my current dilemma: wanting to have a pet frog but wants all froggies to be free and happy ☹️

seen from United States
seen from China
seen from Vietnam
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from China
seen from Yemen
seen from Australia
seen from Japan

seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from Yemen
seen from South Korea

seen from United States

seen from United States

seen from Maldives
seen from Vietnam
my current dilemma: wanting to have a pet frog but wants all froggies to be free and happy ☹️
ALSO!! I just wanna share that I met a cute little fluffy doggie the other day and she was so small and shy and her name is "patata" which is absolutely cute bcos her name is technically "potato" and it's just SO CUTE!!!! A DOGGIE NAMED POTATO!! hhhnnnnggg (∩˃ ᵕ ˂∩)♡
🌞 my little diary— #1
im kind of insecure with my regression. i cant help but to sometimes compare myself to others. i feel like im not doing it right bcos im not acting like this or i dont like that. like, recently i was wondering why even when im fully regressed im still not very interested in playing with dolls or outdoor playgrounds but then i remember that even when i was at that physical age (age 6) i already prefer being indoors. i would just sit and read or i would be on the computer, learning and watching videos. i was also quite independent back then and my parents was ok with just leaving me alone. when i realized that, it made me feel better about my regression. i dont have to change anything about myself or to be like other regressors with the same age range as me. my regression is still valid even if i feel different. just like how some kids are different from other kids their own age, it's okay. (◍•ᴗ•◍)
🌞 my little diary— #2
I made myself baked macaroni and it's good but I feel kinda sick now because I think I put too much butter. I feel icky. Now, I crave some fruits and veggies. I really need to get my cravings under control ;-;
Speaking of cravings, for some reason, I've been really craving a caregiver a lot lately. I want to be held, to be taken care of. Especially now that my sleeping pattern is soooo bad and I'm eating recklessly. I feel out of control and messy. I know it's not easy to find a good one and I think it's a lot harder for me because I think it's really rare to find one in my country. But also at the same time, I don't feel like it's right for me to go on dating apps or whatnot to look for one. I want to wait and let fate happen. Maybe it's just me feeling lonely. We all have those days, right? I'll be fine! 🌼✨
Y me pregunto si todo lo que a hecho era para nada. Siempre siento más de los demás.. y siento demasiado por la gente que le vale madre. Mientras sueñan con los demás yo aparezco en la escurrida viendo como tratas a los demás diferente queriendo la misma hospitalidad, la misma esfuerzo.. que a echo que ya no me miras con esa mirada de antes? Que me echas en el olvido? Se que no era honesta en el principio y la hecho culpa a mi propia consciencia de mí misma. Sabiendo que hermosa su modo de pensar,intelligentsia,virtud y su belleza me dio miedo que no era suficiente. Y parte era mi culpa porque el miedo no me dejó ser yo misma. Me gustaría tratar otra ves.
25, June 2018
10:10pm
⭐️Aufwachen ist die beste Möglichkeit seine Träume zu verwirklichen! ⭐️ In diesem Sinne einen guten Start in die neue Woche! • • • • ⭐️ Die Träume sind die Flügel der Freiheit! (I sogni... sono le ali della libertà) Trage sie immer bei dir mit dieser besonderen Halskette! ⭐️ • • • • • • #dream #collar #madeinitaly #liveyourdream #liveyourdreams #specialjewellery #jewellery #littlediary #diary #specialdiary #libertà #sogni #onlineshopping #stellinalifestyle⭐️ #online you will find it here:👇 www.stellina-lifestyle.de
True Colors of Me
Kembali saya memulai sebuah perjalanan yang sudah lama saya nantikan. Destinasi pertama jatuh ke tempat Suku Baduy dalam di Desa Ciboleger, Banten. Saat itu saya ditemani oleh teman kantor saya, namanya Intan. Baduy dalam cukup menantang untuk sebuah pemanasan sebelum hiking. Treknya yang berbukit-bukit cukup menguji nafas, ditambah lagi saat itu saya pergi di bulan januari. Musim hujan cukup menambah sensasi perjalanan jadi lebih seru, seru sekali. Kaki kami sampai tidak jelas wujudnya seperti kaki kerbau yang habis membajak sawah. Ini adalah latihan pertama saya setelah sembilan tahun lamanya tidak menjelajah hutan.
Saat SMA saya pernah meminta idzin pada ibu saya untuk ikut pelatihan pecinta alam di kaki gunung salak. Ibu saya langsung melarang begitu saja tanpa bertanya sedikitpun tentang kegiatan tersebut. Sebelumnya saya pernah dilarang juga untuk ikut LDK paskibraka di SMP karena menginap di sekolah. Tapi kali ini saya sedikit menentang dengan tetap mengikuti pelatihan pecinta alam, sebelumnya saya sempat memohon agar diidzinkan, akhirnya saya diidzinkan dengan terpaksa. Entah dorongan apa yang membuat saya berani untuk memohon pada ibu saya yang notabene saklek. Ibu saya memang terlalu khawatir bahwa anaknya akan jatuh ke dalam pergaulan yang tidak benar, atau takut anaknya dijebak orang. Kadang memang kesal kalau ingat saat saya beradu argument dengan beliau. Tapi saat ini saya mengerti bahwa gunung salak itu memang begitu angker dan jalurnya sangat sulit walaupun tidak terlalu tinggi, haha. Ada sedikit kebanggaan kalau saya pernah bernyali untuk bermain kesana tanpa ilmu hiking yang belum mumpuni. Saya bersyukur sekali sekarang, karena waktu itu hanya ikut pelatihan selama dua hari ke kaki gunung salak.
Sejak kuliah ekstensi saya hampir selesai, saya mulai sering meluangkan waktu untuk pergi berlibur, melepas penat. Menurut saya liburan tidak harus selalu pergi jauh dengan destinasi yang WOW. Kamar kost pun bisa saya sulap menjadi tempat liburan untuk mengurung diri dengan laptop berisi film, beberapa buku dan cemilan. Atau saya biasa menjadikan kedai kopi sebagai tempat yang nyaman untuk explore dan bersantai sendirian. Tabungan hasil keringat terkadang menjadi budget ajang balas dendam untuk membeli buku-buku mahal yang sewaktu kuliah belum mampu saya beli, haha. Terlebih untuk membeli alat-alat outdoor, demi kenyamanan hobi saya rela menabung lebih untuk bisa membeli peralatan mendaki. Saya bersyukur sekali, bisa melanjutkan pendidikan dengan biaya sendiri, membelikan sesuatu untuk orang tua, pergi umroh, kursus beberapa bahasa asing, mencicil rumah, jalan ke luar negeri, ikut seminar-seminar berbayar, hingga sertifikasi.
Di usia hampir 21 tahun, saya tidak meminta lagi pada orang tua saya untuk membiayai segala keperluan. Saat itu saya mulai dapat tawaran OJT dengan gaji 1jt rupiah. Qodar berkata baik, OJT yang seharusnya saya jalani selama 3 bulan pun disingkat menjadi satu bulan saja. Berikutnya, saya menerima gaji pertama saya sebagai Engineer bidang telekomunikasi. Dua tahun berikutnya saya memutuskan untuk lanjut kuliah ekstensi S1 di Binus saat pekerjaan saya dipindahkan ke Surabaya.
Diantara kami, enam bersaudara, hanya saya yang mewarisi jiwa petualang dari keluarga ayah dan ibu saya. Ibu saya senang sekali solo travelling. keliling nusantara, keluar negeri, sedangkan keluarga ayah saya ada yang suka berpetualang di tengah hutan, yaitu Om Iwan. Beliau adalah adik bapak saya, satu-satunya orang di keluarga ayah saya yang ikut mendirikan sekolah untuk pecinta alam bernama Wanadri. Beliau sempat menjadi ketua Wanadri dan sekarang, saat sudah pensiun, beliau menjadi ketua redaksi majalah yang diterbitkan oleh Wanadri. Ingin rasanya saya hiking dengan beliau minimal sekali seumur hidup, hehe, sepertinya seru hiking dengan saudara sendiri. Tapi mengingat kondisi beliau yang sudah lanjut usia dan tetap punya kesibukan di masyarakat, saya jadi agak khawatir dengan kesehatan dan keselamatan beliau.
Be in deep water (part 1)
Terbiasa hidup mandiri, dengan sedikit uang, membuat saya lebih berani dalam memutuskan apa saja yang menjadi pilihan dalam hidup saya. Termasuk memilih untuk hidup sangat-sangat sederhana demi menghemat tabungan untuk mencari ilmu. Sebenarnya saya tidak terlahir dari keluarga miskin. Sejak kecil saya sudah hidup serba nyaman dengan fasilitas dari ayah saya. Dulu ayah saya seorang General Manager di perusahaan BUMN yang bergerak di bidang telekomunikasi. Seringkali saya ikut ayah dalam perjalanan dinasnya. Menemani ayah ke kantor di hari sabtu, pergi keluar kota, menginap di sejumlah hotel berbintang dan makan di restoran mewah, hingga antar jemput saat sekolah atau les. Semua bentuk kemandirian yang saya pilih karena saya tidak suka merepotkan orang tua, dan berebut kasih sayang atau materi dengan saudara-saudara saya. Saya lebih suka untuk tidak bergantung pada orang lain.
Saat SMA saya memutuskan untuk tinggal di luar kota dan hidup bersama orang lain di asrama sekolah. Minimnya pelajaran etika dan akhlak dari kedua orang tua saya (terutama Ibu) membuat saya agak sulit beradaptasi membaur dengan orang lain. Jadilah saya terbentuk dari kepribadian yang keras dan cuek, mudah marah, tapi juga cengeng. Sejak kecil saya memang sangat haus akan bimbingan moral dari Ibu saya. Bahkan yang lebih banyak mengajarkan saya tentang kerukunan, kekompakan, sampai bimbingan akademik adalah ayah. Peran ayah begitu besar dalam hidup saya. Walaupun sebenarnya itu masih sangat-sangat kurang, karena dalam 8-10 jam sendiri waktu ayah sudah tersita untuk pekerjaannya, belum lagi dinasnya keluar kota, dan istirahat. Sisanya untuk berbagi waktu bersama kami anak-anaknya. Terlebih, untuk bimbingan agama sudah tidak sempat dikontrol lagi.
Saya mengenal sholat lima waktu dari ayah, tapi hanya sampai hafal gerakan, selebihnya, pembantu kami di rumah yang mengajarkan tuntunan sholat lewat buku tuntunan ibadah yang umum beredar di toko buku. Lalu saat kelas 4 SD saya mulai di ikutkan khursus membaca al qur'an oleh ibu saya. Begitu seterusnya sampai khatam iqro jilid dua. Setelah itu saya tidak pernah lagi belajar membaca al qur'an karena kami pindah rumah dan belum menemukan guru yang baru. Saat saya kelas 6 SD saya mulai lanjut belajar membaca, tapi belajar sendiri dari iqro dan al qur'an. Begitu seterusnya hingga masa SMP saya terlewat dengan jadwal yang begitu padat dan stress menyerang karena kondisi rumah yang tidak kondusif untuk mental seorang anak remaja. Suasana rumah yang penuh dengan suara-suara menyakitkan membuat saya mental saya terguncang dan kurang dekat dengan keluarga saya sendiri. Saya terus menjalani hari-hari saya sebagai anak rumahan yang tidak punya waktu bermain dan bersosialisasi. Karena Ibu melarang saya untuk punya waktu santai dengan teman-teman. Lahirlah sosok Andhika SMP yang sangat pendiam, kaku, keras, sekaligus pengecut dan cengeng.
Ketika cobaan datang berkelanjutan. Ketika saya merasa tidak ada seorangpun yang bisa menenangkan hati saya, termasuk orang tua saya, saat itu saya ditunjukkan jalan untuk berkenalan dengan al qur'an. Al qur'an akhirnya mempertemukan saya dengan beberapa ustadzah yang akhirnya membimbing saya membaca al qur'an saat SMA. Al qur'an memberi kekuatan secara perlahan. Saya merasa ketika saya berusaha mempelajari isinya, membacanya, al qur'an pun semakin mendekat ke dalam hati saya. Di waktu saya sedih, gelisah, marah, kecewa, al qur'an adalah teman pelarian terbaik. Saat itu al qur’an benar-benar meluluhkan hati saya yang keras.
Kemandirian saya berlanjut hingga saya kuliah. Ibu telah mengajari saya untuk menabung sejak SD, dengan membukakan rekening tabungan di bank dan membelikan celengan untuk saya. Mulai SMA, saya terbiasa menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan di luar makan. Mulai dari kebutuhan membeli baju, buku, olahraga, hingga les bahasa inggris. Saya mulai merasakan perubahan yang besar sejak saya tidak tinggal di rumah saat SMA. Sholat 5 waktu yang biasanya hampir tidak pernah dikerjakan, jadi dikerjakan terus, begitu pun dengan membaca al qur'an, sholat sunnah, hingga puasa sunnah. Saat SMA saya menemukan dunia baru, hidup diantara sekian banyak orang dengan karakter yang berbeda-beda. Semangat saya mulai tumbuh, tekanan dalam keluarga tidak lagi saya rasakan. Saya mulai menyibukkan diri saya dengan beberapa organisasi, untuk melihat dunia yang lebih luas lagi, hingga nekat menjelajah alam bebas tanpa restu dari orang tua. Begitulah keberanian saya terus tumbuh hingga saya memasuki masa perkuliahan.
Kembali saya beradu argumen dengan orang tua saya soal jurusan kuliah. Saya akui orang tua saya kurang membebaskan anak-anaknya dalam memilih passion-nya sendiri. Saya sadar tidak bisa seratus persen menyalahkan mereka, hanya coba mengambil hikmah. Anak yang selalu dikekang akan tumbuh dalam ketidakmandirian karena tidak terbiasa mengambil keputusan sendiri dan menanggung resikonya. Itulah yang saya lihat dari beberapa saudara saya.
Saat itu saya sangat ingin kuliah di jurusan Psikologi UNPAD. Saya mantab sekali mencari info tentang kampus negeri tersebut, hingga segala urusan pendaftaran dan ujian masuk tidak lagi melibatkan orang tua. Tetapi ayah ibu saya tidak setuju dengan jurusan psikologi. Mereka lebih menyarankan saya untuk masuk di STT Telkom atau STAN. Dua kampus yang sangat bertolak belakang dengan passion saya saat itu. Alhasil, karena saya ungin menyenangkan mereka, saya masuk D1 STT Telkom dengan harapan bisa bekeja sambil melanjutkan kuliah setelahnya. Ya, saat itu saya sadar tidak bisa lagi membebani orang tua saya dengan biaya kuliah saya jika saya mengambil kuliah S1. (Bersambung)