Bonus Story
Recommended Korean Street Food
Ke Korea harus makan teoppokki sama odeng, street food Korea yang sering banget ada di drama Korea. Di drama Boys Over Flower, Lee Min Ho as Gu Jun Pyo makan ini banyak banget dong, pun dengan Lee Sung Kyung as Kim Bok Joo di drama weightlifting fairy KBJ. Gue sendiri sering banget beli teoppokki di mall atau Korean resto di Jakarta. Bahkan, gue suka beli yang satu pak di supermarket beserta saus instantnya, terus bisa dibikin sendiri deh dirumah. Untuk odeng, gue belum pernah nemu yang rasanya enak banget di Jakarta. Yang gue cobain malah rata-rata rasanya agak amis.
Nah, salah satu hal yang pengen banget kita lakuin adalah nyobain makanan tersebut langsung dari penjual asli orang Korea yang biasanya banyak jualan di mobil pick up di beberapa titik keramaian. Di drama Korea juga banyak scene warung tenda, sayangnya kita kurang waktu dan research. Jadinya, gak ketemu warung tenda model begitu. Based on yang kita baca juga, model warung tenda begitu udah banyak yang tutup dikarenakan dilarang sama pemerintah setempat, karena dianggap membuat lingkungan jadi kotor. Makanya udah gak banyak berseliweran warung tenda begini. Huhu padahal kita pengen nyobain experience nya.
Untungnya, yang jualan pakai mobil bak terbuka masih banyak. Favourite kita adalah Odengnya Ahjumma yang jualan gak jauh dari exit 3 Hongdae. Ukurannya besar dan kekenyalannya pas, kuah beningnya seger banget, yang bikin perfect adalah Ahjummanya bikin saus gochujang sendiri dan rasanya pedes buangett. Saos-saos extra pedas yang ada di Indo aja kalah.
Karena kita sering balik malem ngelewatin vendornya Ahjumma ini, so tiap ada kesempatan kita pasti makan ini. Perfect banget makan ini sama udaranya yang malem-malem sering dibawah 5 derajat. Ada makanan lainnya selain teoppokki dan odeng. Tapi yang juara yaitu odengnya. Gue coba di tempat lain, rasanya gak seenak yang dijual Ahjumma ini. Oia, masalah kehalal-an belum terjamin ya guys. Yang pasti Odeng ini setau gue gak pakai minyak babi baik kuahnya maupun makananya secara itu fish cake dan kuahnya bening rasa rendaman fish cake ditambah daun bawang. Teoppokki nya juga dimasak pakai Gochujang sama Air. Kalau sosisnya kemungkinan babi, dan kita gak beli. So, do your ijtihad ya. Kalau gak yakin, ya jangan dibeli dan dimakan. Sebenarnya, ada jajanan yang lain kita beli, tapi bagi gue ini yang paling recommended. Titik.
LAST DAY ICN-KLIA2-CGK (18 November 2018)
Delay flight
Sekitar dua atau tiga hari sebelum kita balik ke Jakarta, temen gue dapet email dari Airasia bahwa flight kita delay yang tadinya harusnya jam 9.35 am jadi delay ke siang sekitar jam 1 an. Seketika panik karena kita ada connecting flight dari KLIA ke CGK jam 5.40 pm. Perjalanan dari Korea-Malaysia sekitar 6 jam, belum lagi pesawatnya parkir trus ngantri keluar. Butuh waktu yang gak sebentar. Kita coba email Airasia ngejelasin kalau kita ada connecting flight dan bagaimana solusinya kalau misalnya gak kekejar but no replied. Mau nelpon tapi kan kita gak pakai paket roaming, kita full pakai wireless wifi selama di Korea. Akhirnya, yauds kita memutuskan untuk urus masalah ini di Incheon Airport aja tepat pada hari H.
Pas di counter check in, counter officernya udah langsung arahin kita dan ngasih tiket dengan kode booking baru. Jadi, jadwal connectingnya juga berubah tapi waktunya tetep mepet cuma beda satu jam, dan kebetulan itu adalah last flight ke Jakarta. Kita bismillah aja semoga kekejar transit di KL, karena bandaranya super panjaaanggggggg makanya kita agak ngeri kalau misalnya gak kekejar waktunya.
Paris Baguette
Dengan memanfaatkan uang won terakhir, kita beli makanan di Paris Baguette yang ada di dalam bandara Incheon. Sebelumnya emang udah niat mau beli Paris Baguette karena di tiap tikungan di Seoul selalu ada nih store nya. Awalnya, gue ngira ini adalah brand Prancis karena ada trademark Paris nya, dan ternyata ini brand Korea. Semacam Tous Les Jours yang juga pakai French language. Varian menunya banyak banget. Gak cuma roti dan kue. Ada juga salad dan nasi box. Pemandangannya bikin ngiler karena warna warni gitu. I wish Paris Baguette will open their branches in Jakarta, karena gue sukaaaa sama makanannya. Gue beli air minum, roti, dan nasi isi ayam dan sayuran buat dimakan di pesawat, harganya termasuk terjangkau dan rasa makanannya juga oke.
Transit di KL
Pesawat gue landing di KLIA sekitar jam setengah 7 lewat. Deg-deg an banget pas lagi antri keluar dari pesawat karena waktu udah mepet dan lama banget dong orang keluarnya secara itu pesawat besar dan lumayan banyak penumpangnya. Barang yang kita bawa ke kabin adalah tentengan oleh-oleh dan ransel buat taruh barang-barang penting. Keluar dari pesawat kita langsung lari-larian menuju transfer gate. Ya Tuhan, jaraknya jauuuuhhhhh banget harus naik turun eskalator segala macem. Tangan gue rasanya mau copot karena kesakitan dan berat bawa jinjingan.
Sialnya adalah kita harus ngelewatin dua kali security checks untuk menuju ke dalam gate transfer. Apesnya lagi, tas ransel gue dibongkar dong karena ada rheumacyl liquid gitu tapi gak diatas 100 ml padahal. Sebelumnya, di Incheon tas ransel gue juga sempet disuruh bongkar tapi finally lolos. Pun dengan di KLIA first security check. Yang ngeselin adalah, pas di security check terakhir, tas gue dibongkar trus diliat-liat dulu padahal waktu udah makin mepet, feeling udah jelek aja kalo gue bakal ditinggal pesawat. Dan akhirnya security officernya ngambil rheumacyl gue dong. Buset dah di security check pertama dan di Incheon aja dilolosin, tapi yang terakhir ini malah enggak. Yaudslah ya mungkin officernya butuh rheumacyl buat mengatasi pegal-pegal? audah untung cuma rheumacyl. Finally sampai juga di gate transfer pesawat menuju CGK. We were the last passangers to get on board. Yang lain udah masuk dan gak lama lagi pintu pesawat mau ditutup. Alhamdulilah Ya Robbi, masih rejeki kita gak ditinggal pesawat. What an experience!! Kalau ada budget berlebih, better ambil yang direct deh biar gak keteteran kek gini.
Pramugara Airasia
Seat di pesawat yang gue naikkin dari KLIA-CGK lumayan sepi. Kita dapet bangku deretan ke 5 dari depan. Tapi, karena sepi gue minta pindah ke paling depan biar lega duduknya, dan dua temen gue duduk di belakang gue. First experience duduk di seat paling depan pesawat, jadi ngeliatin kegiatan pramugari dan pramugaranya. Flight crew nya dari Malaysia. Dan pramugara yang tugas di deretan depan komuknya mirip Ju Ji Hoon versi younger.
Jadi, selama take off kan supervisor pramugari dan pramugara yang gue sebutin itu duduk di kursi depan menghadap penumpang which is guwehhh karena barisan depan totally kosong, makanya gue dibolehin duduk disitu. Akika salting dong dengan posisi yang seperti itu. Awalnya pura-pura baca majalah biar gak keliatan saltingnya trus pas take off kan lampunya dimatiin, gelap, byeee alibi baca majalah. Walaupun gelap-gelap gitu tapi kan masih keliatan yee. Yauds deh jurusan andalan yang lain adalah pura-pura bobo. Bodo amat. Alhamdulilah setelah take off dengan smooth dan lampu mulai dinyalakan, baru deh lebih leluasa karena cabin crew nya udah mulai melaksanakan tugas lainnya. Temen gue beli air mineral pakai rupiah tapi dibalikin sama oppa pramugaranya ringgit dan sampai sekarang masih di keep kembaliannya wkwk. Gak berasa flightnya dari KLIA to CGK. Finally sampaiiiii. Alhamdulilah we landed safely dan alhamdulilah juga sampai rumah dengan selamat.
What an unforgettable moments that I will cherish throughout my life. Anyway thanks for reading my blog and watching my vlog. I’ve booked tickets for the next destination though. So, see you on another trip posts!!
part 1
part 2
part 3
part 4
xoxo
mels











