Motor yang tadinya hidup bisa saja mogok karena busi, sedangkan manusia bisa mogok mencari kebutuhan hidup karena gengsi.

seen from United States
seen from Kazakhstan

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Czechia
seen from China
seen from Canada
seen from United States
seen from China

seen from Azerbaijan
seen from United States
seen from Brazil
seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from France
seen from United States
seen from Germany
seen from China
seen from United States
seen from United States
Motor yang tadinya hidup bisa saja mogok karena busi, sedangkan manusia bisa mogok mencari kebutuhan hidup karena gengsi.
JADI ANAK PERTAMA ITU...
Disclaimer:
Murni pendapat pribadi, tidak ada campur aduk dengan pikiran orang lain, ataupun data ilmiah yang ada. Mungkin tidak semua orang merasakan hal yang sama dengan yang dijelaskan di bawah ini, jadi ini bisa bersifat subjektif.
----------
Jadi anak pertama itu...
Ada plus minusnya. Seperti semua hal yang ada di dunia ini, ada baik dan buruknya, keunggulan dan kelemahan. Berpadu satu sama lain, sekaligus saling berseberangan.
Jadi anak pertama itu...
Merupakan cinta pertama yang hadir dari kedua orang tuanya. Dimana mereka berdua sudah pasti sangat bahagia menanti kelahirannya.
Jadi anak pertama itu...
Dia paling bahagia tatkala adiknya lahir. Dia bisa juga merasa kasih sayang kedua orangtuanya terbagi sehingga dia ‘harus’ menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.
Jadi anak pertama itu...
Terkadang bisa lebih banyak mengalah dari adik-adiknya. Menjadi yang pertama merasakan suka duka perjuangan hidup kedua orang tuanya.
Jadi anak pertama itu...
Terkadang jadi orang pertama yang mengetahui rahasia kedua orang tuanya. Dan tak jarang diminta untuk menyembunyikannya dari adik-adiknya.
Jadi anak pertama itu...
Harus bisa jadi contoh yang baik bagi adik-adiknya, karena dia paham kalau dia harus memberikan yang terbaik bagi mereka.
Jadi anak pertama itu...
Suka gengsi mengucapkan kata cinta, terutama ke kedua orang tuanya maupun adik-adiknya. Dia lebih suka act of service sebagai bentuk love language-nya.
Jadi anak pertama itu...
Akan menggantikan posisi kedua orang tua jika telah tiada, dan akan bertanggung jawab menghidupi keluarganya.
Jadi anak pertama itu...
Seringkali harus tampak kuat dari luar. Seakan tak ada celah untuk menunjukkan sisi kelemahannya kepada yang lain.
Jadi anak pertama itu...
Terkadang tak suka disalahkan, apabila ada yang menegurnya. Bukan berarti dia tidak mau mendengarkan, tapi rasanya lebih pada “benteng” diri dia tergores, jadi terkadang akan suka kesal sendiri tanpa sebab.
Jadi anak pertama itu...
Kalau mau menangis, dia tak mau menampakkannya di depan orang lain. Dia akan mencari tempat tersendiri, dan akan menangis tersedu-sedu tanpa ada yang melihatnya.
Jadi anak pertama itu...
Akan lebih suka menyembunyikan rasa sedihnya dibanding menceritakan kepada yang dipercaya. Bukan sebab tak mau berbagi, hanya tak ingin merepotkan orang lain.
Jadi anak pertama itu...
Bagai perisai, yang siap melindungi orang-orang yang dicintainya. Dia selalu jadi garda terdepan jika ada yang berusaha menganggu.
Jadi anak pertama itu...
Harus tangguh menghadapi berbagai macam problematika hidup. Pengorbanannya mempunyai arti tersendiri.
Jadi anak pertama itu...
Suka duka menjadi anak pertama itu, banyak. Setiap orang akan berbeda-beda pengalamannya. Ini hanya sedikit gambaran dari apa yang mungkin dialami oleh anak pertama.
Yang pasti..
Anak pertama tetap menjadi seseorang yang sangat berharga bagi kedua orangtuanya. Panutan bagi adik-adiknya. Juga jadi yang membanggakan, bagi dirinya sendiri.
Pelihara gengsimu, tapi jangan biarkan ia tampil di paling depan pada baris emosionalmu.
Dina and Me
Kita mengeluh karena tidak mampu memiliki apa yang orang lain telah miliki. Sementara kita lupa bersyukur terhadap apa yang telah kita miliki dan orang lain tidak mampu untuk memilikinya.
-rissutanto
Menahan rindu ? Bukankah kamu ahlinya ?
Pura-pura menjauhiku dan tanpa sadar menyiksa diri setiap kali membaca room chat kita yang telah berdebu. Gengsimu yang terlalu besar atau kamu yang tak punya nyali?
-Typu-
Cita-Cita atau Ambisi Orang Tua?
kalau besar nanti, cita-citanya mau jadi apa?
unsplash.com
‘dokter’, ‘tentara’, ‘guru’, ‘presiden’, dan sebebas anak kecil mau bilang apa. Gampang banget bicara waktu itu. Tapi seiring waktu, realita menunjukkan keadaan sebenarnya. Terkadang cita-cita sesuai seiring pertumbuhan, kadang tidak. Perubahan cita-cita tergantung pengalaman dan pandangan hidup mau jalan kemana.
unsplash.com
Persiapan masuk kuliah adalah masa paling labil. Mau masuk kedinasan, kuliah, kerja, atau vokasi. Mau lanjut kuliah, univ dan jurusan yang buat pusing. Cita-cita dari kecil udah dipersiapkan matang dan seiring kemauan, malah diganggu dengan informasi kluster jurusan. Cita-cita beda dari realita, tentunya realita yang diusahakan, kan sesuai passion. Yang susah itu kalau ngambang, nggak tau passionnya apa nggak tau mau kemana. Apapun tujuannya, ujung-ujungnya dibahas dengan orang tua dulu. Orang tua merestui atau tidak.
Ketika impian,univ, dan jurusan sudah ditentukan matang, giliran diskusi sama orang tua. Dan mayoritas orang tua tuh mau anaknya masuk kedokteran. Gengsinya tinggi, katanya. Masalahnya, si anak nggak punya passion disitu. ‘Masuk kedokteran aja, kan keren kalau keluarga kita ada yang dokter. Keren deh kalau kamu pake jas dokter’, dan semua rayuan buat masuk ke jurusan yang orang tua mau. Akhirnya, cita-cita sendiri pupus karena keputusan orang tua beda dengan kemauan yang direncana.
Emangnya orangtua salah? Nggak juga. Ada anak yang ikut saran orangtua dan sukses dengan jalannya. Tapi ada yang nggak. Ada yang dipaksa orangtua buat masuk kedokteran justru nggak lulus da berakhir di jurusan yang tidak dia sukai karena semua tes masuk univnya cuma difokuskan buat tes masuk FK aja. Ada yang baru satu minggu kuliah malah berhenti karena bukan passionnya. Buat orang yang cuma ngambang mah terima-terima aja keputusan orang tua. Tapi yang sudah merencanakan matang, sakit banget.
Siapa sih yang buat kegengsian jurusan? Semua jurusan itu sama aja, tergantung passion setiap orang. Kalau bisa mengembangkan diri di jurusan itu, akan sukses kok.
Kita nggak mau diperdaya ambisi karena setiap orang punya jalan hidup sendiri.
berapa banyak budget yang kamu keluarkan untuk kebutuhan gengsi?
Kita tidak akan bisa menunjukkan kepedulian dan kasih sayang sebelum mampu menundukkan rasa gengsi kita.