#learning #thoughtendofthedy #learntolife #life #quote #quotestoliveby #quotesaboutlife https://www.instagram.com/p/B5LSeyvg4ed/?igshid=12ftj30fvxx1
seen from Türkiye

seen from United States
seen from Canada

seen from Netherlands

seen from Netherlands

seen from Netherlands
seen from Netherlands

seen from Netherlands
seen from Netherlands

seen from Malaysia
seen from China

seen from United States
seen from France

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from Thailand
seen from Argentina
seen from Saudi Arabia
#learning #thoughtendofthedy #learntolife #life #quote #quotestoliveby #quotesaboutlife https://www.instagram.com/p/B5LSeyvg4ed/?igshid=12ftj30fvxx1
Aku ingin langkahku seringan udara. Agar mudah melangkahkan kaki menyusuri jalan pulang yang penuh aral lintang.
Dimas Respati Puji Utomo
Mencari damai, memburu tenang, mengejar bahagia. Namun tetap memelihara konflik, benci dan dendam. Tercapaikah?
Dimas Respati Puji Utomo
Hidup mengikuti takdir. Takdir mengiringi kehidupan. Terima karma mu dengan lapang. Sumbangkan dharma mu dengan kerelaan. Kejahatan lahir dari ketamakan. Karma menanti ditengah perjalanan. Penuhi hidup dengan kebaikan. Jadikan diri dan sekeliling tercerahkan. Karma datang dengan menghancurkan. Namun untuk kembali menumbuhkan. Dalam hati dan pribadi yang terlembutkan. Kebaikan & pencerahan tak mengenal diskriminasi. Selalu siap diterima oleh hati. Biarkan tiap pribadi mengalami. Agar hidupnya terberkati.
Dimas Respati Puji Utomo
Egois
Pernah nggak menyadari satu hal kecil dalam hidup? Bahwa terkadang, disadari atau tanpa kita sadari, kita cukup diskrimatif dalam hidup. Hanya mengizinkan dan menerima apa yang kita inginkan dalam hidup. Ya. Kita terlalu pemilih sehingga menerima segala sesuatu hanya untuk kesenangan pribadi semata. Hanya sesuai selera. Dan tanpa pengamatan yang lebih mendalam. Ujung-ujungnya, kita terperangkap dalam asumsi kita sendiri tentang suatu hal.
Mereka yang terbiasa hidup dibawah terangnya lampu, kebanyakan panik ketika tiba-tiba saja mati listrik. Dan saat itu terjadi, imajinasi mereka bermain sehingga mereka berasumsi akan hal yang belum tentu nyata dan jauh dari apa yang sebenarnya terjadi. Semua berawal dari ketakutan yang sekian lama tertanam dalam hati. Padahal, justru dalam gelap, kita bisa melihat lebih jelas.
Mereka yang terbiasa hidup diantara keramaian, kebanyakan seketika akan terganggu bila mendadak sepi. Seolah sepi merupakan "suara" paling bising yang memekakan telinga hati. Dan saat itu terjadi, maka ketakutan seketika menyergap dan menyerang mereka yang tak terbiasa akan kondisi ini. Padahal, justru dalam sunyi, kita bisa mendengar lebih banyak.
Ya. Memang. Kita hanya mendengarkan apa yang ingin kita dengarkan. Kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat. Seringnya begitu. Dan itu terjadi pada kebanyakan dari kita. Aku, mungkin kamu, mungkin mereka, kita semua kebanyakan egois dan diskriminatif terhadap suatu hal. Dan kebanyakan, semua berasal dari rasa takut dari ego yang kita miliki.
Kita terlalu sering membuat penghakiman-penghakiman atas suatu hal yang kita sendiri belum tentu mengerti. Padahal dalam suatu pembelajaran, bukankah yang terpenting adalah penerimaan? Lalu bagaimana kita sebegitu diskriminatifnya akan suatu hal yang seharusnya bisa kita jadikan pembelajaran?
Aku sedang berusaha belajar melihat, mendengar, dan menerima segala hal. Dan ini tidak semudah apa yang pernah kita bayangkan. Dimulai dari melihat hal-hal yang tak ingin kita lihat dan ketahui dari diri, kemudian mencoba melihat hal-hal yang tidak ingin kita mengerti sebelumnya dari orang lain. Dimulai dari mendengar apa yang biasa kita abaikan dari diri saat ia bersuara, kemudian mencoba mendengar apa yang orang lain suarakan saat mereka ingin didengar. Aku mencoba mengerti dan memahami segala sesuatunya secara utuh tanpa terpengaruh oleh butanya asumsi-asumsi.
Ya. Memang tidak mudah. Sama sekali tidak mudah saat kita harus menahan ego kita untuk mendeskripsikan, kemudian mendiskriminasikan suatu hal yang sebenarnya kita takuti tanpa alasan. Namun mengapa tidak? Bukankah hidup adalah pembelajaran akan suatu pengalaman?
Belajar Membumi
Kamu lihat awan diatas sana? Indah bukan? Ya. Langit memang begitu indah dan menyimpan misteri yang kerap kali menyusup dalam imaji anak manusia. Bila malam tiba, langit semakin menggoda manusia dengan pesona nya yang ia tawarkan melalui bulan dan jutaan bintang.
Manusia kerap kali membayangkan seolah mereka dapat terbang menembus langit.
Menangkap awan, memetik bintang, membelai bulan. Manusia kerap kali membayangkan seolah langit dapat mereka jelajahi dan taklukkan. Ya. Terbang dan menaklukkan langit memang impian terbesar dan terpanjang dalam sejarah peradaban anak manusia. Kamu juga, bukan?
Langit dengan pesona tak terbatasnya memang begitu memikat dan menggoda imajinasi tiap manusia yang terbatas, untuk menjamahnya. Sehingga mereka lupa, bahwa pesona bumi yang merupakan tempat mereka menjejak, tak kalah hebatnya.
Lihatlah mereka. Mereka berusaha menumbuhkan sayap-sayap mereka, mengambilnya dari burung dan malaikat yang mereka taklukkan, untuk kemudian mereka pakai menaklukkan angkasa raya, nantinya.
Mereka mulai belajar mengembangkan sayapnya, mengepakkannya kencang-kencang, menghentakkan kaki, kemudian mencoba belajar terbang. Mereka mencoba meniadakan gravitasi. Melupakannya seolah tak pernah ada.
Mari kita amati saja. Tak perlu kau terpancing untuk melakukan hal yang sama, meski dirimu sangat tergoda. Biarkan saja mereka belajar terbang. Percayalah. Aku pernah seperti mereka. Meski kini aku lebih memilih berada dibawah.
Rasakan. Rasakanlah. Gravitasi yang memelukmu erat. Menjaga mu sehingga engkau tak melayang-layang bagai kapas. Lihat. Lihatlah mereka yang satu persatu mulai jatuh tak tentu arah, dipaksa kembali membumi, jatuh berdegum menumbuk tanah.
Bukan. Bukan karena cemburu gravitasi menariknya kembali. Gravitasi hanya menjaga agar kita tak lupa bumi. Rasakanlah dengan lembut pelukannya. Jangan menantang keperkasaannya.
Rasakan. Rasakanlah ia. Lalu rasakan tiap kakimu, bagaimana ia menjejak. Angkat perlahan, kemudian berjalanlah. Tetap perhatikan, bagaimana kakimu melangkah, menjelajah tiap jengkal tanah.
Bila lelah, maka saatnya kau belajar berlutut, kemudian merebah. Pasrah menyatu dengan bumi, melepaskan sedikit lelah, agar kelak kau dapat kembali berdiri dan menjejakkan kaki.
Bila puas kau menjelajah, jangan pernah sungkan dan ragu untuk bersujud, mencium bumi. Ciumlah dengan sepenuh hati dan ketulusan cinta yang kau miliki. Saat itu kau akan menemukan arti dari sejatinya diri.
Evolusi
Setiap detik berjalan dan setiap momen adalah relatif. Tak pasti dan selalu berubah. Perubahan adalah kepastian itu sendiri. Segala sesuatu yang ada di alam semesta, bergerak mengiringi sang waktu, menuju perubahan-perubahan yang pasti akan dialami mengikuti gerak sang waktu. Tanah, batu, pohon, air, udara, matahari, bahkan aku.
Seperti tahun ini, layaknya tahun-tahun sebelumnya, begitu banyak perubahan bentuk yang aku alami. Memang betul adanya, kita selalu berevolusi. Aku.....bukan aku yang lalu. Aku terus berubah dan bergerak, layaknya semesta berthawaf menjaga imbangnya. Layaknya partikel bergerak, mencari imbangnya. Tempaan demi tempaan, pedih dan perih, luka dan tangis, memaksaku untuk merobek kulit ari dan menjadi sesuatu yang baru. Semua terjadi sebagai bentuk rangkaian takdir dari rencana besar semesta. Agar setiap jiwa dan instrumen didalamnya dapat ikut terlibat dalam membentuk semesta itu sendiri.
Lebih dari 4 kali aku berevolusi tahun ini. Perih bukanlah hal yg kutakuti lagi. Dan aku yakin, masih banyak bentuk yg akan kulakoni nanti. Lelah aku melawan. Karena aku hanya kumpulan partikel yg bernama. Wadah dari jiwa. Maka kuterima setiap perubahan bentuk dengan penuh kerelaan, dan kesiapkan. Ya. Kusiap-siapkan diri, Memasrahkan diri. Menyelaraskan diri dengan semesta. Terus bergerak bagai udara.....mencari imbangnya.
Aku adalah bentuk yang terus berubah. Mencari esensi dari takdir dan hidup. Mencoba mengalami setiap peristiwa adalah perilaku dari sang jiwa. Agar terlengkapi seluruh pengetahuannya akan hidupnya. Ya. Aku menyadari, evolusi dan perubahan adalah proses seumur hidup. Yang suka tidak suka, harus dihadapi. Dan dalam bentuk yang sekarang ini, aku coba untuk terus berjalan, sampai imbang yang ku cari, dapat kutemukan.
In life we can recreate ourselves as we just were or we can recreate ourselves anew. We are always remaking ourselves. - Neale Donald Walsch
People's change. But soul doesn't. It just seeking for experiences. - Dimas Respati
Kebanyakan dari manusia, lebih suka mencintai orang lain ketimbang dirinya sendiri. Kebanyakan dari manusia, lebih suka mencari cela orang lain ketimbang mencari cela dirinya sendiri. Kebanyakan dari manusia, lebih suka bertarung untuk mengalahkan orang lain ketimbang bertarung untuk mengalahkan dirinya sendiri. Kebanyakan dari manusia, lebih suka melihat apa yang ada pada orang lain ketimbang mencari melihat jauh kedalam dirinya sendiri.
Dimas Respati Puji Utomo