Lelénggér
Digdaya budaya Indonesia perlahan mulai ditinggalkan secara sadar, lalu ditanggalkan tanpa kabar. Kesempatan hak paten atas keserupaan negara tetangga akan budaya nusantara beberapa kali menghasilkan pemerhati budaya karbitan di Indonesia. Setelahnya, keagungan hak paten sering disebut sebagai kemenangan mutlak akan budaya tersebut. Padahal, perjuangan turun-temurun atas warisan budaya patut dilaksanakan untuk menghindari budaya tersebut mati tanpa abu.
Bukan hanya melawan penjajah budaya, cidukan dari dalam kudu pula diwaspadai. Sejarah kelam salah satu budaya kesenian endemik nusantara, Tari Lengger, merupakan cermin bersama untuk meningkatkan objektifitas laku berbudaya masyarakat Indonesia. Pada tahun 1965, bertepatan dengan 15 tahun didirikannya Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) oleh D.N. Aidit dan A.S. Dharma, tarian tersebut dipandang mendukung pergerakan kiri hingga sejekap penyap dari panggung pertunjukkan. Hal ini merupakan bunga akibat dari geyol gemes pinggul dan gerakan erotis lainnya yang diasosiasikan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sampai pada tahun 1972, Lengger akhirnya kembali menyeruak bebas melalui celah politik oleh Partai Golongan Karya (Partai Golkar) yang kebetulan sedang mengkampanyekan misinya tentang pembangunan masif di Indonesia pada saat itu.
Foto 1. Seorang penari lengger menunggu lawan mainnya yang sedang mempersiapkan topeng.
Lengger merupakan salah satu senjata dalam kampanye pada saat itu lantaran sifat tariannya yang sangat merumput dengan para petani atau sering disebut agricultural performance. Tarian ini menjadi penting karena dipercaya sanggup mendatangkan kesuburan tani di panen yang akan datang melalui limpahan Dewi Sri sebagai dewi pertanian. Adapun sebenarnya niatan dari para penanggap atau penyelenggara tarian ini yaitu kesadaran akan pentingnya terlibat langsung dalam sebuah proses kesuburan bertani demi menjaga keseimbangan alam sekitarnya.
Jauh sebelum keterikatannya dengan kesan agraris, lengger memiliki banyak legenda. Ada yang mengatakan bahwasannya lengger secara etimologis yaitu leng yang berarti lubang dan ngger dari kata jengger yang berarti pial ayam jantan. Terkenal dengan istilah travesty gender atau cross gender, lengger dahulunya ditarikan oleh laki-laki yang mengenakan topeng sembari berlenggok selayaknya penari wanita. Tak ayal, pada periode pimpinan Sultan Hamengkubuwana V, dibentuklah Abdi-Dalem Bedhaya Kakung sebagai kumpulan penari lengger laki-laki. Hal ini terpaksa dilakukan karena untuk upacara formal, masih dianggap tabu untuk wanita tampil dengan gaya erotis dan menari secara intim dengan berbeda jenis kelamin di atas ajang pementasan.
Selain itu ada pula lang dari kata, ”Lang lang buwono,” yang berarti mengembara dan enggar yang berarti menghibur hati. Pula dipopulerkan oleh para pemuka pada saat penyebaran agama Islam, lengger merupakan leburan kata eling yang berarti ingat dan ngger yang berarti sebutan untuk anak perempuan maupun laki-laki. Diyakini persebarannya dilakukan oleh Sunan Kalijaga, lengger menjadi kendaraan baginya untuk menyebarkan ajaran Islam. Hal ini dilakukan dengan cara memberhentikan pertunjukkan pada saat adzan berkumandang dan melakukan ajakan untuk menunaikan sholat terlebih dahulu, “Elin ngger, elinga.” Saking populernya, istilah “Langgar” pada surau atau musala konon muncul karena kepopuleran persebaran agama Islam melalui pentas lengger.
Ada juga cerita dari Tumenggung Jogonegoro yang sedang beristirahat dikala menjalankan utusan dari Pangeran Diponegoro. Dengan perlengkapan perang seadanya, musik dan tarian dadakan oleh prajurit laki-laki menjadi satu-satunya hiburan yang bisa diadakan. Le yang berarti anak laki-laki dan geger yang berarti ramai diyakini menjadi asal usul kata Lengger dengan legenda tersebut. Alhasil dari sekian banyak cerita yang beredar, beberapa bukti empiris yang terdapat pada candi-candi serta kakawin menunjukkan bahwa Lengger terkadang bersifat sakral dan menjadi tuntutan, namun sering juga bersifat profan dan hanya menjadi tontonan.
Foto 2. Sajen Kopi Jembawuk yang dibakar menjadi salah satu permintaan para indhang.
Diperkirakan menjadi candi yang tertua di Jawa, Kompleks Candi Dieng yang dibangun pada abad ke-8 memamerkan patung wanita yang sedang menari tapi bukan sebagai ritual keagamaan. Begitu juga dengan Candi Prambanan maupun Borobudur, relief pada dinding-dinding yang tegak pada kisaran abad ke-9 itu mengisyaratkan para penari yang disinyalir merupakan penari lengger atau oleh warga setempat lebih populer dengan sebutan ronggeng. Lalu pada kakawin Nagarakretagama yang naskahnya selesai pada abad ke-14 oleh Mpu Prapanca, disebutkan bahwa beberapa orang yang menari dan menyanyi, pesindhen tledhek, dalam suatu pesta panen selama 7 hari akan terpilih untuk mendapatkan gelar sebagai Juru Angin.
Buncah akan asal mula lengger, Pigeaud dalam bukunya yang bertajuk Javaanse Volksvertonigen (1938) menyebutkan adanya penari topeng keliling yang disebut mbarang. Tari topeng jalanan inilah yang diduga menjadi media persebaran lengger di Indonesia khususnya di Pulau Jawa. Dus dalam satu kesatuan lengger, banyak julukan lain dari berbagai daerah: Tayub, Tledhek, Ronggeng, Joged, Gandrung, dan Kledhek. Dengan serba-serbi akulturasi budaya antardaerah, penari lengger yang dahulunya sempat dimainkan oleh para pria saat ini sudah hampir ditelan masa. Pula kibasan modernisasi melabelkan travesty gender atau cross gender dalam tarian ini sebagai banci, yang mana terkesan negatif. Untungnya, dengan penuh cinta terhadap budaya yang ada, salah satu kelompok kesenian lengger di Kabupaten Wonosobo, menjadi saksi hidup degradasi tarian tersebut.
Lengger khas Wonosobo mengacu pada cerita dari kisah cinta Raden Panji. Dewi Galuh Condro Kirono, putri dari Prabu Lembu Ami Joyo meninggalkan Kerajaan Jenggolo Manik akibat selir raja yang tidak setuju dengan perjodohan sang putri dengan Raden Panji Asmoro Bangun. Pada pelariannya, sang putri menyaru sebagai penari lengger. Walakin, pada saat pertunjukkan untuk menghibur para penggawa praja, topeng yang digunakan sang putri tak mampu menghambat perjumpaannya dengan Raden Panji Asmoro Bangun, sang calon suami. Sekian lama membumi, kisah tersebut menginspirasi kelompok kesenian Panji Putro untuk mengepakkan eksistensi seni budaya lengger.
Foto 3. Kedua penari yang sedang tersenyum, berusaha membumbungkan kisah cinta Raden Panji Asmoro Bangun dengan Dewi Galuh Condro Kirono.
Sudah hampir 7 dekade bertengger, kelompok kesenian Panji Putro menghidupi geliat Lengger di kaki Gunung Sindoro. Bersemayam pada hawa menggigil di kawasan Desa Tambi, para adam dan hawa yang menjadi penarinya tidak kehilangan asa. Dengan 52 anggota yang dianggap masih aktif, Iswal, menjabat sebagai ketua Panji Putro, telah mengabdi selama kurang lebih 15 tahun lamanya dalam mengayomi para awaknya. Dipayungi oleh Mbah Naspu, Mbah Sa’i, dan Mbah Warno sebagai pelindungnya, anak dan para cucu warga di Desa Tambi, khusunya di Dusun Tegalrejo, sibuk mengindahkan dan mempelajari kesenian tersebut. “Keluarga saya tidak ada yang absen, semuanya ikut menjadi anggota,” ujar Sa’i yang dulu jua menjadi penari Lengger di Panji Putro.
‘Keluarga Lengger’ juga terwujud di keluarga Suryanto. Didapuk sebagai pelatih, Suryanto beserta seluruh rombongan familinya turut berkontribusi dalam kesenian ini tanpa terkecuali. Istri Suryanto, Mak Nirna, adalah seorang sinden unggulan di Kecamatan Kejajar, khususnya Desa Tambi, dan sekitarnya. “Saya dulunya lenggeran Mas, tapi karena usia dan alasan kesibukan dalam kerja, sekarang saya menjadi pesinden,” ucapnya dengan penuh nostalgia. Mengenal dan menekuni dunia Lengger sejak tahun 70-an, mereka berdua pula bersua dan menjalin kasih karena pusaran koneksi antarpelaku kesenian Lengger. Dengan tanah kelahiran mereka yang berbeda, Temanggung dan Wonosobo, beberapa kreasi tari lengger telah diciptakan dengan latar belakang budaya masing-masing yang unik. Walaupun begitu, diakui oleh keduanya bahwa ada beberapa hal yang sifatnya tidak bisa disentuh, pakem, sakral, karena berhubungan dengan lain dimensi.
Foto 4. Mak Nirna dengan suami terkasih, Suryanto.
Seperti kesenian yang lain, soul atau jiwa dalam berkesenian memang tidak dapat diganggu gugat. Kontras dengan mengada-ada dalam kreasi seni biasanya, sebuah kultur seni yang turun-temurun terkadang melibatkan hal-hal yang dalam proses terwujudnya tidak hanya melibatkan alam duniawi. Trance, kesurupan, atau oleh masyarakat sana popular dengan sebutan ndedi, adalah hal yang wajib terjadi dalam perhelatan lengger. Para penari akan menjadi indhang sebagai wadah untuk para Endang masuk dan memecahkan keheningan duniawi. “Lhoh, para pemain itu sudah mempunyai pos dengan Endangnya masing-masing Mas. Mereka sudah bisa berkomunikasi dengan Endangnya di luar pementasan,” timpal Ardianto, anak pertama dari Sa’i.
Endang yang dimaksud tak dipungkiri merupakan makhluk astral yang menjadi kompanyon para penari lengger. Beberapa Endang dipercayai dahulunya sebagai raden dan berdarah biru, sehingga pada saat trance penari terlihat sangat berwibawa, menari dengan gagahnya, dan berlaku layaknya masih pada zaman kebesarannya. Rentak kaki yang buas dan mbeling juga terjadi pada saat Endang yang menyerupai binatang sekelebat masuk ke dalam tubuh sang penari. “Ya ada celeng, macan, kethek. Biasanya kaya gitu tinggalnya ya di atas pohon, di semak-semak, opo malah meneng ndekem wae di batu besar sekitar jalan dusun ini,” ujar Iswal.
Tidak hanya penari, dalam pementasan tidak jarang para penonton juga ndedi dan membuat suasana mistis makin mencekam. Dalam observasi yang penulis lakukan, pada satu jam terakhir pementasan menuju klimaks, setidaknya ada 20 penonton yang mengalami kerasukan dan mesti dipaksa keluar oleh pawang-pawang yang selalu sedia. Dengan kebut kabut pekat yang tiba-tiba turun pada temaram malam itu, latar pementasan berukuran 9 x 12 meter seakan sesak dengan kengerian dan ketengangan yang merasuk ke para penonton di bibir latar pementasan. Tidak jarang para Endang meminta sesajen favoritnya sebagai simbol penyambutannya di dimensi manusia. Gerak-geriknya akan terlihat, para indhang berjalan tegap agak kaku lalu membisiki para pawang yang ada di sekitarnya untuk menuturkan detil sajen dan hal-hal yang dituntutnya. Menurut pengakuan Iswal, Kopi Jembawuk yang merupakan campuran kopi, santan, dan gula, serta Rokok Klembak Menyan yang merupakan lintingan rokok lengkap dengan kemenyan, adalah dua sajen yang paling diminati para Endang. Untuk Endang yang menyerupai binatang, kelapa segar yang masih utuh dan hewan yang masih hidup terkadang menjadi santapannya saat singgah di tubuh para indhang.
Foto 5-9. Topeng, sesajen, dan selendang yang membaluti topeng turut menemani pementasan.
Foto 10. Menuju klimaks pertunjukkan, diyakini indhang telah trance oleh para arwah yang berdarah biru.
Tidak hanya berupa benda, terkadang Endang akan meminta lagu pamungkas mereka untuk dimainkan beserta tempo yang pula mereka kehendaki. “Kalo lagu itu kan memang pakem dan tidak bisa dikreasikan, Mas. Juga yang sering mendatangkan para Endang itu lagu Sontoloyo, terutama lagu Gondhang Keli. Gak ngerti kenapa, mereka suka banget sih,” celetuk Adrianto sebagai salah satu generasi muda penerus lengger Panji Putro Desa Tambi. Tempo musik merupakan panutan para penari dalam melakukan cuthat yaitu gerakan melempar sampur ke luar tubuh dengan punggung tangan, kebyok yaitu melempar sampur ke arah dalam tubuh hingga menunpang di sekitar pergelangan tangan. Selain itu, tepukan kendang sebagai tempo juga akan mengatur penari dalam melakukan lumaksana yaitu melangkah dengan meluruskan kaki, ngejojor, kemudian melangkah sembari mengangkat dan menekuk kaki yang lain.
Menjadi sang penghibur dalam lengger memang bukanlah hal yang sepele. Layaknya frontman dalam sebuah grup musik, sang ronggeng atau penari utama memiliki daya tarik tersendiri dan patut diberi sorotan. Ialah Mbak Yeni, seorang penari utama dengan stamina melimpahruah yang mampu melenggokkan tubuhnya dalam sebuah perhelatan berkisar 12 jam tanpa jeda. “Saya pernah waktu itu ditanggap mulai dari jam 8 malam sampai 8 pagi, hampir tanpa henti. Berhenti sebentar toh karena ada adzan aja,” tuturnya. Yeni memulai perjalanan lenggernya pada sekitar tahun 2015, berlatih dengan giat pada sebuah sanggar tari di daerah Ngelo selama kurang lebih satu tahun. Renjana yang tak bisa dibendung membawanya debut di daerah Watumalang, pentas kecil pertamanya yang traumatis. Puncak klimaks Lengger biasanya akan ditutup dengan seorang penari utama yang berdiri diatas pundak seorang indhang seraya menari mengelilingi latar. “Nah pas itu saya jatuh mas, kesungkur gitu. Awale aku wis wedi, tapi mau gimana lagi,” tuturnya dengan memegang kepala sambal mengingat rasa sakit yang dideritanya dahulu.
Rasa sakit yang dideritanya tidak lama kemudian sirna dengan kepercayaan diri yang meningkat di pentas lengger setelahnya. Tidak hanya Yeni, para ibu yang menjadi penonton juga mempercayai bahwa penyakit anak-anaknya bisa dicegah dengan adanya berkah dari lengger. Sudah menjadi tradisi bahwa para penari utama akan mengusapkan bedak dengan telunjuknya pada jidat anak-anak tersebut. Adagium lokal mengatakan, “Nggolet indhang, ngilangi sawan.” Sawan yang berarti penyakit atau sial akan buyar dengan berkah Lengger melalui media bedak oleh penari utama. Pada zaman dahulu, media untuk penghilang sial adalah ludah sang penari utama. Namun seiring perkembangan kultur dan kesadaran tentang kesehatan yang meningkat, ludah sudah disubstitusi.
Foto 11. Kolaborasi aksi oleh kedua penari generasi muda ini bak mencerminkan proyeksi lengger di masa depan.
Selain ludah, calung yang berupa alat musik dari bambu pun sudah digantikan oleh gamelan pelog dan slendro. Dengan lagu yang masih pada pakemnya, gamelan merupakan pengganti yang klop dengan nuansa musik yang sarat akan makna. Namun sayangnya di Panji Putro sendiri, tidak banyak penari yang mengerti akan pesan yang disampaikan dalam setiap lirik yang dilantunkan. Sama seperti Iswal yang sedang meragukan kelompok kesenian ini untuk terus muncul di permukaan, “Anak dan cucu memang banyak yang ikut, namun setelah mereka nanti mendapatkan pekerjaan di luar sana, apa jadinya kesenian ini, Mas.” Sejalan dengan pemikiran para Sunan, mungkin sebetulnya kita semua sudah dinasehati sejak lama, “Eling Ngger, Elinga.”
Salam seni lestari, karena kultur diukur pada kesenian yang kita perjuangkan.
Gondhang Keli
Ana tangis layung-layung (Ada suara tangis keras keras)
Tanguse wong wedi mati (Tangisnya orang takut mati)
Kancanana gendhong ana (Ditemani dan digendong)
Wong mati mangsa urunga (Manusia pasti akan mati)
Dilurubi di anjang-anjang (Ditutupi dan disandarkan)
Dikucuri disawur kembang (Disirami ditaburi bunga)
Tangga pada nyawang (Tetangga semua melihat)
Karo nangis kaya wong nembang (Dengan menangis seperti orang menyanyi)
Sandang ane diganti putih (Pakaiannya diganti warna putih)
Tanda wis ora iso mulih (Pertanda sudah tidak dapat kembali)
Tumpakane kereta Jawa (Kendaraannya kereta Jawa)
Roda papat roda manungsa (Roda empat roda manusia)
Jujuganne omah guwa (Yang dituju rumah goa)
Tanpa bantal tanpa klasa (Tanpa bantal tanpa tikar)
Sing ora ana lawange (Juga tidak ada pintunya)
Turu dhewe ora ana kancane (Tidur sendiri tanpa teman)









