Muhji.A. Basri
Bagaimana kabar mu?
Bandung mulai dingin, sejak masuk nya musim hujan. Hujan datang hampir tiap kali dan hari. Saya sendiri sudah mematahkan peraturan di November yang sering saya buat sendiri, yaitu November sebagai bulan tanpa bercukur. Kali ini harus saya rasa untuk bercukur, Ibu dan Bapak datang ke Bandung, untuk menikahkan anak pertama nya, Muhji, Sabtu ini.
Saya berhenti sejenak, meresapi kata yang barusan . Menikah. Abang saya, satu-satu nya, akan menikah. Akan menjadi suami seseorang, akan menjadi bagian dari keluarga orang lain. Abang saya yang lebih pendek dari saya itu, walau sama brewokan namun lebih gembil pipi nya, akan menikahi seorang gadis. Abang saya, yang rasa nya baru sekerlipan mata lalu, rebutan sepeda BMX dengan saya, akan menikah Sabtu ini. Abang saya, yang mengenalkan saya pada banyak hal, seperti Playstation beserta tips-tricks-cheat- nya, Floppy disk, kursor , Warcraft, Dewa 19, Sheila on 7, Coldplay, Pramoedya Ananta Toer, Cak Nun dan akan menikah di akhir pekan. Abang saya satu- satu nya itu, yang mengajarkan hal hal seperti berenang, bersepeda, memancing ikan darat dan laut, yang menolong saya hampir tenggelam di lumpur, yang saya kejar di padang apit- apit, yang saya injak bahu nya setiap naik pohon manggis, langsat, atau rambutan , baik secara legal atau tidak, abang yang baju nya suka saya pakai karna seukuran waktu kecil, yang kalau menangis tak bersuara itu, akan menikah.
ahh....menikah, menikah juga kau, Bang. Saya ingat beberapa waktu lalu sempat resah, karena Jadwal Persiapan Keberangkatan saya bertepatan dengan hari pernikahan Abang. Saya sedih, memikirkan, saya tidak bisa menikmati salah satu moment bersama abang saya dan keluarga. Saya tidak datang di wisuda abang saya, yang kelihatan nya akan dia lakukan cuma sekali itu saja. Lalu menikah, yang dia bilang, cuma untuk sekali saja, rasa nya saya bersalah bila tidak hadir. jadi saya mengupayakan untuk pindah jadwal keberangkatan, berulang kali, namun seperti nya di tolak. Jadi, di penghujung hari bulan lalu, saya pasrah. Saya minta maaf ke ibu, ke abang saya, saya tidak bisa hadir nanti.
Mungkin beberapa hal memang harus dipasrahkan, dan biarkan semesta bekerja. Di pertengahan Oktober lalu, saya menerima Invoice dari WUR, untuk study saya nanti. Invoice berupa tagihan biaya untuk dibayarkan kepada pihak kampus dengan deadline. Deadline. Deadline inilah yang akhir nya, menjawab, menunjukkan saya bagaimana semesta bekerja atas sesuatu. Karena Deadline yang dekat, maka saya di pindahkan jadwal Persiapan Keberangkatan nya menjadi lebih awal, di awal November kemarin, yang berarti saya akan bisa menghadiri dan ikut bergembira di hari pernikahan abang saya.
Jauh sebelum mendapat keputusan beasiswa, saya sudah membayangkan bahwa nanti sebelum saya berangkat, saya bisa menghadiri pernikahan abang saya, lalu pulang ke Belitung sekitar 2 minggu setelah Visa keluar, dan kembali ke Jakarta, menyiapkan beberapa hal, lalu pergi, berangkat untuk 2 tahun berkuliah di Europa. dan ini, jawaban untuk rencana, oleh semesta. Semesta, yang di kutip oleh Yohanes Surya, Semesta yang mendukung. Mestakung.
salam saya,
mei













