Life is more at peace when you loosen your grip over things you can’t control.
What’s meant for you will stay and what’s not will eventually leave.
Trust in the divine timing, trust in the divine planning.
— Jane C. Abdullah

seen from Germany
seen from Japan

seen from Indonesia
seen from Germany
seen from United States
seen from Germany

seen from Philippines

seen from Germany
seen from Germany

seen from Brazil
seen from China

seen from Germany
seen from China

seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from United States
seen from China
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from United States
Life is more at peace when you loosen your grip over things you can’t control.
What’s meant for you will stay and what’s not will eventually leave.
Trust in the divine timing, trust in the divine planning.
— Jane C. Abdullah
Ich vertraute, ich verlor, ich lernte.
A Tale of Obedience and Friendship for Nur #ATaleOfObedienceAndFriendshipForNur #StoryTime #FriendshipGoals #Adventure #ObedienceJourney #HeartwarmingStory #EmotionalNarrative #BestFriendsForever #LessonLearned #InspirationalRead #NurAndFriends #BookLovers #EmojisTellStories #MustRead #BookRecommendation #dailymotion
Hanya Asumsi
Kadang kita lupa. Sering merasa bisa, merasa lebih tahu, merasa ada hal yang kurang kalau bukan kita melakukannya. Padahal tidak demikian.
Kadang kita lupa. Sering merasa tertinggal, merasa tersudutkan, merasa terpuruk. Padahal tidak seharusnya.
Kadang kita lupa. Sering merasa khawatir, merasa overthinking, merasa semua pertanyaan harus dijawab. Padahal tidak semestinya.
Kadang kita lupa. Sering menyalahkan orang lain, merasa paling benar, merasa paling pintar. Padahal buat apa.
Bertanyalah bila perlu. Berusahalah menyatakan bila tidak nyaman. Berbagilah bila memang itu caranya. Jangan sekadar asumsi, lalu kita mudah menggurui. Jangan sekadar asumsi, lalu kita mudah menitipkan rasa. Jangan mudah berharap pada orang yang hatinya saja kita tak mampu menggenggamnya. Karena seringnya kecewa. Asumsi yang salah hanya tutorial menyakiti diri sendiri.
17 bulan 07, menuju pukul 17.00 WIB
Hi guys!! Just out of a HUGE art block, probably due to burnout! BUT! @xx-avj-xx made a super moving coming about their awesome character Corrupto!
So I felt like comforting him with my Limbo walker Kehua.
Careful about dark themes below.
Lesson Learned 🌹
Anakku, Guruku.
Dulu, cita-cita tertinggiku adalah ingin menjadi ibu. Aku tau itu mungkin tampak konyol, untuk apa sekolah tinggi-tinggi jika hanya ingin menjadi seorang ibu? Dulu, kupikir hidupku akan sempurna betul saat aku menjadi ibu. Tapi setelah menjalaninya, kenapa aku sering merasa hilang arah? Kenapa aku justru sering merasa tidak bahagia?
Pikiran ini sering sekali melintas di benakku selama dua tahun terakhir. Ya, tahun yang berat. Pandemi ini memang berat bagi semua orang, tak terkecuali aku. Meskipun aku tak kekurangan apapun secara fisik dan materi, tapi memiliki banyak waktu di rumah, membuatku banyak berpikir dan menyelam, jauh ke dalam sana. Aku banyak mempertanyakan eksistensiku, aku banyak meragukan diriku apalagi kemampuanku. Tak terhitung momen jatuh dan menangis tergugu, merasa diri tidak mampu dan tidak punya apapun untuk dibanggakan.
Apa kamu tidak bahagia menjadi ibu? Tentu aku bahagia! Tidak terhitung juga syukurku menjadi ibu dari anak manisku ini.. tidak terhitung juga momen kami bertiga tertawa bersama, begitu bahagia. Maka kerap aku merenung, mengapa aku justru sering merasa sedih di tengah kebahagiaan ini? Apa yang aku cari?
Semakin lama menyelam, pelan-pelan aku semakin tau jawabannya.. bahwa anakku, menjadi jalan bagiku untuk melihat hal-hal yang selama ini tidak terlihat. Ketakutanku, amarah terbesarku, semua cela dan dosa yang kututupi rapat-rapat bahkan sering tidak aku tahu keberadaannya. Anakku, menjadi cermin, agar aku melihat sisi kelamku untuk kuperbaiki. Anakku, membuatku banyak merenung, pola pengasuhan apa yang perlu aku putus dan aku pertahankan. Anakku, juga menjadi jalanku untuk kembali menyapa & menemukan kembali diriku sendiri..
Di sisi lain, anakku juga memperlihatkan sisi terangku yang tak pernah aku yakini ada sebelumnya.. aku jadi yakin kalau aku mampu, kalau aku cukup baik, kalau aku diinginkan, kalau aku dicintai. Tanpa batas, tanpa cela, di matanya. Anakku tidak pernah meragukanku satu kali pun..
Maka aku ingat seorang guruku pernah menyampaikan pesan kurang lebih begini:
“Ketika anakmu menjadi triggermu, ketika anakmu memancing amarahmu, ingatlah.. bahwa anakmu adalah gurumu. Ia memperlihatkan hal-hal yang perlu kamu perbaiki. Ia adalah gurumu agar kamu menjadi lebih baik.”
Teringat pula sebuah kutipan dalam buku yang kutemukan catatannya beberapa hari lalu di blog ini:
“Konon, hari paling penting dalam hidup manusia adalah hari saat manusia itu tahu untuk apa dia dilahirkan. Sekarang Sabari tahu bahwa dia dilahirkan untuk menjadi seorang ayah. Seorang ayah bagi Zorro. Anaknya telah mengurai semua misteri tentangnya. Karena dia seorang Sabari maka Tuhan memberinya Zorro. Bahwa tangannya yang kasar dan kuat seperti besi adalah agar dia tak gampang lelah menggendong Zorro. Bahwa dia gemar berpuisi dan berkisah adalah agar dapat membesarkan anaknya dengan puisi. Sabari memeluk anaknya yang telah jatuh tertidur, serasa memeluk awan.” - Andrea Hirata, dalam bukunya berjudul “Ayah”
Pelan-pelan, aku mulai paham maksud Allah memberiku jalan hidup seperti ini.
Nak, jika kelak kamu membaca ini, ibu ingin sekali kamu tahu bahwa kamu telah mengajari ibu banyak hal. Yang paling penting adalah, kamu, mengajari ibu untuk menolong diri ibu sendiri. Terima kasih tak terhingga untuk itu ya nak. Ibu masih perlu banyak belajar, dan akan terus belajar untuk menjadi lebih baik.