Project
View On WordPress
h
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Love Begins
No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

ellievsbear
Alisa U Zemlji Chuda
noise dept.
I'd rather be in outer space 🛸

#extradirty
ojovivo
will byers stan first human second
Jules of Nature
RMH
Misplaced Lens Cap
TVSTRANGERTHINGS
sheepfilms
Keni
YOU ARE THE REASON
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
seen from Peru

seen from Brazil

seen from United States
seen from Russia
seen from Israel

seen from Canada

seen from Türkiye

seen from Mexico
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from France
@kandhikaa
Project
View On WordPress
"The New Normal"
“The New Normal”
24 April 2020. Awal ramadhan tahun ini dimulai. Suasana masih bergelut dengan pandemi covid-19. Tahun ini akan menjadi catatan sejarah, dimana seakan-akan waktu membeku sejenak, pertama kalinya serentak di seluruh dunia. Banyak sekali hal yang berangsur diperbaiki oleh masyarakat dunia akibat wabah ini. Tentu ada hikmah di setiap kejadian, kejadian yang belum bisa dipastikan kapan berakhirnya.…
View On WordPress
Be in deep water 3.
Be in deep water. Tulisan ini pertama kali ditulis pada Nopember 2017, sudah lama sekali tidak dilanjutkan. Baik, rasanya sekarang saya lebih cukup berani untuk melanjutkan, hehe. Saya tahu bahwa setiap orang punya challenging masing-masing di hidupnya. Mungkin apa yang saya alami dan rasakan belum tentu berat untuk orang lain jika ada di posisi saya saat itu (baca: Be in deep water). Begitulah…
View On WordPress
Surat untuk sahabat
Sang pena pun semakin sulit mencuri waktuku diantara 53 draft guratan. Entah hanya sekedar hobi atau menjadi maisyah. Yang jelas, logika ini selalu meleburkan berbagai imajinasi menjadi sebuah ukiran tinta di tengah ragaku yang terus melaju, melaju, dan melaju. Ku harap lajunya tak membuatku melenceng dari relNya. Aku hanya ingin terus mencintaiNya dan mencintaiNya lagi. Semoga sahabat yang…
View On WordPress
#TitikSenyap - Mengapa
#TitikSenyap – Mengapa
Disaat respon menyapa Tuduhan kembali menerpa Tidakkah bertanya mengapa Lelah sudah bertanya apa Mengapa harus tuduhan? Berulang menuai tuduhan Apakah arti tuduhan? Mudahnya mengantar tuduhan Di baris kata terlontar Ada hati yang terkapar Berjuntai masalah besar Merobek hati yang memar
View On WordPress
“Desember datang, lajuku harus menandingi kenangan itu, sebelum tak terselamatkan lagi sayap lemah ini..” sekilas gumamku. Puing-puing bayangan mulai bermunculan, memutar kembali roll film yg mengejutkan setiap kepakan lajuku. Menorehkan cerita lalu yang penuh peringatan. Sayap lemahku tak lagi sinkron dgn otakku saat itu. Bodohnya, tak bisa aku menyuarakan dengan tersirat sederet tanya di…
View On WordPress
#TitikSenyap - Malam
#TitikSenyap – Malam
Tak mengapa, hanya tak menyangka kusutnya malam akan menjadi labuhan terakhir. Malam yang selalu hinggap di malam-malamku selanjutnya. Malam yg menggelayut di kantung mataku, memaksaku untuk sulit tertidur. Menyelinap diantara bisikan do’aku. Begitu pandai ia menyelinap, bahkan di bilah urat nadiku, yang menemani denyutnya si jantung. Jantung yang tak mengerti, bagaimana harus berdegup tenang…
View On WordPress
Daripada pelihara iri lebih baik tingkatkan kualitas diri. -kandhikaa
View On WordPress
HujanMu selalu menghantarkan kerinduan disela ceriaku. Seketika ku termangu melihat gelapnya langit, sendu rasanya. Apakah hatiku kelewat empati pada langit, hingga ingin berontak pada bahagia akan syukurku padaMu. Tak ingin ku memungkiri semua memori itu. Aku hanya ingin berdamai dengan keadaan. Disaat ku dengar seloroh tikus kecil di ujung got, kadang ku berpikir pernahkah mahluk seperti mereka merasakan hangatnya memori yang selalu berseliweran di ubun-ubunku. Hingga semua yang aku konsumsi dengan mulutku seakan menjadi bahan bakar yang diolah untuk menampilkan tayangan memori itu berkali-kali. Aku tak pernah meminta otakku untuk mengingatnya, sama sekali tidak. Tapi, baiklah, ku pikir aku yang harus mendamaikan diri dengan ingatan itu, karena ingatan adalah sebuah anugerah. Ya, anugerah yang telah menyulut sebuah rasa. . . .
#TitikSenyap – Senyap kerinduan
Melewati sejumlah angka di kalenderku. Melintasi tawa yang tak terencana. Inilah rencanaku di ujung patah kata yang belum pernah tersirat. Dikala hujanMu pergi bersama rinduku, hanya air mata yang setia menemani. . Aku tak pernah suka untuk menahan air mata. Namun, sadarku mengatakan bahwa aku tak bisa menjalani kehidupan dengan terus bersedih. Bagaimana bisa semangat ibadah tumbuh diantara hati yang pilu? Sedangkan untuk berbahagia, diawali dengan bersyukur. Sadarku kembali mengatakan, ada satu prioritas yang harus kita dahulukan sebagai hambaNya. Yaitu, kecintaan kita padaNya sudah seharusnya melebihi yang lain. Lantas mengapa masih membuatNya cemburu? . Begitupun akhirnya aku membunuh kecintaanku pada not balok, karena aku ingin lebih mencintai kalamNya. Bukan hal yang mudah memang, tapi proses akan segera mengubahnya. Sebuah proses yang serius, berat, tapi juga menenangkan. Proses akan terbentuk dari hati yang sabar. Sabar untuk melupakan tuts piano yang menari gembira ketika ku sentuh. Sabar untuk tidak mengunduh melodi favoritku dalam bandwith yang leluasa. . Tak cukup mudah bagiku menenangkan hati yang pilu. Kalaupun ada sebait kata indah dari sang pujangga, mungkin hanya sementara menghibur. Dan aku kembali sadar, tak ada yang melebihi cintaNya padaku sekalipun ayah ibuku. . Hujan kembali menyapa Nopember tahun ini. Tak lupa ia menyaksikan gurat sendu yang tertutup kesemangatan di wajahku. Semangat untuk terus berjuang melewati rintangan. Ya, kubiarkan rintiknya mengalir lembut di pipiku. Seketika aku sadar, bahwa aku tak punya alasan untuk mencintai seseorang melebihi cintaku padaNya, karena Dia telah memilihku untuk menjatuhkan hidayahNya. . . . ~~Hujan lupakan penatku ____________________________ #menulis #hellomaknakata #sastrasederhana #writergram
True Colors of Me
Kembali saya memulai sebuah perjalanan yang sudah lama saya nantikan. Destinasi pertama jatuh ke tempat Suku Baduy dalam di Desa Ciboleger, Banten. Saat itu saya ditemani oleh teman kantor saya, namanya Intan. Baduy dalam cukup menantang untuk sebuah pemanasan sebelum hiking. Treknya yang berbukit-bukit cukup menguji nafas, ditambah lagi saat itu saya pergi di bulan januari. Musim hujan cukup menambah sensasi perjalanan jadi lebih seru, seru sekali. Kaki kami sampai tidak jelas wujudnya seperti kaki kerbau yang habis membajak sawah. Ini adalah latihan pertama saya setelah sembilan tahun lamanya tidak menjelajah hutan.
Saat SMA saya pernah meminta idzin pada ibu saya untuk ikut pelatihan pecinta alam di kaki gunung salak. Ibu saya langsung melarang begitu saja tanpa bertanya sedikitpun tentang kegiatan tersebut. Sebelumnya saya pernah dilarang juga untuk ikut LDK paskibraka di SMP karena menginap di sekolah. Tapi kali ini saya sedikit menentang dengan tetap mengikuti pelatihan pecinta alam, sebelumnya saya sempat memohon agar diidzinkan, akhirnya saya diidzinkan dengan terpaksa. Entah dorongan apa yang membuat saya berani untuk memohon pada ibu saya yang notabene saklek. Ibu saya memang terlalu khawatir bahwa anaknya akan jatuh ke dalam pergaulan yang tidak benar, atau takut anaknya dijebak orang. Kadang memang kesal kalau ingat saat saya beradu argument dengan beliau. Tapi saat ini saya mengerti bahwa gunung salak itu memang begitu angker dan jalurnya sangat sulit walaupun tidak terlalu tinggi, haha. Ada sedikit kebanggaan kalau saya pernah bernyali untuk bermain kesana tanpa ilmu hiking yang belum mumpuni. Saya bersyukur sekali sekarang, karena waktu itu hanya ikut pelatihan selama dua hari ke kaki gunung salak.
Sejak kuliah ekstensi saya hampir selesai, saya mulai sering meluangkan waktu untuk pergi berlibur, melepas penat. Menurut saya liburan tidak harus selalu pergi jauh dengan destinasi yang WOW. Kamar kost pun bisa saya sulap menjadi tempat liburan untuk mengurung diri dengan laptop berisi film, beberapa buku dan cemilan. Atau saya biasa menjadikan kedai kopi sebagai tempat yang nyaman untuk explore dan bersantai sendirian. Tabungan hasil keringat terkadang menjadi budget ajang balas dendam untuk membeli buku-buku mahal yang sewaktu kuliah belum mampu saya beli, haha. Terlebih untuk membeli alat-alat outdoor, demi kenyamanan hobi saya rela menabung lebih untuk bisa membeli peralatan mendaki. Saya bersyukur sekali, bisa melanjutkan pendidikan dengan biaya sendiri, membelikan sesuatu untuk orang tua, pergi umroh, kursus beberapa bahasa asing, mencicil rumah, jalan ke luar negeri, ikut seminar-seminar berbayar, hingga sertifikasi.
Di usia hampir 21 tahun, saya tidak meminta lagi pada orang tua saya untuk membiayai segala keperluan. Saat itu saya mulai dapat tawaran OJT dengan gaji 1jt rupiah. Qodar berkata baik, OJT yang seharusnya saya jalani selama 3 bulan pun disingkat menjadi satu bulan saja. Berikutnya, saya menerima gaji pertama saya sebagai Engineer bidang telekomunikasi. Dua tahun berikutnya saya memutuskan untuk lanjut kuliah ekstensi S1 di Binus saat pekerjaan saya dipindahkan ke Surabaya.
Diantara kami, enam bersaudara, hanya saya yang mewarisi jiwa petualang dari keluarga ayah dan ibu saya. Ibu saya senang sekali solo travelling. keliling nusantara, keluar negeri, sedangkan keluarga ayah saya ada yang suka berpetualang di tengah hutan, yaitu Om Iwan. Beliau adalah adik bapak saya, satu-satunya orang di keluarga ayah saya yang ikut mendirikan sekolah untuk pecinta alam bernama Wanadri. Beliau sempat menjadi ketua Wanadri dan sekarang, saat sudah pensiun, beliau menjadi ketua redaksi majalah yang diterbitkan oleh Wanadri. Ingin rasanya saya hiking dengan beliau minimal sekali seumur hidup, hehe, sepertinya seru hiking dengan saudara sendiri. Tapi mengingat kondisi beliau yang sudah lanjut usia dan tetap punya kesibukan di masyarakat, saya jadi agak khawatir dengan kesehatan dan keselamatan beliau.
Be in deep water (part 2)
Kenapa tidak cari beasiswa?
Tidak terlintas sediktpun dalam benak saya bahwa saya akan kuliah dengan beasiswa. Tekanan mental dan batin dari kerasnya keluarga membuat saya layu sebelum berkembang dan tidak bisa berpikir kritis. Di masa-masa labil, tak ada dukungan yang betul-betul mendorong kemampuan saya untuk lebih berkembang. Saya tak merasa bodoh ataupun malas, hanya saja mental saya betul-betul tiarap dimasa-masa remaja, hingga membuat saya stuck, tidak dapat berpikir jernih. Prestasi saya di sekolah pun terus menurun, merosot jauh, dari pernah dua besar, lima besar, sepuluh besar, hingga ranking ke sekian karena beberapa nilai merah menghiasi raport SMP saya. Saya sadar kesehatan psikologis saya terganggu, hingga sempat terlintas di pikiran untuk kabur dari rumah dan hidup jadi anak jalanan saja, mencari kebahagiaan di luar sana. Astagfirullah..beruntung Allah tidak melepaskan hidayahnya dari saya hingga saat ini.
Berhubung ayah saya pensiun saat saya kelas 3 SMP, otomatis saya harus memutar otak agar bisa terus melanjutkan pendidikan. Seharusnya investasi ayah saya bisa diolah untuk memenuhi kebutuhan kami, tapi nasib rumah tangga kedua orang tua yang kurang mulus membuat ekonomi kami ikut terhambat. Saat lulus D1 saya mencoba melamar berbagai macam pekerjaan dan sempat beberapa kali hampir tertipu agen-agen tidak jelas. Akhirnya saya coba melanjutkan ke Politeknik karena iming-iming bisa melanjutkan hanya dua tahun saja untuk jenjang D3. Beruntung saat itu usaha ayah saya mulai maju dan saya punya uang untuk kuliah lagi, walaupun uang bulanan saya pas-pasan tapi saya senang dan bersyukur, akhirnya bisa melanjutkan kuliah. Alhamdulillah. Disyukuri dulu, walaupun saya belum punya gambaran lagi mengenai nasib saya ke depan. Tapi saya yakin Allah sudah pilihkan jalan terbaik dalam hidup saya.
Be in deep water (part 1)
Terbiasa hidup mandiri, dengan sedikit uang, membuat saya lebih berani dalam memutuskan apa saja yang menjadi pilihan dalam hidup saya. Termasuk memilih untuk hidup sangat-sangat sederhana demi menghemat tabungan untuk mencari ilmu. Sebenarnya saya tidak terlahir dari keluarga miskin. Sejak kecil saya sudah hidup serba nyaman dengan fasilitas dari ayah saya. Dulu ayah saya seorang General Manager di perusahaan BUMN yang bergerak di bidang telekomunikasi. Seringkali saya ikut ayah dalam perjalanan dinasnya. Menemani ayah ke kantor di hari sabtu, pergi keluar kota, menginap di sejumlah hotel berbintang dan makan di restoran mewah, hingga antar jemput saat sekolah atau les. Semua bentuk kemandirian yang saya pilih karena saya tidak suka merepotkan orang tua, dan berebut kasih sayang atau materi dengan saudara-saudara saya. Saya lebih suka untuk tidak bergantung pada orang lain.
Saat SMA saya memutuskan untuk tinggal di luar kota dan hidup bersama orang lain di asrama sekolah. Minimnya pelajaran etika dan akhlak dari kedua orang tua saya (terutama Ibu) membuat saya agak sulit beradaptasi membaur dengan orang lain. Jadilah saya terbentuk dari kepribadian yang keras dan cuek, mudah marah, tapi juga cengeng. Sejak kecil saya memang sangat haus akan bimbingan moral dari Ibu saya. Bahkan yang lebih banyak mengajarkan saya tentang kerukunan, kekompakan, sampai bimbingan akademik adalah ayah. Peran ayah begitu besar dalam hidup saya. Walaupun sebenarnya itu masih sangat-sangat kurang, karena dalam 8-10 jam sendiri waktu ayah sudah tersita untuk pekerjaannya, belum lagi dinasnya keluar kota, dan istirahat. Sisanya untuk berbagi waktu bersama kami anak-anaknya. Terlebih, untuk bimbingan agama sudah tidak sempat dikontrol lagi.
Saya mengenal sholat lima waktu dari ayah, tapi hanya sampai hafal gerakan, selebihnya, pembantu kami di rumah yang mengajarkan tuntunan sholat lewat buku tuntunan ibadah yang umum beredar di toko buku. Lalu saat kelas 4 SD saya mulai di ikutkan khursus membaca al qur'an oleh ibu saya. Begitu seterusnya sampai khatam iqro jilid dua. Setelah itu saya tidak pernah lagi belajar membaca al qur'an karena kami pindah rumah dan belum menemukan guru yang baru. Saat saya kelas 6 SD saya mulai lanjut belajar membaca, tapi belajar sendiri dari iqro dan al qur'an. Begitu seterusnya hingga masa SMP saya terlewat dengan jadwal yang begitu padat dan stress menyerang karena kondisi rumah yang tidak kondusif untuk mental seorang anak remaja. Suasana rumah yang penuh dengan suara-suara menyakitkan membuat saya mental saya terguncang dan kurang dekat dengan keluarga saya sendiri. Saya terus menjalani hari-hari saya sebagai anak rumahan yang tidak punya waktu bermain dan bersosialisasi. Karena Ibu melarang saya untuk punya waktu santai dengan teman-teman. Lahirlah sosok Andhika SMP yang sangat pendiam, kaku, keras, sekaligus pengecut dan cengeng.
Ketika cobaan datang berkelanjutan. Ketika saya merasa tidak ada seorangpun yang bisa menenangkan hati saya, termasuk orang tua saya, saat itu saya ditunjukkan jalan untuk berkenalan dengan al qur'an. Al qur'an akhirnya mempertemukan saya dengan beberapa ustadzah yang akhirnya membimbing saya membaca al qur'an saat SMA. Al qur'an memberi kekuatan secara perlahan. Saya merasa ketika saya berusaha mempelajari isinya, membacanya, al qur'an pun semakin mendekat ke dalam hati saya. Di waktu saya sedih, gelisah, marah, kecewa, al qur'an adalah teman pelarian terbaik. Saat itu al qur’an benar-benar meluluhkan hati saya yang keras.
Kemandirian saya berlanjut hingga saya kuliah. Ibu telah mengajari saya untuk menabung sejak SD, dengan membukakan rekening tabungan di bank dan membelikan celengan untuk saya. Mulai SMA, saya terbiasa menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan di luar makan. Mulai dari kebutuhan membeli baju, buku, olahraga, hingga les bahasa inggris. Saya mulai merasakan perubahan yang besar sejak saya tidak tinggal di rumah saat SMA. Sholat 5 waktu yang biasanya hampir tidak pernah dikerjakan, jadi dikerjakan terus, begitu pun dengan membaca al qur'an, sholat sunnah, hingga puasa sunnah. Saat SMA saya menemukan dunia baru, hidup diantara sekian banyak orang dengan karakter yang berbeda-beda. Semangat saya mulai tumbuh, tekanan dalam keluarga tidak lagi saya rasakan. Saya mulai menyibukkan diri saya dengan beberapa organisasi, untuk melihat dunia yang lebih luas lagi, hingga nekat menjelajah alam bebas tanpa restu dari orang tua. Begitulah keberanian saya terus tumbuh hingga saya memasuki masa perkuliahan.
Kembali saya beradu argumen dengan orang tua saya soal jurusan kuliah. Saya akui orang tua saya kurang membebaskan anak-anaknya dalam memilih passion-nya sendiri. Saya sadar tidak bisa seratus persen menyalahkan mereka, hanya coba mengambil hikmah. Anak yang selalu dikekang akan tumbuh dalam ketidakmandirian karena tidak terbiasa mengambil keputusan sendiri dan menanggung resikonya. Itulah yang saya lihat dari beberapa saudara saya.
Saat itu saya sangat ingin kuliah di jurusan Psikologi UNPAD. Saya mantab sekali mencari info tentang kampus negeri tersebut, hingga segala urusan pendaftaran dan ujian masuk tidak lagi melibatkan orang tua. Tetapi ayah ibu saya tidak setuju dengan jurusan psikologi. Mereka lebih menyarankan saya untuk masuk di STT Telkom atau STAN. Dua kampus yang sangat bertolak belakang dengan passion saya saat itu. Alhasil, karena saya ungin menyenangkan mereka, saya masuk D1 STT Telkom dengan harapan bisa bekeja sambil melanjutkan kuliah setelahnya. Ya, saat itu saya sadar tidak bisa lagi membebani orang tua saya dengan biaya kuliah saya jika saya mengambil kuliah S1. (Bersambung)
Break Your Duck
My first hiking, 15 y.o.
Pemandangan Gunung Salak yang terbentang indah di belakang sekolah menjadi sarapan kedua mata ini setiap pagi. Di siang hari kabutnya mulai menebal hingga sore, terkadang pemandangan itu menampakkan kecantikannya kembali di sore hari. Tapi terkadang cuaca juga tak menentu. Pemandangan itu berhasil mempengaruhi pikiran saya untuk lebih mendekatkan diri dengan alam. Layaknya seorang pria yang tersihir saat melihat kecantikan seorang gadis dan tergoda oleh pesonanya. Masih segar dalam ingatan saya tentang pemandangan itu yang setiap hari saya lihat dari lantai tiga gedung sekolah kami. Begitu saya tahu ada ekstrakurikuler bernama Pecinta Alam di sekolah saya. Saya langsung tertarik untuk mengikuti lebih lanjut. Saya pernah mendengar pengalaman tentang senior perempuan yang pernah berhasil mendaki Gunung Salak. Rombongan mereka menanjak pada malam hari dan sampai puncaknya ketika subuh. Perjalanan yang cukup singkat mungkin, antara 8-9 jam. Tapi dengan medan yang segila itu saya bisa membayangkan kesulitan yang dihadapi.
Saat pendaftaran anggota baru dibuka, saya tak pikir panjang lagi untuk segera mendaftar. Saat itu saya duduk di bangku kelas dua SMA, usia saya masih 15 tahun dan belum memiliki pengetahuan sama sekali tentang hiking. Hanya saja saya bisa membaca mata angin. Tidak ada seleksi sama sekali dalam pendaftaran itu. Pembina kami (Alm. Pak Chrisnan, sekaligus guru olahraga kami) mengajarkan kami untuk memupuk keberanian, namun tetap melakukan persiapan yang matang dan tetap patuh untuk mengikuti prosedur pendakian.
Latihan pertama kami dimulai, kami pergi selama dua hari (sabtu-minggu) menggunakan mobil bak yang disewa oleh pembina kami. Dengan membayar ongkos patungan sebesar 20 ribu per orang, kami berangkat dengan perlengkapan seadanya untuk latihan fisik terlebih dahulu. Rombongan kami terdiri dari 11 orang, permpuan 3 orang, dan laki-laki 8 orang. Sayangnya saya sudah lupa siapa saja anggota lengkap kami. Yang saya ingat adalah, Nur, Mega, Bobby, Fikar, Sulenk, Ajin. Selebihnya saya sudah lupa karena waktu itu memang belum terlalu kenal dengan anggota yang belum pernah sekelas. Akhirnya saya pun berangkat dengan hati yang begitu senang dan bebas. Belum pernah rasanya saya sebahagia itu untuk menyatu dengan alam. Sikon di kaki gunung salak ternyata cukup mengejutkan, saya merasa antara takjub dan ingin mengeluh, rasanya nano-nano sekali, tapi begitu seru untuk pengalaman pertama saya menjelajah alam. Lantas saya berpikir, ternyata gunung itu indah ketika dilihat dari jauh, tapi begitu hancurr saat sudah mendekat. Medannya yang ekstrim mulai dari tanjakan, tanah merah yang becek, area lumpur hisap, rawa-rawa hingga selokan besar yang dengan tanah merah berbatu dialiri dengan air sungai harus kami lewati. Layaknya perang gerilya, medan yang terlihat seperti bekas galian panjang itu menjadi salah satu jalur alternatif menuju kawah ratu. Tak ketinggalan sensasi licin dan jeblok tanah merah, serta bebatuan dan lika-liku naik turun. Masya Allah, inilah medan terberat yang pernah saya lintasi di alam bebas selama hidup saya. All over, Salak is a rock mountainnn! Hahaa..
Saat itu senjata ampuh untuk menambah energi adalah beberapa bulatan gula merah yang kami bawa dari rumah, dan air putih tentunya. Lucunya, belum bisa saya mengontrol dahaga saat jalanan terus menanjak tajam, hingga saat air kami habis, pembimbing PA kami, (Alm) Pak Chrisnan mencari mata air yang bersih untuk bisa diminum. Itu pertama kalinya saya merasakan kesegaran mata air alami langsung dari sumbernya, aahh segar sekali dan betul-betul bersih airnya. Kami pun sempat bertemu dengan si cantik anggur hutan, sempat saya makan dan rasanya asam, hehe, seru sekali.
(Bersambung)
Hasil lari singkat tadi pagi (iye singkat aja lah, nanti tambah kurus 😜). Lumayan jadi enteng lagi badan rutin dibawa gerak. Gw jadi inget pas 2014 @irvan_and1 ngajak lari anak2 Tifa. Waktu olahraga lari baru in tapi gw ga terlalu pengen banget karena latihannya juga kamis malem dari fx (kurang suka lari malem). Tapi sempet mupeng juga sih berhubung gw hobi olahraga. Akhirnya gw cari sepatu lari yg enak dan ngajak @noveliaintan lari. Ehh sampe sekarang ga jadi-jadi mau ikut lari karena waktu itu kesibukan bentrok mulu sama jadwal latihan, sekalinya gak bentrok gak ada temen cewe, jadi mager. Akhirnya gw melipir ke wall climbing dan renang tiap kamis malem atau minggu pagi. . Di 2015 gw malah kecanduan hiking karena gw seneng nanem pohon dan udara dingin. Beberapa kali ikut hiking sambil nanem pohon juga. Well, apapun olahraga lo, bukan soal trend, bukan soal gaya-gayaan, tapi soal kesehatan. Karena sehat itu mahal. Sehat itu cantik. Sehat itu awet muda! :D
Hi gege..Wo you kafei ma? . #gayo #greencoffee
You'll find that life is still worth while, if you just smile
Charles Chaplin