Ben Gibbard masih meraung-raung mesra, bertepatan dengan menguningnya langit Jakarta sore ini. Cahayanya dengan genit menyusup malu melalui celah-celah tirai yang membatasi kaca jendela. Pelan, Garda ikut menggumam beriringan dengan irama lagu di earplug-nya. Hari ini berjalan tidak dengan semestinya. Ia berharap Ben Gibbard akan menggiringnya dalam dimensi musik dan menyembunyikan kidung di sela-sela otaknya. “Mas Garda,” seorang perempuan masuk dengan senyum yang lain daripada biasanya. Mata dan hidungnya sedikit merah, pertanda ia baru saja selesai menangis, “saya mau pamit.” Garda mengenyahkan suara Ben dari gendang telinganya dan menegakkan tubuhnya yang sedari tadi lunglai, “Duduk, Ken. Saya tidak suka berpamitan.” “Saya juga nggak suka,” matanya kembali memerah, pertanda wajahnya akan hujan kembali. Jangan di sini… Jangan dalam perpisahan… Garda merapal doa dalam hati. “Jadi, mau mengejar gelar master ceritanya?” Kenes menoleh sebentar ke belakang untuk memastikan bahwa pintu ruangan Garda telah tertutup rapat, “Saya mau mencari kehidupan, Mas.” “Kehidupan seperti apa lagi, Kenes? Hidup itu harus bersyukur,” Kenes tersenyum, masih dengan matanya yang basah, yang membuat bulu matanya basah, juga pipinya basah, hingga semua itu terkenang dalam momen berairmata dalam hidup Garda, “Karena itulah saya ingin mencari kehidupan lebih dalam lagi, supaya saya bisa lebih bersyukur. Berat memang, tapi air tidak mengalir tanpa arus, Mas.” “Di tengah kepingan patah hati saya, kamu malah senyam-senyum begitu. Bikin tambah sedih," sejenak Kenes kehilangan senyumnya, ragu untuk bereaksi terhadap kata-kata Garda barusan, "tapi jujur saya salut. Dan bangga. Semoga kamu berhasil menemukan apapun itu yang kamu cari,” dalam jabatan tangannya, Garda berharap Kenes bias menyerap kekecewaannya pada hari ini. Meski Kenes hanya menyambutnya dengan senyum khasnya yang telah kembali. Perempuan itu pergi dengan potret rambut terurai yang bergoyang melapisi punggung. Potret terakhir dirinya yang terekam rapi dalam benak Garda. Rasanya baru kemarin anak itu masuk dan berkenalan dengannya, menaruh kepercayaan padanya setiap kali butuh bantuan, menyemangatinya, mengomel untuk beberapa kebiasaan janggal Garda, dan masih banyak lagi kebiasaan yang sudah membuat Garda merasa terbiasa. Kini Kenes, si Cabe Rawit itu, sudah berpamitan. Pergi setelah keluar dari ruangan Garda. Lalu keluar dari pintu gedung. Dari gerbang. Dari kebersamaan mereka. Menyisakan satu meja kosong di salah satu sudut kantor. Baunya seperti masih berkeliaran di seluruh ruangan. Menetap di setiap titik debu dan hinggap menghuni. "Menurutku bohong kalau dalam perpisahan itu mengucapkan 'Saya akan kembali'. Such a bullshit. Kamu tahu kenapa? Karena menurutku, ketika dia kembali pasti tidak akan ada yang sama. Karena waktu nggak bisa diputar ulang. Karena value akan selalu berubah. Nilai momen pun akan berbeda-beda. Keberadaan dia saat itu akan berbeda dengan keberadaan dia di masa mendatang. Itu pun nggak pasti. Menurutku, kalau dia sudah pergi, ya sudah. Ketika pulang, dia terbilang ada lagi, bukan kembali. Karena kalau kembali artinya datang lagi dengan nilai yang sama. Sementara 'sama' itu nggak bisa dijamin oleh siapapun--oke kamu pasti mau mengajukan serangan balik untuk aku, tentang kepergianku. Sederhana aja. Aku yang pergi. Aku yang akan menjadi nggak sama untuk orang itu. Dan aku merasa baik saja selama tidak merugikan siapapun. Makanya aku nggak pernah bilang 'Saya akan kembali'. Not even once. Aman?" Suatu hari Kenes berkhotbah di tengah makan siang yang sakral di hari Jumat. Karena jam makan siang berlaku lebih lama dari hari biasanya. Garda sudah tahu jawabannya. Ia tidak lagi bertanya. Jejak Kenes terasa menetap. Menyisakan satu meja kosong di salah satu sudut kantor. Baunya seperti masih berkeliaran di seluruh ruangan. Menetap di setiap titik debu dan hinggap menghuni. Menghuni. Menghuni.