Kalo boleh cerita sekilas, dulu sekali semenjak sekolah dasar, tita kecil selalu menjadi seseorang yang mengamati sekitar (as an observer). Tidak memiliki banyak teman, tapi senang berteman dengan siapa saja, bukan pemilih. Tidak banyak bicara dengan orang asing, tapi selalu bercerita banyak hal dengan orang di rumah tanpa henti. Bukan berarti saya tidak menyukai orang lain, oh tentu senang sekali apabila ada tamu hadir atau bergaul dengan teman baru di lingkungan komplek. Saya selalu memiliki pertanyaan dalam benak, sebetulnya pribadi saya ini seperti apa ya di mata orang lain?
Sampai disuatu masa saya terjebak dalam kondisi dimana saya perlu menjauhkan diri dari pergaulan. Entahlah seharusnya tidak perlu menjauh pun tak apa, tapi situasi memaksakan diri ini perlu untuk menjauh, dibandingkan harus menjawab beribu pertanyaan perihal kondisi diri.
Lalu diri yang dahulu senang bergaul dan senang bermain walaupun yaa hanya teman-teman terdekat dan ku rasa nyaman saja. Namun, tiba-tiba berubah drastis menjadi penyendiri, mengurungkan niat untuk bergaul lebih jauh, bahkan berusaha untuk masuk dunia baru yaitu berteman dengan buku, menjadikan perpustakaan sekolah adalah rumah kedua.
Sampai pada masa saya melihat banyak sekali teman saya di sana sangat bersinar, pintar bergaul dan bercanda, memiliki banyak teman, bahkan pintar akademik dan ekstrakulikular. Saya kagum sekali. Ternyata dunia tidak sesempit rumah, keluarga, diri sendiri, dan teman-teman sekitar saja. Dunia dan seisinya seluas itu, tak terhingga!
Namun kembali menilik memori lama itu, saya jadi memiliki pertanyaan baru, apakah dunia ini tercipta hanya untuk manusia yang pandai bergaul (ekstrovert) saja ya? Apakah tidak ada panggung untuk seorang introvert bisa bersinar dan menunjukkan potensinya?
Seiring berjalannya waktu pun tita yang mulai bertumbuh menyadari bahwa setiap manusia memiliki kepribadiannya masing-masing. Kepribadian ini bisa muncul karena sifat dasar ataupun bentuk dari pola asuh di lingkungannya selama manusia itu hidup. Dan ya, saya menyadari bahwa saya bertumbuh dan saya perlahan-lahan mulai mempertanyakan dan diskusi dengan diri sendiri. Sebenarnya apa sih yang kamu sukai? Sebenarnya jika kamu melakukan ini apakah itu benar dari diri kamu atau kamu hanya berusaha membuat orang lain terkesan? Saya sebenarnya siapa sih dan apa hal yang bisa saya lakukan dengan diri saya?
Beragam pertanyaan perihal personalisasi diri muncul ketika saya beranjak dewasa.
Kemudian sampai pada titik mulai berkembangnya teknologi, tes psikotes, tes sidik jari, bahkan yang popular sampai saat ini yaitu MBTI 16 personalities. Saya sangat antusias memang melihat perkembangan teknologi untuk mengetahui kepribadian seorang manusia. Manusia itu sifatnya abstrak, sangat beragam, terkadang di satu masa kita bertemu dengan orang yang baik dan jiwa sosialnya bikin kita terpantik, atau bertemu orang kritis yang tak henti untuk berdebat, atau bahkan orang yang lebih senang tidak bergaul di keramaian.
Lalu saya pun mempertanyakan diri sendiri ini bagaimana?
Terkadang saya butuh membuat boundaries menjaga batasan dalam pergaulan agar ruang privasi saya tidak terganggu, disaat situasi ini aktif saya banyak di cap introvert mentok oleh orang-orang sekitar saya. Terkadang pula saya tidak bisa hidup sendirian, saya butuh energi sosial dari orang-orang yang memiliki mimpi dan perbincangan mendalam untuk recharge arti/makna hidup. Ketika situasi ini sedang aktif, saya selalu dibilang oleh kawan saya bahwa saya sangat ekstrovert.
Momen saat ini pun, ketika saya sedang studi melanjutkan studi di negeri seberang (Singapura), saya merasa terbebani dengan kondisi yang selalu hening dan sepi yang saya rasakan. Terbiasa dikelilingi dengan kebisingan suara Bunda, Ayah, Adik-adik di rumah membuat saya merasa sangat asing tinggal di sini. Tak henti-hentinya saya mempertanyakan, berapa lama ya saya merasakan homesickness ini. Karena kalo boleh dibilang, saya merasa cukup parah merasakannya, semua terasa hening, dan saya masih merasa asing tinggal dan hidup di negara yang tak jauh dari rumah ini, hanya 1 jam kalian bisa sampai ke tempat ini. Tapi tetap aja, saya merasa sedih, hampa, dan tidak tenang, karena lingkungan ternyaman saya hilang di momen ini.
Saya mencari cara supaya saya sadar bahwa saya saat ini hidup dengan eksistensial di negara Singapore. Saya coba resapi setiap langkah saya berjalan, saya coba nikmati bersihnya udara Singapura, saya nikmati suara kicauan burung yang selalu menghidupi taman-taman di tengah kota, atau menikmati momen hujan membasahi tanah. Ini semua saya lakukan supaya saya sadar dan memahami arti eksistensial diri saya di sini. Saya hidup di sini, saat ini sedang proses bertumbuh, jangan biarkan rasa hampa dan asing itu terus menggerogoti semangat diri dan pikiran.
Perlahan pun saya mulai membuka diri kepada orang asing, mengajak bicara, memahami arti koneksi dan interaksi yang mendalam dengan orang-orang. Meskipun, tetap saja saya masih menjadi orang pemilih ya hahah, apabila orang itu menerima baik saya akan bersikap baik, apabila saya tidak diterima baik untuk bisa berkomunikasi ya sudah tidak apa-apa. Bukan salah kamu, hanya saja ini bukan saatnya.
Lagi-lagi, kita tidak bisa hanya menilai orang dari sekadar percakapan singkat, pertemuan rutin dengan intensitas percakapan yang dangkal, atau hanya sekadar sapa menyapa keramahan dari luar. Untuk memahami seseorang perlu waktu yang panjang, bahkan saya dan keluarga saya pun masih belajar untuk memahami satu sama lain selama kami hidup bersama puluhan tahun. Dan ya, semua manusia berproses dan berprogres. Tapi jangan sampai kamu menyia-nyiakan kehadiran orang-orang baik dan kesempatan yang besar disekitar kamu. Coba rasakan saat ini kamu sedang berada di kondisi bagaimana dan dimana ketika berdiri, hidup, dan sadar. Nikmati momen mu, jadi orang baik untuk lingkungan sekitar, dan kamu bisa merasakan banyak kebaikan dan energi positif dari banyak hal di sekitar.