Woodbury and Page
Colossal Singhasari figure 1875 Indonesia

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Poland
seen from United States
seen from Russia

seen from Malaysia
seen from Hong Kong SAR China
seen from China
seen from Germany
seen from Germany

seen from Malaysia
Woodbury and Page
Colossal Singhasari figure 1875 Indonesia
INVASI MONGOL KE JAWA, SISI LAIN...
1. KAPAL
Tentara Mongol pada dasarnya adalah pasukan kavaleri darat. Mereka tidak punya pengalaman dengan angkatan laut, baik dalam strategi perang maupun jenis angkutan transportasi tentaranya. Ketika menyerbu Jawa, mereka mempergunakan kapal-kapal yang tidak didesain untuk beroperasi di laut. Kapal yang dipergunakan menjiplak kapal-kapal ukuran sedang yang biasa berlayar di sungai besar semacam Yangtse, sedikit memperbesar ukurannya kemudian dibawa buat melaut. Ini sesuai juga dengan penggalian peninggalan kapal-kapal Mongol yang dijumpai di pesisir Jepang saat Mongol menyerbu Jepang. Desain kapal Mongol itu tidak stabil terhadap gelombang laut bebas, apalagi taifun. Mudah tenggelam.
Di kemudian hari Cina mengirimkan ahli-ahlinya ke India untuk belajar membuat kapal-kapal yang bisa melayari Samudera. Laksamana Cheng Ho kemudian mempergunakan kapal-kapal itu untuk ekspedisinya hingga ke Madagaskar, lebih dari 100 tahun setelah ekspedisi Mongol ke Jawa.
2. RUTE
Pada jaman itu, navigasi laut masih sangat primitif. Tidak ada yang namanya peta laut. Yang ada hanya ingatan nahkoda mengenai rute dagang Cina ke Jawa yang biasa dilalui plus bantuan bintang di langit. Oleh karenanya, tentara Mongol yang ke Jawa tidak melalui rute langsung seperti di jaman modern yaitu melalui Laut Cina Selatan. Namun saat itu mereka berangkat dari Cina, mungkin mengambil sebagian logistik/ akomodasi di Champa (Vietnam Selatan sekarang), kemudian menyusuri pantai menuju perairan Malaka, ke laut sekitar Bangka/ Belitung kemudian ke Jawa. Itu adalah rute laut yang paling dikenal dan biasa ditempuh oleh pedagang- pedagang Cina ketika mereka pergi ke Jawa.
3. PETA LAUT DAN NAVIGASI
Tidak ada yang namanya peta laut. Navigasi pada dasarnya dilakukan dengan melihat posisi bintang. Kompas sederhana mungkin sudah ada dan dipergunakan. Sebagian besar rute laut ditempuh dengan mengandalkan pengalaman saudagar atau nahkoda kapal dagang yang sudah terbiasa datang ke Jawa. Mereka ini entah dibayar mahal, atau yang paling mungkin diancam dengan kekerasan untuk mengantar invasi pasukan Mongol. Metode ancaman dan pemaksaan nahkoda ini sudah biasa dipergunakan sebelumnya dalam penyerbuan Mongol ke Jepang dan Formosa (Taiwan).
Bagaimana rumitnya dan tidak diketahuinya posisi pulau-pulau nusantara bisa dilihat dari peta tertua yang digambar oleh Portugis. Disitu pulau Bali (Java Minor) diletakkan di sebelah utara pulau Jawa (Java Mayor) yang membuktikan kesimpang siuran posisi Bali dan Madura. Sementara itu Kalimantan dianggap pulau kecil, dengan banyak gugusan pulau di sekitarnya.
4. ANGIN
Pada jaman itu, kapal-kapal terutama digerakkan dengan layar yang mengandalkan angin plus pasukan pendayung. Persoalannya, tiupan angin di Asia Tenggara itu berubah setiap 6 bulan. Kalau sampai mereka salah membuat rencana invasinya (berangkat, menyerang, pulang), maka mereka tidak akan bisa pulang sesuai jadual dan karenanya rentan terhadap kekurangan logistik di Jawa serta serangan lawan yang lebih mengerti medan. "Jendela" penyerbuan terhitung sempit dan tidak bisa lama-lama. Oleh karena itu penarikan secepatnya tentara Mongol dari Jawa setelah mengalahkan Jayakatwang, juga dapat dilihat dari ketiadaan banyak waktu dan ancaman logistik yang membayangi pasukan. Mau tidak mau mereka memang harus segera pulang.
5. PASUKAN
Inti kekuatan pasukan Mongol ke Jawa adalah kavaleri berkuda. Mereka ini veteran perang di utara yang dijadikan inti pasukan serbu, diperkuat dengan pasukan infanteri dari Cina sebelah selatan. Mereka kuat dalam serbuan di medan yang lapang tapi seringkali kesulitan dalam perang di hutan-hutan. Ketika Mongol menyerbu Vietnam Selatan dari utara (jauh sebelum ekspedisi ke Jawa), tentara kavaleri mereka yang jumlahnya begitu banyak mengalami kesulitan ketika harus mendaki pegunungan dan menghadapi hutan rimba. Banyak yang mati karena kedinginan, serangan nyamuk, penyakit kolera, kehabisan makanan dan serangan gerilya di sepanjang jalan.
Invasi Mongol ke Jawa menghadapi medan hutan tropis yang serupa dan bisa jadi berakhir dengan kondisi yang sama buruknya dengan saat penyerbuan di Vietnam. Sehingga secepatnya menarik diri setelah membumi-hanguskan Kediri menjadi pilihan yang paling masuk akal guna menghindari kerusakan pasukan yang lebih fatal.
6. SEKUTU LOKAL
Rute ke Jawa mungkin bisa diperoleh melalui pemaksaan nahkoda, pendaratan pasukan kavaleri dan infanteri yang jumlahnya puluhan ribu mungkin sedikit lebih sulit, namun melakukan penyerbuan darat ke Kediri adalah persoalan yang jauh lebih kompleks. Rute sungai dan darat mana yang harus dilewati? Apakah jalannya bisa dilewati kuda dan pedati logistik? Dan sebagainya
Laksamana Speelman yang mendarat di Surabaya pada sekitar 1677 (nyaris 400 tahun setelah Mongol) saja akhirnya hanya bisa sampai ke sekitar Terung (Mojokerto) ketika mengejar Trunojoyo. Speelman merasa, tanpa sekutu lokal yang mengerti jalan dan medan setempat, mustahil baginya untuk mengejar Trunojoyo sampai Kediri.
Persoalan itu akhirnya bisa teratasi oleh tentara Mongol ketika Raden Wijaya menyediakan diri sebagai sekutu lokalnya.
7. BARANG RAMPASAN
Model serangan yang umum dipergunakan di jaman itu, apakah di Cina atau di Asia Tenggara adalah dengan penghancuran pusat kekuatan politik dan melakukan penjarahan. Biasanya, hasil jarahan akan dibagi-bagi oleh komandan pasukan dan anak buahnya. Dan bagian besar rampasan perang akan dipersembahkan kepada Kaisar sebagai bukti keberhasilan tugas. Berdasarkan catatan, komandan panglima Mongol mempersembahkan barang rampasan dari Singasari dan Kediri kepada kaisarnya sejumlah 150.000 tael perak. Saya pernah menghitung dengan melakukan konversi kasar dengan harga perak saat ini, total nilai rampasan itu sekitar Rp 200-300 milyar (tergantung pada kadar peraknya).
Bodhisattva Amoghapāśa
Great statue of Bodhisattva Amoghapāśa in the likeness of King Ādityavarman – proclaimed in the inscription on the back of the statue.
Singhasari Era, Sumatra, circa 1349 CE
National Museum of Indonesia, Jakarta
SUMPAH AMUKTI PALAPA
Kemarin sempat ramai soal diskusi makna "amukti palapa". Ada yang menerjemahkan bumbu, puasa mutih, dan lain sebagainya. Padahal, andaikata kita mau membaca Sĕrat Pararaton dengan seksama, maka arti kata tersebut dapat kita temukan.
Amukti Palapa disebutkan beberapa kali dalam Sĕrat Pararaton, yaitu :
Yang pertama, saat Gajah Mada berhasil menumpas pemberontakan Kuṭi tahun 1319, di mana ia kembali ke ibu kota bersama Raja, kemudian berhenti dari jabatan bĕkĕl bhayangkara dan "amukti palapa" selama dua bulan. Lalu ia diangkat sebagai patih di Kahuripan.
Yang kedua, saat diangkat menjadi patih amangkubhumi di Majapahit tahun 1334, Gajah Mada mengucapkan sumpah, yaitu jika Nusantara telah ditaklukkan, barulah ia "amukti palapa".
Yang ketiga, sesudah peristiwa Paḍompo dan Pasuṇḍa tahun 1357, Gajah Mada melakukan "mukti palapa".
Ada pendapat yang menafsirkan kata :
AMUKTI = a + mukti = tidak menikmati
PALAPA = bumbu
Jadi, maksud dari Sumpah Palapa adalah : Jika Nusantara belum ditaklukkan, maka Gajah Mada tidak mau menikmati bumbu, alias puasa mutih.
Pendapat semacam ini jelas keliru, karena menafsirkan kalimat berbahasa Jawa menggunakan cara Sanakerta. Ingat, bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno adalah beda! Bahasa Sanskerta asalnya dari India, bukan dari Jawa.
Dalam bahasa Sanskerta, awalan A bermakna "tidak", sedangkan dalam bahasa Jawa, awalan A justru bermakna "membentuk kata kerja".
Mari kita kupas makna Sumpah Palapa secara perkata :
"lamun huwus kalah nuṣantara isun amukti palapa"
Lamun = apabila
Huwus = sudah
Kalah = takluk
Nuṣantara = pulau-pulau di luar Jawa
Isun = aku
Sekarang tinggal kata "amukti palapa".
Amukti = adalah kata kerja yang terbentuk dari :
aN + bhukti, di mana aksara bha mengalami luluh dengan awalan anuswara.
- bhukti artinya "makan"
- amukti artinya "memakan" atau "menikmati".
Palapa artinya apa?
Kita tengok berita sebelumnya, yaitu tahun 1319 setelah penumpasan Kuṭi, Gajah Mada dibebastugaskan dari jabatan bĕkĕl bhayangkara, di mana ia "amukti palapa" selama dua bulan, baru kemudian ia diangkat sebagai patih di Kahuripan, yaitu negeri bawahan Majapahit.
Artinya .... Maharāja Jayanāgara berterima kasih atas jasa Gajah Mada menumpas Kuṭi, sehingga selama dua bulan ia "menikmati palapa", sebelum kemudian menjadi patih Kahuripan.
Palapa di sini dapat ditafsirkan "kenikmatan", "istirahat nyaman", "liburan", "bersenang-senang".
Kemudian kita temukan lagi sesudah peristiwa Pasuṇḍa Bubat, Gajah Mada kembali "mukti palapa".
Sekali lagi saya tegaskan, bahasa Jawa tidak sama dengan bahasa Sanskerta.
Menurut tata bahasa Sanskerta :
"mukti" berlawanan dengan "amukti"
"sura" berlawanan dengan "asura"
"ditya" berlawanan dengan "aditya"
Sementara itu, Pararaton ditulis dalam bahasa Jawa, bukan bahasa Sanskerta.
Menurut tata bahasa Jawa :
"nggawa" sama dengan "anggawa"
"njupuk" sama dengan "anjupuk"
"mukti" sama dengan "amukti"
Jadi, setelah Paḍompo dan Pasuṇḍa, Gajah Mada mendapat hak "mukti palapa = amukti palapa", yaitu "menikmati liburan dan kesenangan".
Kata PALAPA menurut tafsir Zoetmulder berasal dari kata dasar ALAP artinya "ambil" atau "makan". Dialap maknanya "diambil" atau "dilahap". Mungkin itu sebabnya kata "palapa" dalam bahasa Madura bermakna "bumbu" karena berhubungan dengan "makanan".
Sekali lagi saya ulangi, makna Sumpah Palapa :
"Lamun HUWUS kalah Nusantara, isun amukti palapa."
Artinya = Apabila SUDAH takluk Nusantara, saya menikmati kesenangan.
Bukan = Apabila BELUM takluk Nusantara, saya tidak menikmati kesenangan.
Kata "huwus" artinya "sudah".
Jangan diganti jadi "belum" hanya demi menafsir kata "amukti" pakai cara Sanskerta.
Nuwun.
#KutipanNaskahKuno
Waktu, sang pengatur jalan hidup telah mengulurkan pertolongan melalui perantara alam. Namun mengabaikannya. Mengingat peringatan yang senyap ini: tatkala uluran itu di tolak, sirnalah kesempatan, sebab Sang Pengubah Nasib tak sudi lagi menemui di persimpangan jalan
Hindu statue in the Singhasari temple, East Java, Indonesia
Dutch vintage postcard
MASALAH NAMA TUMAPĔL
Toponimi Tumapel (T + um + apĕl) kata dasar ‘tapĕl’ artinya “batas”. Sementara “Tumapĕl” bermakna “membatasi”. Adapun pengucapan yang tepat tumapĕl, unsur pĕl dibaca menggunakan “e” (pĕpĕt) seperti pada kata: buah apel. Bukan dibaca ê miring seperti pada kata: ketapel. Boleh dikatakan toponimi “Tumapěl”, berdasarkan data tekstual (prasasti) baru muncul di Prasasti Mula-Malurung (1255 Masehi), jika mengacu pada Pararaton maka nama Tumapel itu boleh jadi baru muncul mendekati akhir abad ke-12 Masehi, dimana pemimpinnya bernama Tunggul Ametung. Tentunya saat itu wilayah yang bernama Tumapěl ini diperkirakan hanyalah wilayah kecil.
Menariknya, pada akhir abad ke-12 Masehi, muncul prasasti bernama “Pamotoh/Ukir Negara” (dikeluarkan tanggal 6 Desember 1198 Masehi), justru dari data tertulis itu wilayah/tempat yang kita kenal dengan nama “Malang” ini justru bernama “Pamotoh” bukan “Tumapĕl”. Kita gunakan mesin waktu untuk menarik tuas sejarah ke 4 tahun sebelumnya, tepatnya tanggal 31 Agustus 1194 Masehi, di wilayah Trenggalek dikeluarkan Prasasti Kamulan. Isinya mengenai mengungsinya Raja Kertajaya, penguasa Kadiri, dari kedatonnya di “Katang-Katang” (kemungkinan lokasinya di Dusun Katang, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri sekarang ini) akibat serangan musuh dalam jumlah besar dari “Purwwa (Timur)”. “Timur” yang dimaksud besar kemungkinan ialah “Timur” wilayah Gunung Kawi, sebab Kerajaan Kadiri beserta kedatonnya berada di sebelah barat Gunung Kawi.
Beruntung Raja Kertajaya berhasil memukul mundur bahkan mengalahkan musuh dari Purwwa (Timur) tersebut. Bahkan ia menjuluki dirinya sebagai “Haji Jayapurwwa” (Raja yang Memenangkan Pertempuran di Purwwa/Timur) dalam Prasasti Galunggung (Panjerejo) yang dikeluarkannya pada tanggal 20 April 1200 Masehi. Nama “Purwwa” itu, mengingatkan kita pada tokoh “Mpu Purwwa”, pendeta Buddha Mahayana, ayah dari Ken Dedes dalam Kitab Pararaton. Apakah serangan dari “Purwwa” itu ada kaitan dengan Mpu Purwwa? Silahkan direnungkan sendiri. Yang jelas, baik Prasasti Kamulan dan Prasasti Galunggung sama-sama tidak menyebut nama “Tumapěl” melainkan “Purwwa” untuk wilayah timur Gunung Kawi. Ingat juga kata “Sawetaning Kawi” (Sebelah Timur (Purwwa) dari Gunung Kawi) dalam Pararaton untuk menyebut areal Malang Raya.
Kita tarik lagi tuas sejarah ke belakang tepatnya tanggal 31 Agustus 1161 Masehi, 33 tahun sebelumnya, dimana sebuah prasasti diyemukan di Malang, dan disebut “Prasasti Sukun” dikeluarkan oleh “Sri Maharaja Sri Jayamerta”. Sri Jayamerta ialah seorang raja merdeka yang tidak terkait dengan Kadiri (Pangjalu) dan juga Janggala. Ia memerintah di kerajaannya bernama “Jayamerta (Jayāmŗta)”. Tidak jelas dimana lokasi Jayamerta itu, apakah ada kaitan dengan “Sang Hyang Prasada Kabhaktyan di Sri Jayamerta” dalam Prasasti Anjukladang (ditemukan di Situs Candi Lor, Dusun Kalangan, Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk) yang dikeluarkan Raja Medang Pu Sindok tanggal 10 April 937 Masehi di Nganjuk?
Jika benar maka Kerajaan Jayamerta itu ada di Nganjuk, jika tidak, boleh jadi mungkin berada di Malang (sesuai dengan tempat temuan Prasasti Sukun), ingat di daerah Malang ada kelurahan bernama ‘Kelurahan Merjosari’ dimana ia memiliki Dusun/Lingkungan bernama “Mertajaya/Mertojoyo” dan “Jaya/Joyo” (tempat ini juga sarat akan tinggalan arkeologis) serta dilewati Sungai Merta (Merto/Metro). Jika hal ini dapat diterima, maka pada pertengahan abad ke-12 Masehi itu, wilayah Malang disebut “Jayamerta”. Jika demikian maka terjadi perubahan penyebutan wilayah timur Gunung Kawi ini, dari: (1) Jayamerta → (2) Purwwa → (3) Pamotoh → (4) Tumapel.
Sebenarnya jika kita Tarik tuas lagi jauh ke belakang tahun 904 Masehi dimana Prasasti Rumwiga I (ditemukan di Desa Payak, Kecamatan Srimulyo, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY) dikeluarkan oleh Raja Medang bernama Dyah Balitung, maka disitu kita dapati kalimat pada bagian depan (recto) baris ke-8 yang menyebutkan "Anak Wanua i Tumapal Watak Wintreng" (Penduduk ‘Desa Tumapal’ Wilayah Wintreng). Mungkin ini adalah prasasti tertua yang menyebut nama dengan bunyi lain Tumapěl yakni “Tumapal”. Akan tetapi karena temuan prasasti ini berada di Jawa bagian Tengah, mungkin masalah ini dapat diabaikan.
Terakhir, yang menarik ialah nama Tumapěl tidak tertinggal sebagai toponimi di Malang Raya, alih-alih kita menemukannya di wilayah lain, misal:
1. Desa Tumapel, Kecamatan Duduk Sampeyan, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur.
2. Desa Tumapel, Kecamatan Dlangu, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur.
3. Dusun Tumapel, Desa Jatirejo, Kecamatan Dlangu, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur.
4. Dusun Tumapel, Desa Ketajen, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur.
Pertanyaannya bagaimana bisa toponimi Tumapěl itu tidak tertinggal di Malang? Malah justru ditemukan di daerah lain? Nyruput kopi dulu sambil mencari petunjuk dalam angan di masa lalu …
Penulis: kopi soda Kopi Soda
SINGOSARI itu nama kecamatan, bukan nama kerajaan
Kalau nama kerajaan yang tertulis di Nāgarakṛtāgama adalah SIṄHASĀRI. Tapi, saya sendiri lebih sering nulisnya SINGHASARI. Tidak saklek harus pakai huruf n titik atas.
Sedangkan nama raja terakhirnya adalah KṚTANĀGARA, boleh ditulis KERTANAGARA, tapi jangan ditulis KERTANEGARA. Nama orang zaman kuno tidak perlu diganti pakai kosakata zaman modern.
Eh iya, untuk gelar depan yang baku ditulis ŚRĪ. Kalau tidak bisa ngetik huruf diakritik ya boleh ditulis SRI. Mau nulis ÇRĪ juga boleh, tapi huruf Ç tidak termasuk standar IAST (International Alphabet of Sanskrit Transliteration).
Mereka yang salah paham sering keliru menulis ÇRĪ menjadi CRI, padahal beda bunyi. Huruf Ç itu dibaca seperti Syin Arab.
Itu sebabnya, saya lebih suka pakai huruf Ś yang sesuai standar IAST biar ndak bikin salah paham.