“Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah buku.”
Membaca, dalam salah satu definisinya adalah sebuah keterampilan dalam upaya peningkatan kognitif otak untuk memperluas daya pikir dan keluwesan intelektual. Bersamaan dengan istilah diatas, kita mendapati juga istilah “literasi” yang sering dimaknai sama dengan kata membaca. Padahal secara definisi, literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.[1] Definisi literasi memang tidak terbatas hanya pada kegiatan membaca, seperti yang diucapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy.[2] Namun melalui membaca, seseorang akan memiliki perspektif baru. Kemudian, ia akan mampu membuat karya pada bidang yang ditekuninya. Proses itu terjadi terus-menerus sepanjang hayat. Maka membaca, adalah main point dan kunci dari literasi.
Di era digital layaknya saat ini, kegiatan literasi memang tidak hanya terpaku pada membaca sebuah literatur fisik, melainkan dapat dilakukan pula dalam berbagai model digital seiring makin berkembangnya piranti teknologi. Sebuah kemudahan yang secara teori seharusnya makin membuat buku dan baca semakin membumi. Namun sayang, di banyak belahan bumi malah menunjukkan fakta sebaliknya. Termasuk di negeri kita, Indonesia.
Indonesia, negeri yang tidak pernah kurang elok dan kaya tanahnya, dalam data statistik menduduki peringkat ke-4 jumlah penduduk terbanyak di dunia. Sebuah negara besar dengan sumber daya yang luar biasa banyak dan potensial, ditambah adanya bonus demografi yang mencapai puncaknya pada momentum emas Indonesia pada 2045. Namun nyatanya, menurut data Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2015, Indonesia berada pada ranking 62 dari 70 negara yang disurvei. Menurut survei lain yang dilakukan oleh CCSU pada 2016, Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei. Hanya unggul dari Botswana. Pemeringkatan perilaku literasi ini dibuat berdasar lima indikator kesehatan literasi negara, yakni perpustakaan, surat kabar, pendidikan, dan ketersediaan komputer.[3]
Dengan gamblang, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia kurang mempunyai minat literasi dan baca yang baik. Padahal kita tahu, kita tidak akan mendapati orang hebat namun malas membaca. Kita tidak akan mendapati bangsa besar namun terbelakang taraf intelektualnya. Dan kita tidak akan menemukan negara yang maju, sejahtera, dan adidaya namun rendah daya literasi warga negaranya.
Sebuah ironi memang, ketika jumlah warga negara tidak berbanding lurus dengan kualitas warganya. Perbaikan dan penuntasan permasalahan SDM adalah hal kompleks memang dimana hal yang satu dan lainnya saling terkait satu sama lain, tidak saling berdiri sendiri masing-masing. Dan salah satu hal krusial saat ini adalah, bagaimana dengan hidupnya kembali literasi dapat menjadi jembatan bagi meningkatnya kualitas sumber daya manusia Indonesia. Karena taraf literasi yang baik menghasilkan output SDM yang lebih kompeten dan berkualitas, maka Sustainable Solution negeri ini salah satunya adalah peningkatan literasi, dalam semua bentuk dan definisinya.
Di negara-negara maju, Jerman misalnya. Banyak dari rakyatnya lebih risau ketika kesulitan menemukan bahan bacaan dan tempat nyaman untuk membaca. Kultur dan kebiasaan tersebut tidak hanya berlaku bagi kelompok usia dewasa, namun sejak usia kanak-kanak. Dunia anak Jerman sangat jauh dari agenda menonton televisi atau bermain handphone berjam-jam. Jika tidak sibuk membaca atau bermain dalam rumah, ketika cuaca bagus pasti lebih memilih permainan-permainan outdoor. Sedang orang-orang dewasa baik ketika pergi liburan atau dalam perjalanan di tram, sbahn atau kereta hampir 80% membawa buku dan membacanya. Animo masyarakat Jerman terhadap buku cukup tinggi. Setidaknya sekali dalam sepekan mayoritas (lebih dari separuh) masyarakat Jerman membaca buku. [4]
Terdengar berlebihan memang bagi kita yang hidup di negara dimana kegemaran membaca bisa jadi hanya kebiasaan segelintir orang, dimana mode dan gaya sering lebih utama dibanding ilmu dan isi kepala, dimana nongkrong di kafe atau hang out ke mall lebih up to date, dimana 'kutu buku' seringkali jadi julukan yang konotasinya kurang mengenakkan. Sayang, realitanya memang demikian dan mereka lebih maju hampir dalam penguasaan segala bidang, mulai dari ilmu pengetahuan sampai taraf kesejahteraan. Etos kerja yang baik tidak pernah mengkhianati dengan memberi hasil terbalik.
Sekilas, seakan terlalu naif memang jika berbicara perubahan besar lewat langkah-langkah kecil. Seperti dengan membiasakan melahap beberapa lembar buku setiap hari, misalnya. Atau rutin menyisihkan sebagian kecil uang yang biasanya digunakan untuk nongkrong dan ngafe untuk rutin membeli buku. Namun, bukankah gedung-gedung kokoh sebelum dibangun adalah susunan dari batu bata kecil? Dan pengenalan serta pemupukan budaya literasi sedari dini, bisa jadi adalah salah satu keping puzzle kunci dalam pemberesan masalah-masalah saat ini.
Pembenahan sistem pendidikan yang saat ini sedang cukup gencar dalam upayanya untuk meningkatkan taraf literasi ke level yang lebih tinggi dengan berbagai cara layak mendapat banyak apresiasi. Namun, jika kondisi ini dibandingkan dengan kondisi di banyak negara lain, dengan sesal saya katakan bahwa: Kita masih tertinggal jauh. Sudah seharusnya memang, pembenahan menuju kualitas intelektual manusia yang lebih baik dilakukan sejak generasi dini, karena merekalah kelak yang akan mengemban tongkat estafet kehidupan di masa depan. Sebab sekali lagi: Kita tidak akan mendapati orang hebat namun malas membaca. Kita tidak akan mendapati bangsa besar namun terbelakang taraf intelektualnya. Dan, kita tidak akan menemukan negara yang maju, sejahtera, dan adidaya namun rendah daya literasi warga negaranya. Mudahnya penyebaran hoaks, malas melakukan klarifikasi & mudah melakukan oversimplifikasi, serta gampangnya terbakar emosi karena penggiringan opini mungkin adalah salah satu dampak & masalah yang timbul dari rendahnya taraf literasi. Yang secara vis-a-vis berarti rendahnya taraf intelektual.
Idealnya, siapapun orangnya, apapun latar belakang, profesi, pendidikan, bahkan mungkin usia. Semestinya tetap memiliki candu dan terpacu untuk terus membaca, sebagaimana candu seorang manusia dalam menuntut ilmu seumur hidupnya. Karena dalam kehidupan, kita mungkin secara simultan memiliki banyak peran. Misal sebagai seorang insinyur dalam keseharian, seorang dokter bagi keluarganya, guru serba bisa bagi anak-anaknya, hingga mungkin filosof dadakan ketika berdiskusi bersama rekan. Saya percaya, semakin banyak ilmu yang dimiliki, semakin bisa bermanfaat kita bagi banyak orang. Layaknya yang tertera dalam sebuah hikmah: “Tidak akan pernah rugi, orang-orang yang memiliki banyak ilmu. Dan tidak akan pernah sia-sia, orang-orang yang menjadikan buku sebaik-baik teman duduknya.”
Dengan menulis ini, saya hanya mencoba memantik kembali lautan pengetahuan dan mencoba memberi sumbangsih kecil bagi peradaban. Mencoba untuk membuka jalan untuk selalu memupuk hasrat bertanya, dan rasa penasaran terhadap hal apapun. Sebagai pengenal dan pengingat bagi diri sendiri, serta untuk mengenalkan kembali pada khalayak harta karun yang berserakan dan menunggu untuk digali kembali. Literasi.