Plot Cerita : Kutukan Perang Bidak
Hai pembaca netizen, postingan kali ini adalah proyek kedua setelah karangan karakter yang saya upload sebelumnya. Membuat plot cerita dalam 3 paragraf. Ya, itulah proyek lanjutan yang saya bahas saat ini. Ceritanya megisahkan pengalaman pribadi saya, dan sedikit dicampur fiksi tentunya, yang saya jadikan plot dari ke empat karakter tersebut (Harya, Fadel, Muhaimmin, dan Aim). Pertama saya akan menjelaskan kalau di bagian awal cerita pada paragraf pertama berisikan intro dan sedikit penggambaran karakter dalam cerita. Paragraf kedua berisikan alur kisah cerita, mulai pertengahan hingga munuju klimaks. Di Paragraf ketiga berisikan tentang klimaks hingga ending cerita. Semua ditulis sesuai alur garis besarnya saja dan cukup menjelaskan maksud dari plot cerita. Oke, selamat membaca ;).
Judul untuk cerita pendek ini adalah Kutukan Perang Bidak.
“kriiinggg…”, bel berbunyi dari arah ruang guru menandakan waktunya pulang sekolah pukul 12.00 siang. Aku bersama ‘geng’ tidak langsung berencana untuk pulang. Lalu setelah semua anak dikelas bubar, Segera saja Fadel langsung mengeluarkan papan permainan yang ia ceritakan kemarin kepada kami. Aku dan Aim memutar balik kursi kami menghadap bangku Fadel juga Muhaimmin dan bersiap untuk memainkan sebuah board game yang diberi nama Lastman-Standing Pioneer. Game ini bertipe sama seperti permainan catur, hanya saja sistemnya berbeda dari catur biasanya dan menggunakan dadu untuk menjalankan langkah bidak. Mungkin boleh dikatakan sama seperti monopoli, namun jalur peta permainan berbentuk seperti huruf X, bidang dibuat 4 sisi tiap sudutnya dan memang hanya bisa dimainkan oleh 4 orang saja. Intinya adalah permainan ini harus mempertahankan bidak yang tersisa untuk menang bertahan dari sejumlah bidak yang disediakan. Maka itu berarti salah seorang pemainlah yang keluar sebagai pemenang, tidak ada juara 2, 3, atau bahkan 4. Dan permainan pun dimulai dari hompimpa sampai kami mendapat Fadel yang menjalankan ‘pasukannya’ di giliran pertama, diikuti dengan aku, Muhaimmin, dan terakhir Aim. Fadel mengocok dadunya dan mendapat sisi angka yang cukup banyak untuk menentukan langkahnya. Oh iya, gerak sebuah bidak dari permainan ini tergantung kita yang menentukan boleh ke arah mana saja mirip seperti gerak ratu pada catur, cuman batas langkah tetap ditentukan oleh angka dadu yang keluar. Berjalanlah permainan sampai terus mendapat giliran hingga bertemu dengan bidak satu sama lain dan saling menjatuhkan bidak-bidak lawannya. Oke, sampai disini aku mengatakan permainan ini adil dan sangat seru!.
Di tengah permainan saat kami fokus pada strategi, tiba-tiba wali kelas kami memeriksa kelas yang telah dia tinggali setengah jam dari jadwal mengajarnya tadi. Ibu guru terlihat heran dan bertanya, “loh, kalian berempat masih disini?, apa kalian tidak pulang?, mengapa tidak bermain di rumah masing-masing saja?”. “Ngga donk bu, kalau kami main di rumah terus gimana kami bisa bertemu?’, jawab Fadel dengan bermaksud bahwa game ini mustahil dimainkan hanya seorang diri dan ia sedikit berkelakar dalam kata-katanya. “Ah kalian ini pintar sekali beralasan.. Nah, untung ada Aim. Apa boleh ibu pinjam dia sebentar saja?”, Tanya bu guru. “Memangnya ada apa bu?”, aku menyaut. Bu guru menjawab, “Ibu minta tolong untuk membantu menuliskan nilai-nilai tugas kalian tadi pagi dalam buku besar.. Itu tidak mengganggu kalian kan?”. Lalu kami berempat saling bertatapan, menganggukkan sedikit kepala yang menandakan tidak masalah bila Aim harus dipanggil sebentar. Lalu keadaan permainan pun menunda satu orang pemain. Maka yang tersisa hanya kami bertiga. Karena kebetulan sebelum dipanggil ibu guru adalah gilirannya Aim, maka yang saat ini harus jalan adalah Fadel. Anehnya sedari tadi wajah Fadel begitu masam. Seperti sedang kesulitan. Ada sesuatu yang ia tahan. Dia mengocok dadunya dan berjampi-jampi dengan tangan berisi dadu kocokan itu. Lalu keluarlah angka 6 yang ia harapkan sesuai dengan keinginannya. Fadel tetap saja memasang raut wajah masamnya. Aku dan Muhaimmin sedikit tertawa heran. “kau kenapa del?”, tanya Muhaimmin dengan logat Minang. “Diam dulu, aku lagi mikir nih”, Jawab Fadel. Gantian aku yang bertanya penasaran, “apa kamu ada masalah di rumah?, atau ada barangmu yang barusan kamu ingat di curi anak-anak?, atau ada makanan yang pengen kamu beli dan kehabisan?, oh atau ada..”. “Stop!, aku lagi mikir jadi jangan berisik dulu!”, balas Fadel dengan sedikit kesal”. “Oi, kalau kau sedang kesusahan, mending kita berhenti bermain saja”, saut Muhaimmin. “tidak!, sedikit lagi aku berfikir…”, tentang Fadel. Lalu dengan cepat tangannya bergerak dan memegang bidaknya untuk menjatuhkan salah satu bidak milikku. “Haaaaahhh Beres sudah!!, aku mau ke WC sebentar yaaa”, Hentak Fadel yang ternyata sedari tadi menahan pipis hingga cepat berlari meninggalkan kelas. “Lah, woi, tunggu du.. jadi ka… “, aku menyaut terbata-bata, heran dan kaget dengan apa yang Fadel lakukan barusan terhadap salah satu bidak milikku. Tawa keras Muhaimmin keluar dari mulutnya. Aku kesal, padahal bidak itu adalah salah satu dari dua bidak yang ingin aku gunakan sebagai kunci penyerangan antara Fadel atau Muhaimmin. Jadi kupikir percuma saja bersimpati dengan raut susah wajahnya yang tau-tau sepanjang waktu Cuma kebelet pipis doank.. baahhh sudahlah. Terlanjur kesal, maka aku ingin membalaskan amarahku kepada tawa kejam Muhaimmin tadi.
Bergeraklah bidakku menyerang sebuah bidak di tengah jalur milik Muhaimmin dengan aku sedikit mengeluarkan tawa sinis kepadanya. “Kau ini cerdik juga ya”, berkatalah Muhaimmin. Ketika gilirannya dan sudah mendapat angka dadu, dia berkata, “Yogi, lihat!, ada burung Cendrawasih di sana!”, dengan mununjuk jari telunjuknya ke arah luar jendela kelas. “hah?, mana?”, sambil heran aku memandang keluar kelas. Eh, tunggu dulu.. Cendrawasih?, masa iya sih aku di bodohi dengan burung yang ada di bagian timur jauh Indonesia sana ujug-ujug datang ke Sumbar?, Sialan kau Muhaimmin. Dan setelah aku sadar, pandangan bego-ku tertuju pada papan permainan kami. Tepatnya pada posisi sebuah bidak Fadel yang tiba-tiba dia hilangkan dengan bidaknya mangkir di petak itu. “Lho, kok bidak Fadel..”, aku mulai curiga dengannya. Dia bersikap biasa saja seperti tidak tahu apa yang terjadi barusan. “Hah?, kenapa?”, tanyanya. Aku tahu raut wajah bohong anak-anak biasanya terlihat dari senyuman dan bahasa matanya. Hingga anak ini menunjukkan topeng tukang bualnya. “Ahaaa!!, kau berbuat curang yaa?!!”, tuduhku. “Apanya?, aku sama sekali ngga berbuat curang kok”, dia membela dirinya. “Min, jujurlah dalam bermain, jangan sampai kau berbohong kepada mereka!!”, tegasku membuka kedoknya. Tiba-tiba dalam bayanganku kita masuk dalam era perang kerajaan jawa kuno dulu seraya menggambarkan amarah kami dalam dunia nyata. “Oi kisanak, kalau engkau berbuat dusta kepada para sahabatmu, maka aku akan menghentikanmu sampai disini!!”, aku berkata seraya Mahapatih yang ingin membela kebenaran. “Tidak akan, aku tidak sudi kalah dari kalian!!”, jawab Mahapatih Muhaimmin. Lantas dengan tekad besar, dendamku mencuat. Aku mengejar Muhaimmin yang lari ke hutan dan bertempur secara jantan menggunakan keris sakti kami. Dari sini, imajinasiku terlalu berlebihan ya?, hehe. Lalu ketika aku dan Mahapatih Muhaimmin mulai tersudut dengan menahan keris yang saling mengarah secara berhadapan, tiba-tiba.. Fadel dan Aim heran saat melihat kami berdua sedang beradu seperti bocah TK ingusan yang berebut jajan hingga guling-guling di lantai. Suasana imajinasiku menghilang, dan tanpa disadari kami berdua telah membuat kelas ini jadi kapal pecah dengan meja kursi berantakan dimana-mana. Tapi tidak dengan board game-nya. Setelah beberesan kelas dari kekacauan, kami duduk di tempat permainan kami lagi. Raut kesal yang mulai membenci antara aku dan Muhaimmin saling membuang pandangan. “Sudah-sudah, jangan bertengkar lagi.. Jadi gimana, Mau di sudahi sampai disini saja atau tetap lanjutin?”, Tanya Aim sambil menenangkan kami berdua. Malah Fadel Menjawab dengan santai, “Tetap di lanjutin aja, aku bisa menerima apa yang tadi kamu lakuin kok, Min”. Lah, kok mudah amat sih Fadel kasih maafnya?, Jadi curiga nih. Tapi sedari tadi apa yang di senyumkan oleh Fadel dengan pandangannya kepada bidaknya yang menghilang. Seperti senyum ‘nakal’ penuh siasat. Setelah giliran Aim, akhirnya sampailah pada titik akhir pertempuran kami dalam permainan ini. Saat giliran Fadel mendapat angka dari dadu yang dia kocok, lalu dia menghentikan permainan ini dengan membuat bidak-bidak kami bertiga menyingkir dari papan game. Mulai dari bidak Muhaimmin, aku, baru yang terakhir Aim. Selesai sudah pertempuran ini dimenangkan oleh Fadel si Jago Bermain. Kami bertiga tersentak dengan kejadian barusan. Bagaimana bisa Fadel mengatur permainannya dengan sangat mudah sehingga menumbangkan strategi lawan. Lalu dia berkata, “Caranya gampang, jangan berbuat curang dan tetaplah perkuat sportifitas.. jadinya aku tetap mempertahankan tahta kemenanganku dalam semua permainan dalam menghadapi kalian kan?“. “Dan satu lagi, untungnya bukan aku yang kalah pertama.. iya kan Min?”, sindirnya dengan sedikit tawa yang menggelitik sebab kecurangan Muhaimmin. Aku, Fadel dan Aim pun tertawa lucu saat melihat raut wajah malu Muhaimmin. Lalu dia pun ikut tertawa dengan kekonyolan tingkahnya. Akhir dari cerita, dia meminta maaf kepada Fadel karena kecurangannya dan juga kepadaku yang sudah membodohiku dengan Cendrawasih tipuannya, hahaha. Kamipun bergegas pulang untuk menyambut hari esok yang jauh lebih menyenangkan.
Ya, begitulah plot cerita tugas yang saya karang dan memang bukan kejadian sebenarnya, sih. Semoga merasa terhibur ya pembaca netizen skalian :). CMIIW~