An Inspiration From Livi Zheng
Rasulullah SAW bersabda; “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi)
Baru saja tadi di kelas Studium Generale kami mendapat sebuah hikmah yang kusebut sebagai inspirasi. Seorang Livi Zheng yang merupakan warga negara Indonesia telah menjadi inspirasi tentang kerja keras yang membuahkan kesuksesan. Ia menghabiskan masa kecilnya di Indonesia kemudian melanjutkan sekolah menengah di Beijing. Sama seperti remaja-remaja lainnya yang mengalami kegalauan saat masa kelulusan tiba. Kemudian ia putuskan untuk mengambil jurusan ekonomi di University of Washington, Seattle, USA.
Entah sejak kapan, tapi semenjak lulus dari jurusan ekonomi, Livi memiliki cita-cita besar untuk menjadi seorang sutradara film Hollywood. Ia papah dirinya untuk cita-cita besarnya dengan melakukan semua pekerjaan yang akan mengantarnya agar menjadi seorang sutradara film Hollywood. Ia mulai karir perfilmannya dari pembantu umum yang mengurusi lighting, cathering, wardrobe, make up dan lain-lain. Bertahun-tahun ia menyabarkan diri dengan upayanya sampai akhirnya masa itu tiba. Ia mulai membuat skenario untuk filmnya sendiri.
Perjalanan membuat skenario film sampai akhirnya suitable untuk sebuah film pun rupanya tak mudah. Ia ditolak 32 kali karena skripsi yang ia buat dirasa tidak cocok untuk dibuat film, untuk menyebut jelek atau monoton. Kemudian, barulah di kesempatannya yang ke-33, sang produser baru menyatakan bahwa skripsi yang ia buat dapat dibuat film.
Ternyata, upaya kerasnya belum berhenti sampai disitu. Ia harus mencari crew-crew yang mumpuni di bidangnya. Tak tanggung-tanggung, ia gaet staf-staf yang pernah setidaknya masuk nominasi Oscar. Awalnya tentu saja penolakan. Siapa dia waktu itu? Film apa yang pernah dia buat sampai-sampai menggaet orang-orang sehebat itu? Tidak ada. Ini pertama kalinya ia membuat film.
Upaya kerasnya masih berhalaman-halaman jika dituliskan, maka kita berhenti disini. Setidaknya hari ini aku memperoleh inspirasi tentang menggapai mimpi. Katanya jangan gengsi memulai dari tahap paling rendah. Lakukan yang terbaik because little things can make a big difference. Ketahui mimpi dan kejar sampai dapat.
Mari bicarakan mimpiku. Dulu ketika LMD, aku bertanya dan jawabannya katanya mimpi tidak harus dibuat spesifik. Mungkin alasannya, kalau terlalu spesifik kemudian sudah tercapai, kita ngga punya mimpi lagi dong? Lalu hidup untuk apa?
Semua orang yang ingin masuk surga pasti menjadikan surga sebagai targetnya tetapi ada yang lebih tinggi dari itu, menjadi kekasih Yang Maha Pengasih. Bertemu Allah di Jannah serta memperoleh kenikmatan di Jannah dan dijauhkan dari adzab neraka, adzab kubur serta fitnah Dajjal.
Lalu apa upaya kita menjadi kekasih Yang Maha Pengasih? Mengikuti tuntunan yang Allah turunkan melalui RasulNya dalam Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat. Kalau kita kaji, banyak sekali hal yang bisa kita lakukan untuk menuju Jannah. Bahkan suara sendal Bilal saja terdengar oleh Rasul karena Bilal selalu menjaga wudhu dan shalat dengan wudhu tersebut. Hal penting yang harus diperhatikan, jangan berhenti melakukan kebaikan dan berlomba-lombalah.
Kalau aku. Aku mau jadi sebaik-baik manusia dengan menjadi orang yang paling bermanfaat. Menjadi orang yang bermanfaat dimanapun aku berada. Menjadi pemakmur alam dengan mengembalikan fungsinya seperti semula. Aku punya mimpi besar dengan membuat Integrated Organic Farm. Aku mau membuat lahan-lahan pertanian, terutama komoditas pangan yang berbasis organik. Aku benci dengan pestisida dan bahan sintetis lainnya karena lambat laun zat-zat ini akan membunuh manusia, literally. Mungkin mimpi ini terbaca idealis sekali, karena pada saat yang sama aku tahu konsumsi pestisida dan penggunaan pupuk anorganik negeri ini tinggi sekali. Sulit, tapi bisa.
Pada saat yang sama, aku masih ingin termasuk ke dalam kategori sebaik-baik manusia dengan belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Aku mau membina ummat dengan Al-Qur’an. Sama-sama belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Menjadi seorang Hafidzah Al-Qur’an. Mencetak hafidzh-hafidzah. Menjadi penerang di tengah kegelapan. Kalau kamu, kamu mau jadi apa? Ingat, surga terlalu luas untuk ditinggali sendiri.
Maka untuk mencapai hal itu aku harus lulus dari sekolah ini dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Terus belajar dan mengajarkan serta mengaplikasikan ilmu serta MULAI TAnya haha. In syaa Allah. Semangat selaluuu u.u
Bersabarlah memapah mimpi :) Berprogreslah walau satu mili daripada tidak berprogres sama sekali. Kalau niatnya baik, masa Allah ga bantu?