Antara manusia, hewan, dan mesin
Manusia merupakan makhluk yang kompleks. Tak hanya dipandang sebagai makhluk hidup dengan tingkat evolusi terdepan secara bentuk fisik dan sistem tubuh, namun pula terdepan dalam aktivitas otak, pola pikir, dan kemampuan berkomunikasi. Hal ini mengakibatkan perkembangan sosial manusia menjadi kompleks pula, mulai dari dibentuknya kode etik bermasyarakat, tata krama, norma dan etika, hingga hierarki pemerintahan. Hamba rasa hal ini lah yang membedakan manusia dari hewan ataupun makhluk hidup lainnya.
Terikat dalam suatu aturan kemasyarakatan yang ia yakini, manusia tidak bisa mengambil keputusan hanya berdasarkan insting dan keinginan pribadinya semata. Ia harus tetap mempertimbangkan dampak pada masyarakat, norma dan etika yang berlaku, serta hukum dan aturan di tempat ia berada. Semua kompleksitas tersebut dibuat agar tercipta tatanan sosial yang disetujui oleh masyarakat. They still need to abide by the rules.
Namun tak dapat dipungkiri, manusia juga bukanlah mesin yang diprogram untuk dan hanya untuk satu tujuan sesuai keinginan perancangnya. Suatu mesin tidak dapat menjalankan sesuatu di luar apa yang diprogramkan perancangnya, pun memiliki kehendak untuk keluar dari pemrograman yang ada pada dirinya. Manusia tetaplah makhluk yang memiliki kehendak dan perasaan, suatu preferensi tentang keinginan dan ketidak inginan terhadap sesuatu. Maka dari itu, penting bagi manusia untuk memposisikan dirinya, mengukur sehewan dan serobot apakah mereka dalam mengambil suatu keputusan? Supaya pada akhirnya, ia mampu memenuhi kewajibannya sebagai anggota dari suatu penerima kode etik masyarakat namun tetap mempertimbangkan kepuasan pribadinya.
Tentu saja amat mulia bagi yang mampu menghormati kode etik masyarakat yang diyakini, mematuhi dan menaati setiap tuntutannya. Namun manusia bukanlah mesin. Bila ia begitu saja membuang dan mengabaikan hasrat & keinginannya, bukankah kita sama saja dengan membuang sisi kemanusiaan kita?