Marginal Utility
Ada yang tau Marginal Utility atau Kepuasan Marjinal? Beberapa waktu yang lalu aku diingatkan kembali tentang salah satu materi dari teori ekonomi ini. Materi ini sempat aku pelajari demi mengais sisa-sisa bangku kuliah. Saat itu, dia yang mengingatkanku, karna kebetulan juga dia mengambil jurusan manajemen di UPN “Veteran” Yogyakarta.
Bukan. Aku tidak akan membahas pengaplikasian salah satu teori ekonomi tersebut dalam kehidupan ekonomi sehari-hari. Ku rasa hal tersebut bakal terlalu berat jadinya, lagi pula aku tidak begitu paham ekonomi hehe. So, mari cari yang lebih sederhana. Mari kita hubungkan teori tersebut dengan hubungan sosial.
Buat kalian yang belum tau, marginal utility adalah sebuah konsep yang menggambarkan tentang tingkat penurunan nilai suatu barang yang terjadi bila kuantitas barang tersebut terus ditambahkan. Penambahan ini menyebabkan nilai suatu barang akan menurun. See? Berat bukan? Haha. Lalu, darimana ada sisi sosialnya?
Mari ku jelaskan sedikit. Misalnya kamu suka es teh manis. Setiap tegukan es teh yang kamu minum akan memiliki nilai kepuasan tersendiri. Mungkin disaat biasa kamu merasa cukup dan puas dengan segelas es teh. Tapi, disaat kepedesan atau hawa sedang panas bisa jadi kamu membutuhkan dua gelas. Tapi apa jadinya kalau kamu terus dipaksa untuk meminum di gelas yang ketiga? Ya, muntah. Es teh yang tadinya menjadi kesukaanmu, kini tidak lagi.
Oke, mari kita alih wahanakan pada hubungan sosial. Hubungan antar dua orang sejoli misalnya; R dan P saling memiliki rasa yang sama, tetapi sayang mereka harus berbeda kota karna tuntutan studi masing-masing. Tetapi R orangnya tidak mau mengalah dengan keadaaan. Dia percaya hubungan mereka bisa bertahan di segala macam cuaca. Ia menyiasatinya dengan terus berusaha mengunjungi P tiap bulannya, barang sehari atau dua hari. Dan finally, usaha mereka tidak sia-sia. Hubungan mereka pun terus bertahan meskipun terik dan hujan tak bisa dielakkan.
Suatu waktu R pernah mengunjungi P di kotanya dalam waktu yang berbeda dari biasanya. Kesempatan itu pun tak disia-siakan oleh mereka. Tiap waktu mereka bertemu. Awalnya sih baik-baik saja, happy-happy saja. Tapi, lama kelamaan mereka jenuh dan tidak tau apa lagi yang akan mereka lakukan lagi bersama. Mengapa? Karna titik kepuasan hubungan mereka biasanya hanya bertemu sekali atau dua kali. Dan ini sudah melebihi titik kepuasana tersebut. Hasilnya justru membuat pertemuan yang tadinya menjadi kesukaan mereka, kini tidak lagi.
Kalau pusing, mari aku bantu simpulkan. Dalam suatu hubungan ada sebuah titik kepuasan. Ia hadir disetiap hal. Menghabiskan waktu bersama misalnya. Bila biasanya kamu hanya menghabiskan waktu seminggu sekali tiap sabtu malam, namun apa jadinya kalau itu dilakukan tiap hari? Tak bisa mengelak pasti jenuh akan hadir disana dan menghabiskan waktu bersama jadi tidak menarik lagi. Mungkin inilah salah satu alasan suatu hubungan kandas diterjang hujan, padahal hujannya hanya grimis.
Disinilah kita belajar menghargai adanya jarak dan ruang tuk sendiri. Seperti yang katakan Tulus dalam lagunya Ruang Sendiri. Kita tetap butuh ruang sendiri-sendiri, untuk tetap menghargai rasanya sepi :)
Yogyakarta, 19 Desember 2017 - 4.31 pm











