Kedekatan yang Menghalangi Kita
Imam Az-Zarkasyi, penulis Al-Burhan yang fenomenal itu, pernah tidak memiliki buku. Beliau datang ke toko buku membaca bait-bait ilmu yang bisa ia baca lalu berlari pulang untuk menulis apapun sebelum lupa.
Cerita itu ada di Shafahat Syaikh Abdul Fattah.
Imam As-Syafii, pencetus madzhab, pemilik gelar Faqiihul Millah, dalam proses belajarnya pernah menulis apa yang didengar di atas kulit lengannya, beliau sedang tidak memiliki buku untuk mencatat.
"Siapa yang hari ini masih menulis di tangan?" Syaikh Hisyam Kamil bertanya kepada kami di sela mengisi materi daurah hari ini. Kita dengan mudah bisa lari ke toko alat tulis mengambil notebook bergaris, sebilah pulpen, dan harganya bisa lebih murah dari seporsi kusyari.
Hari ini ada internet, ada buku digital, versi cetak pun harganya murah, mendapat ilmu mudah. Tapi faktanya dibanding mereka kita bak seupil tanah liat di antara gugusan bintang yang berkilat-kilat.
Ainats tsaraa minats tsurayya?
Ada ironi dalam hidup bahwa sesuatu yang dekat seringkali bisa menjadi penghalang. "Syiddatul qurbi hijaab" Begitu bunyi pepatah Arab yang dinukil Syaikh Hisyam.
Terlalu berdekatan kadang jadi penghalang.
Tukang jagal tidak memakan daging, ia mungkin memakan kusyari. Tapi tukang kusyari tidak memakan kusyari, ia berharap bisa makan daging.
"Kita sih berharap makan dua-duanya," kelakar Syaikh.
Orang yang punya banyak buku tidak membaca, orang yang meminjam justru membacanya. Orang yang hidup di sekeliling Al-Azhar tidak mengikuti kajian, mereka berjualan jus dan pernak-pernik. Tapi orang dari ujung dunia rela membeli tiket pesawat puluhan ribu pound, mereka datang ke kajian dan rajin menyimak.
Sayangnya, mungkin juga orang yang sudah di Mesir justru malas, tapi yang jauh di kampung halaman mati-matian belajar dari apapun yang bisa dijangkaunya.
Menangis.
@audadzaki
Jannah, 23 Juni 2024.













