Masih ingatkah kalian akan perumpamaan “Seperti Bumidan Langit” ?
Sebuah pengibaratan akan hal yang tidak mungkin disatukan tetapi berada dalam satu kesatuan semesta.
Entah kenapa bisa menjadi persis seperti kisah dan nama kalian???
Sejatinya tidak ada yang kebetulan didunia ini
Tapi biarlah itu semua cukup menjadi misteri semesta.
Membaca tulisan-tulisan kalian di akun twitter pun di tumblr seperti membaca kembali kisah Laila Majnun sebuah karya sastra milik Sang Sufi Hakim Nizhami. Tidak persis memang tetapi membicarakan tentang sebuah Cinta yang sedemikian kuatnya. Cinta kalian Cinta tak biasa.
Perbedaan keyakinan yang membuatnya rumit. Rumit??? Ah, entahlah bagaimana menjelaskannya.
Dua hal yang sama-sama tidak ingin kalian lepaskan bukan?
Tetapi harus ada yang kalian pilih sebagai manusia biasa. Atau kalian pertahankan keduanya dan menikmati rasa sakitnya. Rasa Sakit akan kerinduan seperti yang dirasakan Qais dan Laila. Menyatu bersama rasa sakit itu dan menjadikannya sebagai energi positif bagi yang lain.
Saya kutip sebuah doa dari Qais ketika Ayahnya menyuruhnya untuk berhaji agar tidak semakin Majnun. Di depan Ka’bah, Qais bersimpuh dan berdoa, “Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para Pecinta, Engkau yang menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal saja,”Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup.”
Dia nikmati rasa sakitnya akan Cinta dan kerinduan, mampukah kalian?
Mari kita simak kembali syair Qais tentang perasaan Cinta nya:
Kerabat dan handai- taulanku mencela
Karena aku telah dimabukkan oleh dia
Ayah, putera- putera paman dan bibik
Mencela dan menghardik aku
Mereka tak bisa membedakan cinta dan hawa nafsu
Nafsu mengatakan pada mereka, keluarga kami berseteru
Mereka tidak tahu, dalam cinta tak ada seteru atau sahabat
Cinta hanya mengenal kasih sayang
Tidakkah mereka mengetahui?
Kini cintaku telah terbagi
Satu belahan adalah diriku
Sedang yang lain ku berikan untuknya
Tiada tersisa selain untuk kami
Wahai burung- burung merpati yang terbang diangkasa
Wahai negeri Irak yang damai
Sembuhkan rasa gundah- gundah yang membuat kalbu tersiksa
Waktu terus berlalu, usia makin dewasa
Namun jiwaku yang telah terbakar rindu
Bila kami ditakdirkan berjumpa
Berjalan bertelanjang kaki menuju kesunyian
Sambil memanjatkan doa- doa pujian kepada Allah SWT
Ya Raab, telah kujadikan dia
Hiburlah diriku dengan cahaya matanya
Seperti Kau hiasi dia untukku
Atau buatlah dia membenciku
Dan keluarganya dengki padaku
Sedang aku akan tetap mencintainya
Mereka mencela dan menghina diriku
Dan mengatakan aku hilang ingatan
Sedang dia sering terdiam mengawasi bintang
Aduhai, betapa mengherankannya
Orang- orang mencela cinta
Dan menganggapnya sebagai penyakit
Yang meluluh- lantakan dinding ketabahan
Aku berseru pada singgahsana langit
Berikan kami kebahagiaan dalam cinta
Yang selalu membelenggu kalbu
Bagaimana mungkin aku tidak gila
Bila melihat gadis bermata indah
Yang wajahnya bak matahari pagi bersinar cerah
Menggapai balik bukit, memecah kegelapan malam
Mengapakah hatinya wahai ananda?
Mengapa engkau mencintai pemuda
Sedang engkau tidak melihat harapan untuk bersanding dengannya
Cinta, kasih dan sayang telah menyatu
Mengalir bersama aliran darah di tubuhku
Cinta bukankah harapan atau ratapan
Walau tiada harapan, aku akan tetap mencintainya
Sungguh beruntung orang yang memiliki kekasih
Yang menjadi karib dalam suka maupun duka
Karena Allah akan menghilangkan
Dari kalbu rasa sedih, bingung dan cemas
Aku tak mampu melepas diri
Dari jeratan tali kasih asmara
Karena surga menciptakan cinta untukku
Dan aku tidak mampu menolaknya
Sampaikan salamku kepada dia,
Katakan, aku akan tetap menunggu
Hingga ajal datang menjelang
Ya, Cinta hanya mengenal Kasih Sayang. Seperti nama-namaNYA dalam Asmaul Husna Ya Rahmaan Ya Rahiim, Yang Maha Pengasih Yang Maha Penyayang. DIAlah Cinta segala Cinta.
Biarkan DIA yang menuntun jalan Cinta kalian.
Selamat Menikmati Rasa Sakit.