Let's try hard to achieve our dream together guys 😁 #mahasiswafk #malang #pjpmfki

seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from Australia

seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from Taiwan
seen from Egypt
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from China

seen from United States
Let's try hard to achieve our dream together guys 😁 #mahasiswafk #malang #pjpmfki
Masihkah Engkau Yakin Padaku, Dokter yang Belum Berpenghasilan Ini?
*Sebuah tulisan untuk seseorang yang akan kutemani sampai hari tuaku … How are you, dearest? Did you sleep well? Can you see the sunshine brighter and brighter? I can’t believe this, I’m gonna marry you in no time. The nervousness creeps through my bone and skin. Kamu selalu berjengit saat seseorang menceritakan pengalaman mereka di akad nikah. “Itu bukan janji sembarangan, dek! Itu bukan hanya janjiku denganmu, tapi juga ke orang tuaku, orang tuamu, dan Tuhan,” katanya seraya berbisik saat mendengarkan kakaknya bercerita. Meski penampilannya tampak sederhana dan bersahaja, he is beyond that cover. Saya melihatnya sebagai sosok yang sopan, halus hatinya, penuh dengan tata karma yang sulit dicari pada pria jaman sekarang, pemikirannya cerdas dan dewasa, bertanggungjawab, perhatian kepada saya dan keluarga, serta pembawaannya yang membuat hati saya luluh saat pertama kali bertemu. Ia bisa membaur dengan teman-teman dan keluarga besar saya seperti air, mengalir dengan lembut tanpa hambatan yang berarti. Dia tipe orang yang akan mudah disukai orang dalam hitungan detik. Candaan, rayuannya, bagaimana ia menyelesaikan konflik-konflik bersama, membuat saya semakin bersyukur setiap detik demi detik yang kami lalui. Dia datang ke depan pintu rumah saya tanpa tahu-menahu bagaimana saya, siapa saya, anaknya siapa, seperti apa orangnya. Awalnya hanya untuk memenuhi permintaan seniornya yang mengenalkan kami, tak kurang dari seminggu setelah SMS kami yang pertama. Ternyata, pertemuan malam itu begitu mulus. Besar di keluarga yang tidak seberuntung saya, tidak membuatnya minder untuk melanjutkan perkenalannya dengan saya. Hanya lima bulan berjalan, dia datang dengan keluarga intinya untuk meminang saya. Kedua belah pihak pun setuju, dimulailah rentetan acara menuju ke pelaminan. Tantangan pun bermunculan … Posisi dia sebagai PPDS Bedah (Program Pendidikan Dokter Spesialis) yang harus mengenyam sekolah tiap harinya, praktis tidak ada pendapatan tetap bahkan bisa sampai Rp 0 per bulannya. Sebagai lelaki yang ingin mandiri secara finansial dari orangtuanya, tentu sangat sulit dengan posisinya saat ini. Apalagi ia sadar, secara finansial orangtuanya sering bermasalah. Meski kita ketahui, tidak akan ada orangtua yang tega membiarkan anaknya kekurangan materi, tetap saja kami berkomitmen tidak meminta uang kepada orangtua kelak. Dia ada dalam posisi yang serba susah. Menikahi seorang anak keturunan “darah biru”, begitu sebutan yang selalu tersemat kepada kami anak-anak dokter spesialis, tapi tidak ada pemasukan sungguh membuat egonya sebagai seorang lelaki berkecamuk. Belum lagi dengan ajaran dari ibunda untuk tidak bergantung pada orang lain, semakin membuat dia berat untuk menadahkan tangannya ke orang tua. Saya tentunya ingin melanjutkan sekolah ke jenjang spesialis, tapi bila kami berdua sama-sama sekolah, lalu dari mana pemasukan itu datang? Sebagai PPDS Bedah dimana ia terikat kontrak tidak boleh berpraktek selama pendidikan, jalan keluarnya ada dua: 1. saya berpraktek dulu, kemudian kami bergantian sekolah; 2. mencari sumber pemasukan lain non medis. Mendengar kami ingin gantian sekolah supaya ada pemasukan dan tidak perlu meminta kepada orangtua, orangtua saya langsung menolaknya. “Mama papa tidak setuju! Justru karena kamu masih muda, kamu harus bisa mengenyam sekolah setinggi-tingginya.” Saya hanya bisa menunduk. Wajar bila orangtua saya seperti itu, mereka berdua juga sama-sama dokter spesialis dan membangun semuanya dari nol. “Anak desa yang merantau dan sukses” benar-benar menggambarkan orangtua saya. Karena mereka masih sehat dan mampu, tentu menginginkan saya, anak satu-satunya yang mau menempuh kedokteran untuk sekolah setinggi-tingginya, minimal sampai ke titik mereka berdiri. Mencari pemasukan dari non medis, kami meraba-raba apa yang bisa kami lakukan. Tetapi dengan posisi saya di kota lain untuk menyelesaikan internsip, tahapan kedokteran yang sedang penuh dengan polemik akhir-akhir ini, membuat kami sedikit kesusahan untuk mengatur strategi bersama. “Mas ndak pernah masalah dek, kalau kamu tidak mengenyam pendidikan spesialis. Kalau boleh memilih, mas ingin kamu di rumah saja, mengurus rumah dan anak. Mas bisa memiliki pemikiran dan berkepribadian seperti ini, karena didikan ibu yang bahkan pendidikan dasar pun tidak selesai karena tidak ada kesempatan. Apalagi bila anak kita dibesarkan oleh seorang dokter? Wah, akan sangat luar biasa sekali pastinya,” ujarnya di suatu malam. Saya hanya bisa manyun. Melihat ekspresi saya, sembari tersenyum dia menimpali,”Mas tidak pernah ada pikiran untuk meminang sesama dokter, dek. Tetapi, karena sekarang mas memilih adek, mas yakin tidak bisa seegois itu.” Matanya yang cokelat gelap itu memandang mataku lekat-lekat,”Mas bisa memahami sulitnya sekolah kedokteran, keringat, air mata, dan darah yang telah keluar untuk menyelesaikan pendidikannya. Belum lagi pengorbanan orangtua untuk membiayai dan mengawal kita sampai di tahap ini.” “Mas tetap ijinkan kamu berpraktek kelak, mengambil sekolah setinggi-tingginya, mengabdikan ilmumu untuk masyarakat. Mas yakin kalau mas memberi ijin, ridho suami kamu dapatkan, mas juga kecipratan pahalanya sedikit-sedikit.” “Dengan satu kondisi, tanggungjawab utamamu di rumah terselesaikan. Kamu bekerja tidak lebih malam dari mas, kecuali kalau jaga malam ya … Tentunya mas ingin melihat kamu saat pulang, melihat senyummu, diladeni saat makan malam. Wooh ituuu … relaksasi terbaik yang bisa lelaki dapatkan sepulang kerja.” “Yang paling penting untuk mas saat kamu bekerja, adalah apa niatanmu? Apakah untuk mencari uang atau mengabdikan ilmu.” Dengan nada memprotes aku berkelit,”Lho masak adek disuruh bakti sosial terus mas?” Dengan muka geli, ia menjawab,”Lho siapaaa yang bilang begitu? Mas cuma bilang mengabdikan ilmu. Tentunya kamu berhak untuk mendapatkan bayaran yang sepadan dengan pekerjaanmu. Maksud mas, kamu jangan bekerja siang malam mengejar karir, karena itu bukan tugas utamamu, itu tugas utama mas.” “Jadi mas mau lebih eksis dari adek? Tapi, adek nggak boleh eksis?” ujarku dengan dongkol. Masih dengan senyumnya yang tetap merekah, membuatku semakin jengkel. Kemudian ia menambahkan,”Dibalik laki-laki yang hebat pasti ada wanita yang menemaninya dari balik layar, dek. Pasti sering laah kamu mendengarnya. Adek sendiri yang pernah bertanya, bergalau ria, bagaimana kalau nanti sudah tua, kulit sudah tidak sekencang dan semulus dulu, bagaimana kalau ada wanita yang lebih muda dan menarik?” “Bila kamu ingin mengejar karir setinggi-tingginya, lalu siapa yang akan mengurus anak kita? Maukah kamu, anak kita dididik pembantu? Kamu mau mendengar, orangtuanya spesialis, tapi anaknya pembangkang, sekolahnya tidak benar, tidak bisa membaca kitab suci, dan serentetan selentingan negatif lainnya? Mendidik anak adalah proses yang penuh kesabaran dan bertahun-tahun lamanya. Meski disitu juga ada tanggungjawab mas sebagai suami, mas lebih suka anak-anak mas lebih dekat dengan ibunya. Mas lebih bangga punya anak-anak yang lebih membela dan mementingkan ibunya dari ayahnya.” “Bakti seorang istri ke suaminya itu tidak ternilai, sayang. Bila mas sudah lebih mapan dan memiliki rezeki yang cukup, tentunya sudah kewajiban mas untuk selalu ingat bahwa kamu yang selalu ada untuk mas saat mas dalam keadaan papa, bahkan minus. Kamu yang selalu menjadi sandaran mas saat mas lelah. Kamulah yang akan menjadi sumber energi untuk bangkit bila mas telah hopeless.” “Insya Allah, dek, mas memilih kamu bukan karena parasmu, bukan karena ‘darah birumu’ (meski itu cukup menguji mental mas yang bukan siapa-siapa), bukan karena kekayaan orangtuamu, bukan juga karena rumahmu yang megah.” “Kalau sudah ada kata suka disitu, pemikiran yang rasional dan penuh logika bukan nomer satu lagi. Tapi mas yakin, dibalik sikapmu yang mas suka dan tidak suka, sampai saat ini mas melihat kamu sebagai orang yang sangat mas inginkan sebagai pendamping. Karena masih banyak sisi yang mas sukai darimu dan dengan sedikit polesan dan pendampingan, mas yakin kamu adalah wanita terhebat untuk mas.” Tenggorokan ini rasanya tercekat, aku merasakan pupil ini berdilatasi maksimal, jantung ini berdegup dengan kencangnya. Kalimat-kalimat yang membuat hati ini menjadi sejuk. Baru kali ini ada seorang lelaki yang berkata demikian kepadaku. “Mas yakin masih banyak lelaki yang saat ini sudah mapan dan ingin meminangmu. Meski Tuhan telah berjanji, dengan pernikahan Dia akan memberikan kemudahan. Tetapi, apakah adek masih yakin untuk menjalani kehidupan pernikahan bersama mas? Kamu yang memutuskan, karena this is point of no return.” Aku memandangnya sekali lagi, mungkin dia memang bukan orang yang rupawan, mungkin fisiknya tidak sementereng artis-artis di TV, secara intelektual mungkin bukan yang paling jenius, akan tetapi cara ia meramu ilmu yang ia ketahui dengan bahasa dan pendekatan yang apik, menggetarkan hatiku, meneguhkan jiwaku, memacuku untuk terus memperbaiki diri. “Siapapun suamiku, tentunya akan selalu ada hambatan dan tantangan. Mencari yang tampan dan mapan tentu bukan hal yang mustahil, tetapi bila hati ini telah terbuka untuk seseorang, mustahil untuk berpaling kembali. Asalkan kita bisa saling ada untuk satu sama lain, kalimat BISA bukan angan-angan lagi.” Ia membuatku semakin yakin untuk menemaninya dari titik yang terbawah. Semoga kami bisa menyelaraskan pacuan lari kami, mencapai goal yang sama, yaitu kebahagian yang hakiki dunia akhirat (CL). By one of admin Sehat Indonesiaku Semoga menginspirasi.. :) ____
10:30 PM; Endokrin
Pernah kenal dengan endokrin?
Endrokinologi adalah salah satu cabang ilmu yang mempelajari tentang regulasi hormon. Ilmu ini berkaitan dengan sepupunya obstetri dan ginekologi. Dan tidak bisa lepas dari saudaranya, ilmu syaraf atau neurologi.
Pohon keluarganya entah bagaimana.
Sistem endokrin itu selalu yang didakwa menjadi et causa ketika sindroma bipolar abal-abal ini kambuh. Sebentar senang, cekikikan, ngoceh ga berhenti. Sebentar kemudian diam, mojok, nangis tersedu-sedu.
Hal-hal yang biasanya sudah cukup kebal, tiba-tiba menjadi faktor-faktor predisposisi yang bikin perasaan semakin immunocompromise. Maksudnya jadi baperan, kalo bingung maksudnya apa.
Baper itu boleh kok, asal pada tempatnya dan tidak berlebihan. Kenapa? Karena sehat itu sendiri merupakan suatu hasil dari keseimbangan. Regulasi berbagai sistem di tubuh yang pas, tidak kurang dan tidak lebih. Ada yang kurang atau lebih sedikit saja, gejala akan muncul. Jadi begitu, apapun kalau berlebihan memang tidak baik kan. Jadi baper gapapa kok, emang kita dikaruniai perasaan sama Allah. Hargai perasaan itu.
Memang ada orang-orang yang dikaruniai sensitifitas perasaan yang lebih dan ada juga yang perasaannya tumpul banget entah kenapa. Mau yang mana juga, saling menghargai aja perasaan masing-masing. Mengungkapkan sewajarnya, menanggapi sewajarnya. Ini yang kadang-kadang tidak dipahami oleh orang-orang dengan ketidakstabilan emosi. Kayak aku dulu zaman puber SMA. Ah, masa-masa sistem endokrin yang kacau itu. Sekarang juga masih belajar menstabilkan emosi, sih.
Jadi hubungannya dengan endokrin? Ya begitu, tulisan ini juga jadi gara-gara lagi gitu. Ga jelas ya? Iya gitu deh, kalau hormon lagi ga seimbang. Ehehe.
Kosan. Semester Tujuh. Mau Prakoas. Gamau Koas. Semangat dong. Huhuhu. Jakarta. 25 Oktober 2015, 10:30 PM.
Proud to be part of SA NODE-FK UNIMUS 13
i hv to thanks to ma lord, for gv me a chance to be a MahasiswaFK.
Don’t break anybody’s heart, they have only one. Break their bones, they have 206.-unknown
apa IPK tinggi itu penting bagi Mahasiswa FK? apa IPK tinggi menjamin keterampilan dan beratnya isi kepala seorang calon dokter?
kuasai status pasienmu, seperti kamu menguasai cara merebus air
dr. Eri, SpKJ