Menetralkan Hati
Perlu dipertanyakan, jika tak ada sendu sama sekali dalam perpisahanmu. Sampai yang harusnya merasa sedu pun, mimik muka justru nampak bahagia, atau bahkan tidak ada ekspresi apa-apa. Seolah hal yang menimpa bukanlah hal yang patut untuk di dukacita.
Ada apa dibalik semua itu? Apakah kesedihan memang tidak seharusnya ada dalam setiap perpisahan, atau perpisahan kali ini bukan yang pertama kali kamu rasakan. Jika benar adanya, kuakui kamu hebat bisa dengan cepat menetralkan hati, hebat dalam menghilangkan rasa benci, pun hebat bisa tetap tegar saat melepaskan orang yang kamu cintai. Karena bagiku puncak kesedihan ada saat berhadapan dengan perpisahan.
Bisa saja tidak adanya sedih dalam berpisah, kamu hanya lelah telah melakukan banyak hal yang indah. Kata 'bosan' mungkin bisa mewakili keadaanmu. Ya, 'bosan dipermainkan semesta'. Saat usaha menata bahagia untuk orang yang kau cinta, justru orang lainlah yang dengan leluasa merasakan hasilnya.
Tetapi tenanglah, setiap kehilangan selalu ada yang menggantikan. Mungkin saat ini adanya perpisahan adalah demi kebaikanmu juga. Rute Tuhan memang tidak ada yang tahu, bagi kita terasa rumit, namun tidak bagi-Nya. Maka lapang dadamu sekarang adalah hal yang tepat dilakukan.
Dunia memang tempatnya beranekaragam rasa, dan hati dituntut untuk selalu siap menghadapi semuanya.








