-
Setidaknya aku tau,
Bahwa kau memperhatikanku.
Tapi terlalu gengsi tuk mengaku.

seen from Malaysia
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from Kazakhstan

seen from United States

seen from Australia
seen from United States

seen from Iraq
seen from China
seen from Russia

seen from Malaysia
seen from Spain

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Australia

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from China
-
Setidaknya aku tau,
Bahwa kau memperhatikanku.
Tapi terlalu gengsi tuk mengaku.
Mengaku.
Diantara dusta yang berkeliaran sana-sini, mengaku kadang sesuatu hal yang membuat bibirmu kelu. Kau tahu, kadang lidah berat terasa. Kadang raga enggan menjelaskan dengan tegas. Katamu, kau hanya butuh waktu. Rasanya bukan untuk mengaku, tapi lebih kepada menunggu. Sebanyak momen yang akhirnya lewat, kaupun mengaku masih tidak punya waktu yang tepat. Padahal kita sebetulnya tidak tahu apakah waktu yang tepat itu kini atau nanti. Kita hanya berusaha membaca keadaan kan? Hingga akhirnya katamu, memang begitu penyesalan selalu datang belakangan. Kau rasanya begitu mengikhlaskan, terbebas dari jeratan pengakuan. Entah apa namanya kecewa jenis itu, tapi kau tetap merasa tak nyaman. Rasanya ada yang hilang, tapi ada yang menyembunyikan. Benar kan, kau masih butuh waktu lagi untuk merencanakannya kembali? Entah sebanyak apa waktu yang kau kira itu ada, akhirnya kau hanya punya dua pilihan. Mengaku atau menyembunyikan. Mungkin berkali-kali kau kembali menyembunyikan. Berharap ada keajaiban yang akhirnya menjatuhkanmu pada sebuah pilihan. Kau merasa lebih baik begitu. Bersembunyi dengan doa terbaikmu, berharap malaikat mengaminkan. Entah itu (si)apa, kau mengaku untuk tetap menunggunya. Kau biarkan bait doa mengaku pada Tuhannya, menunggu jawaban terbaiknya. Sudahlah, pada akhirnya kau akan mengaku juga kan. Meski itu hanya menjadi rahasiamu dan Tuhan. Semoga tetap jujur padaNya.