LIFE AFTER QUIT THE JOB(5) Chapter : Karma.
saya sedang flu, ketika menulis ini.Habis “kerokan”, cara paling primitif yang di percaya dan saya percaya, untuk mengobati masuk angin dan flu saya. oh, kenapa saya bahas primitif?karena mulai tertarik dengan PALEO DIET, hehe. tapi, saya semangat sekali menulis ini, akan menceritakan bab akhir dari “Life after Quit The Job”.
dengan banyak nya waktu, saya pikir, saya bebas berpikir dan merenung. mengapa di tambah merenung?karena menurut saya, merenung lebih dalam lagi dari berpikir, detail ,mendasar dan pelan. saya merenungi, mengurut satu satu, tiap tahap yang saya lewati, sampai pada titik ini. di waktu itu awal Agustus, itu berarti saya sudah 7 bulan, berhenti kerja, itu berarti saya 7 bulan mengusahakan apa yang ingin saya capai, itu berarti 7 bulan saya berkutat dengan diri sendiri.
saat itu, saya membaca email dari LPDP berulang- ulang, menghafal tempat dan jam nya, prosedur nya. Mempersiapkan sesuatu, adalah hal yang saya percaya akan lebih menenangkan saya, di pikiran lebih banyak nya. Tanggal 12 Agustus, saya datang sejam lebih awal dari waktu yang ditentukan. lumayan ramai, saya duduk di sebelah wanita, yang kemudian saya tahu, dia lulusan design ITB, ingin melanjutkan ke Leiden, Netherland. saya rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang tidak kerja, tapi cukup rapi untuk peserta test LPDP. hari itu, 12 Agustus, saya di jadwalkan mengikuti 2 tes, Essay on the spot dan LGD serta diikuti dengan verifikasi dokumen. saya coba jelaskan satu per satu.
menurut beberapa sumber yang saya dapat, Essay on the spot test ini baru diadakan sekarang, di Tahapan 3 LPDP 2015. dalam waktu 25 menit, kita di suruh menulis essay dari sebuah tema yang kita pilih. Panitia menyediakan 2 tema. Saya bersyukur, saya belajar menulis essay ketika belajar Writing for IELTS kemarin. Jadi, saya buat struktur essay saya sesuai dengan struktur essay untuk IELTS.
2. LGD ( Leaderless Group Discussion)
seperti nama nya, ini adalah diskusi, yang terdiri dari 6 orang biasa nya, tanpa ada pemimpin diskusi, dan diawasi oleh 2 orang pengawas. Saya beruntung sekali, kelompok diskusi saya pria semua, yang mana, akan mengurangi rasa canggung dalam berdiskusi,menurut saya. oh iya, saya masih suka gugup berbicara degan gadis. tema diskusi ditentukan, biasa nya seputar masalah nasional yang sedang hangat. Intinya, dalam diskusi ini, kita speak up our opinion, in a good way. there’s alot of ideas, but if you cannot produce it righteously, sometimes, people don’t get it. mendominasi dengan bercakap berlama-lama pun saya pikir tidak bijak dalam diskusi. Judulnya pun, Leaderless, jadi kita dalam porsi yang sama membahas hal yang di harapkan bisa dipecahkan, atau menimbulkan ide yang baik, bersama- sama dengan pemilihan kata yang baik, alur yang baik dan adab yang baik.
setelah dua tes ini, saya kebagian untuk verifikasi data, dimana semua dokumen yang sebelumnya kita upload saat pendaftaran online, dibawa untuk di periksa keabsahannya. untuk tips nya, seperti surat rekomendasi yang di dapat dengan email, coba print screen percakapan dengan pihak yang memberi surat rekomendasi. hari itu saya merasa semua nya lancar, saya cukup yakin dengan essay yang saya buat dan saya pikir ketika LGD saya mengungkapkan beberapa pendapat dengan baik. jadi saya pulang dengan senyuman hari itu.
sayang, besok hari nya senyuman itu sirna. Kamis, 13, Agustus (uh kalau yang percaya klenik tentu tak datang tes hari itu) saya datang pagi. Wawancara, tes terakhir dari LPDP. Mengantri sebentar, lalu saya di panggil masuk dalam ruangan besar yang banyak sekali meja meja. di satu meja ada 3 orang duduk. Meja saya nomer 10, ada 2 ibu-ibu dan 1 bapak. saya hampiri, memberi salam, tersenyum dan berjabat tangan ( saya sopan sekali, loh . akhir- akhir ini). duduk tegak, siap, atau lebih tepat nya merasa siap. mereka , pewawancara mengenalkan diri, ibu yang di tengah, saya yakin psikolog, dari Undip. 2 orang lain nya, adalah akademisi, dari IPB, oh bukan, bukan Institute Perbankan Bogor,( hehe). lalu, ketika membahas masalah pilihan studi saya, semua canda tawa hilang, kiri kanan silih berganti, saya merasa terpojok, di sudutkan berdua dengan pilihan studi saya di tangan. saya bersisi kukuh, bahwa studi yang saya ambil ini layak, dan berpengaruh untuk Indonesia, lalu saya di hujani fakta- fakta yang bertentangan. saya ingat saya menyangkutkan hal hal seperti dampak Pestisida, Masanobu Fukuoka, Pastor Cianjur dan si bapak dan ibu akademisi itu menghujani dengan kebutuhan pangan , lifestyle, Bakso(?), bioremediasi, dan swasembada pangan. saya megap- megap. untung ditengahi oleh ibu psikolog. oh saya pikir, saya bebas. ternyata, dia menyelidiki saya, kegiatan kuliah saya, anak Science yang ikut workshop Photography, juara futsal, dan sempat latihan Marching Band. saya tidak scientist, otak kanan kata nya. saya tenggelam, tenggelam dan karam , rasa nya, hujan, gemuruh, di dada.
saya punya waktu kurang lebih sebulan, menunggu hasil pengumuman LPDP. Optimis dan pesimis dalam satu waktu. Pagi hari saya baca- baca blog tentang Wageningen, malam hari saya buka laman Jobseeking. Seringkali, dalam waktu menunggu ini, saya teringat macam- macam. Hal baik dan buruk. saya tau hal baik seperti do’a ibu saya yang tak pernah putus, doa dari anggota keluarga yang lain, dukungan moril dan materil. doa dari sahabat dekat, dukungan dari teman - teman, tapi saya pun membayankan hal - hal buruk seperti pandangan cemoohan, merendahkan. bukan tak sedikit yang berpikir da berkata mimpi saya ketinggian. salah satu yang bisa menenangkan hal ini adalah berbagi cerita, di chat, di social media, salah satu nya dengan Anastasia, oh terimakasih untuk good conversation nya. berbagi Judul film , atau tukar menukar foto dan video banci bisa membuat hari lebih baik ternyata.
Lalu, pikiran saya sampai pada Karma, dan sebagian besar karna terinspirasi oleh tv series My name’s Earl. saya perlahan, mulai mengingat semua hal yang kurang patut yang telah saya lakukan, kepada diri saya atau untuk orang lain. atau kepada benda, yang mati. sehari sebelum pengumuman, tanggal 9 September, saya yakin, besok adalah hari dimana ada sedikit jawaban. Atas karma, yang telah menunggu saya, yang telah menanti sedari pagi, untuk megabarkan bahwa saya , hey saya, inilah yang akan saya dapatkan.
saya panik, saya keluar masuk kamar, histeris. tangan saya pucat, saya masuk lagi ke kamar, membaca sebuah pengumuman kecil di web LPDP,
dada saya gemuruh. saya keluar lagi,,dada saya penuh, mata saya berkaca.
Hari itu, saya dinyatakan lulus Wawancara LPDP..
( dikarenakan keterbatasan kesempatan, saya ingin berterimakasih pada : teman- teman yang belum saya sebutkan sebelum nya, dan teman teman yang saya tidak tahu kalian mendoakan saya, dan juga teman - teman dan bukan teman yang mencemoohkan saya, sekali lagi. Terimakasih )\
(Anyway, ini bukan akhir dari catatan saya, hahahah, see you sometimes.)