Menata Kala: Satu Hal yang Belum Kamu Tahu Tentang Menjadi Produktif
Kata orang-orang (terutama kata panitia-panitia yang mengundang saya untuk berbicara atau mengisi kelas tentang muslimah produktif), saya adalah seorang perempuan yang produktif. Kalau dibilang anggapan itu benar, sebenarnya tidak juga karena ada kondisi-kondisi dimana saya pun bermasalah dengan pengelolaan waktu. Kalau dibilang anggapan itu salah, ya sebenarnya tidak juga karena saat ini saya memang sedang men-challenge diri saya sendiri untuk bisa menjadi perempuan yang produktif di segala peran, terutama yang menyangkut peran-peran kehambaan.
Sulit? Yaiyalah. Kalau gampang mah mungkin pembahasan time and self management tidak akan lagi menjadi topik yang "seksi" di kalangan anak muda masa kini.
Saya yakin, kalau kamu sampai niat untuk membaca tulisan ini, berarti kamu sama seperti saya yang sedang belajar untuk menjadi produktif. Tapi ternyata, ada satu hal menarik yang saya rasa belum kamu ketahui tentang the perks of being productive. Wah, apa tuh?
Ternyata, berdasarkan pengalaman beberapa tahun ke belakang dan feedback yang saya terima beberapa hari lalu, sikap saya yang mencoba untuk selalu produktif ini bisa juga membuat orang lain gemas (sekaligus kesal), dalam pengertian negatif tentunya!
Lho, kok bisa? Gimana emang?
Sebagai seorang karyawan di sebuah startup di Bandung, saya ini memang terbilang karyawan yang agak unik karena saya seringkali strict terhadap waktu. Begitulah ya istilah gampangnya. Waktu pertama kali "dipinang" untuk berkolaborasi dengan perusahaan sekitar 3 tahun lalu, saya dengan berani mengajukan syarat, saya bilang, "Punteun pak, ada satu kegiatan yang tidak bisa saya tinggalkan di salah satu hari di hari kerja jam 4 sore. Kalau bapak mengizinkan saya untuk tetap melakukannya, saya akan terima tawaran kolaborasi ini, tapi kalau bapak tidak mengizinkan, mohon maaf saya tidak bisa penuhi tawarannya." Singkat cerita, perusahaan sepakat dengan pengajuan saya itu hingga sampai sekarang pun Alhamdulillah saya selalu diizinkan untuk pulang lebih cepat di salah satu hari diantara sepekan hari kerja.
Selain itu, saya ini tipe-tipe karyawan "teng-go" yang akan langsung pulang jika sudah waktunya pulang. Jarang sekali saya pulang terlambat atau sampai bermalam di kantor jika memang urusannya tidak penting-penting amat. Kalau pun saya harus mengerjakan urusan kantor sampai malam (atau bahkan tengah malam) karena misalnya menghandle kelas online atau lainnya, sebisa mungkin saya meminta agar kantor mengganti jam malam saya dengan pulang lebih cepat di esok harinya. Tidak hanya itu, saya juga jarang sekali membalas pesan atau e-mail di luar jam kerja, kecuali memang genting (seperti suatu hari ketika malam-malam ditelepon Ibu Elly Risman, serem juga kalau enggak diangkat kaaan~).
Prinsip saya, urusan kantor ya urusan kantor, urusan luar kantor ya urusan luar kantor. Menjadi sekuler dalam hal ini penting juga ternyata!
Qadarullah, kantor saya menganut prinsip parenting yang kental hingga sebisa mungkin pekerjaan tidak mengganggu waktu keluarga para karyawannya jika sudah bukan waktunya bekerja. Tapi, namanya juga dinamika pekerjaan, prinsip itu ya pasti ada failednya juga, pasti ada sisi lainnya. Seperti ketika beberapa hari yang lalu saya tiba-tiba saja dapat feedback dari seorang teman, katanya, "Iya, aku tuh pernah sebel sama Novie meskipun sekarang urusannya ya udah selesai dan udah enggak sebel lagi, sih. Tapi aku sempet heran aja, ini bocah kok strict banget sih sama waktu kerja."
Kyaaa! Kaget sekaligus ingin ketawa sih ketika mendengar feedback itu. Akhirnya, saya pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa harus se-strict itu, dan seterusnya. Kenapa emangnya? Okay, I will tell you, semoga kamu pun jadi dapat gambaran tentang sesuatu yang berkaitan dengan produktivitasmu.















