Catatan Perjalanan ke Pulau di Timur Jawa Menuju ORIGOM 435
Sudah jauh hari aku merencanakan perjalanan ini, karena entah alasan apa. Yang terpikir olehku hanyalah perjalanan panjang melalui darat menyebrang ke timur Pulau Jawa. Perjalanan ke Pulau Dewata. Namun yang kusadari sejak awal adalah, ini bukan perjalanan biasa. Ini perjalanan jiwa.
Beberapa bulan lalu, dipertengahan tahun 2012, aku mulai membulatkan tekad, mengumpulkan beberapa referensi, dan mulai membuat rencana perjalanan. Banyak yang menanyakan. Mengapa tidak melalui jalur udara yang lebih cepat? Sejujurnya, aku tak sanggup menjawab. Ya. Memang bisa saja aku mengambil jalur yang mudah dan cepat. Namun kata hati berkata tidak. ada alasan yang begitu absurd sehingga tak sanggup kujelaskan, mengapa aku memilih jalur yang panjang dan memakan waktu lama. Intuisiku mengatakan, akan ada sesuatu hal yang besar yang akan aku terima, dan hadapi.
Satu bulan sebelum memulai perjalanan. Aku mulai menyiapkan dokumen-dokumen penting, seperti kartu identitas yang sebelumnya aku tidak memilikinya. Aku mematangkan rute dan rencana perjalanan, logistik, perlengkapan, sampai biaya perjalanan yang harus aku keluarkan. Hingga sampai hitungan hari sebelum keberangkatan, akhirnya pesan tugas pun datang. Rupanya, dalam perjalanan ini, aku diharuskan untuk memaksimalkan, mengaplikasikan, dan menyelaraskan ilmu dan amal. Kuterima pesan tersebut dengan satu helaan napas panjang. Aku tau, ini tidaklah mudah. Dengan air mata kepasrahan, aku memohon izin dan ridhaNya.
Hitungan hari sebelum keberangkatan, semesta semakin memberikan tanda-tanda dariNya. Seorang rekan yang hendak pindah rumah ke satu kota di Jawa Timur, memintaku untuk mengawal truk nya. Aku sadar itu adalah tanda. Perintah yang tak dapat lagi ku elak, sebagai bagian dari perjalanan panjangku. Kubatalkan tiket dari Jakarta ke Surabaya yang telah kupesan. Kurubah rencana perjalananku. Aku menyiapkan diri sepenuhnya. Menerima apapun keputusan yang dijatuhkan kepadaku melalui tanda-tanda yang bertebaran di semesta.
Hari itu tiba. 17 Desember 2012. Aku bertolak menuju Madiun, Jawa Timur dengan menumpang truk yang kukawal. Kukosongkan gelas, demi mendapatkan pelajaran dari supir truk dan kernet nya. Keduanya tidaklah ramah. Sangat keras, dan tempramental. Mereka bermuka masam. Siapa saja pasti malas berdekatan, apalagi sekedar menyapa. Namun siapa sangka, banyak hal baik yang mereka punya. Yang, bahkan aku sendiri sulit mencapainya.
Mereka mengajarkanku kesabaran. Ketepatan perhitungan. Kewaspadaan. Kerjasama yang baik terhadap partner kerja. Integritas. Keikhlasan. Kejujuran. Dan pengabdian terhadap Yang Kuasa (dimana mereka berhenti disaat tiba waktunya menghatur sembah terhadap Yang Kuasa. Alasannya simple saja. "Saya cuma manusia. Kalau ndak sembahyang, sama saja menyombongkan diri menganggap diri kita Tuhan.").
Setelah tiba di tempat tujuan, mereka mengajarkanku adab terhadap orang tua. Sikap gotong royong. Tolong menolong meski mereka tau mereka sedang teramat lelah. Citra negatif yang kutangkap diawal waktu, musnah sudah. Berganti rasa malu yang menyergap dan menamparku sekuat tenaga.
"Kamu, aku, dia, mereka, hanyalah manusia. Termakan oleh paradigma, kemudian tertampar dengan hebatnya. Malulah terhadap apa yang kau sangkakan terhadap sesama, sementara kau tidak lebih baik darinya."
Namanya Hardi. Beliau teman mengaji di Jakarta. Mantan orang berkedudukan penting di satu perusahaan besar di Indonesia. Ia meninggalkan pangkat dan jabatannya, serta kemolekan dunia untuk hijrah menuju Tuhannya. Pagi itu, 18 Desember 2012, kami berdua mengisi pagi dengan secangkir kopi, rokok kretek, jajanan pasar, serta perbincangan hangat tentang jalan menujuNya. Dimulai dari saat pertemuan pribadi masing-masing terhadap Sang Mursyid, hingga memantapkan hati menempuh jalanNya.
Dia banyak bercerita tentang kejayaannya saat kemarin masih memegang jabatan penting disuatu perusahaan besar yang berdomisili di Jakarta. Sebelumnya, aku tak banyak mengetahui tentang dia. Kami hanya bertemu sesekali di majelis. Perawakannya yang sangat sederhana tak membuatku menyangka bahwa dia salah satu orang yang berpengaruh di bekas perusahaan tempat ia bekerja tersebut.
Ia menceritakan tentang perjalanan spiritualnya, dari saat ketika dunia direnggut darinya, kemudian dunia mengejarnya, sampai akhirnya kini, ia melepaskan dunia. Ya. Ia memilih melepaskan harta, pangkat, dan jabatannya secara sukarela. Membuat rekan-rekan kerjanya kebingungan atas keputusan yang ia ambil yang....sama sekali sulit dijangkau oleh logika. Alasannya cuma satu, "Aku rindu sama Gusti Allah, mas. Aku mau fokus saja usaha kecil-kecilan disini (madiun). Jadi bisa punya banyak waktu buat marani (mendatangi) Gusti Allah." Ah... Betapa aku malu terhadap kebulatan tekad hatinya demi cintanya terhadap Tuhannya. Lagi-lagi aku tertampar....hebat.
Sampai akhirnya, ia mengantarku ke terminal, supaya aku dapat melanjutkan jalan menuju Surabaya. Kami berpelukan. Pelukan terakhir. Pelukan perpisahan. Sementara itu, doa ku bisikkan di telinga malaikat, memohonkan rahmat dan berkah tak terhingga untuk dirinya.
Aku sampai dikota ini sekita pukul 2 siang hari. Gembira rasanya membayangkan sebentar lagi akan bertemu dengan sahabat-sahabat maya yang selama ini belum pernah sekalipun aku berjumpa. Aku menuju tempat yang telah kami sepakati untuk bertemu. Kami bercengkrama, bercanda, dan berbagi cerita.
Semesta kembali memberikan tanda. Secara tiba-tiba, sahabat-sahabatku yang lain dari lingkup sosial yang berbeda, yaitu mereka yang selama ini menjadi teman seperjuangan dalam menebarkan kebaikan di social media, tiba-tiba berkumpul di tempat aku berkumpul dengan para sahabatku yang lain.
Seketika, pembahasan menjadi serius. Mengingat pesan yang harus kusampaikan terhadap mereka mengenai persiapan menjelang ORIGOM ke 435 dan fenomena spiritual yang sedang terjadi. Disinilah, jati diriku dan tugas-tugasku diungkapkan. Membuatku terkejut dan kemudian menangis memohon ampunanNya. Diungkapkanlah perjalanan hidup yang sangat berat yang harus aku tempuh nanti. Aku menangis bukan karena bahagia. Namun menangis karena takut. Takut tidak dapat menjalankan amanah yang harus aku emban nantinya.
Sahabat-sahabatku menguatkan aku. Mendukungku. Dan menamparku sehingga aku tersadar, bukan seharusnya aku menolak dan melawan takdirku. Namun seharusnya menerimanya dengan rela. Sampai akhirnya, dengan lirih dan setengah menangis, aku berujar, "Ya.... Aku rela."
Lengkaplah penisbatanku menjadi seorang Ksatria. Seperti yang telah dinubuatkan sebelumnya. Dengan air mata yang terus meleleh, membentuk ngarai kecil di wajah lelah penuh beban ini. "Rabbi... Rabbi... La hawla wa la quwwata illa Anta.... La hawla wa la quwwata illa Anta...."
Jalan Panjang Penuh Kesah, Antara Surabaya dan Uluwatu
19 Desember 2012. Setelah malam yang sangat berat yang kulalui, sahabat-sahabatku mengantarku menuju stasiun ubung, Surabaya, supaya aku bisa melanjutkan perjalanan menuju Banyuwangi sebelum akhirnya menyebrang ke Pulau Dewata. Saat itu pukul 06.30 pagi. Kereta belum tiba. Maka aku diminta menunggu didepan stasiun sampai satu jam sebelum keberangkatan Kereta.
Kantuk yang berat datang seketika. Kuminta Satpam Stasiun membangunkanku saat kereta tiba. Para Sahabatku memohon pamit. Aku tertidur pulas.
09.15 pagi. aku terbangun. Menyadari kereta sudah lima belas menit berangkat. Tak segan aku memaki Satpam yang ingkar amanah tersebut. Hangus sudah tiket kereta. Tak ada jadwal keberangkatan lain yang bisa mengganti. "Apa lagi ini?" Dengan sigap, aku menuju terminal, lalu naik bis menuju banyuwangi. Rupanya semesta kembali memberikan tanda-tanda. Ya. Memang perjalanan paling sulitlah yang harus kutempuh. Supaya aku bisa bertemu dengan berbagai macam kepala dan kerut wajah yang menyertainya.
Sepanjang perjalanan, kulantunkan AsmaNya. Memohon ampunan, pertolongan, perlindungan, dan kemudahan dariNya. Sembari aku mempelajari dan mengamalkan ilmu yang kupunya. Teringat kalimat seorang teman seperjuanganku malam sebelumnya. "Terkadang, ibadah tidak hanya menebarkan perkataan baik. Namun terkadang sentuhan lembut dari kitalah yang lebih mereka butuhkan." Kucamkan baik-baik pesan dari sahabatku tersebut. Sementara itu, hatiku juga turut mengutuk dan mencaci lidah yang telah dengan semena-mena memaki Satpam stasiun yang sebenarnya tak patut disalahkan atas kecerobohan diri sendiri. Dalam hati ku berbisik lirih....Maaf. Meski tak terdengar olehnya, meski goresan yang ku toreh dihatinya akan tetap terbawa sepanjang hidupnya. Berkah untukmu, Pak. Semoga kita dapat bertemu kembali, kelak. Agar terbayar karma ku kemudian.
Sampai Banyuwangi pukul 19.00 WITA. Tak terasa, begitu banyak yang telah aku alami hari itu. Menghabiskan cukup banyak waktu, daya, serta biaya yang tak terduga. Perjalanan panjang ini begitu dipenuhi oleh kesah yang meluap-luap. Semesta mengajarkanku untuk berbagi terhadap sesama, bersabar, dan berjuang gigih. Kulelapkan juga akhirnya mata ini di bis yang menuju ke Denpasar.
ORIGOM 435, Bukan Akhir Perjalanan. Namun Awal Takdir Berjalan
20 Desember 2012. Pukul 2 pagi. Aku melanjutkan perjalanan memakai Taxi menuju penginapan didaerah Uluwatu. Perut yang tak terisi seharian membuat mataku sama sekali tak dapat terpejam. Setelah mengisi perut secukupnya, dan mengirim e-mail ke beberapa rekan mengenai ORIGOM, barulah akhirnya aku beristirahat.
ORIGOM adalah siklus waktu dimana matahari dari tata surya kita sempurna mengitari pusat galaksi bima sakti, yaitu yang dikenal oleh bangsa Lemuria sebagai bintang ORIGOM, atau yang biasa kita kenal sebagai Alcyone. Siklus ini berlangsung selama 5.125 tahun, 236 hari, dan di tanggal 20-21 Desember 2012, matahari berada di titik tolak perputaran ORIGOM yang telah berlangsung selama 435 kali semenjak perhitungan ini diciptakan. Perhitungan ini juga dipakai di suku Aztec-Inca-Maya.
Saat terjadinya ORIGOM, ada fluktuasi energi yang besar yang disebabkan oleh vibrasi tata surya terhadap bintang ORIGOM dan sinar Photon. Energi ini kemudian kami manfaatkan untuk mengakselerasi mitokondria sehingga optimasi energi metafisika menjadi sangat kuat dari sebelumnya. Itulah mengapa hari ini menjadi hari yang penting bagi kami para ksatria biru. Untuk menguatkan serta menambah kapasitas energi untuk pengoptimalan ability yang kami miliki.
Sore itu, di Garuda Wisnu Kencana, sekitar lebih dari 2000 orang Ksatria Biru, ditambah komunitas-komunitas spiritual dari seluruh Indonesia berkumpul. Mereka menantikan momen langka yang terjadi setiap +- 5.125 tahun sekali. Senang rasanya bertemu dengan sesama, dengan tujuan yang sama. Pengoptimalan energi dari siklus ORIGOM.
Pukul 6 sore, seluruh peserta memasuki area. Kemudian mengambil tempat masing-masing sambil menunggu terjadinya momen tersebut. Pukul 8 malam, fluktuasi energi mulai terasa. Perlahan-lahan peserta mulai tertib dan menunggu proses tersebut terjadi. Pukul 9 malam acara dimulai. Instruktur memulainya dengan latihan kecil kepekaan terhadap energi metafisika.
Pukul 11.15 malam, proses ORIGOM mulai terjadi. Kami diminta tidak melawan ataupun memanipulasi cuaca. Hujan perlahan mulai turun, kemudian berangsur-angsur lebat. Angin mulai berhembus kencang. Hawa dingin membuka setiap pori-pori tubuh. Kami diminta tidak menolak, ataupun melawan apapun yang terjadi selanjutnya. Baik rasa dingin, hujan, ataupun angin. Kami diminta menerima setiap proses secara alami.
Kemudian, suhu mendadak turun sangat drastis. Seperti berada di antara tumpukan ratusan balok es, dingin menusuk kulit. Kemudian ada semacam daya magnetis yang mendorong tubuh. Gravitasi meningkat. Disusul hawa panas dan hawa dingin yang seolah terserap kedalam tubuh, berputar menuju perut.
Awan bergerak sangat cepat. Membentuk garis-garis lurus dan kemudian memusat membentuk pusaran tepat diatas kami. Sampai akhirnya awan-awan berpendar, digantikan oleh aurora-aurora magenta-ungu-biru menyala-nyala tak kasat mata. Kemudian langit menjadi cerah. Bintang bersinar tak seperti biasanya. Indah sekali malam itu.
Proses selesai pada 21 Desember 2012, pukul 00.15 pagi. Kami bersorak sorai kegirangan. Namun aku tersadar. Apapun yang kami terima malam ini, merupakan titik tolak dari perjuangan kami yang lebih besar selanjutnya. Apakah yang lain menyadarinya? Mendadak aku menjadi sedih. Teringat akan apa yang harus aku hadapi setelahnya. Aku terdiam, bersimpuh, lalu menunduk. Kemudian berbisik, "Kuatkan kami, Tuhan. Dengan tanpa daya selain daya Mu. Berkahi perjuangan kami, Tuhan. Kukuhkan hati kami. Atas izin dan keridhaanMu."
Aku menatap langit penuh bintang. Saat itu pukul 2 pagi. Air mata pengharapan dari seorang hamba, mengawali awal dari siklus galaksi, di salah satu sudut di bumi.
"Dalam kekuatan yang besar, terdapat tanggung jawab dan takdir yang besar."
Selamat menempuh siklus baru, Semoga amanah yang diberikan dapat bermanfaat untuk semesta dan seisinya.