RTM: Kebaikan di Atas Segala Ke(kurang) baikan
Tulisan ini disarikan dari kajian Rumah Tangga bersama Ust. Afri Andiarto dengan topik “Wa’asyiruhunna bil ma’ruf: Dan pergaulilah istrimu dengan ma’ruf”. Kajian yang jika tidak salah sudah berlangsung bulan lalu. Entah mengapa waktu itu isinya begitu menancap, sehingga saya ingin sharing di sini. Semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya.
Ada sebuah redaksi yang menarik saat Allah mendiskripsikan dalam QuranNya Surat An-Nisa ayat 19 mengenai bagaimana kewajiban suami dalam mempergauli istrinya. Dari pemahaman saya yang masih sangat awam di sini, dalam bahasa arab, terdapat beberapa kata yang bermakna “baik”. Selain kata ma’ruf, terdapat kata hasan / ihsan , ada juga kata khoir. Namun, mengapa di sini Allah memilih menggunakan kata “Ma’ruf?
Bahkan tidak hanya satu kali. Di dalam QS. At-Thalaq ayat 6, disebutkan “Wa tamiru bainakum bil ma’ruf”, dan musyawarahkanlah di antara kalian suami istri tentang segala sesuatu dengan cara yang baik”. Lagi-lagi redaksi kata ma’ruf dipergunakan untuk mendeskripsikan tentang hubungan keluarga. Lagi-lagi tentu kita bertanya, mengapa kata ini yang dipilih oleh Allah untuk menjelaskan perihal rumah tangga?
Sebelum kita berpikir lebih jauh terkait maknanya, barangkali kita tarik terlebih dahulu ke sebuah nasihat yang sering disampaikan guru dan ustadz kita saat pernikahan:
“Sebaik-baik laki laki adalah yang paling sabar terhadap istrinya, sementara sebaik baik perempuan adalah yang paling taat pada suaminya”
Mengapa kesabaran yang begitu ditekankan? Sebab seorang laki laki nantinya akan membersamai makhluk yang penuh dengan perasaan dan emosi. Sudah cukup banyak kisah sahabat, salafush shalih yang kena semprot dan omelan istrinya, bahkan tak terkecuali Rasulullah SAW. Maka dari itulah sabar dan sabar adalah kunci dari kesuksesan seorang laki laki dalam menjaga rumah tangganya.
Kembali lagi ke ayat di atas, jika didefinisikan dan ditafsirkan, kata Ma'ruf bahkan jauh lebih tinggi daripada khair dan Ihsan. Dalam QS Ar-Rahman, kita mengetahui sebuah ayat yang artinya, “Kebaikan dibalas dengan Kebaikan”. Nah, peran suami di sini kelak bahkan harus lebih dari itu. Segala perlakuan istrinya, saat mengomel, saat marah, maka sang suami tidak cukup hanya sabar, namun membalasnya dengan senyuman, kesabaran, canda dan tawa, membantu mengerjakan urusan rumah tangga, serta kebaikan kebaikan yang lainnya. Jadi, makna Ma'ruf di sini adalah melakukan kebaikan yang jauh lebih baik dari apa yang diperbuat pasangannya. Membalas segala perlakuan pasangannya dengan kebaikan. Hal yang teramat luar biasa, mengingat seperti inilah akhlak Rasulullah terhadap para penghinanya, yang betapa tinggi kemuliaan seseorang jika mampu mencapai derajat seperti ini.
Namun apakah dengan begini istri bisa semena-mena dengan emosinya? Tentu saja tidak. Sebaik baik istri pun juga adalah yang paling perlakuan dan pelayanannya pada suaminya. Maka di sinilah asal muasal kenapa surganya istri ada di ketaatannya pada suami. Sebab tanggung jawab suami begitu besar terhadap keluarganya. Pun walaupun demikian bukan berarti suami berbuat semena-mena terhadap istrinya. Ia harus tetap bersikap baik, menyuruh ya menaati sesuai dengan koridor ajaran agama.
Bayangkan saat seorang lelaki menggenggam tangan ayah atau wali dari istrinya, melakukan ijab qabul yang dikenal dengan mitsaqan Ghalidza, maka berpindahlah tanggung jawab dari ayahnya ke dirinya. Maka dia pula yang akan menanggung dosa dosa istrinya, dia yang akan menjadi nahkoda dalam membawa keluarganya ke surgaNya kelak, dia yang akan dimintai pertanggungjawaban pertama olehNya kelak di akhirat. Dia juga yang akhirnya bertanggungjawab penuh terhadap nafkah keluarganya, pendidikan anak-anaknya, memastikan bahwa apa yang ia berikan adalah hal yang halal dan thoyyib.
Tersebab tanggungjawab yang begitu berat itulah maka barangkali karena inilah Surganya seorang istri berada pada ridho suaminya. Dia yang taat pada suaminya, dia yang tidak menolak ketika suaminya meminta hak-nya selama tidak ada udzur syar'i seperti haid, nifas, dan sakit, dia yang selalu berhias utk suaminya, menjaga diri, rumah, dan harta selagi suaminya bekerja, serta dia yang menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dia yang bahkan dalam banyak kisah salafush-shalih, menawarkan diri di depan suaminya sekalipun mungkin mood nya sedang tidak baik atau bahkan lelah, namun dalam rangka ingin meraih pahala surgaNya, ia kesampingkan segala perasaannya. Dan inilah seringkali yang justru tidak mudah bagi seorang wanita karena dia harus berurusan dengan perasaan dan emosinya, sementara soal kesabaran pun barangkali tak mudah bagi seorang laki-laki karena dia harus berurusan dengan ego pribadi dan sifat ke-lelakiannya.
Maka demikianlah Allah menciptakan laki laki dan perempuan. Dilahirkan dengan penuh perbedaan yang sudah seyogianya bukan untuk diperselisihkan, namun melengkapi satu sama lain, memaklumi kekurangan satu sama lain, serta saling melayani satu sama lain.
Jika kelak seorang laki-laki menjumpai perlakuan yang kurang baik dari pasangannya, maka sudah menjadi tugasnya untuk menjadi yang pertama tersenyum dan sabar untuk pasangannya. Ia harus menjadi orang yang pertama yang menawarkan bantuan kepadanya apapun reaksinya, memeluknya untuk meredam segala amarah ya, mencium keningnya karena ketenangan seorang suami ada dalam kening istrinya.
Pun demikian jika kelak seorang istri menjumpai suaminya yang lelah selepas menafkahi dirinya, maka sudah tugasnya untuk menawarkan dirinya kepadanya. Taat pada perintahnya, mengesampingkan ego dan perasaannya walau dia barangkali sebrnarnya lelah, berusaha mengontrol emosinya walau memang tidak mudah. Sebab surga seorang istri ada pada tangan dan ridho suaminya, sebagai tanda ketawadhuannya.