Bahtera Kepulauan Sembilan
Perjalanan kami menuju Pulau Marabatuan tidak akan lengkap tanpa adanya Kapal Perintis.
Seperti apa yang disampaikan Menteri Perhubungan, EE Mangindaan bahwa Kapal Perintis ada untuk memanusiakan manusia di wilayah pulau terluar. Wilayah kepulauan Sembilan, yaitu wilayah yang terdiri dari 9 pulau berurutan didalam peta namun kenyataanya kesembilan pulau tersebut tidak seluruhnya tampak pada peta.
Seperti pulau Marabatuan yang kami kunjungi ini, hanya beberapa peta dan atlas yang tertulis bahwa pulau ini ada. Untuk itu, adanya kapal perintis akan sangat bermanfaat bagi keberlangsungan aktivitas masyarakat pulau, terutama konektivitas antar satu daerah dengan daerah lainnya.
Terdapat dua rangkaian perjalanan jalur laut untuk mencapai Pulau Marabatuan. Pertama menggunakan kapal Sabuk Nusantara 57 dan Sabuk Nusantara 55. Keduanya sama-sama melintasi tol laut untuk daerah kepulauan Sembilan, hanya saja awal keberangkatan kedua kapal ini berbeda. Untuk Sabuk Nusantara 57 berangkat melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya sedangkan Sabuk Nusantara 55 berangkat melalui Pelabuhan PT Pelindo III Stagen, Kota Baru. Sebelum adanya kapal perintis Sabuk Nusantara ini, kami mendapat informasi bahwa para warga yang akan berpergian atau mengangkut barang-barang antar pulau , harus menggunakan speedboat atau kapal nelayan. Kedua pilihan ini memiliki sisi kerugian yang cukup berat sebelah seperti speedboat yang akan tiba dengan cepat namun warga harus merogoh kocek sangat mahal sedangkan kapal nelayan dengan harga yang cukup murah waktu yang ditempuh cukup lama. Karena itu, adanya Sabuk Nusantara ini telah menjadi pilihan jalan tengah bagi keresahan masyarakat kepulauan Sembilan.
(foto kapal yang kami tumpangi yaitu Sabuk Nusantara 57 sedang berlabuh di Masalembu)
Sabuk Nusantara 57 memiliki jadwal yang berbeda pula dengan Sabuk Nusantara 55. Jadi, kita tidak bisa sembarang memilih hari untuk berangkat menuju kepulaun Sembilan menggunakan kapal ini. Lamanya perjalanan pun juga masih bergantung dengan jadwal berangkat dan tibanya kapal sesuai rancangan yang telah ditetapkan. Kami pun tidak bisa mengira-ngira akan tiba di Pulau Marabatuan selama berapa hari, begitu pun sebaliknya ketika pulang menuju pulau Jawa.
Kapal perintis yang kami tumpangi bernama Sabuk Nusantara 57, inilah kapal perintis pertama kami yang kami tumpangi untuk melintasi selat Laut Jawa. Awal keberangkatan kapal ini adalah melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Menurut orang awam ketika mendengar kata kapal perintis pasti yang ada di bayangan mereka adalah kapal barang, penumpang, hewan, dan segala hal yang perlu diangkut tergabung menjadi satu. Bahkan, aku sendiri pun membayangkan bahwa kami akan berlayar bersama para kambing dan hewan-hewan milik warga lain. Dengan berbekal ekspetasi kami yang serendah-rendahnya, kami siap melihat realita yang nantinya akan terjawab. Setelah sampai pelabuhan Surabaya kami bertemu banyak masyarakat yang ternyata sama-sama akan menaiki Kapal Perintis menuju kota baru. Namun, prosedur pembelian tiket telah menghambat kami untuk tepat waktu menaiki kapal sesuai jadwal.
Ternyata baru kami sadari, tidak hanya petugas resmi yang menjual tiket-tiket kapal perintis ini, masih banyak oknum-oknum yang menjual tiket kapal dengan harga yang berbeda dengan harga aslinya. Harga tiket kapal perintis untuk sekali jalan adalah Rp 42.900. Setelah melewati detik-detik kritis sebelum kapal berangkat kami pun mendapat tiket secara legal. Dan ekspetasi kami dikejutkan dengan kapal perintis yang kami tumpangi, ternyata tidak seburuk yang kami bayangkan. Kapal Sabuk Nusantara 57 memiliki tiga lantai, atau empat lantai untuk ruangan anjungan kapal. Lantai 2 adalah pintu masuk dan keluar kapal untuk tiba di daratan lalu terdapat kantin, kamar mandi, musholla, uks, dan kasur untuk penumpang beristirahat. Selanjutnya lantai 1 yang hanya berisi kasur bertingkat cukup banyak. Juga lantai 3 yang berisi bagian luar kapal supaya kita dapat melihat pemandangan lautan luas, di lantai ini pula banyak terdapat benda-benda keselamatan di laut.
(Salah satu ruangan anjungan yang menjadi tempat kami belajar mengenai cara kapal berlabuh dan pelajaraan ilmu kelautan lain bersama kapten)
Dengan adanya fasilitas-fasilitas yang dimiliki kapal ini, masyarakat dapat lebih merasa aman dan nyaman dalam menikmati perjalanan. Kami pun merasa demikian. Bagian pengangkutan barang pun di pisahkan dengan kami para penumpang. Walaupun memang barang yang diangkut terbilang cukup banyak dan beragam seperti bahan bangunan, sepeda motor, buah-buahan. Tapi itu semua sama sekali tidak mengganggu kenyamanan kami para penumpang.
(Contoh barang-barang yang diangkut masyarakat di kapal ini )
Kami juga bisa berkomunikasi langsung dengan masyarakat asli kepulauan sembilan, namun ternyata penumpang kapal Sabuk Nusantara 57 paling banyak adalah Masalembu, karena setelah melewati pulau Masalembu, penumpang kapal hanya sebagian kecil. Apalagi menuju Marabatuan yang melewati 3 pulau. wah serasa milik sendiri sih ini kapal (wkwkkwk). Oh iya, kami juga sudah menganggap ABK (Anak Buah Kapal) beserta kapten Chief, koki, dan lainnya sebagai keluargaa. Merekalah yang menjadi orangtua kita pemberi nasihat, pembelajaran bekal ilmu, berbagi cerita, wahhh menarik pokoknya. Btw, ABK dikapal ini umurnya rata2 sama kayak ku yang belum menginjak usia 20 tahun. Luar biasa, mereka berani tIdak pulang berbulan-bulan demi pekerjaan ini.
A Cintya Nur D






