📸 : foto diambil tahun 2017, berjalan dari terminal bus ke masjidil haram, keluarga ini berjalan di depan ku, kemudian difoto diam-diam hehe 🤍🤍
Cita-cita itu indah karena semua orang yang memilikinya pasti memiliki harapan untuk mewujudkan, entah tercapai atau tidak, tapi yang terpenting adalah proses yang akan dilalui.
Apa yang menjadi cita-citaku?
Yang paling utama itu, weekend bisa full di rumah, bisa masak dan makan bersama anak-anak dan suami *aamiin paling serius (terima kasih teh gina -vlog kimbab family- yang sangat cerdas, sangat menginspirasi bahwa jadi ibu rumah tangga itu menyenangkan, berbagi resep masakan dengan mertuanya yang beda negara, berbagai aktifitas positif yang melibatkan anak2 dan suaminya, berkebun bersama, berbelanja bersama, dll)
Tambahan cita-cita lainnya, mau jadi dokter spesialis obstetri & ginecology, tapi yang (tidak sibuk) wkwk, jadi bisa tetap masak di weekdays. Literally dream job, menurutku sangat menarik karena menangani ibu hamil dan bisa bertemu bayi-bayi lucu, bisa membantu sesama perempuan melewati masa-masa penting dihidupnya. (terima kasih dr.amel -igstory beliau-, super sibuk dengan pasien-pasiennya, tapi tetap memberikan asi eksklusif untuk bayinya, sekarang selalu bikin mpasi lengkap dengan resep2nya, dan tetap menemani anak pertamanya mengikuti kelas online).
Masih adaa lagii, mau punya yayasan, konsepnya itu memberdayakan perempuan-perempuan yang ingin memulai lembaran baru untuk hidupnya. Misalnya, nikah karena hamil duluan, kdrt, ditinggal suaminya, dikucilkan keluarganya, padahal mereka memiliki hak untuk melanjutkan hidupnya dan menjadi lebih baik. Jadi nantinya akan menjadi wadah untuk mereka belajar ilmu agama, sharing sex education, sharing pengalaman, pelatihan beberapa skill (masak, jahit, jualan, dll) sehingga mereka dapat mandiri dan menghidupi anak-anaknya (terinspirasi dari banyaknya masalah perempuan di lingkungan sekitar, di rumah sakit, dll)
Waktu masih kecil kalo ditanya tentang cita-cita ingin jadi apa, pasti ku jawab dengan cepat ingin jadi dosen. Umur belasan tahun (usia SMA) bercita-cita ingin jadi pelukis, yang tiap weekend akan ke gunung atau pantai, melukis di alam bebas, selain itu bercita-cita juga jadi pegawai salon, yang punya usaha salon sendiri wkwk.
Sesungguhnya cita-cita yang paling utama untuk setiap muslim adalah ke surga-Nya. Semangat belajar dan selamat menikmati perjalanan. 🌷🌷
Koass nomaden. Jujur, sebentar sebentar pindah RS tidak terasa begitu mudah. Oke, aku disini termasuk yang beruntung karena pindah RS hanya stase yang memang tidak ada di RS utama, 4 stase terakhir forensik, jiwa, puskesmas dan IGD, banyak teman koass RS lain yang lebih dari stase tersebut pindah pindah RSnya, bahkan ada yang dalam satu stase saja nomaden, setengah di RS sana, setengah di RS sana. Hebat !
Adaptasi.
bukankah itu yang membuatnya terasa tidak begitu mudah.
Forensik, Desember 2017, stase pertama keluar dari zona nyaman RS Haji Surabaya, kos Klampis Aji dan segala tempat yang mulai terasa familiar setelah disini 16 bulan. Pindah Forensik ke Porong, dengan segala hal yang baru tentang Porong yang terasa lebih berpolusi dan panas bahkan melebihi Surabaya, air warna kuning sampe manifes muncul banyak jerawat selama di porong (skip) dan stase forensiknya yang penuh cerita, stase dimana kita harus jaga, tidur, kuliah, main uno, nonton drama yang sebenarnya itu adalah kamar jenazah, betah ngak betah ya mau apa, menjadi kuat saja, sampe akhirnya kibarkan bendera putih, ndak betah, akhirnya PP Tumpang-Porong selama seminggu terakhir dari total 4 minggu. Kalah adaptasinya iya, tapi tetap berterimakasih karena tubuh ini sudah kuat dan tetap task oriented, berangkat subuh, tidur sampe mimpi buruk takut ketelatan, umik siap siaga mbangunin buat lancar PP naik bus biar ga telat. terharu sih kalo inget. Kalo Allah tiba tiba ngebiarin telat bangun, bus mogok tengah jalan, ada macet dengan sebab apapun gatau lagi harus gimananya, belum lagi kalo sakit, kecapekan, alhamdulillah Allah kasih lancar dan kuat sampe 4 minggu selesai stase forensiknya. Berlanjut ...
tanpa libur balik lagi ke Surabaya, bukan buat balik ke RS Haji sih, tapi pindah ke RS Jiwa Menur, tapi seneng sih adaptasinya udah lama berhasil di Surabaya. RS ini salah satu RS pusatnya kejiwaan di Jawa Timur, ya pantes ternyata luas banget RS nya, waktu orientasi pertama kali gak yakin bisa cari ruangan rawat inap pasien dan ruangan kuliah sendiri, gimana ya kalo nyasar. Berangkat juga harus 05.30 pagi biar SOAP pasien bisa selesai, pasiennya gangguan kejiwaan pula, butuh skill lebih, pengalaman baru juga buat berhadapan sama pasien disana. Jujur seminggu awal, rasanyaaaa ... beraat, capek, tiap pagi bangun tidur dalam hati mbatin “harus ya berangkat” pengen nangis :’(. Tapi sekali lagi coba terus berjalan saja. Alhamdulillah, minggu kedua sudah mulai terbiasa.
Belum lagi dalam 4 minggu ini harus selesai home visite, jurnal, responsi dengan dokter pembimbing yang kita tidak kenal bahkan lihat wajahnya sebelumnya, kalo dipikir kayaknya kok nggak sanggup. Tapi kembali lagi, masih akan mencoba terus berjalan kok. Semoga Allah kuatkan, semoga tidak salah niat, semoga gak hanya dapet capek, semoga dapet bekal ilmu manfaat buat jdai dokter insyaAllah bentar lagi.
Terus berjalan, bersyukur sama Allah yang kasih kekuatan dan segalanya, berterimakasih sama diri sendiri yang sudah tidak menyerah dan menjadi sekuat ini tanpa terasa menjadi kuat
Kajian Dokter Muda
17 Rabiul Akhir 1439H
Tembok Kamko Berbicara
“meninjau kembali pentingnya menjaga lisan sebagai seorang muslim sekaligus tenaga medis”
dr. Syahmi Amar (Residen Pediatri)
عَنْ النَّوَّاسِ بنِ سَمْعَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ : الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
Dari Nawwas bin Sam’an radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam beliau bersabda: “Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa yang terasa mengganggu jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahui manusia “ Riwayat Muslim (Hadist ke 27 dalam Hadist Arbain)
Akhlak yang baik itu sangat luas. Ada akhlak terhadap Allah, sebagai tuhan kita, dengan kita mengimani-Nya, meng-Esa-kanNya. Ada pula akhlak terhadap sesama manusia seperti menjaga lisan kita, menjaga saudara kita dari bahayanya lisan kita.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 16-18).
Allah menerangkan kepada kita bahwa segala yang kita ucapkan semuanya dicatat dan dinilai oleh Allah. Tidak hanya ucapan-ucapan baik yang akan diberi ganjaran pahala. Bukan hanya ucapan-ucapan buruk yang akan diberi balasan dosa. Tetapi ucapan-ucapan sia-sia pun juga akan dicatat. Inilah peringatan bagi kita bahwa selama 24 jam penuh akan selalu ada malaikat yang mencatat apapun yang kita lakukan, apapun yang kita ucapkan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Kita perlu berhati-hati, apakah ucapan yang keluar dari mulut kita adalah ucapan-ucapan yang justru menyebabkan dosa dan menambah berat timbangan amal buruk kita.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)
Ada tiga hal yang dibahas dalam ayat ini,
1.Prasangka
Manusia pada umumnya, jika tidak suka pada seseorang, atau ada penyakit hati, sering sekali suudzon. Padahal mungkin tidak seperti yang kita bayangkan.
2.Mencari keburukan
Ketika tidak senang dengan orang lain, kerap kali kita mencari-cari keburukannya. Yang lebih afdol adalah kita harusnya mencari keburukan diri kita sendiri. Adakah kita lebih baik dari orang lain sehingga patut kita mencari-cari keburukan mereka?. Kita tampak baik di mata orang-orang itu karena semata Allah sangat baik menutup aib-aib kita.
3.Menggunjing
Apa itu ghibah?
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no.2589).
Allah mengakhiri surat Al Hujurat ayat 12 dengan “Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
Ghibah termasuk dosa karena di akhir ayat disebutkan Allah Maha Menerima Taubat. Artinya, apa yang disebutkan dalam ayat termasuk dalam dosa karena berarti dituntut bertaubat. Imam Nawawi juga menyebutkan bahwa ghibah termasuk perbuatan yang diharamkan, lihat Syarh Shahih Muslim, 16: 129.
Dalam Kunuz Riyadhis Sholihin (18: 164) disebutkan, “Para ulama sepakat akan haramnya ghibah dan ghibah termasuk dosa besar.”
Beberapa ulama berpendapat bahwa ghibah termasuk dosa. Ulama lain menggolongkan ghibah dalam dosa besar. Akan tetapi,
Tidak ada dosa kecil ketika kita melakukannya terus menerus. Tidak ada dosa besar ketika kita menguburnya dengan istighfar.
Jadi ketika kita menganggap ini sebuah dosa kecil dan kita rutin melakukannya, itu akan menjadi sebuah dosa besar. Itulah yang menjadi sulit. Kadang dosa kecil menjadi tak terasa ketika kita lakukan karena sudah seperti menjadi kebiasaan. Kadang kita tidak merasa jika obrolan yang kita lakukan itu adalah hal yang kurang tepat. Itulah gunanya punya teman, supaya saling mengingatkan.
Perbuatan yang disebutkan dalam surat Al Hujurat ayat 12, yakni berprasangka buruk, mencari kesalahan-kesalahan orang lain, menggunjing merupakan perbuatan dosa. Dosa itu ketika mengumpul akan membentuk suatu noktah hitam di hati. Ketika semakin menumpuk maka akan membuat hati keras. Bisa jadi maksiat-maksiat yang disebabkan karena ghibah inilah yang membuat iman turun. Sebab iman itu naik turun, naik dengan ketaatan dan turun dengan kemaksiatan.
Jika kita menemui keadaan sholat jamaah kita banyak yang ketinggalan, ngaji kita berkurang, tahajjud susah bangunnya, kajian banyak halangan, pada saat itu mungkin kita perlu introspeksi diri adakah kemaksiatan-kemaksiatan, termasuk ghibah, yang kita lakukan sehingga itu membuat kita futur. Ghibah termasuk hal yang sulit kelihatan karena mungkin ia ada diantara diskusi-diskusi kita.
Bagaimana jika hanya mendengarkan?
Imam Nawawi berkata di dalam Al-Adzkar: ”Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang menggibahi, diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai menggibahi (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu, kalau dia tidak takut kepada mudhorot yang jelas. Dan jika dia takut kepada orang itu, maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hatinya dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika hal itu memungkinkan.
Sebagai seorang cendekiawan muslim, sudah menjadi kewajiban kita untuk meninggalkan perbuatan ghibah, mengingkari jika mendengarnya, dan melarang jika ada saudara kita yang melakukannya. Bagaimana caranya tergantung bagaimana kondisinya. Saling mengingatkan dengan orang baru tentu caranya berbeda dengan saat mengingatkan teman yang sudah lama kita kenali.
Adakah ghibah yang diperbolehkan?
Imam Nawawi rahimahullah menyatakan ada enam keadaan yang dibolehkan menyebutkan ‘aib orang lain adalah sebagai berikut:
• Mengadu tindak kezaliman kepada penguasa atau pada pihak yang berwenang. Semisal mengatakan, “Si Ahmad telah menzalimiku.”
• Meminta tolong agar dihilangkan dari suatu perbuatan mungkar dan untuk membuat orang yang berbuat kemungkaran tersebut kembali pada jalan yang benar. Semisal meminta pada orang yang mampu menghilangkan suatu kemungkaran, “Si Rahmat telah melakukan tindakan kemungkaran semacam ini, tolonglah kami agar lepas dari tindakannya.”
• Meminta fatwa pada seorang mufti seperti seorang bertanya mufti, “Saudara kandungku telah menzalimiku demikian dan demikian. Bagaimana caranya aku lepas dari kezaliman yang ia lakukan.”
• Mengingatkan kaum muslimin terhadap suatu kejelekan seperti mengungkap jeleknya hafalan seorang perowi hadits.
• Membicarakan orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan bid’ah terhadap maksiat atau bid’ah yang ia lakukan, bukan pada masalah lainnya.
• Menyebut orang lain dengan sebutan yang ia sudah ma’ruf dengannya seperti menyebutnya si buta. Namun jika ada ucapan yang bagus, itu lebih baik. (Syarh Shahih Muslim, 16: 124-125)
Bagaimana wujud ghibah?
Di zaman dulu, ghibah bisa dinyatakan dengan perkataan atau isyarat. Akan tetapi, di zaman sekarang, ghibah banyak sekali medianya seperti grup WhatsApp, Line, Facebook, Twitter, Instagram, dll. Inilah tantangan kita di zaman sekarang. Kadang kita tidak sadar, bukan dari perkataan kita, bukan dari tindakan kita, melainkan dari gerakan jempol kita di keyboard yang memiliki potensi untuk memunculkan dosa.
Tips Meninggalkan Ghibah
1. Sibukkan dengan amal
Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali yang beriman dan beramal sholeh. Dua itu, beriman dan beramal sholeh. Ketika kita sudah meyakini dalam hati, mengucap di lisan, maka yang selanjutnya adalah mengamalkannya. Perbanyaklah amal karena kita tidak pernah tahu kapan akhir hidup kita di dunia ini. sibukkanlah dengan amal baik, karena ketika kita tidak sibuk dalam kebenaran maka akan sibuk dengan kebatilan.
2. Ingatlah mengenai dosanya
Meskipun kita bersembunyi dalam dinding kamko (kamar koas), tetap Allah Maha Melihat, malaikat tetap mengawasi. Setiap ucapan dan perbuatan akan dicatat. Ini pilihan. Mau berbuat/ berkata baik, atau diam. jadilah orang yang bisa menjaga lisannya, yang khawatir kalau kalau ucapannya justru akan memberatkan timbangan amal keburukannya.
3. Memilih lingkungan yang baik
Lingkungan yang baik penting untuk saling mengingatkan.
Dari Abu Hurairah r.a“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (H.R Bukhari dalam adabul mufrad, shahih menurut syaikh al-Albani)
Perbanyaklah bercermin, muhasabah diri sendiri. Seperti perkataan Umar ibn Khattab ra “hisablah dirimu sebelum nanti di hari akhir dihisab”. Jika kita melihat diri sendiri lebih baik dari orang, yakin diri ini benar lebih baik? apakah itu karena Allah menutupi aib-aib kita? Jika kita selalu mengingat itu, kita akan berhenti membicarakan orang lain karena sadar bahwa diri sendiri belum tentu lebih baik dari orang yang dibicarakan.
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)
Bertobatlah, dengan cara
• Menyesali dosa yang telah dilakukan dahulu
• Tidak terus menerus dalam berbuat dosa
• Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut di masa akan datang
• Dan jika berkaitan dengan hak manusia, maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf.
Apakah dalam taubat itu disyariatkan adanya penyesalan atas segala sesuatu dan meminta maaf kepada orang yang telah digunjingkannya itu? mengenai hal itu terdapat perbedaan pendapat. Ada ulama yang mensyaratkan agar meminta maaf kepada orang yang digunjingkan. Ada yang berpendapat, tidak disyaratkan meminta maaf karena dikhawatirkan orang tersebut akan lebih merasa sakit hati daripada jika ia tidak diberi tahu. Maka, cara bertaubat dan “meminta maaf”nya adalah dengan memberikan pujian atau membicarakan kebaikan-kebaikannya, atau menghindari gunjingan dari orang lain atasnya. Sehingga gunjingan dibayar dengan pujian.
rekaman kajian dokter muda “Tembok Kamko Berbicara” dapat diunduh di sini
Ini benang vicryl (sisa operasi) pemberian Pak Je. Katanya untuk latihan di rumah, biar lancar nyimpul manualnya. Padahal kan bisa pakai benang biasa ya, untuk latihan juga kayaknya pada pakai temali dulu yang besar.
Tapi bapak perawat asisten bedah yang aku belum tau nama aslinya ini memang baik sekali. Di tengah hiruk-pikuk (ketegangan) Operatio Kamer, ditinggal konsulen bedah untuk latihan sama perawat-perawat semacam beliau itu sungguh melipur lara; ada juga Pak Andreas, mas Anjar, mbak Dewi, Bu Desi, mbak Ika dan banyak lagi yang kubelum tau namanya setelah hampir 3 minggu. 😢 Maafkan saya Pak, Bu, padahal hanya tersisa 2 hari lagi di sini.
Jadi ingat kata-kata Saejima-san di Code Blue S3 kepada perawat juniornya, “di saat para dokter sangat sibuk (dg beban tugas dan tanggung jawab yg lebih besar), kamu tau apa yg sangat diharapkan pasien (dan keluarganya)? Senyum perawat di sisinya.”
Aku yang murid numpang belajar pun membuktikannya. Sepertinya, inilah celah besar beramal para perawat yang mungkin langka dimiliki dokter.
“Drowning, even in blood, one adapts, learns to float, to swim, even to enjoy life, bonding with the nurses, doctors, and others who are clinging to the same raft, caught in the same tide.” (Paul Kalanithi)
***
Sudah (baru) empat pekan di stase bedah dan aku mulai bisa memilahnya dari passion. Aku memang lebih suka berpikir daripada bertindak #lho? Maksudnya, lebih suka masalah yang bisa dipecahkan dengan kepala (telur?) daripada masalah yang berbelit-belit di atas meja operasi (usus?). Lebih suka komunikasi dengan pasien as a person daripada as an organ (a body), lebih berjiwa rasanya. Tapi, tidak passion bukan berarti ditinggalkan. Harus bisa ATLS, harus terbiasa lege artis dalam merawat luka, dll. Keterampilan bedah tetaplah satu inti kedokteran.
Maka stase bedah mengajariku; semakin sesuatu itu bermanfaat untuk hidup manusia, semakin besar keberanian mengambil risiko yang diperlukan, semakin berat tanggung jawabnya dan seringkali mempelajarinya butuh waktu lama. Seringkali, harus melewati batas suka dan tak suka, passion-bukan passion.
Meski di OK ada banyak ketegangan, meski konsulen selalu berlaku tegas, itulah pencipta iklim profesionalitas di sana. Kalau awalnya aku ingin protes tentang konsulen yang galak dan menuntut muridnya sempurna padahal semua dokter pasti memulainya dari tidak bisa jadi harusnya pelan-pelan saja, aku ingat cara ayah mengajari tajwid aku kecil yang bandel. Seandainya ayahku melunak, mungkin sampai dewasa aku salah cara bacanya. Kalau konsulen membiarkan, mungkin sampai mandiri jadi dokter aku tidak tahu bagaimana teknik yang benar. Hehehe, mungkin ini bagian dari berpikir positifku saja. Tapi, lagi-lagi, besar tanggung jawab beliau-beliau melegitimasi ketegasan tersebut. Seperti kerasnya kehidupan yang sah-sah saja membentuk karakter seseorang.
“Kematian pasien bukan hanya berpengaruh pada pasien dan keluarganya; ia juga mengubah hidup sang dokter.” (Kuroda-sensei)
“The cost of my dedication to succeed was high, and the ineluctable failure brought me nearly unbearable guilt. Those burdens are what make medicine holy and wholly impossible: in taking up another’s cross, one must sometimes get crushed by the weight.” (PK)
“Kalau bukan karena tanggung jawab, saya sudah lari Pak.” Cerita dr. Gede Sp.B(K)Onk –yang pernah menjuarai lomba menembak laras panjang, pernah ikut perang di Bosnia, terjun payung sembilan kali, teliti dan rapih menghadapi bleeding durante op serta sangat perhatian pada kesadaran para dokter umum dalam mendeteksi kanker- kepada seorang pasien, mungkin teringat keluarga beliau yang LDR di Jakarta, untuk memotivasi pasien agar tetap bersyukur.
“When there’s no place for the scalpel, words are the surgeon’s only tool.” PK
#medstudent #doktermuda (at RSPAU Dr. S. Hardjolukito Yogyakarta)
Dalam kurun waktu 3-6 tahun ke depan, kepaniteraan klinik kedokteran forensik akan berubah menjadi program pendidikan dokter spesialis (ilmu kesehatan mata). Aamiin... 🙏🏻
Semalem, aku jaga IGD sebagai dokter muda bagian anak. Sebelumnya aku pernah jaga di IGD anak 1x, dan menurutku cukup menyenangkan, karena pagi itu pasiennya tak begitu banyak, dan, ya, itu masih pagi, memang secara biologis, waktu itu sehari-hari ku gunakan untuk bekerja.
Selain itu, aku biasanya jaga di ruang perinatologi (ruang bayi) dan HCU anak. Semuanya juga tidak terlalu buruk. Hanya 1x jaga yang cukup tidak menyenangkan karena saat itu kondisi pasiennya banyak yang jelek. Jadi harus stand by untuk memonitor mereka, karena jika tidak, bayi-bayi kecil itu bisa lewat sewaktu-waktu
Sangat berbeda dengan jaga IGD tadi malam, hampir aku tidak bisa tidur. Sejak naik jaga jam 15.00 WIB, aku sangat sedikit sekali berhenti bergerak hingga jam 2 pagi esok harinya. Aku sempat tidur sekitar 1,5 jam, tidur yang terbangun-bangun karena tidak nyaman. Sekitar pukul 03.30 WIB aku udah mulai keliling lagi.
Panen pasien, entah kenapa bayi dan anak-anak hari itu datangnya bersamaan.
Menurut mitos para tenaga medis, kami mengenal istilah “Pembawa“, itu sebutan untuk orang-orang yang setiap kali jaga, pasiennya selalu banyak. Dan istilah “Penolak”, dianugerahkan untuk mereka yang setiap kali jaga selalu aman-aman saja, entah pasiennya sedikit, ataupun pasien yang kondisinya tidak mengancam nyawa.
Kebetulan malem tadi aku jaga sama dokter pembawa. Mitos pun jadi fakta. Di IGD anak selama jaga 15 jam 30 menit, lebih dari 10 anak yang harus aku bantu rawat. Aku sampai tidak bisa lagi mengingat berapa jumlahnya. Merawat anak kecil pun tidak mudah. Untuk pasang infus pada bayi saja, kami perlu bekerja sebagai tim. Sangat berbeda dengan saat menangani orang dewasa.
Ada satu pasien yang sangat ku ingat, lucu sekali tingkahnya. Pada awalnya dia sama sekali tidak mau disentuh dan diperiksa oleh siapapun kecuali oleh mamanya. Dan dengan segala strategi, kami pun berhasil melakukan beberapa pemeriksaan dan tindakan medis untuk anak itu. Sebuah kepuasan tersendiri.
Semakin malam, semakin malam, fisik mulai lelah. Normalnya, aku biasanya sudah terlelap sejak jam 20.00 an hahaha.
Ada saja komplain dari keluarga pasien. Sudah dikatakan berkali-kali, tidak boleh diberi minum karena bayinya sedang dipuasakan, tapi neneknya memaksa. Yang seperti itu tidak cuma 1 :(. Sudah dibilang, yang nunggu 1 saja, tapi malah 1 keluarga semua masuk IGD. Sungguh itu mengganggu sekali keluwesan kami dalam bekerja, karena tempatnya jadi sempit, dan kadang keluarga pasien tidak aware bahwa terkadang kami perlu berjalan cepat, berlari, untuk menolong yang lain. Mereka justru membuntu jalan, menurutku.
Sebentar-sebentar manggil “Suuuus”.
Tolong bu, tolong, saya bukan suster :(. Tapi yasudahlah. Udah malem, bodo amat mau dipanggil apa. Salahku sendiri juga tidak memperkenalkan diri ke keluarga pasien. To be honest, aku lebih seneng dipanggil “mbak” daripada “sus”. Entah kenapa, karena mungkin memang aku bukan suster, kalo mbak-mbak sih iya, dipanggil tante juga bisa ahaha.
Namanya orang capek ya, bawaannya mau judes aja, apalagi mens hari pertama. Matilah kau sudah kalau ngajak aku tengkar. Wkwk. Ga deng, ga seganas itu kok :D
Tapi aku selalu inget gimana rasanya diperlakukan buruk oleh tenaga kesehatan saat ayah dan ibu dulu sakit. Sedih, amat sangat sedih. Sebagai keluarga pasien aku pasti merasa “kami ini sedang susah, kok malah digitukan”, tapi aku juga tau bagaimana perasaan tenaga kesehatan yag pasti juga punya pikiran “saya capek, pasien saya ga cuma Anda saja”.
Setiap kali teringat itu, aku mencoba tersenyum palsu dengan harapan dapat membangkitkan moodku, agar secara tidak sadar aku sudah tersenyum ikhlas. Dokter jaga yang semalem pun orangnya sangat ramah dan murah senyum. Melihat beliau -yang pastinya lebih capek dari aku- aku jadi malu jika baru segini saja sudah mengeluh.
Ada sebuah kalimat yang senantiasa ku ingat dan sengaja ku ulang-ulang dalam pikiranku agar aku dapat menjadi tenaga medis yang baik, walau terkadang semua itu harus ku awali dengan senyuman palsu.
Be kind, no matter how bad your day is going. The patient is always having a harder day than you. -dr. K-
Kedua tanganku terkembang. 8 jari tegak. Hitungan ke 8. Ini yang ke delapan dalam seminggu ini.
"code blue. Code blue. Code blue. Melati 2 kamar.... "
Rasanya sangat sering terdengar. Ketika aku dalam jadwal jaga, maupun tidak. Ketika aku di moewardi, atau tidak. bahkan tak jarang terdengar dari kamar kosku.
Kuperkenalkan. Bangsal melati 2, bangsal anak anak di rumah sakit moewardi. Dalam 1 lorong bangsal melati 2, terdapat beberapa kamar pasien, ruang bermain, kamar 8&9 (kamar khusus kemoterapi), dan kamar thalassemia.
Satu minggu ini sudah berkali-kali aku mendengar code blue melati 2. Sebagian besar pasien code blue nya adalah anak anak penderita kanker dalam kemoterapi yang mengalami perburukan. Ada juga seorang adik yang sudah lama koma dan kejang-kejang karena gangguan neurologis dalam otaknya. Selain itu, ada satu anak yang dalam sehari bisa 3 kali code blue. Adik kamar 5A itu dengan penyakit jantung bawaan. Sering sekali apnea.
Pernah satu hari, ketika aku jaga dan mendapat jadwal pengawasan, aku memutuskan bedside disamping pasien.
"Dok, saya bedside aja ya pasiennya"
"wah, monggo."
Aku menarik secarik kertas monitoring adik M dari meja nurse station, berjalan menuju kamar 2, dan duduk di samping pasien bed B. Sempat bingung sesungguhnya apa yang akan aku lakukan disamping pasien selain memperhatikan tanda vitalnya.
Sesekali, akhirnya aku mengajak si ibu berbincang. Kuminta si ibu untuk semangat agar adeknya pun semangat. Tak lama, si ibu memutuskan untuk istirahat. Sudah dua hari ia kurang tidur, ungkapnya.
Sementara si ibu tidur di dekat bed si adek, aku menghidupkan hape kemudian membuka aplikasi quran. Aku menggulirkan layar hape, memilih surat apakah yang akan kubaca. Aku memilih as-shaffat. Kumulai dengan ta'awudz dan basmalah. Ayat demi ayat kulantunkan lirih, agar tak membangunkan orang tua si adik yang kelelahan dan tetangga kasur yang istirahat.
Sesekali aku berhenti mengamati tanda vital si adik. Sesekali aku berhenti untuk pindah ke kamar lain untuk memeriksa tanda vital adik adik lain yang dalam pengawasan. Sesekali aku berhenti lantaran ayat yang kubaca.
"sungguh, Tuhanmu benar benar Esa. Tuhan langit dan bumi, dan apa yang berada di antara keduanya, dan Tuhan tempat-tempat terbitnya matahari"
Di ayat ayat berikutnya, as-shaffat mengisahkan tentang keadaan orang musyrik di akhirat, juga kemudian menceritakan keadaan orang mukmin di surga.
Aku terus membaca ayat demi ayat, dengan beberapa kali harus terjeda. Hingga akhirnya sampai pada ayat-ayat terakhir surat.
"Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Perkasa dari sifat yang mereka katakan. Dan selamat sejahtera bagi para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam."
--:--
Denyut jantung dan saturasi oksigen tak lagi terdeteksi di alat pulse oxymeter yang aku pasang di jarinya. Napasnya terhenti.
Apnea.
Sungguh epic. Ia tepat tak lagi bernapas dan jantungnya tak lagi berdetak saat aku selesai membaca satu surat as-shaffat.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (Al-’Ankabut:57)
Allahumaghfirlahu warhamhu wa afihi wa'fuanhu.
Surga menunggumu dek...
Pemandangan seperti ini hampir jadi biasa bagiku. Melihat pasien mengalami perburukan, hingga akhirnya menjemput ajal. Tak jarang melakukan usaha bantuan napas dengan bagging, bantuan pompa jantung dengan kompresi jantung, dan lain sebagainya.
Aku sesungguhnya khawatir. Khawatir kalau pemandangan seperti ini akan menjadi "biasa" bagiku. Tak bermakna.
Padahal, harusnya aku sadar bahwa sewaktu waktu mungkin adalah giliranku. Giliranku bertemu malaikat izrail. Padahal harusnya aku selalu mengingat kematian dan mempersiapkannya. Kalau bisa, letakkan kematian itu 5cm di jarak pandang, agar selalu ingat bahwa kematian itu hakikatnya dekat dan setiap insan pasti menemuinya. agar tiap hari, tiap jam, adalah satu upaya untuk menjemputnya dengan keadaan yang baik.
ربنا أفرغ علينا صبرا وتوفنا مسلمين
"Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (QS. Al-A’raaf: 126)
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu." (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)
Sadarlah akan hal-hal yang terjadi di sekitarmu. Peka, dan petiklah hikmah sebanyak banyaknya.
Dalam ilmu psikiatri, kita mengenal adanya istilah tilikan (insight).
Yakni kemampuan seseorang untuk memahami penyebab maupun arti dari situasi, misalnya pada gejala penyakit yang dialaminya.
Tilikan dibagi kedalam 6 derajat. Mulai dari derajat pertama dimana pasien menyangkal total terhadap penyakitnya, sampai derajat keenam dimana pasien menyadari sepenuhnya tentang situasi dirinya dan disertai motivasi untuk memperbaiki diri.
Pasien dengan gangguan jiwa mempunyai tilikan yang rendah, menganggap dirinya sehat-sehat saja, bahkan menyangkal jika dikatakan dia mengalami gangguan jiwa
Demikian halnya dengan seseorang yang selalu melakukan maksiat.
Ia memiliki tilikan yang rendah, terhadap amal buruk dan dosa yang ia lakukan. Ia akan menganggap perbuatan maksiatnya adalah hal yang baik, dan tidak ada yang salah dengannya.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan "Maksiat melunturkan persepsi buruk tentang dosa dalam hati seseorang, ia tidak akan merasa bahwa dosa yang ia lakukan adalah perbuatan buruk"
Maksiat dan dosa menyebabkan Allah menutup hati seseorang, sehingga ia tidak lagi dapat menyadari bahwa yang ia lakukan setiap saat tidak lain adalah dosa.
كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Sekali kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka" (Q.S. 83:14)
Lalu apalagi yang dapat diharapkan ketika kita sudah tidak bisa menyadari bahwa kita sedang terus-menerus berdosa?
Atau apalagi yang dapat diperbaiki ketika kita menyangkal berbuat dosa walaupun sudah diingatkan dengan ayat-ayatNya ?
Dan berakhirlah kisah seorang pendosa tersebut
ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُو الْجَحِيمِ. ثُمَّ يُقَالُ هَٰذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ
"Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.
Kemudian, dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang dahulu kamu dustakan.” (Q.S. 83:16-17)
Maka berdoalah
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مِنْ عِنْدِكَ مَغْفِرَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzhalimi diri sendiri dan tidak ada yang mampu mengampuni dosa melainkan Engkau, maka berilah ampunan kepadaku dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. HR. Bukhari : 6839