Accepting no condolences.
Hanya sebuah cerita dari suami yang biasanya tidak bercerita
Jujur semua terjadi begitu cepat
Sekitar satu bulan setelah menikah, istri memberikan kabar ketika aku sedang sholat Jum’at bahwa dirinya sedang hamil. Sepertinya hari itu adalah hari dimana aku berdoa terlama usai sholat Jum’at, aku berharap dan berdoa agar anak kami menjadi anak yang soleh/soleha, terlahir sehat wal’afiat tidak kekurangan suatu apapun, berbakti kepada orangtua, cerdas berakhlak, dan do’a-do’a baik lainnya. Allah mengabulkan doa kami, seorang anak yang tidak pernah menyusahkan orang tuanya saat dalam kandungan dan memberi kebahagiaan bagi keluarga kecil kami, namun tidak kami sangka juga pemberian yang sangat cepat ini juga dikembalikan kepada Allah dengan sangat cepat, bahkan aku tidak sempat mencerna apa yang terjadi.
Apa yang ada di kepala seorang calon bapak
Tiga bulan berlalu dan aku merasa sudah sangat berupaya dalam melakukan segala sesuatu, mencoba berbagai kesempatan baru untuk mendapatkan tambahan pundi pundi uang agar setelah anak lahir nanti kami tidak kaget dengan pengeluaran, mengusahakan gizi dan pengobatan terbaik untuk istri, bahkan mempertimbangkan membeli mobil second agar mobilitas sang istri yang saat itu hamil dan masih bekerja bisa lebih nyaman. Namun setelah mendapatkan berita tentang anak kami yang sudah tidak berkembang lagi, yang tersisa hanyalah scrolling Facebook marketplace untuk mobil second itu yang sepertinya tidak akan ku beli pada akhirnya.
Jika aku kembali ke waktu itu, apa yang akan kulakukan?
Sempat terpikirkan olehku bahwa aku seharusnya bisa lebih mengerti hal-hal yang perlu dilakukan dan dihindari dari sebelum kehamilan yang ternyata saat berpengaruh. Banyak pertanyaan di dalam kepala seperti "Mengapa aku tidak strict ketika istri sedang dirawat", tindakan-tindakan seperti apa saja yang dikerjakan oleh dokter. Sempat menyesali kenapa aku tidak bawa saja istri untuk periksa ke dokter yang lebih bagus, karena sempat adanya kekhawatiran perihal keuangan pasca istri dirawat karena penyakitnya. Namun pada akhirnya semua penyesalan hanya hasutan setan agar kita tidak percaya kepada Qada dan Qadar yang sudah ditetapkan Allah SWT.
Apakah merasa sedih?
Ada pepatah bapak-bapak “Men don’t cry”, namun menurutku men can cry too, kita bisa menangis diam-diam untuk melepaskan rasa sedih itu, dan lanjut beraktivitas dan bekerja esok harinya seperti tidak ada yang terjadi. “I get up and go to work not necessarily because I like to and have to, just because I’m a man I survive and thrive”. Aku merasa bahwa istri lebih butuh support emosionalku, dari sanalah kekuatan diriku berasal, untuk mensupport yang membutuhkanku.
What now?
Jihaan, Kevin, Leon, keluarga kecil yang akan selalu ku ingat. But with every sunset, there will be a sunrise while it’s not the end of the world, and we will continue to live our happy life. Insyaallah peristiwa ini tidak akan membuat kami menyerah, dan dari kejadian ini kami belajar banyak hal, agar kedepannya kami menjadi orangtua yang lebih sehat dan siap, pada waktunya.














