Life After Marriage
Dalam waktu dua hari, kami akan memasuki fase enam bulan pernikahan kami. Whaat? 6 Bulan? Ternyata sudah selama itu yaa :)) Alhamdulillah, manis-perihnya sudah mulai dirasakan bersama. Betul loh, pernikahan itu ngga semuanya manis seperti honeymoon. Fase manisnya memang banyak, tapi pahitnya juga ngga kalah banyak. Tapi aku percaya kalau semuanya sudah Allah atur dengan sebaik-baiknya biar kita semakin hari semakin banyak belajar..
Pelajaran Pertama : Merantau
Sejak sebelum menikah, kami berdua sudah bertekad akan tinggal terpisah dari orangtua. Kami ingin belajar mandiri, mengurus rumah tangga kami berdua saja tanpa interupsi wkwk. Di sisi yang lain, tinggal dengan mertua (baik bagiku maupun suami) rasanya tentu…awkward. Toh dengan peran kami saja yang sebagai suami-istri itu butuh adaptasi, apalagi kalau sehari-hari ditambah ‘tugas belajar’ lain, yaitu adaptasi dengan orangtua baru. Hehehe. Akhirnya kami putuskan, Jakarta adalah tempat yang paling pas untuk kami tinggali sehari-hari. Ada beberapa pertimbangan:
Suami sudah punya pekerjaan tetap di Jakarta. Aku juga sih, saat itu sudah punya pekerjaan di Bandung, walaupun cenderung masih freelance. Tapi ini alasannya bekerja freelance saat itu, biar sewaktu-waktu mudah kalau dibawa suami *kibas kerudung* Saat itu sebenernya suami bisa aja sih pindah kerja ke Bandung, tapiii sayang banget ngebayangin jenjang karirnya yang bisa jadi amat gemilang kalau tetap bekerja di ibu kota.
Jakarta itu kota antara, tengah-tengah antara Bandung dan Pandeglang (daerah asal kami berdua). Ini lokasi paling solutif, jadi ngga dekat dengan salah satu daerah aja. Sebagai anak yang sejak kecil dikeukeup (diasuh di situ-situ aja, ngga pernah jauh dari orang tua selain pas mesantren), tinggal di luar kota memberiku excitement tersendiri hehe.
Dengan pertimbangan ini, kami akhirnya tinggal di Jakarta. Tinggal satu atap dengan kembaran suami, di rumah kakak suami yang kebetulan kosong karena ditinggal dinas ke luar negeri. Kami punya waktu untuk tinggal disini selama hampir setengah tahun sebelum kakak sekeluarga kembali ke Indonesia.
Apa rasanya tinggal di Jakarta?
Hari-hari pertama tinggal disana, aslii, masih excited.
“Asiik punya kamar berdua sama suami”
“Waah seru nih bisa nata-nata kamar dengan barang-barang kita berdua”. Terus sibuk sendiri ngatur naro barang-barang termasuk perlengkapan rumah tangga.
“Hihi seru juga tinggal sama dua cowok ini. Rasanya punya dua kakak”
Dan sebagainya. Hahaha.
Tapi lama-lama, drama ‘handuk basah’ dan ‘pakaian kotor yang disimpan dimana aja’ mulai cukup mengganggu. Wkwk. Atau.. kebiasaan dua lelaki ini yang cenderung naro barang dimana aja, buang sampah dimana aja, ternyataaa itu cukup bikin urat kepala berdenyut-denyut. Belum ditambah drama tanding PS yang seringkali bikin mereka lempar-lemparan botol aqua bekas sampai rumah berantakan dan berisiknyaa ampun-ampunan :))))
Baru deh berasa, oh gini yaaa rasanya tinggal sendiri ngga sama orangtua. Oh gini yaaa apa-apa mesti ngeberesin sendiri, mesti diurusin sendiri. Oh gini yaaa nikah itu… Pffft.
Terlepas dari drama-drama bodor itu, menikah lalu tinggal merantau, betul-betul mengajarkan kemandirian. Aku belajar mengatur area tempat tinggal kami (even itu cuma sepetak kamar), belajar mandiri mengerjakan pekerjaan domestik, belajar mandiri saat ditinggal suami dinas, belajar mengenali area tempat tinggal kami, dan salah satu yang paling penting… Belajar menumbuhkan rasa aman walaupun tinggal di tempat asing. Buat orang tipe insecure kaya aku, ini penting banget untuk ditumbuhkan biar bisa nyaman tinggal di tempat baru dan leluasa beraktivitas disana.
Ternyata, merantau dan menjalani kehidupan pernikahan di tempat yang benar-benar baru itu menyenangkan dan penuh excitement! Rasanya ngga sabar untuk segera pindah dan tinggal betul-betul berdua, hopefully we’ll manage it well! Can’t wait to experience another learning from our marriage :)












