Pergi ke Bali dengan jalur darat tuk pertama kali. Aku takjub dengan banyak hal selama perjalanan. Salah satunya, aku tidak ingin melewatkan gemerlap lampu- lampu di PLTU Paiton, Probolinggo- Jawa Timur. Saat itu, ibu bilang padaku harus melihat itu, 'mumpung' perjalanan malam hari. Indah sekali, terkagum-kagum melihatnya. Usia ku belum dewasa, masih SD (mungkin kelas 2). Sangat anak-anak pada umumnya, tidak keras berpikir dan bertanya tuk mencari jawaban. Indahnya ketika itu, tidak banyak tanya hanya kagum dibuatnya. Yah, aku kurang kritis waktu kecil karena menikmati masa kanak-kanak yang dipertahankan sewajarnya; menjadi anak manusia seumumnya. Hanya melihat, tidak ada tanya bahan itu-ini, salah satunya batubara.
Aku bukanlah anak itu lagi, namun tetap itu masa lalu ku berperan seperti itu. Manusia akan berubah cepat atau lambat seiring waktu berjalan. Pemahaman ku tidak hanya lagi kagum, tetapi merambat ke emosi dan ego lainnya; kecewa, simpati, terheran-heran, dan sebagainya campur aduk.
Palu, November 2018. Aku berkesempatan mengenyam kehidupan singkat disana. Yah, setelah musibah hadir di kota tersebut; gempa, tsunami, likuifaksi, banjir, dan tanah longsor. Pelan-pelan Palu bangkit, tidak drastis namun pasti untuk kembali kuat. Kondisi disana, sudah normal berjalan 'katanya mulai kondusif'. Memang benar, aku melihat sudah ada yang masuk sekolah walau tidak penuh, toko-toko sudah ada yang buka, warga kembali ke rumah, dan nelayan beberapa sudah melaut. Namun, ada yang tidak karena perahu rusak atau hilang sehingga masih banyak orang baik yang bahu-membahu menyumbangkan sebagian hartanya tuk membiayai pembuatan perahu dan membeli mesin tuk para nelayan yang kehilangan alat mata pencaharian. Perjalanan menuju tempat pembuatan perahu itu, aku disajikan banyak ketertakjuban.
Apakah saya terlihat sama seperti masa aku anak-anak? Mudah tertarik dan fanatik. Kalian benar, namun tunggu akan panjang aku ceritakan dan kalian akan temukan aku mulai berbelok arah mengenai pandangan ini.
Lagi, aku dibuat takjub dengan PLTU (Mpanau), ini berada di Taweli, Palu- Sulawesi Tengah. Walau tidak sama dengan PLTU Paiton; tidak ada lampu menyala cantik atau mungkin ada yang tidak bisa ku lihat. Entahlah, yang jelas hilir mudik suasana PLTU ada disana; terlihat gundukan batubara, kapal pengakut batubara bersandar atau di tengah laut yang sedang ditarik kapal penarik menuju tujuan selanjutnya. Kapal pengangkut batubara itulah membuat ku ingin tahu lebih.
Dalam mobil menuju desa Lolitasiburi, terjadi perbincangan kecil.
R : yang punya itu kan swasta? Tahu ndak PT apa?
D : tidak tahu, tetapi seingat saya ini PTnya banyak dan berbeda-beda. Hancur ini, kena tsunami kemarin.
Di tempat tujuan, desa Lolitasiburi, aku terus fokus melihat kapal angkut batubara dari kejauhan. Dan, bertanya pada salah satu penduduk lokal disana, beliau juga nelayan.
A : pak, itu kapal darimana? (antusias)
B : dari kalimantan itu (muram)
Aku baru sadar, wajah bapak tersebut tidak suka dengan pertanyaan ku yang semangat ingin tahu kapal angkut itu. Aku mulai mengerti itu bentuk keresahan beliau- 'yasudahlah, masyarakat kecil bisa apa' dan 'tidak munafik, banyak manusia butuh kehidupan'. Yah, batubara untuk energi primer pembangkit listrik yang di ambil dari alam Kalimantan untuk hidup kita sehari-hari. Murah ya listrik itu? Sehingga kita sering boros, remeh dan sebagainya.
Ternyata, ada dibalik pro pasti ada kontra atau ada untung pasti ada rugi. Batubara, diambil dari alam dikelola manusia jadi merusak alam. Ironi, lingkungan yang harusnya dijaga malah diacuhkan. Banyak tangan berkuasa, membungkam yang lemah. Banyak yang tahu teori, tetapi tidak mengerti teori berbeda dengan lapangan. Lantas, adakah perkembangan teori atau malah bertahan teori yang sama saja hingga acuh dampaknya?
Sepertinya, jika semakin kemari aku terus menyadari bahwa manusia bukan makhluk yang sempurna. Terlalu cacat dengan perkataannya, pemikirannya, dan perbuatannya yang didasarkan ego dan emosi yang saling berperang, berambisi, dan berapi-api tuk mencapai kepuasan duniawi.
Aku tidak pernah tahu pasti di hati dan otak manusia lain, mungkin dibalik kalimat pernyataannya terucap itu adalah sebaliknya. Tidak penting bagi beberapa manusia mau terlihat menjadi manusia seperti apa di kehidupan ini, selagi hidup tetap berjalan dan manusia tetep ada dengan beragam karakternya akan terulang- yang mungkin menggrogoti tiap detiknya menjadi rusak sebelah atau seluruhnya. Sedikit sekali yang sadar dan kembali kejalannya. Tidak apa-apa, pasti akan bertambah jumlahnya, walaupun lamban.
Ntah, nasib anak-cucu ku dimasa depan. Apakah lebih baik atau lebih hancur daripada sekarang?
Begitulah, ku hanya tahu 2 PLTU yang pernah ku lihat dari sudut pandang berdasarkan usia (anak & dewasa). Aku tersadar karena waktu tumbuh-kembang, baik fisik hingga pemahaman. Teka-teki kehidupan itu lah membuat ku menjadi seperti apa dan siapa.
Sekitar April 2019, viralnya sebuah film dokumenter, sexy killer: ekspedisi indonesia biru, membuat ku paham dan punya sudut lain yang tidak kasat mata. Tenang, aku tidak benar-benar menelan semuanya. Ada yang perlu ditoleransi atau dianggap wajar, mungkin saja?
Apa tanggapan ku setelah nonton film tersebut?
Pertama, walau itu kenyataannya yang ada. Aku sadar menjadi pemerintah tidak mudah. Mereka sama dengan mereka yang lemah. Mereka pura-pura kuat dibalik kekuasaannya atau sadis buta dan tuli kemanusian? Entah, mereka-mereka hanya berbeda situasi saja, ada mereka yang berkuasa tetapi tertekan apa dan ada mereka yang tidak punya kuasa malah menerima dampak apa itu. Mereka itu sama manusianya. Makannya juga tidak jauh berbeda, yah beda diharga diikuti gizinya. Mereka juga sama punya hati dan otak, namun yah begitu digunakan lurus atau belok karena terpengaruh faktor internal dan eksternal.
Kedua, hemat energi listrik. Apakah satu orang yang berubah mengubah banyak? Berapa persen? Ku rasa tidak berpengaruh lebih, namun dimulai dari siapa kalau bukan aku- diri sendiri, kan?
Ketiga, aku sadar kalau semua bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda, yang mungkin menyebabkan perubahan dalam menyikapi sesuatu. Misal, ketika dulu sekali menarik, sekarang sangat membenci. Prinsip apa dibantah prinsip apa lainnya.
Keseterusnya, teteplah bertahan! Dunia ini sementara, Muhasabah-lah. Banyak sisi yang jarang terekspos. Tenggelam udara foya-foya yang gila. Mengunci hati yang suci menjadi ternoda yang setitik-titik kemudian penuh seutuhnya.