Kali ini aku akan terpendam dalam luka dan mati dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya
seen from Uzbekistan

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Czechia
seen from Germany

seen from United States

seen from Czechia

seen from Maldives

seen from Germany
seen from Canada

seen from United States

seen from Germany
seen from Norway
seen from China
seen from South Korea

seen from Czechia

seen from Germany
seen from Russia
seen from Germany

seen from Australia
Kali ini aku akan terpendam dalam luka dan mati dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya
Kopi pun berpuisi
Malam ini terasa begitu sunyi. Akhir pekan ku habiskan dengan menyeruput kopi. Bagaimana tidak, kopi yang ku beli masih terbungkus rapih di meja itu. Minggu lalu aku terlalu sibuk dengan masa lalu.
Kau tau? Kopi pandai berpuisi. Dibalik hitamnya terdapat rima, dibalik hitamnya tersembunyi kata-kata. Kalau dia mau, dia bisa berpuisi sendiri sampai pagi. Bahkan sampai sang pujangga bangun lagi. Memang bagaimana? Cukup biarkan dia sendiri.
Kau tidak memperhatikan rupanya? Kali ini coba perhatian barang sedikit. Mulai dari jatuhnya biji kopi ke mesin grinder, disana ia berpuisi mengenai sajak-sajak pengorbanan, perubahan, keikhlasan dan harapan akan kenyatan yang mengharuskan dirinya hancur.
Lalu bubuk kopi dipindakan menuju mokapot, disana ia diharuskan bercampur dengan hal baru; air. Namun ternyata bubuk kopi bukanlah pribadi yang terbuka. Dibutuhkan proses dan waktu untuk mereka saling menyatu. Disana ia berpuisi tentang perbedaan namun tak menghalangi kebersamaan; toleransi. Hasilnya mereka bisa bersatu menciptkana elemen baru; air kopi.
Kemudian air kopi pun dituang ke dalam sebuah cangkir yang indah nan elok. Disana ia berpuisi tentang keindahan dan kebahagiaan yang membutuhkan pengorbanan.
Sayang, bahagia tidak menjadi akhir dari sajak kopi. Kopi harus menerima bahwa tidak semua lidah bisa menerimanya. Mengapa? Karena tidak semua pribadi dapat mengambil hikmah dari rasa pahit.
Ah kopi, kau membuatku melantur saja malam ini.
Semarang, 07 Mei 2018 - 00.47
Muram
Izinkan aku berbagi luka, kawan
Sudahkah kau mendengar kabar itu?
Kisah tentang akhir dunia yang baru-baru ini makin santer ditelingaku
Benar, kawan. Kisah tragis itu bukan bualan semata.
Dan aku baru saja melewatinya, dengan plot twist ia pergi begitu saja.
Haruskah kita saling menyakiti dengan sama-sama mengabaikan rasa yang sejatinya masih sama?
Kesehatanku
Aku tetusuk tapi tak luka
Aku berdarah-darah tapi tak nampak
Aku,
yang kamu tusuk malam itu, kau obati, dan saat malam pergi kau tusuk kembali
Dan kini aku sedang menunggu kau mengobatinya kembali
Tapi tak apa,
jiwaku kuat, mentalku hebat, tapi aku tak menjamin ragaku bakal sehat-sehat
Yang menjadi pertanyaan: adakah kau peduli akan kesehatanku?
Kala Hujan
Kala hujan datang, aku terjebak dalam kenangan. Ia seketika memaksa dan menerjang. Bagai membuka kembali album yang telah usang.
Kala hujan datang, aku seketika kangen. Ya kamu, ya jogja, pokoknya kangen. Ya kenangan, ya angkringan, pokoknya kangen.
Dan kala hujan datang, aku tak ingin tak berpuisi. Aku tak mau kalah dengan sapardi. Aku tak mau kalah dengan "Hujan di Bulan Juni".
Marginal Utility
Ada yang tau Marginal Utility atau Kepuasan Marjinal? Beberapa waktu yang lalu aku diingatkan kembali tentang salah satu materi dari teori ekonomi ini. Materi ini sempat aku pelajari demi mengais sisa-sisa bangku kuliah. Saat itu, dia yang mengingatkanku, karna kebetulan juga dia mengambil jurusan manajemen di UPN “Veteran” Yogyakarta.
Bukan. Aku tidak akan membahas pengaplikasian salah satu teori ekonomi tersebut dalam kehidupan ekonomi sehari-hari. Ku rasa hal tersebut bakal terlalu berat jadinya, lagi pula aku tidak begitu paham ekonomi hehe. So, mari cari yang lebih sederhana. Mari kita hubungkan teori tersebut dengan hubungan sosial.
Buat kalian yang belum tau, marginal utility adalah sebuah konsep yang menggambarkan tentang tingkat penurunan nilai suatu barang yang terjadi bila kuantitas barang tersebut terus ditambahkan. Penambahan ini menyebabkan nilai suatu barang akan menurun. See? Berat bukan? Haha. Lalu, darimana ada sisi sosialnya?
Mari ku jelaskan sedikit. Misalnya kamu suka es teh manis. Setiap tegukan es teh yang kamu minum akan memiliki nilai kepuasan tersendiri. Mungkin disaat biasa kamu merasa cukup dan puas dengan segelas es teh. Tapi, disaat kepedesan atau hawa sedang panas bisa jadi kamu membutuhkan dua gelas. Tapi apa jadinya kalau kamu terus dipaksa untuk meminum di gelas yang ketiga? Ya, muntah. Es teh yang tadinya menjadi kesukaanmu, kini tidak lagi.
Oke, mari kita alih wahanakan pada hubungan sosial. Hubungan antar dua orang sejoli misalnya; R dan P saling memiliki rasa yang sama, tetapi sayang mereka harus berbeda kota karna tuntutan studi masing-masing. Tetapi R orangnya tidak mau mengalah dengan keadaaan. Dia percaya hubungan mereka bisa bertahan di segala macam cuaca. Ia menyiasatinya dengan terus berusaha mengunjungi P tiap bulannya, barang sehari atau dua hari. Dan finally, usaha mereka tidak sia-sia. Hubungan mereka pun terus bertahan meskipun terik dan hujan tak bisa dielakkan.
Suatu waktu R pernah mengunjungi P di kotanya dalam waktu yang berbeda dari biasanya. Kesempatan itu pun tak disia-siakan oleh mereka. Tiap waktu mereka bertemu. Awalnya sih baik-baik saja, happy-happy saja. Tapi, lama kelamaan mereka jenuh dan tidak tau apa lagi yang akan mereka lakukan lagi bersama. Mengapa? Karna titik kepuasan hubungan mereka biasanya hanya bertemu sekali atau dua kali. Dan ini sudah melebihi titik kepuasana tersebut. Hasilnya justru membuat pertemuan yang tadinya menjadi kesukaan mereka, kini tidak lagi.
Kalau pusing, mari aku bantu simpulkan. Dalam suatu hubungan ada sebuah titik kepuasan. Ia hadir disetiap hal. Menghabiskan waktu bersama misalnya. Bila biasanya kamu hanya menghabiskan waktu seminggu sekali tiap sabtu malam, namun apa jadinya kalau itu dilakukan tiap hari? Tak bisa mengelak pasti jenuh akan hadir disana dan menghabiskan waktu bersama jadi tidak menarik lagi. Mungkin inilah salah satu alasan suatu hubungan kandas diterjang hujan, padahal hujannya hanya grimis.
Disinilah kita belajar menghargai adanya jarak dan ruang tuk sendiri. Seperti yang katakan Tulus dalam lagunya Ruang Sendiri. Kita tetap butuh ruang sendiri-sendiri, untuk tetap menghargai rasanya sepi :)
Yogyakarta, 19 Desember 2017 - 4.31 pm
Teruntuk kamu yang masih sibuk mencari-cari, kebahagiaan itu hanya perlu disadari tanpa harus dicari-cari.
Sekilas mirip dengan apa yang kau katakan padaku 2 tahun yang lalu. Remember it?