seminggu yang lalu, gw lagi leyeh2 di kamar, baru pulang dari keliling Muara Angke sama rekan2 JH6, rebahan di kamar, menikmati hembusan AC, sambil chat sama si Otan yang berada di kamar sebelah. gw denger telepon bunyi, dan sebagai orang yang pemalas, gw diamkan. toh Emakku ada di kamar, dan posisinya pasti lebih dekat dengan telpon. ha ha.
setelah dering ketiga, suaranya berhenti, gw menunggu bunyi mesin faks. nggak ada, berarti seseorang udah menjawab telpon itu. gw sama Otan meneruskan chat, dan tiba2 Nyokap kirim pesan. melalui messenger yang sama.
"barusan Mbak Dewi Dewo telpon, ngasih tau suaminya Laras, Victor, barusan saja meninggal dunia."
it took me three reads to finally get who these names are.
trying to connect the names with anybody i know, anybody except my cousin, Lala, and her husband, Victor.
and when it hits, it was .... i don't know. i can't describe it. shocking. it's like a bad joke, very very bad joke.
but, it wasn't. it really happened.
gw mungkin enggak deket sama Victor kaya gw deket sama sepupu2 ipar gw yang lain [khususnya yang cowoq]. but there was something about him. walaupun gw enggak constantly berinteraksi sama Victor, but it feels like .... he's a long-time relative. it's like, he's been in the family for a very long time.
pertama kali gw kenal Victor itu waktu ulang tahun Puni. entah yang keberapa, gw lupa. Mba Lalanya pun kayanya baru mulai pacaran sama Victor.
wow, gw sampe tau gitu lika liku kehidupan kakak-adek Lala dan Puni gini. hihihi. well, our relationship went way back since my Da live in their father's and they were working together.anyway, kesan pertama untuk Victor, dia kayanya pendiam. gak banyak omong. mungkin belum begitu kenal sama gw dan teman2 Puni yang lain yang juga ikut makan2 ya? tapi dia diam yang menyenangkan. you know, diam yang memberikan kesempatan orang lain untuk interaksi, bukan dia yang lalu mojok dan asyik sendiri lalu terlihat nggak nyaman, get me outta here gitu. anyway, semenjak itu ada beberapa saat yang berkaitan sama Victor yang selalu gw inget, dan enggak akan gw lupakan.
yang pertama, ketika gw lagi nginep di rumah Puni, lalu diajak karaoke sekeluarga, yep, including Mba Lala dan Victor, yang saat itu udah ngontrak rumah sendiri. waktu itu Victor milih lagu Boys Don't Cry-nya The Cure. ketika gilirannya datang, mulailah dia bernyanyi ... seperti seorang lelaki mau menangis heboh... XD
dan itulah kesan kesekian Victor, yang lebih cenderung sebagai kesan pertama.
yang kedua, well, gw agak lupa sebenernya ini timeline-nya gimana. sebelum atau sesudah insiden Boys Do Cry itu. jadi, Victor pernah kecelakaan. konon lukanya cukup parah, dan Victor butuh beberapa jahitan. gw inget Puni berkomentar, "duh, udah kaya Frankenstein banget deh dia!". dan guweeeee ... dengan semangat geek '45 nyaut, "eh, Puy, lo tau gak, profesor yang bikin Frankenstein kan namanya Victor!" dan si Puni ketawa kenceng dan lama. gw curiga dia sempet pipis.
err ... kayanya itu lebih kaya kesan gw di Victor ya?
"Mira? oh, sodaranya Lala yang ngatain gw tukang bikin monster itu? iya inget!"
:|
setelah itu, gw lebih sering ketemu Victor di acara keluarga. Lebaran, Lebaran Haji .... Lebaran ... Lebaran Haji .... Lebaran ....
ternyata orangnya lucu, lucu khas anak Desain *halah* nggak bisa jelasin juga sih gw, lucu khas anak Desain itu gimana, tapi ya ada aura2 nyeninya deh dari gaya2nya, cara bicara, even jokesnya. dan dari sekali obrolan singkat itu pun gw sudah bisa mengambli kesimpulan, ah, he really belongs in the Koesbaroto family. dan gw, sebagai sodara yang [ceritanya] dekat dengan keluarga Koesbaroto, merasa welcome sekali dengan Jong Celebes yang satu ini. he's really lovely.
dan setiap Lebaran2 itu, gw selalu melihat dia bawa2 kamera. semua orang difoto sama dia. terutama Freya. dan itu adorable sekali. ngeliat si Victor sampe nungging2 mau foto Freya yang lagi makan sambil duduk di karpet, atau dia moto para Tante lagi gosip, maksudnya diem2 biar candid, tapi para Tante yang banci kamera itu langsung nengok semua.
dan yang amazing, dia moto pake kamera manual. gak cuma manual dalam ngatur speed, fokus, dll, tapi juga dalam proses. yep, kamera film. how wicked is that?
asli gw amazed banget.
dan gw liat foto2 hasil jepretan dia di Multiply.
they are beautiful.
luar biasa.
lalu ternyata beberapa temen gw di kantor lama ada yang kenal dia. dan mereka selalu bercerita kalau Victor itu orang yang baik dan menyenangkan. dan gw seneng banget dengernya. it was like, 'ain't my cousin amazing, man?'
sombong amat ya? padahal sama istrinya juga sepupuan, bukan kakak-adik sedarah :p
anyhow, kayanya gw udah kebanyakan rambling.
kontak terakhir gw dengan Victor adalah ketika Didiet minta tolong kenalan orang dari sebuah bioskop non-komersil Ibukota untuk tugas kelompoknya. awalnya gw minta tolong Mba Lala untuk nyampein ke Victor, tapi kemudian gw malah diberi YMnya Victor. dan respon yang diberikan Victor sangat menyenangkan.
gw nggak heran begitu banyak teman2nya yang kehilangan.
he's a good man. a wonderful father and husband. but, The Almighty loved him more than us. just like my Bude few years ago.farewell, dear cousin ... though, we don't see each other that often, but thank you for the good memories...
oh, and please send my love to Bude, yes? :)
PS. images of Mbak Lala and Victor in Javanese outfit stolen from Mba Lala's Facebook page, image of Freya looking up taken by Victor, but stolen from Mba Lala's Facebook's page,image of Victor stolen from his Facebook's profile picture.