Jujur saya sudah lama sekali tidak membaca novel apapun. Hanya sesekali membaca cerita tertentu di platform oranye. Sampai akhirnya tadi pagi saya iseng mengunduh aplikasi ipusnas dan melihat-lihat ada apa di dalamnya. Pilihan saya jatuh ke novel ini.
Menembus Rinjani oleh Indra dan Difai .
Saya bukan seorang pendaki ataupun anggota perhimpunan pecinta alam. Saya hanya seseorang yang terkadang berjalan mengitari kota kelahiran jika sedang diberi keberanian. Tapi memang sudah sedari dulu saya tertarik dengan pendakian dan gunung meskipun pengalaman nihil dan bekal pun tak ada. Biasanya, saya hanya menyaksikan pendakian dari platform merah berlambang panah ke kanan. Saya sempat mendengar tentang indahnya Rinjani dan Segara Anaknya dari teman jauh saya yang sekarang entah kemana. Tapi, hanya itu. Saya hanya tau bahwa Rinjani yang indah memiliki danau di puncaknya yaitu Segara Anak dan mereka ada di Lombok.
Membaca novel ini memicu adrenalin entah mengapa. Mungkin karena di beberapa bagian novel saya sempat paranoid tentang cerita makhluk gaib yang sangat saya hindari. Rentetan adegan demi adegan pun muncul di kepala saya. Saya tidak sadar telah menghabiskan novel ini hanya dalam waktu 5 jam termasuk jeda. Iya, mungkin ini bukan rekor tercepat (lagipula saya tidak sedang berlomba wkwkw).
Intinya adalah bahasa di novel ini mengalir sekali, membuat tangan saya bertindak sendiri dengan menggeser layar terus kebawah menuju akhir cerita. Saya belum pernah mendaki ataupun melihat Rinjani secara langsung, tapi membaca novel ini membuat saya merasa berada di antara Izal, Doni, Devran, Dewi, Aco, Abo, dan Refa. Saya jadi penasaran juga dengan budaya suku Sasak di Lombok yang tak pernah terpikirkan bahwa bisa disangkutpautkan dengan Rinjani (iya, pengetahuan saya seminim itu). Beberapa pengetahuan tentang pendakian, termasuk hipoksia, AMI, VO2 max, dan informasi lainnya cukup banyak mengisi lembar novel dan menjadi nilai plus novel ini. Saya cukup yakin akan kebenaran informasi itu karena saya pernah mempelajarinya juga meskipun hanya sepercik dan tidak abadi dalam benak. Akhir kata, novel ini sangat saya rekomendasikan. Asik sekali bisa berkelana di tengah pandemi dari kamar saya. Terima kasih penulis!