Biar aku ceritakan kepadamu bagaimana aku dikeluarkan dari kelas karena berargumen dengan dosen. Dikeluarkan dari kelas adalah persoalan biasa pada beberapa kasus. Tapi aku merasa kali ini berbeda.
Aku berkuliah di jurusan di fakultas, mengungguli jurusan lainnya soal nilai rata-rata mahasiswanya. Murid yang sejurusan denganku telah mengalami seleksi berdasarkan IPK dari tahun pertama kami berkuliah. Mereka adalah murid yang jenius atau rajin. Kebanyakan dari mereka adalah murid kesukaan guru pada umumnya. Selain rajin, mereka tak membuat keributan dan tidak mencari-cari masalah, memeiliki rambut normal juga memakai pakaian yang rapi, dan yang utama adalah memiliki kemampuan untuk menjaga moral.
Waktu kejadiannya saat aku menjalani semester 6 perkuliahan. Ada salah satu kuliah praktikum, sebut saja praktikum no. 5. Praktikum yang paling menyita pikiran dibanding praktikum sebelum-sebelumnya. Jika dulu kami hanya gelisah karena pertanyaan tes awal, tes akhir praktikum, dan deadline laporan. Kali ini kami harus berhadapan dengan pembicaraan awal.
Pembicaraan awal adalah saat-saat penentuan peserta kelas dibolehkan praktikum atau tidak. Kami yang berjumlah 40 orang dibagi kedalam delapan kelompok. Setiap kelompok menjelaskan apa yang akan dilakukan ketika praktikum. Semua orang harus memahami apa yang akan dilakukan dalam praktikum dengan pemahaman yang persis sama terlepas dari mana kelompok mereka berasal. Penjelasan dari satu kelompok berhenti sesuai kemauan guru penanggung jawab praktikum. Setelahnya sang guru akan memberi pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut pemahaman peserta tentang praktikum yang akan dijalani. Sesi tanya-jawab yang dibalut dalam suasana ketegangan. Membuat setiap peserta yang berada di dalam ruangan cemas menanti pertanyaan yang selanjutnya akan keluar sekaligus mencari-cari jawaban yang diinginkan sang guru.
Bu Resti menjadi penanggung jawab kuliah praktikum no. 5. Otomatis dia menjadi pemegang kekuasaan tertinggi dalam ruangan pembicaraan awal. Ia piawai dalam menguji pemahaman peserta dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengejutkan juga menjebak. Bu Resti adalah dosen yang dianggap ideal bagi murid jurusanku. Guru yang menjelaskan mata pelajaran dengan sangat jelas dan terstruktur. Guru yang tegas dalam menegakan moral juaga adat istiadat khususnya adat ketimuran. Ia juga memberi soal ujian yang benar-benar menguji pemahaman peserta. Bukan soal-soal yang dipilih secara acak dari buku pegangan mata kuliah yang telah ada kunci jawabannya. Karena dalam beberapa mata kuliah peserta tinggal menghafal kunci jawaban yang ada untuk mendapatkan nilai tinggi. Tidak, dia bukan orang yang menganggap enteng soal kelulusan mata kuliah dengan seenaknya menguji peserta didik dengan kemampuan hafalannya.
Kelompok kami mendapat urutan presentasi ke lima. Empat kelompok sebelumnya membuat Bu Resti cukup geram. Pasalnya beberapa anak memang belum bisa menjawab dengan jawaban yang beliau inginkan. Ditambah lagi jawaban siswa yang menunjukan keraguan seseorang dalam menjawab, seperti menyebutkan kata “mungkin” sebelum menjelaskan jawaban secara lengkap. Aku cukup khawatir saat kelompok kami maju pertanyaannya semakin sulit sehingga tak ada seorangpun yang dapat menjawab.
Bu Resti memotong dengan mengajukan pertanyaan ketika baru beberapa menit kelompok kami menjelaskan materi. Ia menanyakan fungsi sebuah wadah dalam suatu aliran fluida. Seluruh anggota kelompok kami terdiam, termasuk dua orang yang sangat rajin di kelompok kami. Entah ia memang penghapal ulung, tapi tidak bisa menganalisis pertanyaan itu atau sebenarnya tahu jawabannya, tapi terlalu takut salah untuk menjawab. Sebenarnya aku memiliki hipotesis bahwa jawabannya berhubungan dengan tekanan hidrostatik, tapi tak terlalu yakin akan jawaban itu. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan tersebut.
“Mungkin, ....” Ah, sialnya, belum apa-apa aku sudah keceplosan menyebutkan kata terlarang itu.
Belum sempat aku menjawab pertanyaan tersebut aku sudah dibentak oleh bu Resti. “Kenapa sih kalian selalu bilang mungkin, mungkin terus!?”
“Mmmh, karena tidak yakin Bu.” jawabku dengan nada pelan tanpa perlawanan.
“Karena saya tidak tahu pasti, sebenarnya belum membacanya.”
“Apakah mahasiswa seperti itu mahasiswa yang baik?”
“Bisa jadi sih bu.” aku jawab dengan nada santai, bukan maksud menentang atau membela diri, tapi sepertinya memang bawaan sifatku yang biasa memikirkan hal-hal seperti ini adalah hal biasa. Aku beranggapan baik dan buruk itu relatif bila tidak ada aturan khusus yang dibahas dalam kitab suci.
“Karena jujur Bu.” ya, aku memang sangat mencintai kejujuran. Menurutku kejujuran melebihi apapun.
“Ya jujur sih jujur. TAPI WAKTUNYA BUKAN SEKARANG!!” bentaknya. “Keluar kamu, kamu ga pantas disini. Yang bisa melanjutkan praktikum cuma orang-orang yang sudah paham saja.”
Bentakan itu cukup mengagetkan. Aku tak menyangka responnya akan sereaktif itu. Yang tak ku sangka adalah aku dikeluarkan karena jujur?
Atau mungkin aku terlalu serius untuk menanggapi isi buku itu, ‘Pendidikan Kaum Tertindas’. Tidak ada proses dialog dua arah yang sederajat. Bukankah guru terbaik itu seperti filusuf-filusuf Yunani dahulu kala. Mereka yang sebenarnya memiliki pengetahuan yang tinggi, namun tidak merasa jijik untuk berdialog dengan orang yang tak tahu apa-apa. Bahkan mereka berpura-pura tidak tahu, menyembunyikan kepintaran mereka dan banyak memberi pertanyaan terhadap lawan bicara. Alasannya agar bisa memandang persoalan dengan kacamata yang lebih luas lagi. Membawa solusi dari persoalan ke arah yang lebih baik. Ya, inilah realita, bukan seperti apa yang dikatakan buku yang pernah ku baca.
Aku keluar, diam dalam beberapa menit, memikirkan apa yang akan dilakukan. Aku memutuskan masuk ke kembali ke kelas menjawab pertanyaan tadi persis dengan hipotesis awal. Ketika aku masuk, kelompok kami masih diam didepan kelas. Masih kebingungan menjawab pertanyaan yang sama.
“Bu, saya sudah tahu jawabannya.”
“Oke, apa?” aku beruntung amarahnya sudah reda. Aku diperbolehkan untuk menjawab. Lalu aku jelaskan jawabanku seperti yang aku pikirkan sebelum keluar kelas. Dan tebak apa yang terjadi. Tak ada komentar tambahan, jawabanku benar. Sialan memang, aku menjadi korban feodalisme guru-guru berpikiran kolot. Coba aku ngga ngomong “mungkin” waktu tadi menjawab.
“Oke, silahkan duduk” ucap Bu Resti. “Pokoknya saya gak mau mendengar kalian ngomong mungkin-mungkin lagi. Kalau tidak tahu diam saja. Mengerti!?”
“Iya Bu.” jawab para murid-murid serentak.
Waktu istirahat aku gunakan untuk mengisi perut. Beberapa dari teman-temanku menghampiriku. Ada yang berkata “Keren” atau begini “Duuh, ga usah idealis banget. Kamu harusnya tau waktu dong”, dan komentar-komentar lain menyangkut kejadian itu. Sekilas aku menjadi sosok pembangkang dan tak beradab. Tapi sebenarnya aku tidak mendendam juga tidak mengutuk. Aku berniat untuk menemui Bu Resti usai waktu istirahat untuk meminta maaf.
Waktu aku meminta maaf, rupanya aku tidak dimaafkan begitu saja lalu bisa pergi meninggalkan ruangan Bu Resti. Tak salah lagi, beliau berbicara panjang lebar mengapa ia tidak menyukai perkataanku, bagaimana seharusnya penyampaian seorang insinyur, kesopanan, dan lalala segala macam menyangkut hal itu. Aku tersudut dalam belasan menit dalam ruangan itu, seolah kesalahan mutlak berada padaku. Entah mengapa aku tak bisa mengutarakan pendapatku, mungkin aku terlalu malas untuk berdebat lebih lanjut.