Saya tercengang karena kita selalu bercanda soal waktu, menurut presentisme Buddhis, segala sesuatu yang ada di masa lampau adalah tidak nyata, segala sesuatu yang ada di masa depan juga tidak nyata, segala sesuatu yang ada dalam khayalan adalah tidak nyata, pada dasarnya yang nyata hanyalah momen kekinian dari efisiensi fisik. Permasalahannya, Indonesia sering mengkhianati momen kekinian dengan menerapkan sifat toleran yang salah langkah. Kita mentoleransi orang yang 5 menit telat, setengah jam telat, satu jam telat. Akibatnya jam karet Indonesia masuk dalam Wikipedia dunia sebagai budaya Indonesia yang dianggap seluruh dunia tahu. Ada satu kalimat manis dari Santo Agustinus, waktu datang dari masa depan yang belum terjadi, singgah di masa kini yang tidak punya durasi sebenarnya, tetapi dia pergi ke masa lampau yang sangat cepat, karena lagi lagi dikhianati oleh jam karet. Jam dan waktu itu seharusnya membahagiakan, ingat, demi waktu sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, tetapi lagi lagi dikhianati. Jam karet itu berakibat yang menunggu bermuka kusut, yang ditunggu selalu datang dengan penuh dalih dan muka kalut. Kekusutan bertemu dengan kekalutan akan mendapatkan hasil yang acak adut dan semrawut.














