pertanyaan belum selesai. Masuk ke 3-beberapa bulan kedepan kamu mulai ditanyai pertanyaan seputar perut bucit yang belum juga nampak di mata mereka…
1. “Udah isi belom?” (gentong yee…)
2. “Ayo dong cepetan, gausah ditunda-tunda.” mulai nyebelin. Difikir yang ngerasain hamil anda ya, masyaAllah lucu orang indonesia nih :))
3. ada yang ujug-ujug,”Nunda po?” menurut saya ini menyakitkan. Kenapa? lah kalo memang Allah belum karuniakan bagaimana, takdir broo
4. lanjutan dari yang nomer 1, setelah dijawab belum nanti dia masih ngeyel,”Lah kok belum, gimana e kalian nih.” mulai agak males jawab kalo yang udah begini :”
5. Ada juga pertanyaan yang diutarakan ke suami,”Kok istrimu belum hamil-hamil e, gimana sih kamu. Kamu kurang tokcer tuh.” duh saya bayangin muka suami saya kasian betul ditodong dan disalahkan seolah-olah mereka lupa kalo faktor kehamilan utama itu dari Allah.
dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan “lucu” dan tidak sepantasnya diutarakan lainnya. Gak sanggup ngetiknya :(
Yang lebih parah dari itu semua adalah, jika ternyata orang yang kalian tanya tersebut memiliki penyakit yang mungkin menghalangi atau menurunkan resiko kehamilan pada dia, bahkan mungkin membuatnya tidak mungkin dikaruniai momongan. Saya ingat betul, saya pernah bertemu seorang kerabat jauh dan awalnya saya ingin basa-basi bagaimana kehidupannya, adakah anak dalam keluarga mereka, tapi saya bertanya ke ibu saya terlebih dahulu dan ternyata ibu bilang orang tersebut divonis tidak bisa memiliki keturunan. untung tidak jadi saya tanya langsung ke orangnya.
Saya memang terkesan terlalu serius, padahal diwajah para penanya itu pun ada sedikit senyum kecil yang menandakan sebenarnya mereka hanya berusaha basa basi dan membangun kepedulian pada kawannya yang baru saja menikah. Mencoba peduli tapi saya rasa peduli yang gagal total. Pernah juga suami ditanyai seputar hamil atau belumnya saya didepan orang banyak, di kantin, kan sangat-sangat tidak etis. Ah, saya gak mau menyalahkann micin karena rasa-rasanya, kawan saya yang lain yang suka sekali makan micin di cilok pun masih bisa membedakan mana pertanyaan yang patut dan tidak untuk diutarakan, bagaimana cara bertanya yang baik dan benar. Baru saja kemarin, saya bertemu dengan kakak tingkat saya, beliau satu organisasi keagamaan di kampus dulu, saya dan beliau sendiri adalah sama-sama pengantin yang masih seumur jagung, saat itu gatel juga ingin bertanya kepada beliau apakah beliau sudah dikaruniai momongan atau belum, tapi saya selalu berfikir bagaimana cara yang ikhsan untuk bertanya pada beliau, setelah greeting dan kangen-kangenan malah beliau duluan yang bertanya,” dek nabila bagaimana, ikut program atau tidak.” Ada yang aneh gak dari pertanyaanya? Yap! dia bertaya sopan sekali, Saya tahu arah pertanyaannya ingin bilang hamil atau belum, tapi mungkin untuk beliau itu pertanyaan yang terlalu to the point dan tidak pantas untuk diutarakan begitu saja. Tanpa sadar saya pun cerita panjang lebar, hamil atau belum, dan sebagainya. Dengan senang hati saya menjawab itu. Kami pun saling memotivasi untuk terus bersabar dan berdoa karena ternyata kami sama-sama belum dipercaya Allah untuk menimang anak-anak. Ah, orang berilmu memang beda. Gara-gara bertemu dengan beliau saya jadi sadar sekali kalau tidak selamanya basa basi itu basi.
Yogyakarta, 25 Desember 2017
Curhat : Kehormatan Diri di Zona Instagram
Akhir-akhir ini saya jadi resah sendiri sama judul di atas wkwkwkwkwk. Mungkin yang baca bakal menggumam: ih whyyyyyyy so serious? Ya namanya juga Apik. Tapi saya mending serius daripada terlena dalam beragama :D
Rasanya diingatkan berkali-kali baik dari buku, quran, maupun kajian. Tentang pentingnya seorang perempuan menjaga kehormatannya, pun kehormatan suaminya, kehormatan keluarganya. Perempuan bisa punya kunci surga kalau menjaga itu. Dan bisa ekspress punya kunci ke neraka kalau sudah hilang rasa malunya, sudah hilang upaya penjagaan kehormatannya.
Apalagi di era-era seperti ini. Yang tingal post atau share bisa cepat sekali informasi/konten itu menyebar. Wussssss. Sangat visual, dan banyak orang yang justru pengen ‘terlihat’. Terlihat sebenernya nggak papa ya, asal koridornya positif. Kalau nyerempet menggadaikan kehormatan? Kita harus hati-hati :)
Fenomena beli followers juga bisa berkaitan kalau ditelaah lebih lanjut. Ada motif biar terlihat, jadi selebgram, dipuji dan dapat endorse. Ladang bisnis baru untuk cari uang. Karena hari gini tarif endorse juga lumayan XD. Fenomena beli followers untuk personal juga bisa jadi investasi buat balik modal kalo udah diendorse dan paidpromote. Plusnya, jadi hits juga. Sesuatu yang cukup penting jaman now 😄😄😄😄.
Padahal hadistnya jelas : “Peliharalah untuk menjaga diri kamu dengan harta kamu.” (HR Ad Dailami). Kehormatan diri jauuuh lebih berharga daripada harta. Kalo bisa pake harta buat jaga diri, lakukan. Bukan sebaliknya, kehormatan diri dikurangi buat harta :D. Eh kok malah bahas itu hihi, berhubung nggak lagi menyoroti tentang itu. Skip dikit dulu :D
Menjaga kehormatan yang dimaksud yang seperti apa? Dalam Islam kita mengenal kata Iffah. Iffah disini adalah upaya penjagaan diri dari hal-hal yang tercela. Memelihara rasa malu termasuk salah satunya :)
Di negri bebas berekspresi alias sosial media, khususnya di Instagram yang sangat visual, penjagaan kehormatan nggak bisa serta merta menjadi bawaan kita darisononya. Penjagaan kehormatan perlu dipupuk dengan bijak dan selalu diupdate, diasah kembali pemahamannya.
Lucunya, instagram sekarang cenderung mentrigger penggunanya untuk makin membuka tabir kehormatan supaya makin asyik. Apalagi sejak kelahiran IGstory. Filter makin sip, makin unyu dan banyak pilihan. Makanya mungkin sering ya berseliweran di timeline stories kita; posenya sebagai muslimah nggak semestinya–yang manyun manyunlah, gaya duck face, gaya fish gape yang mulutnya agak mbuka biar menggodah, kedip-kediplah, cerita manjah, dsb dsb wkwkwkwkwk. Kadang juga upload tentang kelucuan plus keromantisan dia sama pasangan halalnya, tapi kadang salah kamar, yg terlalu romatis ikutan kesebar juga haha, malah kadang ada juga yang merendahkan suaminya, bisa yang suaminya didandani sedemikian rupa, yang diisengin, kadang juga upload aib-aib kecil (yang kadang lucu sih, tapi itu aibnya suaminya gitu. Tapi ini subjektif sekali ya. Kembali ke kebijakan privasi masing-masing. Heu.) Karena ya memang fiturnya menggoda bangettt, bisa banget bikin lucu, bikin kita cantik, bikin lebih menarik. Bikin kita juga diapresiasi temen-temen. Bikin keasyikan dapet respon komentar-komentar yang masuk.
Tentu, kalau kita bijak, gimanapun asyiknya filter-filter–kita nggak akan tergoda.
Tapi saya ini labilnya tumpeh-tumpeh…kadang masih banyak tergodanya. Kadang juga pengen euy lucu lucuan begituuu. Perlu banyak diingatkan hahaaaaa.
Jadi seringkali, saya berusaha mati-matian untuk nggak mempublish foto selfie kekinian penuh filter genit atau pose-pose lucu suami saya yang pengen saya abadikan (padahal IG story nggak abadi. Cuma 24 jam. Catatan amal kita abadi. Pft). Seberusaha itu :“”“”) Sampe kadang melobi, “mas boleh nggak aku upload ini? Lucu banget.”
Dulu saya bete, masa gini-gitu aja enggak boleh. Tapi ternyata, beban kewajiban suami gede juga ya buat mendidik dan menjaga istri. Dulu juga pernah disidang sama ayah ibu pas pasang pose melet jaman facebookan. Hahaha. Ternyataaaa kewajiban menjaga anak perempuan itu lumayan berat. Pelan-pelan saya ngerti…
Ternyata, selektif mengupload juga upaya saya beribadah. Menjaga kehormatan saya dan menjaga kehormatan suami, kehormatan keluarga. Bagi yang belum nikah ini juga upaya penjagaan diri yaaa dari laki-laki. Hehe kita kan gabisa tuh memisahkan diri secara utuh dengan laki-laki dalam bergaul, tapi kita bisa membatasinya 😄.
Selepas nikah saya jadi lebih sadar soal ini, mungkin dulu pas single belum kerasa ya. Masih pose macem-macem. Pecicilan. Suara mendayu-dayu. Foto cantik biar menarik. Tapi sekarang, saya jadi lebih hati-hati. Jadii yang belum nikah dan udah berupaya sedemikian rupa menjaga kehormatan, masyaAllaaaahhhhhhh huhu. Karena saya nggak bisa ngulang jaman gadis, jadi ikhtiarnya nanti disalurkan ke mendidik anak-anak gadis kelak. Pemahamannya dipupuk dari sekarang wkwkwk.
Jadi sekarang saya ngewanti-wanti diri saya sendiri: kalau saya malu-maluin, kalau saya nggak menjaga diri saya sendiri, suami saya, ayah saya, dan adik laki-laki saya juga kena hisab. Kami semua kena. Cuma karena postingan-postingan saya. Oh. Ya Rabb. Mahalnya harga menjaga kehormatan. Semoga, kita senantiasa dimampukan yaaaa.
Hahaaa curhatnya panjang sekalii. Semoga jadi manfaat. Kalau ada salah persepsi, bolehlah di kolom komen. Semoga bisa saling belajar :D
*Disclaimer : sekali lagi, ini subjektif sekali. Kembali ke kebijakan privasi dan standar temen-temen sendiri. Semoga tulisan ini dihitung upaya untuk mengingatkan sesama muslimah, kan kita bersaudaraaaaa :)
Insecure itu datang karena kita menjadikan penilaian orang sebagai standar hidup. Kita pakai kehidupan orang lain dalam mimpi-mimpi kita. Sehingga kita cemas dan ragu untuk menjadi diri sendiri.
Herri Cahyadi
My dear husband, most of them are proud on how long and romantic their relationship is before getting married. Me? I'm proud on how long and hard you fought alone just to marry me
:)
Menikah (muda) dan hiruk pikuk didalamnya
Menikah didefinisika sebagai menyatunya dua insan, lebih jauh menurut saya menikah adalah menyatukan 2 insan dengan banyak sekali elemen dibelakang mereka. Bagaimana si wanita membawa masa lalunya yang mungkin saja kelam, begitu juga si pria. Menikah adalah perjalanan panjang yang membutuhkan 2 kepala manusia yang di otaknya penuh dengan fikiran baik dan kedewasaan. Saya, dengan usia 23 tahun dan usia pernikahan 18 hari merasakan betul itu. Tapi saya rasa saya begitu beruntung karena menikah dengan seorang pria yang paham betul bahwa agama diatas segala-galanya, dan agama mengajarkan banyak sekali hal mengenai pernikahan tak terkecuali hal-hal baik dan sikap dewasa. Bagi yang akan menikah atau mungkin sudah menikah dan sedang mencari beberapa hal terkait pernikahan, mungkin saya bisa sedikit berbagi mengenai hiruk-pikuk dan kehidupan pernikahan. Tanpa ada rasa menggurui, ini adalah murni beberapa hal yang saya pelajari pasca 18 hari hidup berstatuskan istri seseorang…
1. Turunkan ego
Bahkan bisa dibilang, hilangkan saja ego itu. Buang jauh-jauh. Terlebih lagi bagi perempuan yang ego nya besarr. Perempuan harus sadar bahwa suami yang marah mengartikan murka Allah juga. Seorang istri harus sadar bahwa hingga keesokan paginya Allah marah pada istri yang belum meminta maaf atas kemarahan suaminya padanya. Tapi tidak hanya perempuan, laki-laki pun punya kewajiban yang sama untuk meminta maaf atas permasalahan yg ada dalam rumah tangga, it’s better to apologize even if you (think you are) right kalo kata suami saya mah :D
2. Sadar akan kekurangan yang ada
Jangan cuma pasrah dengan kekurangan yang ada. Kamu tahu bahwa suami kamu suka sup ayam, tapi kamu hanya bisa beliin suamimu sup ayam di warung sebelah. Dan kadang saya temui juga perempuan yang bangga dengan ketidakmampuannya memasak dan bangga juga cerita kalo suaminya itu adalah suami terbaik didunia yang nrimo dengan ketidakmampuan dia memasak. Tapi plis lah, be a true wife, please try to be your husband’s favorite chef yang masakannya bisa dibanggakan suami, yang dengan masakanmu itu gizi dan perutnya terjaga dari hal-hal tidak mengenakkan diluar sana. Alhamdulilla bini’matihi tatimussolihaat saya dikarunai suami yang tidak pernah sama skali menuntut saya untuk begini dan begitu, tapi saya sadar bahwa ada kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagi seorang suami ketika ia makan dari masakan istri tercintanya.
3. Saling membantu dan mengingatkan
Saya ingat betul saat itu saya sedang menggoreng lauk dan suami saya tiba-tiba datang ke dapur membawa piring kosong. sontak saya kaget dan berniat mengambil piring itu untuk kemudian saya isikan nasi, tapi suami saya menolak karena ia merasa ia masih bisa mengambil nasi dengan tangannya sendiri sedangkan saya yang hidup dengan lingkungan perempuan yang melayani total suaminya merasa itu adalah sebuah kesalahan besar. Di lain hari saya dapati suami saya menyetrika bajunya sedangkan saya sedang melakukan kegiatan lain, saya berusaha mengambil alih apa yang dia kerjakan tapi dia menolak dengan alasan yang sama seperti yang dia katakan dalam beberapa kejadian sebelumnya. Hingga pada akhirnya dia pandangi saya dan katakan,”Rasulullah mengajarkan saya untuk membantu istrinya. Saya pun menikahi kamu untuk menjadi istri saya, bukan untuk menjadi seorang pembantu. Biarlah saya kerjakan apa yang bisa saya kerjakan sendiri karena saya juga ingin membantu istri saya dan menjadi suami yang baik.”
di lain kesempatan, dalam konteks saling mengingatkan, suami saya sering sekali menegur saya jika saya berbuat salah dan melakukan hal yang salah seperti tidak memakai handsock saat saya pergi keluar rumah.
“Ini nih aurat loh, mana handsocknya.” sambil senyum tipis menyindir saya. saat itu juga saya sadar betul bahwa hal kecil pun kita akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang pasangan kita lakukan, maka ingatkan kebaikan sekecil apapun karena itu bernilai ibadah
4. Jaga pandangan, pasanganmu adalah orang tercantik/tampan
Ketika kamu memutuskan untuk menikah, maka kamu telah final menentukan bahwa ialah orang yang kamu anggap terbaik, tertampan/cantik, terpintar, dan ter ter yang baik lainnya. satu atau dua bulan mungkin rasa itu masih akan melekat, tapi seiring berjalannya waktu ditambah dengan kontamnasi kejahatan syaitan, maka mata kita akan dikelabui dan dipengaruhi untuk melihat ke selain dari pasangan kita. Apa solusinya? Menjaga pandangan. Menjaga gerakan mata kita dari wujud-wujud yang tidak pantas untuk dipandang. Melihat bahwa apa yang terdapat pada oranag lain dimiliki juga oleh pasangan kita, maka cukuplah apa yang ada pada diri pasangan kita. Bagi wanita yang secara biologis pun dikatakan lebih mudah untuk mengalami penuaan, maka kita dituntut untuk menjaga dan merawat diri. Bukankan perawatan dan penjagaan terhadap diri yang diniatkan untuk suami bernilai ibadah?
5. Saling memuji
Terdengar aneh, tapi hal semacam ini adalah salah satu bumbu dalam pernkahan loh. Puji dan ceritakan kebanggaanmu pada dia, karena pada dasarnya manusia sangat senang untuk dipuji. Memuji juga salah satu bentuk ungkapan rasa sayang bahwa pasangan kita adalah orang yang sangat kita butuhkan dan sangat kita banggakan
6. Be honest
Jujur adalah kunci dalam rumah tangga yang banyak sekali tidak diperhatikan oleh pasangan-pasangan. Jujur saja walaupun kamu merasa bahwa suamimu perlu untuk mandi setelah seharian bekerja.Jujur saja, karena buahnya Allah sendiri yang akan karuniakan pada kita
7. Change of mentality
Ini apa ya maksudnya? Nah, ini adalah masalah yang kebanyakan dialami oleh pasangan yang menikah muda, mereka masih merasa bahwa mereka masih hidup sendiri. Harus dicamkan benar-benar bahwa ketika kita memutuskan untuk menikah, maka kita harus siap dengan beberapa perubahan diantaranya adalah sikap dan kebiasaan bermain. Perempuan harus pandai menjaga sikap dengan teman lawan jenis, begitu pula sebaliknya. selain itu, kebiasaan bermain yang tidak tahu waktu juga harus diperhatikan. Mengingat bahwa kita telah memiliki orang yang wajib dijaga dan diperhatikan. Kita telah diberikan kewajiban baru yang lebih bernilai pahala dibandingkan hanya tertawa bersama teman-teman.
“Yah gaenak banget, jadi gak bebas main lagi deh kalo nikah. Ntar aja ah nikahnya.”
The choice is yours, ini hanya masalah waktu. sekarang atau nanti kamu pun akan dihadapkan pada masa yang seperti itu, bahwa kamu harus lebih memperhatikan pasanganmu dibandibgkan temanmu, dan teman mainmu itu pun akan dihadapkan pada fase hidup yang sama. Katanya, hidup ini terus maju kedepan dan melewati banyak sekali masa, maka ini adalah salah satu fase itu, fase yang akan dihadapi dan dialami oleh setiap orang. Pun jika kamu merasa itu terlalu berlebihan dan kamu menginginkan untuk keadaan yang biasa saja tanpa kekhususan keadaan, maka pernikahanmu akan hambar. Begitu banyak kehidupan rumah tangga yang hancur hanya karena suami dan istri terlalu sibuk dengan dunianya masing-masing dan kurang waktunya untuk pasangan. Be the best partner for your partner
8. Menikah adalah learning by doing
Entah sudah berapa orang yang menanyakan kenapa begitu berani memutuskan untuk menikah terlebih lagi suami saya juga adalah seorang mahasiswa koas yang belum ‘menghasilkan’. Seorang teman pernah menasihati saya bahwa menikah adalah learning by doing, kamu tidak akan pernah merasa siap sampai kapanpun jika kamu hanya mengandalkan waktu dan target. Menikah akan mengajarkan kamu untuk bangun lebih pagi daripada suamimu untuk kemudian membangunkannya untuk sholat subuh berjamaah di masjid. Menikah akan mengajarkan kamu bagaimana memasak seenak mungkin demi melihat senyum di bibirnya yang mengartikan bahwa makanan yang baru saja ia makan adalah makanan paling enak di dunia.
“tuh kan gitu, gamau ah belum siap harus bangun pagi dan siapin ini itu buat suami.”
Nah, itu adalah ketakutan saya. Persis. Tapi percaya atau tidak, nantinya kamu akan diajarkan oleh alam. Kamu akan menikmati bangun sebelum subuh demi melihat suamimu pergi ke masjid, dan itu kamu rasakan tanpa kantuk di mata, Allah menuntunmu sendiri. Percayalah kamu tidak akan merasa itu adalah sebuah beban karena dengan sendirinya kamu diisyarati oleh waktu bahwa kamu sudah berkeluarga dan berkewajiban lain dari sebelumya. Percayalah bahwa menikah tidak akan sampai pada waktunya hingga kamu mau untuk mempraktekkan dan mempelajarinya bersama waktu.
Yogyakarta, 10 Mei 2017
pukul 23.18 di kamar, ditemani suami tersayang
Bukan kematian yang sesungguhnya memisahkan, melainkan tempat pulang yang berbeda. Surga, atau bukan di surga.
(via achmadlutfi)
Tentang dunia, kenapa tidak mengubah sudut pandang kita saja, dari yang tadinya berpusat pada apa yang dapat kita peroleh menjadi apa yang dapat kita berikan. Biarkan Allah mengejutkan kita bahwa sesungguhnya betapa banyak yang bisa kita peroleh dengan memberi.
(via zaki-hanifah)
Mengapa Allah tak menjawab pertanyaanmu segera? Karena Allah inginkan kamu untuk mencari dan mendapatkan lebih dari sekedar yang kamu pertanyakan
MasyaAllah i miss them so much...*crying*
Menangis saja, siapa tahu bebanmu akan jatuh mengalir bersama tetes-tetes air mata Menangis saja, siapa tahu rasa rindumu bisa terkikis oleh setiap isak tangis yang ada Menangis saja, siapa tahu ketakutanmu akan sirna seiring usapan air di pipi kanan dan kirimu Menangis saja, karena Allah menyelipkan kejutan setelah kau habiskan air dimatamu
Tidak ada yang bisa menggantikan posisi ibu bapak dihati anaknya