DENTANG pergantian tahun setiap 1 Januari kerap dirayakan dengan kembang api, doa, dan harapan baru. Namun di balik euforia itu, tersimpan s
DENTANG pergantian tahun setiap 1 Januari kerap dirayakan dengan kembang api, doa, dan harapan baru. Namun di balik euforia itu, tersimpan sejarah panjang lintas abad yang jarang disadari. Penetapan 1 Januari sebagai Tahun Baru Masehi bukanlah keputusan modern, apalagi semata-mata tradisi keagamaan. Ia lahir dari peradaban Romawi Kuno, bertahan melewati kekaisaran, gereja, hingga menjadi kesepakatan global.
Dari Maret ke Januari
Jauh sebelum kalender modern dikenal, bangsa Romawi menggunakan sistem penanggalan yang sederhana. Menurut catatan sejarawan Romawi Livy dalam Ab Urbe Condita, kalender awal Romawi hanya terdiri dari sepuluh bulan, dengan Maret (Martius) sebagai bulan pertama. Pilihan ini tidak lepas dari alam: musim semi menandai awal tanam, perang, dan kehidupan baru.
Perubahan mulai terjadi pada abad ke-7 SM, ketika Raja Numa Pompilius menambahkan dua bulan baru: Januari dan Februari. Meski demikian, awal tahun belum sepenuhnya bergeser. Selama berabad-abad, orang Romawi hidup dengan “awal tahun” yang cair—kadang administratif, kadang ritual.
#tahunbaru #sejarah #romawi #masehi














